Tampilkan postingan dengan label teroris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teroris. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Februari 2016

BNPT Klarifikasi Pesantren Wahdah Islamiyah Tidak Masuk Jaringan Teroris


alBalaghMedia.com-- Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) meralat dan mengklarifikasi rilis yang memasukkan Pesantren Wahdah Islamiyah (WI) sebagai jaringan terorisme di Indonesia. Hal itu disampaikan Direktur Deradikalisasi BNPT Irfan Idris saat live acara Makna dan Peristiwa di TV One di Jakarta pada Rabu (10/2).

Menurut Prof. Irfan penyebutan nama Wahdah Islamiyah dan pesantrennya sebagai teroris hanya miskomunikasi. “Pekan lalu ust Zaitun (pimpinan WI-ed-) sudah berkunjung ke BNPT bertemu dengan unsur pimpinan mulai pimpinan Deputi dan para direktur, kita duduk bersama menyelesaikan persolan itu, ada miskomunikasi”, terang akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar ini. “Ada miskomunikasi, pada data yang lalu itu ada memang yang pernah mampir di sekolah, mondok di situ kemudian bergabung ikut pelatihan di Aceh tapi itu sudah tidak ada”, imbuhnya.

Pada kesempatan itu beliau juga menyampaikan usulan Pangdam VII Wirabuana terkait pembersihan nama baik Wahdah Islamiyah. “Kami juga telah bertemu unsur pimpinanan WI di Makassar, Pangdam VII Wirabuana Mayjend Agus mengingatkan perlu ada upaya eksternal dan internal”, ucapnya. “Secara eksternal kita perlu klarifikasi kita perlu dibersihkan”, lanjutnya. “Secara internal pimpinan WI juga harus memantau jangan-jangan ada orang yang mengatasnamakan organisasi dan pesantren Wahdah Islamiyah”, tegasnya.

Sebagaimana ramai diberitakan, pada (4/02) portal berita cnn Indonesia melansir sebuah berita yang menyatakan bahwa BNPT sebut 19 pesantren terindikasi ajarkan radikalisme (http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160203201841-20-108711/bnpt-19-pesantren-terindikasi-ajarkan-radikalisme/), salah satunya adalah Wahdah Islamiyah. Tuduhan terhadap WI ditampik oleh berbagai kalangan, diantaranya Sekretaris Jenderal Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Pusat Ustad Bachtiar Nasir (UBN). “Jadi Wahdah Islamiyah bukan teroris menurut BNPT”, tanya UBN kepada Prof Irfan. “Bukan”, jawabnya. [Sym/wahdah.or.id]

Videonya tayangan tersebut bisa dilihat di bawah ini.


Selengkapnya ...

Jumat, 05 Februari 2016

Tuding 19 Ponpes Terindikasi Radikal, IPW Anggap BNPT Tendensius

Anak-anak santri lagi tadarrus al-Qur'an (ensiklopediasantri.blogspot.com)

alBalaghMedia.com-- Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S. Pane, menyebut Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terlalu tendensius dengan menuding adanya 19 pesantren di Indonesia yang diduga mengajarkan paham radikalisme.

Menurutnya, radikalisme bukan hal baru di Indonesia. Pasalnya, jauh sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merdeka, di negeri ini kelompok-kelompok radikal sudah berkembang.

“Jadi jika BNPT mengatakan ada 19 Ponpes diduga mengajarkan radikalisme, BNPT terlalu tendensius. Padahal kelompok-kelompok radikalisme itu tidak hanya di Ponpes. Di berbagai daerah seperti Papua, Poso, Maluku hingga Aceh masih bercokol dan aparat masih sulit mengendalikannya,” ujar Neta, Kamis (4/2/2016), dikutip dari Harianterbit

Lebih jauh, Neta berharap agar BNPT dalam bekerja untuk tidak terlalu tendensius khususnya terhadap keberadaan Ponpes. Karena dengan cara itu, sebut dia, tidak akan pernah menyelesaikan kasus radikalisme.

Dia menyebut bahwa radikalisme itu tidak selalu berkaitan dengan terorisme. “Jadi jika menuding ada 19 Ponpes hal itu terlalu tendensius. Pola-pola tendensius seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah,” jelasnya.

Sebelumnya, Kepala BNPT Saud Usman Nasution menuding ada 19 pesantren di Indonesia yang diduga mengajarkan paham radikalisme. Pihaknya, lanjut dia, terus melakukan pemantauan terhadap sejumlah pesantren tersebut.

“Dari hasil profiling tim kami di lapangan, ada 19 pondok pesantren yang terindikasi mendukung radikalisme dan terorisme,” jelas Saud, Selasa (2/2).

Saud menilai, keberadaan pesantren semacam itu membuat pihaknya khawatir akan terjadinya pengembangbiakan para pelaku teror. Pasalnya, terang dia, di sejumlah pesantren tersebut dicurigai adanya pihak tertentu yang sudah terlibat dalam jaringan terorisme.

Saud menambahkan sejumlah pesantren yang mencurigakan tersebut di antaranya pondok pesantren Al Mukmin Ngruki di Solo (Jawa Tengah) milik Abu Bakar Ba’asyir, pondok pesantren Darussaadah di Boyolali (Jawa Tengah), dan terdapat juga pesantren yang sama di Ambon bahkan di beberapa daerah lain.

Dia menegaskan keberadaan pesantren yang berpaham radikal itu mesti mendapatkan perhatian dari seluruh pihak terkait. Karena itu, dirinya akan mengajak Kementerian Agama, MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan sejumlah ormas Islam untuk membantu melakukan pendekatan dan upaya preventif terhadap para pengasuhnya. “Kami akan membicarakan ini, apakah benar valid atau tidak,” tukas Saud.[]



Sumber: http://www.arrahmah.com/
Selengkapnya ...

Selasa, 02 Februari 2016

Jual Kokain dan Beli Senjata, Petinggi Teroris Hezbollah Dibekuk


BEBERAPA anggota kelompok teroris Hezbollah ditahan oleh Badan Anti Narkoba Amerika Serikat (DEA) atas tuduhan menggunakan jutaan dolar uang hasil penjualan kokain di Amerika Serikat dan Eropa untuk membeli senjata di Suriah.

Hezbollah memang mengirim ribuan pemuda Syi'ah Lebanon ke Suriah untuk berperang membantu rezim Basyar al-Assad sejak sekitar 3 tahun lalu.

Mereka yang ditangkap termasuk petinggi sel dari jaringan teroris Syi'ah ini di Eropa. Diantaranya terdapat nama Mohamad Noureddine. Menurut DEA, ia adalah pelaku pencucian uang di Lebanon untuk digunakan dalam anggaran keuangan teroris Hezbollah.

DEA tidak merinci lokasi penangkapan dan jumlah tersangka teroris yang ditangkap.

Nama Mohamad Noureddine sendiri telah dimasukkan oleh Amerika Serikat sebagai gembong teroris global. Noureddine bersama Hamdi Zaher El Dine, pekan lalu telah dicekal oleh departemen keuangan AS atas aktivitas finansial kotor mereka.

“Investigasi ini sekali lagi menunjukkan bahaya global atas kaitan antara penjualan narkoba dan terorisme,” demikian kutipan pernyataan resmi DEA, seperti dilansir Reuters.

Proses penyelidikan telah dilaksanakan pada Februari 2015 lalu, melibatkan kerjasama tujuh negara, yaitu AS, Perancis, Jerman, Italia, dan Belgia.

Hezbollah atau biasa disebut Hizbullatta oleh kalangan Ahlusunnah, merupakan organisasi milisi Syi'ah di Lebanon pimpinan Hasan Nasrullah. Kelompok ini dimasukkan ke dalam daftar teroris negara-negara Arab dan Eropa.

Hezbollah baru-baru ini juga bertanggung jawab atas pengepungan kota Madaya bersama rezim Assad, sehingga menyebabkan 40 ribu orang mengalami kekurangan makanan parah dan krisis kemanusiaan. [Reuters/risalah/rakyaktu]

Selengkapnya ...

Selasa, 19 Januari 2016

Ustad Zaitun: Media Harus Mengecek Kebenaran Informasi Sebelum Memberitakan


Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin saat wawancara live di studio Metro TV


alBalaghMedia.com-- Terkait pemberitaan Metro TV yang menayangkan Wahdah Islamiyah masuk dalam jaringan teroris, ustadz Zaitun berharap kejadian seperti itu tidak terulang lagi di media manapun.
Untuk itu Ketua umum Wahdah Islamiyah tersebut memberi masukan bahwa setiap media harus melakukan pengecekan terhadap kebenaran informasi yang akan diberitakan.  (Baca juga: Dimediasi KPI, Metro TV Penuhi Tuntutan Wahdah Islamiyah)

Ustadz Zaitun juga mengharapkan kepada pihak kepolisian dan BNPT untuk mengecek kalau ada informasi-informasi atau isu-isu yang berkembang. Hal itu diungkap ustadz Zaitun saat wawancara ekslusif live di Metro TV sebagai klarifikasi Wahdah Islamiyah bahwa mereka tidak terkait dengan jaringan teroris manapun bahkan ikut aktif dalam memerangi terorisme.


"Ini penting sekali untuk menjaga keutuhan persatuan ummat dan bangsa kita." Lanjut Wakil Sekjen MUI tersebut.

Menurutnya informasi yang keliru itu bisa berakibat besar, apalagi masalah terorisme. "Sekarang ini isu terorisme sama dengan PKI dahulu, kalau orang disebut dengan dulu PKI itukan berbahaya sekali, sama dengan sekrang jadi harus lebih hati-hati." pungkasnya.[zl]

Tonton video lengkap wawancara di sini: (Video) Klarifikasi Wahdah Islamiyah di Metro TV
Selengkapnya ...

Senin, 18 Januari 2016

(Video) Klarifikasi Wahdah Islamiyah di Metro TV



alBalaghMedia.com-- Pada 3 Januari 2016 lalu dalam program News Story Insight atau NSI, MetroTV menampilkan visual grafik jaringan teroris di Indonesia dan pada tampilan tersebut tertulis nama organisasi Wahdah Islamiyah dan nama Zaitun Rasmin. Ketua Umum Wahdah Islamiyah Muhammad Zaitun Rasmin, Lc. MA. memberikan klarifikasi atas pemberitaan tersebut, Selasa (19/1/2016) dalam acara Selamat Pagi Indonesia Metro TV.

Wawancara live tersebut sebagai pemenuhan tuntutan Wahdah Islamiyah kepada Metro TV untuk memberikan Hak Jawab kepada WI. Pembawa Acara atas nama Redaksi dan Kru Metro TV juga meminta maaf atas pemberitaan tersebut. (Baca juga: Dimediasi KPI, Metro TV Penuhi Tuntutan Wahdah Islamiyah)

Berikut ini videonya;

Selengkapnya ...

Dimediasi KPI, Metro TV Penuhi Tuntutan Wahdah Islamiyah

KPI Mediasi Wahdah Islamiyah dan Metro TV
KPI Mediasi Wahdah Islamiyah dan Metro TV

alBalaghMedia.com-- Metro TV akhirnya siap memenuhi tuntutan ormas Islam Wahdah Islamiyah (WI) atas berita yang pernah ditayangkan Metro TV yang menyebut WI dan pimpinannya Muhammad Zaitun Rasmin sebagai jaringan teroris di Indonesia.  "Alhamdulillah pihak Metro menerima tuntutan lembaga kita, klarifikasi secara live besok in-sya Allah ", kata asisten ketua umum WI ustad Jayadi Hasan.

Stasiun TV milik politisi Partai Nasdem tersebut siap memenuhi tuntutan WI setelah adanya mediasi yang dilakukan oleh Komite Penyiaran Indonesia (KPI) pada Senin (18/1) di Jakarta.

 "Hasil mediasi adalah Pihak Metro TV akan memenuhi tuntutan kita, yaitu memberikan hak jawab, berupa klarifikasi atas pemberitaan NSI Tanggal 3 Januari Lalu dalam siaran LIVE bersama Pimpinan Umum Wahdah Islamiyah", ujar Ketua Dewan Syari'ah WI Ustad Rahmat Abdurrahman yang turut hadir pada forum mediasi tersebut.

"Siaran langsung akan dilakukan hari ini insya Allah, Selasa (19/1) Pukul 07.30 WIB pada Program Selamat Pagi Indonesia", lanjut Ustad Rahmat.

Pada Forum mediasi ini dari pihak Wahdah Islamiyah hadir Pimpinan Umum Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin, Wakil Ketua Umum Ustadz Muhammad  Ikhwan Jalil, Ketua Dewan Syariah Ustadz Rahmat Abdurrahman. Turut hadir pula mendampingi Ustad Zaitun sekretatis jenderal Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI)  Ustadz Bahtiar Nasir dan Ustad Adnin Armas (Wakil Ketua MIUMI).

Sedangkan Dari Metro TV hadir Pimpinan  Suryopratomo, Pemred  Putra Nababan. Pada dasarnya Metro TV menerima berbagai masukan dari pihak Wahdah dan siap memenuhi tuntutan yang disampaikan. "Untuk teknisnya kita bisa selenggarakan besok (hari ini -ed) secara live dalam bentuk dialog", terang Putra.[sym]
Selengkapnya ...

Minggu, 17 Januari 2016

Insya Allah Hari Ini KPI Pertemukan Wahdah dan Metro TV


Sebagai kelanjutan surat aduan Wahdah Islamiyah ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat No.K.760/IL/DPP-WI/IV/1437 tertanggal 11 Januari 2016 perihal pengaduan terhadap Metro TV.

Kamis (14/1) KPI mengirimkan surat mediasi ke Wahdah Islamiyah. Dalam surat tersebut KPI menyatakan telah mempelajari surat yang masuk tanggal 11 Januari 2016 dan KPI juga telah meminta keterangan atau klarifikasi dari Metro TV terkait materi aduan.

Olehnya itu, pihak KPI akan gelar mediasi antara Wahdah Islamiyah dan Metro TV, Insya Allah Senin 18 Januari Pukul 16.00 WIB di Kantor KPI Pusat Gedung Bapeten Lt.6 Jl.Gajah Mada No.8 Jakarta Pusat
Undangan Mediasi ini Status Penting dan bersifat Segera, ditandatangi langsung Oleh Wakil Ketua KPI, Idy Muzayyad, M.Si

(Infokom DPP WI/Harun Munde)

Sumber: wahdah.or.id
Selengkapnya ...

Sabtu, 16 Januari 2016

Pak Jusuf Kalla: Wahdah Itu Dari Kampung Saya

Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin dengan Pak Wapres Jusuf Kalla
alBalaghMedia.com-- Setelah dituduh sebagai salah satu jaringan teroris dalam program Acara News Story Insight Metro TV tanggal 3/1/2016, Wahdah Islamiyah banyak mendapat pembelaan dari berbagai tokoh Nasional.

(Baca juga: Tokoh-Tokoh Nasional Beri Dukungan Terhadap Wahdah Islamiyah) 

Wakil Presiden Indonesia Bapak HM. Jusuf Kalla (JK) juga angkat bicara membela Wahdah Islamiyah. Pembelaan tersebut diungkapnya saat bertemu dengan pimpinan Wahdah Islamiyah ustadz Zaitun Rasmin usai pembukaan Mukernas DDI di Asrama Haji Sudiang tadi pagi (16/01/2016).
 
Begitu bersalaman dengan ustadz Zaitun Pak JK sendiri yang langsung memulai pembicaraan tentang isu fitnah tersebut. Ini menunjukkan perhatian yang besar pak Jk tentang masalah-masalah ummat dan bangsa. Disela sela kesibukannya masih sempat memperhatikan issue tersebut.

Lalu Pak JK menimpali bahwa beliau sudah pernah menyampaikan kepada kepala BNPT : “Wahdah itu dari kampung saya, kalau dituduh teroris saya juga bisa dituduh teroris.” ungkap pak Wapres yang sejak awal banyak membantu kegiatan dakwah Wahdah Islamiyah.

Beliau secara berturut-turut hadir dan memberikan sambutan pada muktamar wahdah yang pertama dan yang kedua. Yang pertama tahun 2007 sebagai Wapres . Dan yang kedua tahun 2011 sebagai sesepuh Wahdah Islamiyah dan Tokoh Bangsa.[]
Selengkapnya ...

Rabu, 13 Januari 2016

Catatan Kader Wahdah Islamiyah: Terrorist? Are We?



Assalamu’alaikum, everyone!

Nama saya Nur Rissa Maharany, seorang perempuan kelahiran Baubau, suatu kota di Sulawesi Tenggara, tepatnya di Pulau Buton. Saya seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo Kendari, sebenarnya sudah lulus S1 dan dapat gelar sarjana bulan lalu tetapi tetap saja bagi mahasiswa kedokteran, gelar S.Ked di belakang nama itu tidak merubah status, kami masih seorang mahasiswa yang harus bayar SPP lagi, masih harus belajar terus, masih ujian hampir tiap bulan, and our goal is to get tittle “dr” in front of our name. Ups, sorry, tulisan ini bukan dibuat untuk memperkenalkan diri saya –memang saya siapa?? Hehe. Saya ingin menulis suatu opini, tanggapan, pendapat, tentang “hot issue” yang ramai on my timeline facebook ataupun twitter, tentang tayangan di satu channel TV Nasional kita, sebut merek saja ya, Metro TV, yang menampilkan beberapa daftar jaringan teroris katanya dan secara mengejutkan “Wahdah Islamiyah” di bawah pimpinan Ustadz Zaitun Rasmin termasuk di dalamnya. Tulisan ini mungkin bukan suatu tulisan ilmiah –karena saya memang bukan seorang cendikiawan muslim. Jangan harap tulisan ini akan memuat sejarah berdirinya Wahdah Islamiyah, metode dakwahnya, bantahan ilmiah dan sebagainya, tidak akan. Tulisan ini murni pendapat dan pengalaman-pengalaman saya sendiri saja.

Well, dengan bangga, saya katakan bahwa saya adalah salah satu dari, emm, mungkin puluhan ribu atau ratusan ribu Kader Wahdah Islamiyah. Sama bangganya ketika saya mengatakan bahwa saya adalah anak Ayah saya, sama bangganya dengan saat saya bilang bahwa saya adalah seorang kelahiran Baubau, my lovely hometown, yang punya benteng terluas di dunia, yang punya banyak wisata pantai (err, mungkin perlu tulisan khusus untuk menjelaskan Baubau, hehe). Dan sama bangganya dengan ketika saya memperkenalkan diri sebagai seorang akhawat/muslimah berjilbab besar alias lebar, serta sama bangganya dengan saat saya berikrar bahwa “I am a Moeslim, and I’m proud”. Mungkin sebagian dari kalian bakalan bilang, “huu, tuh kan, fanatik kelompok, ekstrim!”. Yah, terserah, tapi satu hal yang ingin saya sampaikan, semenjak di awal saya tarbiyah/ngaji di Wahdah Islamiyah, murabbiyah/ustadzah saya sudah terlebih dahulu menanamkan di kepala kami, bahwa lembaga ini hanya dijadikan sebagai “kapal” untuk berjuang bersama-sama di dalamnya untuk menuju tujuan yang sama yaitu meraih surga. Namun, bukan berarti yang masuk surga cuma anggota Wahdah Islamiyah saja, bukan berarti orang yang tidak masuk di Wahdah adalah penghuni neraka, juga tidak benar bahwa kalau masuk Wahdah Islamiyah pasti masuk surga, haha, sama sekali tidak ada jaminan. Dengan bangga (lagi), saya mengatakan bahwa kesetiaan kami bukan pada orang atau kelompok, kesetiaan saya bukan pada Murabbiyah saya, bukan pada Ketua Lembaga saya, bukan pada Ustadz Zaitun Rasmin, bukan kepada Ormas Wahdah Islamiyah, melainkan kepada Allah dan Rasul-Nya. Selama kelompok/lembaga ini menjalankan prinsipnya alias syariat Islam, tidak mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, maka It’s Okay. Tapi andaikata lembaga ini menyimpang dari Allah dan Rasul-Nya, jika saja misalnya Lembaga ini meng-halal-kan TERORISME, dan andaikan di kelompok-kelompok tarbiyah yang diajarkan adalah ‘Cara Membuat BOM’, atau mungkin ormas ini mau berubah jadi partai politik misalnya, hehe, maka dengan TEGAS dan TANPA RAGU kita akan “berpindah kapal”, kita akan berhenti menuntut ilmu di Wahdah Islamiyah. Ini baru dibahas tentang ISU FANATISME KELOMPOK, ini belum mengerucut soal ISU TERORISME yang akhir-akhir ini sangat seksi untuk di bahas di media-media (semenjak peristiwa WTC dan Bom Bali, serta kembali hot setelah munculnya ISIS dan paling terakhir ini Teror di Paris). Kembali saya tegaskan bahwa kami tidak pernah di ajarkan untuk fanatik pada kelompok/organisasi tertentu, tetapi kami setia pada agama kami Islam, setia pada Allah dan Rasul-Nya.

Mungkin seperti kader Wahdah Islamiyah lainnya, saya berada di lembaga ini bukan karena diajak dengan kalimat “Ayok, masuk Wahdah Islamiyah, yuk!”. Tentu bukan. Kebanyakan dari kami diajak dengan kalimat “Belajar ngaji, yuk!”, “Mengenal Islam, yuk!”, “Perbaiki bacaan Al-Qur’an, yuk!”. Satu-dua mau dengan sekali ajakan, banyak juga yang baru mau setelah ratusan kali ajakan, dan sangat banyak yang tak pernah mau bahkan setelah ribuan kali ajakan (Miris, ya? Negara mayoritas Muslim tapi susah diajak belajar ngaji). Tapi tidak sedikit juga yang datang karena memang keinginan diri sendiri untuk belajar Islam, mengenal agama sendiri. Iya, keinginan sendiri, mencari sendiri, bukan diajak orang lain. Dan memang, ketika kami memulai aktivitas tarbiyah/ngaji, yang kami dapatkan adalah ilmu agama, perbaikan tajwid dan bacaan Al-Qur’an, mengenal agama kita sendiri, bukannya bagaimana cara memperkaya ormas dan sejenisnya, apalagi melawan pemerintah, ataupun cara membuat BOM. Haha.

Saya bahkan saat memulai tarbiyah/ngaji tidak tahu bahwa saya sedang berada di suatu lembaga ataupun ormas Islam (maklum, waktu itu masih ‘polos’, tidak mengerti soal organisasi dan sebagainya, hehe), karena memang fokus kegiatan di tarbiyah adalah belajar ilmu agama tiap pekan dan perbaikan bacaan Al-Qur’an bersama teman-teman saya dan diajar oleh seorang murabbiyah/ustadzah. Saya mulai tarbiyah waktu itu sekitar tahun 2012, malah aktif dan rutin nanti di sekitar awal tahun 2013. Saya baru tahu nama “Wahdah Islamiyah” justru setelah berbulan-bulan tarbiyah, itupun karena setelah diberi undangan untuk menghadiri acara-acara seperti ta’lim, tarbiyah gabungan, tabligh akbar, sampai acara besar seperti Dialog dan Seminar Islami yang diselenggarakan oleh ormas Wahdah Islamiyah. Nah, ini juga membuktikan bahwa Wahdah Islamiyah itu bukan ormas Islam yang rahasia, yang menutup diri, sama sekali tidak. Wahdah Islamiyah sangat sering membuat event-event besar seperti Dialog dan Seminar Islami ataupun Tabligh Akbar yang berskala besar yang terbuka untuk umum dan dihadiri oleh ribuan orang, bahkan mengundang pemerintah ataupun Kepala Daerah. Nanti akan kita bahas event besar yang saya maksud ini, sabarr.
grin emotikon

Nah, setelah mengetahui nama “Wahdah Islamiyah” jadilah saya kepo dan ingin tahu, sejarah berdirinya, ketuanya, visi dan misinya, dan sebagainya. Tetapi, mungkin banyak yang sudah tahu dan mengalaminya sendiri, jika kita masukkan keyword “Wahdah Islamiyah” pada mbah kiyai Google, yang muncul adalah eng ing eng.. terpampang judul besar KESESATAN WAHDAH ISLAMIYAH, bahkan berjilid-jilid mulai dari jilid 1 sampai entah jilid berapa. Sempat kaget juga ketika baca judulnya, tapi (tumben) otak kritis saya jalan waktu itu, tidak lantas menerima. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala waktu itu adalah “masa sih?” “alasannya apa?”. Jadilah saya membaca tulisan itu tanpa melewatkannya, tapi yang ada setelah membaca adalah rasa heran, karena selama tarbiyah dan berada cukup lama menuntut ilmu di Wahdah Islamiyah saya tidak pernah menemukan apa yang dituduhkan pada tulisan tersebut. Sejauh ini saya juga tidak pernah menemukan ada kader atau muslimah-muslimah yang berhenti tarbiyah setelah membaca artikel itu (ini sepengetahuan saya ya). Iya, karena kita sadar, kita tidak pernah menemukan seperti apa yang dituduhkan, bukan berarti si penulis itu bohong ya, yah mungkin bisa saja yang dia temui adalah “oknum” atau miss-interpretation alias keliru menginterpretasikan saja. Karena penulis tulisan itu adalah saudara kita sesama muslim juga. Yang disayangkan adalah orang-orang luar, yang tidak tahu apa-apa tentang Wahdah dan kemudian menggunakannya untuk men-judge seenaknya, bilang ,”Tuh, ormas kamu sesat! Banyak artikelnya di internet!” Jadi, karena masih tidak percaya dengan tulisan itu, saya berusaha mencari tentang tanggapan pihak Wahdah Islamiyah tentang tulisan itu, yah memang seharusnya kita menilai dari dua sisi. Dan kemudian saya dapatkan tulisan yang merupakan balasan dari tuduhan itu, judulnya adalah PEMBELAAN TERHADAP KESESATAN WAHDAH ISLAMIYAH yang juga terdiri dari beberapa jilid dan ditulis oleh para asatidzah Wahdah Islamiyah. Silahkan di-search sendiri ya, dan kalian akan menemukan betapa bersahaja-nya tulisan ustadz yang menulis pembelaan tersebut. Eh, maaf, salah fokus.
grin emotikon

Kalau soal ISU TERORISME, RADIKAL, dan sebagainya, ini jelas fitnah ya. Bahkan untuk membangkang dengan pemerintah tidak diperbolehkan, apalagi buat BOM? Bunuh diri dengan alasan apapun itu tidak boleh. Apalagi membunuh orang dalam jumlah yang massif? Ataukah ciri teroris dan radikal itu adalah celana cingkrang dan jenggot bagi laki-laki ataupun jilbab besar dan bercadar bagi perempuan? Jadi kalau kita pakai jilbab besar dengan warna gelap lantas kita adalah golongan ekstrim? Dituduh ekstrim oleh orang lain saja tidak enak, apalagi kalau yang mengatakan itu adalah orang terdekat. (Hiks, curhat nih gue, haha)
smile emotikon
Saya ingat, setahun yang lalu kata salah seorang kakak yang juga kader Wahdah, “Hari ini mungkin kita masih diuji dengan masalah internal kita, tapi bisa jadi esok lusa kita akan diserang dari eksternal, dari orang-orang Syiah, orang-orang Liberal dan musuh-musuh Islam lainnya”. Saya sangat setuju, apalagi dengan program yang dicanangkan Wahdah Islamiyah sejak 2015 lalu yaitu GETARNUS (Gema Tarbiyah Al Qur’an Nusantara) yang mempunyai misi untuk menggetarkan Nusantara dengan Tarbiyah dan Al Qur’an. Berusaha mengembalikan Kejayaan Umat Islam dengan memberikan solusi Abadi yaitu kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Kalian bisa search sendiri beritanya di google, Launching GETARNUS di bulan Januari 2015 dihadiri oleh ribuan orang, kemudian Majelis Akbar Relawan Qur’an (MARQ) yang diselenggarakan oleh Tim Getarnus Wahdah Islamiyah pada bulan Mei di Makassar dihadiri lebih dari 5000 orang MUSLIM menghadirkan walikota Makassar, kemudian MARQ di kota kami Kendari bulan Juni lalu dihadiri sekitar 3000 orang MUSLIM dan MUSLIMAH, belum lagi di kota/kabupaten lainnya di Indonesia, silahkan search di google. Musuh Islam mana yang tidak gentar dengan program GETARNUS ini? Kelompok anti-islam mana yang tidak geram dan marah dengan berbondong-bondonya muslim untuk ngaji dan tarbiyah? Maka tak heran lagi, jika kita dibombardir dengan berbagai fitnah dan tuduhan dari para musuh-musuh Islam!

Sebenarnya tulisan ini ingin saya selesaikan sampai di sini saja. Tetapi kalimat-kalimat setelah ini sangat sayang untuk tidak saya bagikan.

Jujur, berada di ormas ini, mengajarkan saya tentang optimisme dan mujahadah (semangat juang) yang tinggi, meski sampai saat ini saya MASIH TERUS TERSEOK-SEOK dan MERANGKAK untuk menjadi Muslimah yang optimis dan punya semangat juang. Mengajarkan optimisme soal apa? Soal kejayaan Islam, bahwa kembalinya Peradaban pada Ummat Islam itu sudah semakin dekat. Dengan cara apa? Dengan cara mengajak semua orang untuk tarbiyah, sederhananya, mengenal dan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Semudah itu? Iya, kalau banyak dokter muslim atau mahasiswa muslim kedokteran ikut tarbiyah, maka dengan mudah kita mendirikan Rumah Sakit yang Syar’i. Kalau banyak orang yang bergelut di bidang ekonomi ataupun mahasiswa ekonomi ikut tarbiyah maka dengan mudah kita akan menegakkan ekonomi bersistem syariah. Begitu pula soal hukum dan lain sebagainya. Karena setiap muslim yang trabiyah paham, bahwa tidak ada sistem yang paling sempurna selain berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah. Dengan begitu, Khilafah Islamiyah bukan suatu mimpi di siang bolong. Wahdah Islamiyah memang bukan ormas yang selalu menggembar-gemborkan Khilafah, tapi ormas ini tahu harus memperjuangkan tegaknya Khilafah dengan cara apa.

Wokeh, maaf kalau tulisan ini tidak bisa membuktikan secara ilmiah bahwa Wahdah Islamiyah bukan jaringan teroris. Ini hanya berdasarkan pengalaman dan pendapat pribadi. Sorry juga kalau ada yang salah fokus, ada jokes alias becanda-becandanya di sana-sini. Maaf juga karena ada curhat colongan. Hehe. Anyway, thank you for reading this.

-Nur Rissa Maharany-
Selengkapnya ...

Senin, 11 Januari 2016

Klarifikasi Resmi Wahdah Islamiyah atas Fitnah Metro TV


alBalaghMedia.com-- Wahdah Islamiyah secara resmi memberikan klarifikasi atas tuduhan Metro TV terhadap ormas mereka terkait jaringan teroris. Klarifikasi tersebut dibacakan oleh Wakil Ketua Wahdah Islamiyah ustadz Ikhwan Abdul Jalil pada saat konferensi pers pada Senin (11/1) di Restoran Pulau Dua Senayan Jakarta. (Baca juga: Tokoh-Tokoh Nasional Beri Dukungan Terhadap Wahdah Islamiyah)

Berikut ini klarifikasi lengkap:

Sehubungan dengan pemberitaan Metro TV pada program acara News Story Insight (NSI) tanggal 3/1/2016 pukul 15.55 WIB, dimana dalam pemberitaan tersebut ditampilkan slide yang menuliskan Wahdah Islamiyah dan Ketua Umumnya Dr.(H.C.) H. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., M.A. yang disebut Zaitun Rasmin masuk dalam daftar jaringan terorisme di Indonesia, maka menyikapi pemberitaan ini, Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah menyatakan sebagai berikut :
  1. Berita tersebut adalah tuduhan yang tidak benar sehingga bisa menjadi fitnah dan pencemaran nama baik bagi Wahdah Islamiyah dan pribadi Ketua Umumnya.
  2. Karena itu kami menuntut pihak Metro TV meralat pemberitaan tersebut dalam waktu 2 x 24 jam setelah pernyataan kami ini diterima oleh pihak Metro TV. Ralat yang dimaksud adalah dengan jalan memberikan kesempatan kepada Wahdah Islamiyah untuk meluruskan info yang tidak benar ini dalam siaran live Metro TV.
  3. Wahdah Islamiyah adalah organisasi resmi dan dikenal luas oleh masyarakat serta senantiasa bersinergi dengan Pemerintah. Bergerak dalam Bidang Dakwah, Pendidikan dan Sosial. Tersebar di lebih 126 Daerah di seluruh penjuru tanah air. Para pengurus Wahdah Islamiyah baik pusat maupun di daerah-daerah aktif dalam forum antar ormas dan banyak pula yang menjadi pengurus MUI baik di Pusat maupun Daerah. Bahkan Ketua Umum Wahdah Islamiyah telah menjadi pengurus Pusat MUI sejak tahun 2010 (Wakil Sekretaris kemudian menjadi Wakil Ketua Komisi Luar Negeri), sekarang diamanahkan menjadi salah seorang Unsur Pimpinan Harian MUI Pusat dengan posisi sebagai Wakil Sekjen, juga secara ex officio menjadi anggota Dewan Pertimbangan MUI Pusat. Karena itu pemberitaan Metro TV tersebut dapat membawa kerugian besar bukan hanya pada Wahdah Islamiyah saja, namun juga dapat menjadi penghalang demikian banyak kebaikan bagi umat dan bangsa yang selama ini telah mendapatkan dan merasakan manfaat keberadaan Wahdah Islamiyah.
  4. Wahdah Islamiyah dalam prinsip (manhaj) dan cara menjalankan programnya senantiasa mengedepankan sifat santun dan dengan cara bilhikmah, serta jauh dari kekerasan apa lagi tindakan teror. Itu sama sekali bukan karakter Wahdah Islamiyah. Bahkan Wahdah Islamiyah berperan aktif dalam upaya pencegahan dan penanggulangan masalah terorisme baik langsung melalui pernyataan Pimpinan dan Tokoh Wahdah Islamiyah maupun melalui kerjasama dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulsel dan Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) di Makassar (tempat Kantor Pusat Wahdah Islamiyah). Begitu pula dalam forum bersama yang dihadiri langsung oleh kepala BNPT Bapak Komjenpol Saud Usman Nasution dalam Seminar Internasional “Islam as a Mercy to The Universe” yang diadakan oleh Pusat Studi Pengabdian Islam (PSPI) di Makassar.
  5. Kepada seluruh pihak yang telah membantu meluruskan pemberitaan yang tidak benar serta memberi dukungan, kami sampaikan banyak terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya.
  6. Kepada seluruh pengurus, kader dan simpatisan Wahdah Islamiyah diharapkan untuk tetap tenang dan tawakkal menyikapi pemberitaan ini, tetap konsisten menjalankan seluruh program kerja dan kegiatan berkhidmat kepada umat dan bangsa. []
Selengkapnya ...

Tokoh-Tokoh Nasional Beri Dukungan Terhadap Wahdah Islamiyah



Wahdah Islamiyah mengadakan konferensi pers untuk mengklarifikasi tuduhan teroris oleh Metro TV. Konferensi pers pada Senin (11/1) di Restoran Pulau Dua Senayan Jakarta tersebut juga dihadiri 26 tokoh  Islam Indonesia untuk memberi dukungan kepada Wahdah Islamiyah. (Baca juga: Metro TV Fitnah Wakil Sekjen MUI Pusat)

Diantara Tokoh Nasional yang hadir Dr. Hidayat Nurwahid (Wakil Ketua MPR RI), Ustadz Yusuf Mansur, Ustadz Bahtiar Nasir (Sekjend MIUMI), Ustadz Bobby Pencetus Menghafal Al Quran Semudah Tersenyum, Dr.Syafi’i Antonio, Ustadz Fahmi Salim,Yan Harlan, Ustadz Tony Rasyid, Ustadz Amirsyah Tambunan (MUI Pusat), Ustadz Cholil Nafis (NU), Adhyaksa Dault Mantan Menpora, Dr. Aries Muftie, Teten Kustiawan, SyakirSula, Ustadz Ferry Nur, Pak Fahmi Askar, Ustaz Fadzlan Garamatan, Pak Iqbal Parewangi (Senator DPD asal sulsel), Syekh Ali Jeber, Mustafa Nahrawardaya, Egi Sudjana dan Ustadz Adnin Armas.

Konferensi Pers ini dihadiri sekitar 60 an awak media cetak,online dan TV.

Ustad Zaitun dalam Konferensi Pers nya menyatakan keprihatinan atas kejadian ini. "Sebetulnya saya sangat sedih dengan keadaan ini, sesama anak bangsa diperhadapkan dengan masalah ini. Tapi yang namanya kekeliruan perlu tetap diluruskan”, Ujar Wakil Sekjend MUI Pusat ini

Lanjut Ustadz bahwa Media adalah aset Bangsa dalam membangun kemajuan bangsa, namun perlu diingat bahwa kita tidak ingin ada yang merusak peran media ini.

“Semoga hal ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.Untuk kehidupan bangsa ke depan yang harmonis, melihat tantangan ummat dan bangsa saat ini tidak sedikit”, Tegas Ketua Ikatan Dai dan Ulama Asia Tenggara ini.

Ustad Ardin Armas sebagai pemandu acara Konpers ini menyatakan bahwa kasus pemberitaan ini melukai banyak pihak, tidak hanya pribadi Ustadz Zaitun dan Wahdah Islamiyah yang dirugikan, tapi lembaga tempat berkumpulnya ulama dan cendikiawan muslim, Majelis Ulama Indonesia Pusat (MUI) Pusat juga turut dilukai, dimana Ustad Zaitun di MUI, sebagai unsur pimpinan, serta melukai secara umum ummat Islam Indonesia

Salah seorang tokoh perwakilan ummat dari Sulsel, AM. Iqbal Parewangi yang saat ini sebagai senator DPD RI, turut hadir beri dukungan. “Hubungan dengan Wahdah Islamiyah awalnya jaga jarak, namun setelah berinteraksi dengan Ustadz Zaitun dan Lembaganya. Saya langsung jatuh cinta dengan Wahdah Islamiyah. Bahkan saya sebagai provokator kepada anak-anak Sulsel untuk menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan Wahdah”, ujar senator DPD RI Komite I ini

Dalam kesempatan tersebut, Iqbal Parewangi menyampaikan bahwa akan membawa masalah ini ke sidang Paripurna Besok (12/1).

Tokoh lain yang beri dukungan adalah pengurus MUI Pusat KH. Cholil Nafis dari NU. Sebagai Akademisi beliau 4 bulan lalu menguji Mahasiswa Pascasarjana UI yang mengangkat Tesis tentang Dakwah Wahdah Islamiyah. Dalam pembahasan Tesis itu tidak menemukan bahwa Wahdah Islamiyah benci NKRI, justru dalam penelitian disebutkan pola-pola perjuangan Ormas Wahdah Islamiyah yang santun, jauh dari tindakan kekerasan.

Ustadz Yusuf Mansur, tokoh Islam Nasional yang pertama beri dukungan kepada Wahdah Islamiyah dan Ustadz Zaitun,dalam Kicauan Twitternya beberapa waktu lalu,menambahkan hubungan interaksi nya dengan Ustadz Zaitun.”Ustadz Zaitun itu menemani malam-malam saya dengan belajar bahasa Arab. Beliau coaching saya mahir bahasa Arab. Semoga ke depannya Wahdah Islamiyah sesuai namanya dapat mewujudkan cita cita Persatuan Islam.” ujar ustadz penggiat Rumah Tahfizh ini.[]
Selengkapnya ...

Minggu, 10 Januari 2016

Wakil Ketua MPR: Ustad Zaitun Orang Yang Cinta Indonesia

Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nurwahid bersama ustadz Muhammad Zaitun Rasmin. (Foto: Republika.co.id)


alBalaghMedia.com-- Wakil Ketua Majelis Permusyawatan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI) KH. DR. Hidayat Nur Wahid, Lc, MA menyatakan, ketua umum Wahdah Islamiyah (WI) Ustad.DR. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc, MA adalah orang yang cinta Indonesia.

Hal itu disampaikan doktor Hidayat menampik fitnah teroris yang dilakukan Metro Tv terhadap Ustad Zaitun dan ormas yang dipimpinny WI. "Beliau orang yang sangat cinta dengan Indonesia",  ucapnya di Jakarta belum lama ini.

"Saya tahu persis tentang siapa itu Ust. Zaitun Rasmin sebelum beliau kuliah di madinah, ketika dia kuliah di madinah, kawan saya di madinah, dan setelah beliau keluar dari madinah kegiatan beliau tidak kepada terorisme, terang Doktor alumni Universitas Islam Madinah ini.

"Perilaku beliau, ajaran beliau, kawan-kawan beliau adalah orang-orang yang menjunjung tinggi tentang moral, tentang keadilan, penegakan hukum', lanjutnya.

 Oleh karena itu, mantan ketua MPR ini menyesalkan pemberitaan Metro Tv yang memfitnah WI dan Ustad Zaitun sebagai jaringan teroris di Indonesia. Menurutnya tudahan itu tidak berdasar dan tanpa bukti.
"Jangan hanya melempar isu, apa lagi kalau itu menjadi fitnah", pungkasnya. (Sym)
Selengkapnya ...

Sabtu, 09 Januari 2016

Omas-ormas Islam Dan FKPT Sulsel Tolak Tuduhan Teroris Terhadap Wahdah Islamiyah



Nama Wahdah Islamiyah (WI) organisasi Islam yang berpusat di Sulsel beberapa hari ini jadi bahan pembicaraan. Namanya ramai disebut-sebut di media sosial pasca tayangan salah satu TV nasional yang menampilkan slide dengan tulisan berjudul jaringan teroris lalu di bawahnya tertera tulisan Wahdah Islamiyah dan nama Muhammad Zaitun Rasmin, ketua umum Wahdah Islamiyah.

Tidak terima dituding sebagai organisasi jaringan teroris itu, Wahdah Islamiyah pun angkat bicara. Ormas-ormas Islam di Sulsel ikut memberi reaksi dan beri dukungan.

"Ketika melihat tayangan ulang di TV itu, saya jadi sedih. Ini namanya fitnah. Saudara kita difitnah. Dalam Islam, perbedaan dibenarkan karena perbedaan itu rahmat. Tetapi yang tidak dibenarkan itu adalah perpecahan," kata Prof Dr Ahmad Sewang, ketua harian Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) Sulsel dalam acara silaturahmi tokoh ormas-ormas Islam Sulsel malam ini, Sabtu, (9/1) di Jalan Racing Centre khususnya menyikapi tudingan terhadap Wahdah Islamiyah sebagai organisasi jaringan teroris.

Antara lain yang hadir dalam malam silaturrahmi ini adalah tokoh-tokoh dari Muhammadiyah, NU, FPI, Forum Umat Islam (FUI) Sulsel, Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Sulsel, Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) Sulsel dan Wahdah Islamiyah sendiri yang dihadiri ketuanya ustads Muhammad Zaitun Rasmin. Juga hadir dari Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulsel, Prof Dr Arfin Hamid dan AM Iqbal Parewangi, anggota DPD RI dari Sulsel.

Pernyataan pembelaan juga datang dari ketua FKPT Sulsel, Prof Dr Arfin Hamid. Kata dia, tidak ada organisasi Islam di Sulsel yang masuk jaringan terorisme.

"Sudah tiga tahun kita FKPT melakukan kegiatan-kegiatan pencegahan terorisme. Aktif melakukan diskusi bersama ormas-ormas Islam yang ada tentang pencegahan terorisme. Yang kami rasakan di Sulsel, tidak ada itu jaringan terorisme," tandas Prof Dr Arfin Hamid.

Kalaupun ada di antara ormas-ormas itu yang keras-keras, menurutnya itu hanyalah gaya. Sebagaimana ada organisasi-organisasi lain yang memilih bergaya lemah lembut.

Diungkap, dirinya belum pernah melihat tayangan ulang di salah satu TV nasional itu yang membuat organisasi Wahdah Islamiyah terpojok karena dituding sebagai organisasi jaringan teroris. Tetapi diketahui jika dalam acara TV itu, menghadirkan Brigjen Polisi Hamidin, direktur pencegahan Badan Nasional Pemberantasan Terorisme (BNPT) sebagai nara sumber. Dan hingga saat ini, kata Arfin, dirinya sebagai ketua FKPT Sulsel belum ada komunikasi dengan BNPT terkait tudingan itu.

Sementara itu, ustaz Muhammad Zaitun Rasmin ketua Umum Wahdah Islamiyah mengatakan, TV nasional yang menuding organisasinya itu sama sekali tanpa dasar. Pihaknya sudah berusaha mencari tahu dari mana asal data tayangan TV itu hingga ke BNPT dan BNPT nyatakan data itu bukan dari pihaknya.

"TV nasional Metro TV ini harus bertanggung jawab atas tudingan yang merusak nama baik kami dan organisasi kami," tegas ustaz Zaitun Rasmin seraya mengatakan, sejak penayangan tanggal 3 Januari itu, pihak Metro TV sama sekali belum ada itikad baiknya untuk melakukan pengecekan atau mengklarifikasi dengan menghubunginya terkait tudingan tersebut. Padahal keluhan, protes dari pihak Wahdah Islamiyah sudah ramai dibicarakan termasuk di media sosial.[]

Sumber: http://www.merdeka.com/peristiwa/ormas-ormas-islam-sulsel-nyatakan-wahdah-islamiyah-bukan-teroris.html
Selengkapnya ...

Warga Gorontalo Tolak Fitnah Teroris oleh Metro TV terhadap Wahdah Islamiyah



Warga Gorontalo menolak tuduhan teroris yang dilakukan oleh salah satu stasiun televisi nasional, Metro TV, terhadap ormas Wahdah Islamiyah dan pimpinannya, DR. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc. MA.

Warga yang terdiri atas berbagai elemen masyarakat Gorontalo membentangkan spanduk bertuliskan, “Kami warga Gorontalo menolak tuduhan teroris oleh Metro TV kepada Ustad Zaitun dan ormas Wahdah Islamiyah”.

Menanggapi fitnah Metro TV terhadap Wahdah Islamiyah dan Zaitun Rasmin, Ketua MUI Provinsi Gorontalo KH Abdurrahman Bahmid mengatakan, “Saya sangat kenal dengan Wahdah Islamiyah sebagai organisasi, saya juga kenal dengan aktifitas mereka, bahkan saya langsung berinteraksi dengan aktifitas dakwah mereka”.

“Kami melihat apa yang dituduhkan itu sesuatu yang sangat tidak berdasar, sesuatu yang sangat ngawur”, lanjut tokoh masyarakat Gorontalo ini.

Ustaz Abdurrahman juga mengatakan bahwa materi dakwah yang disampaikan oleh dai Wahdah Islamiyah jauh dari kesan teroris, bahkan  mereka sangat anti terhadap kekerasan.

“Jadi, saya sebagai pribadi sangat menyesalkan apa yang disampaikan oleh Metro TV, menyampaikan berita tetapi tidak mempunyai sumber yang jelas”, lanjutnya. “Dan untuk itu, ini harus diklarifikasi langsung oleh pihak media mereka (Metro TV)”, pungkasnya.

Sebelumnya, dalam sebuah tayangannya, stasiun televisi milik Ketua Umum Partai Nasdem itu menayangkan bila ormas Wahdah Islamiyah dan Zaitun Rasmin adalah bagian dari jaringan teroris di Indonesia. []

Sumber: suara-islam.com/read/index/16704/Warga-Gorontalo-Tolak-Fitnah-Teroris-oleh-Metro-TV-terhadap-Wahdah-Islamiyah
Selengkapnya ...

Selasa, 05 Januari 2016

Metro TV Fitnah Wakil Sekjen MUI Pusat


alBalaghMedia.com-- Metro TV kembali berulah. Stasiun TV nasional tersebut membuat fitnah terhadap ormas Islam Wahdah Islamiyah (WI) yang dipimpin oleh ustadz Zaitun Rasmin yang juga menjabat sebagai Wakil Sekjen MUI Pusat.

Dalam tayangan Metro TV edisi 3 Januari 2016 pukul 15:55 WIB, Metro TV menampilkan daftar Jaringan Teroris di Indonesia Sebelum Pengaruh ISIS Tahun 2013. Dalam daftar tersebut ada nama WAHDAH ISLAMIYAH dan ketuanya ustadz Zaitun Rasmin.

Dirilis dalam website harian Amanah, Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin, memastikan akan menempuh jalur hukum dengan melaporkan Metro TV ke Dewan Pers.

Ustadz Zaitun sangat menyayangkan isi pemberitaan Metro TV yang menyebut organisasinya sebagai salah satu jaringan kelompok teroris.

"Itu tidak benar. Sama sekali itu merupakan sebuah fitnah yang dialamatkan kepada saya dan Wahdah Islamiyah," kata Ustad Zaitun.

Inisiator MIUMI ini menegaskan, pihaknya telah menjelaskan kepada Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) perihal keberadaan Wahdah Islamiyah.

"Waktu BNPT melakukan sosialisasi, saya sudah pernah menjelaskan terkait tuduhan yang dialamatkan kepada saya dan Wahdah. Dan BNPT sudah menerima hal tersebut," jelasnya.

Ustad Zaitun meyakini masyarakat tidak akan percaya begitu saja dengan pemberitaan bohong itu, sebab Wahdah Islamiyah  yang senantiasa mengedepakan pola dakwah yang santun dan elegan, sudah sangat dikenal oleh masyarakat.

Pembelaan dari berbagai tokoh Islam pun bermunculan. Ustadz Yusuf Mansur (@Yusuf_Mansur) dalam twiternya menyatakan: "Wahdah Islamiyah, dg pimpinannya yakni Ust Zaitun, bukan lembaga teroris. &bukan pula jaringan teroris. InsyaaAllah saya mengenal dg baik."

Pengurus MUI Pusat, ustadz Fahmi Salim (@Fahmisalim2) dalam twiternya menyatakan : "Harap @Metro_TV tidak mengulang fitnah murahan kpd Wahdah Islamiyah : http://m.tribunnews.com/regional/2010/06/29/sidney-jones-wahdah-islamiyah-bukan-organisasi-teroris"

Tokoh muda Muhammadiyah Mustofa Nahrawardaya (‏@TofaLemon) juga ikut komentar : SADIS sekali @Metro_TV ya. Memasukkan Ustadz Pengisi Damai Indonesiaku ke dalam Gerombolan Teroris.[]
Selengkapnya ...

Minggu, 11 Januari 2015

Inilah Muslim yang Disebut Pahlawan di Prancis


Lassana Bathily jadi Pahlawan muslim di Prancis
Lassana Bathily dan Hypermart tempatnya bekerja, sumber telegraph.co.uk

alBalaghMedia.com-- Lassana Bathily (24 tahun), seorang karyawan Muslim di toko Paris Kosher Hyper di selatan Perancis, yang diserang oleh teroris lalu dipuji menjadi pahlawan. Di media sosial ia disebut sebagai pahlawan.

Tindakan berani yang ia lakukan justru mengubah kesan buruk yang menyudutkan muslim di setiap serangan teroris. Lalu apa yang ia lakukan?

Pada Jumat (9/1) malam, ketika Amedy Coulibaly melepaskan tembakan di toko tersebut, ia menyelamatkan beberapa pelanggan dengan menyembunyikan mereka dalam freezer. "Aku pergi ke freezer, aku membuka pintu, ada beberapa orang yang pergi denganku. Aku mematikan lampu dan freezer, "kata Bathily kepada BFMTV jaringan Perancis, seperti yang dikutip dari Huffington Post, Ahad (11/1).

Bathily menuturkan, saat membawa beberapa pelanggan ke dalam freezer ia juga berusaha untuk menenangkan mereka. “Aku membawa mereka di dalam dan saya mengatakan kepada mereka untuk tetap tenang di sini, aku akan pergi keluar. Ketika mereka tiba, mereka berterima kasih kepada saya,” ucap dia.

Tidak jelas secara banyak pelanggan yang berhasil disembunyikan Bathily di dalam freezer yang berada di ruang bawah tanah toko tersebut. Dewan kota Malik Yettou mengatakan bahwa enam orang dan bayi lolos dari pria bersenjata itu dengan bersembunyi di sana, sementara BFMTV menempatkan angka pada sekitar 15.

Sementara itu, karyawan lain di pasar melarikan diri melalui pintu darurat. Adapun polisi menggerebek supermarket dan toko percetakan secara bersamaan serta membunuh saudara Kouachi dan Coulibaly.

Bathily mengatakan kepada BFMTV bahwa ia berhasil keluar dari toko melalui lift barang. Ketika ia bertemu polisi, ia sempat diduga merupakan salah satu dari komplotan teroris.

"Mereka mengatakan kepada saya, turun di tanah, tangan di atas kepala Anda," katanya.

Bathily menambahkan, para polisi juga sempat memborgol dan menahan dirinya dengan cara memeluk selama satu jam setengah. Ia pun mengatakan kepada para polisi bahwa sebenarnya dia justru membantu polisi dengan rencananya yang menyelamatkan dan menyembunyikan beberapa pelanggan di freezer yang berada di ruang bawah tanah toko tersebut. [rol/islamedia]
Selengkapnya ...

Berita

Kajian

Koreksi

Kisah

Muslimah

Khazanah

Catatan Kecil

Opini

Dari Ummat

Dibolehkan menyebarkan konten website ini tanpa perlu izin dengan tetap menyertakan sumbernya. Tim al-Balagh Media