Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 April 2016

'Skak Mat' Atas Penyebar Kebohongan Adanya Baiat di Wahdah Islamiyah

Kampus STIBA al-Wahdah, Makassar

alBalaghMedia.com--Teringat sekitar tahun 2008 silam, salah seorang dokter di Bogor ingin memperkenalkan saya dengan salah satu keluarganya, seorang Ustadz yang baru pulang dari Yaman.

Saat itu saya bertemu di rumah dokter ini. Ia berbicara banyak, entah pembicaraan tentang apa, tiba2 tersebutlah Mahad Ar-Raayah ketika itu. Si Ustadz ini kemudian mengomentari bahwa Ar-Raayah ini adalah milik Wahdah Islamiyah, di sana ada bai'at karena di Wahdah itu ada bai'at -menurutnya (ntah dapat bisikan syetan dari mana). 

Saya pun hanya mendengar tanpa komentar sama sekali. Karena sedari tadi ustadz ini yang terus bercerita, tibalah saatnya dia bertanya tentang saya, asal saya dan belajar di mana???

Saya pun menjawab bahwa saya alumni takmili lipia -saat itu- dan sebelumnya saya pernah belajar di STIBA Makassar (Mahad Aly Al-Wahdah) di bawah naungan Yayasan Wahdah Islamiyah, saya bergabung dengan WI dari tahun 2003 (meskipun waktu SMA sudah kenal dan jadi Simpatisan karena Kaka' saya sudah bergabung duluan) sampai sekarang -saat itu- dan menjadi pengurus di WI Jakarta, dan selama ini saya belum pernah dibai'at.

Ustadz itu terdiam sambil menahan malu.

----------
"Cukuplah seorang dikatakan pendusta, bila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar."[]

Sumber: https://www.facebook.com/abuputri.khairiyyah 
Selengkapnya ...

Kamis, 28 Januari 2016

Kisah Taubat Dusta



MANSHUR bin Ammar berkata : "Dulu aku pernah memiliki seorang teman yang buruk. Lalu dia bertaubat, aku melihatnya sebagai seorang ahli ibadah, banyak ibadah dan tahajjud.

Aku lalu tidak melihat dan bertemu dengannya beberapa hari, sampai dikabarkan kepadaku bahwa dia sedang sakit.

Aku lalu mendatangi rumahnya. Putrinya menyambutku dan berkata : "Kamu mencari siapa?"
Aku menjawab : "Sampaikan ke ayahmu si fulan datang menemuimu."

Putrinya lalu memintakan idzin untukku dan akupun masuk menemuinya dan mendapatinya terbaring di pembaringan dalam rumah dengan keadaan wajah telah menghitam, mata berbinar dan kedua bibirnya kelu.

Dengan perasaan takut atas keadaannya, aku berkata : “Wahai saudaraku perbanyaklah mengucapkan LA ILAHA ILLALLAH"
Dia membuka kedua matanya, lalu memandangiku dengan pandangan yang tajam dan kemudian pingsan.

Setelah siuman, Aku kembali mengatakan kepadanya : “Wahai saudaraku perbanyaklah mengucapkan LA ILAHA ILLALLAH"
Dan aku kembali mengulangi perkataanku kepadanya untuk yang ketiga kalinya, dia membuka matanya dan berkata : “Wahai Mansur, Saudaraku. Aku telah terhalangi dari mengucapkan perkataan ini. Aku telah terhalangi dari mengucapkan perkataan ini"

Aku berkata kepadanya : “la hawla wala quwwata illa billah... wahai saudaraku, mana shalat yang dulu itu, mana puasa dan tahajjud yang dulu itu?"

Dia menjawab : "Semua itu dulu aku lakukan untuk selain ALLAH, dan taubatku adalah taubat yang dusta. Dulu aku melakukan semuanya agar aku mendapat pujian. Aku melakukannya karena RIYA. Tapi ALLAH tidak ridha kecuali menyingkap keburukan yang aku lakukan. Dulunya, disaat aku berkesendirian, aku menutup pintu, aku menutupi diriku dan mulai meminum khamr, aku menantang Rabku dengan kedurhakan yang aku lakukan. Aku melakukan itu dalam waktu yang cukup lama, sampai aku tertimpa penyakit sampai kematian membayangiku. Aku lalu berkata kepada putriku : “Berikan Mushaf kepadaku dan antar aku ke tengah beranda rumah."

Putriku lalu mengantarku ke beranda rumah sementara aku membawa mushaf. Aku lalu membuka lembaran mushaf dan membacanya, lalu aku berkata : "ya ALLAH, dengan kebenaran perkataan-Mu ini dalam AL-Quran yang agung ini, sembuhkanlah aku dan aku berjanji tidak akan kembali mekakukan dosa-dosaku lagi, sembuhkan aku ya Rabb, dan aku tidak akan kembali melakukan dosaku untuk kedua kalinya.”

ALLAH lalu memberikan kesembuhan kepadaku.

Ketika sembuh. aku kembali melakukan dosaku, kembali kedalam kemaksiatan dan kedurhakaan, dan Setan membuatku lupa dengan janjiku. Janji antara diriku dan Rabku. Aku terlarut dalam keadaan seperti itu cukup lama. Syahwat, kelezatan, dan kemaksiatan. Aku mendurhakai Rabb langit dan bumi, dan aku pun sakit untuk kedua kalinya. Sakit yang sangat parah. Kematian pun kembali membayangiku.

Aku kembali menyuruh keluargaku, mengantarku ke beranda rumah dan memberiku Mushaf aku melakukan seperti yang aku lakukan sebelumnya. Aku kemudian membaca AL-Qur'an, lalu aku mengangkat Qur'an itu ke dadaku dan berkata : “YA ALLAH... dengan kehormatan Mushaf yang Mulia ini.. dari perkataan-Mu..longgarkan penderitaanku… "

Allah lalu menjawab doaku, "Dia menyembuhkanku..dan aku berjanji kepada ALLAH untuk tidak kembali melakukan dosa dan kemaksiatan lagi." Akan tetapi aku kembali melakukannya. Aku pura-pura lupa, larut dalam kelalaian sampai aku akhirnya tertimpa penyakit yang engkau lihat sekarang ini.

Aku kembali meminta keluargaku. mengatarku ke beranda dalam rumah. Seperti kebiasanku. dan seperti yang engkau lihat sekarang, kemudian aku mengatakan kepada mereka : “Bawakan mushaf untukku... agar aku bisa membacanya, akan tetapi ketika aku membuka mushaf saat itu. Aku tidak dapat melihat satu huruf pun dari mushaf itu. Ketika aku membuka mushaf saat itu. Aku tidak dapat melihat satu huruf pun dari mushaf itu. Aku kemudian tahu, bahwa sesungguhnya ALLAH Penguasa Langit dan Bumi telah murka kepadaku. Aku kemudian tahu, bahwa sesungguhnya ALLAH Penguasa Langit dan Bumi telah murka kepadaku.

Betapa sering aku mengumbar janjiku kepada-Nya. Betapa seringnya aku bertaubat dan berdusta dengan taubatku dan betapa seringnya ALLAH menyelamatkanku dan memberiku kesempatan demi kesempatan. Aku kemudian tahu bahwa ALLAH Subhanahu wa Ta'ala telah murka kepadaku.

Aku menengadahkan kepalaku ke langit dan berkata “YA ALLAH longgarkan penderitaanku, longgarkan penderitaanku wahai Penguasa langit dan bumi"

Aku lalu mendengar suara yang seakan berbisik berkata :
Engkau taubat dari dosamu saat kau sakit...
Dan engkau kembali ke dosamu dikala sembuh...
Betapa banyak Kami melonggarkan kesulitanmu...
Betapa seringnya Kami menyingkap bala yang menimpamu...
Tidakkah engkau takut kematian mendatangimu…
Saat engkau bergumul dengan kesalahan yang engkau mainkan...

Manshur bin Ammar berkata : "Demi ALLAH Tidaklah aku keluar meninggalkannya kecuali airmata telah membasahi mataku, dan aku belum sampai di pintu keluar rumahnya namun telah dikabarkan kepadaku kalau dia telah meninggal dunia."

Dia telah dihalangi dari apa yang dia inginkan.

Maka dari itu ALLAH berfirman:

يٰٓأَيُّهَا    الَّذِينَ    ءَامَنُوا۟    تُوبُوٓا۟    إِلَى    اللّٰـهِ    تَوْبَةً    نَّصُوحًا    عَسَىٰ    رَبُّكُمْ    أَن    يُكَفِّرَ    عَنكُمْ    سَيِّـَٔاتِكُمْ    وَيُدْخِلَكُمْ    جَنّٰتٍ    تَجْرِى    مِن    تَحْتِهَا    الْأَنْهٰرُ    يَوْمَ    لَا    يُخْزِى    اللّٰـهُ    النَّبِىَّ    وَالَّذِينَ    ءَامَنُوا۟    مَعَهُۥ    ۖ    نُورُهُمْ    يَسْعَىٰ    بَيْنَ    أَيْدِيهِمْ    وَبِأَيْمٰنِهِمْ    يَقُولُونَ    رَبَّنَآ    أَتْمِمْ    لَنَا    نُورَنَا    وَاغْفِرْ    لَنَآ    ۖ    إِنَّكَ    عَلَىٰ    كُلِّ    شَىْءٍ    قَدِيرٌ  

"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu".  (QS. at-Tahrim: 8)[]


Diterjemahkan dari Ceramah Syekh Khalid Ar-Rasyid
( https://www.youtube.com/watch?v=2KCIs6HoseE)

Oleh: Muttaqin Rusli.
Selengkapnya ...

Selasa, 26 Januari 2016

Kisah Al-Baqilany Membungkam Raja Romawi



ABU Bakr al-Baqilany -rahimahullah Ta'ala- termasuk ulama besar di masanya. Raja Iraq memilihnya dan mengirimnya pada tahun 371 H untuk berdialog dengan Nashara di Konstantinopel.

Ketika raja Romawi mendengar kedatangan Abu Bakr al-Baqilany maka dia menyuruh para pengawalnya agar mengurangi tinggi pintu agar al-Baqilany terpaksa masuk dengan menundukkan kepala dan badan seperti ketika rukuk sehingga al-Baqilany seperti merendahkan diri di hadapan raja Romawi dan para pengawalnya.

Ketika al-Baqilany tiba maka beliau mengetahui adanya siasat tersebut. Maka beliau memutar badan ke belakang dan membungkuk seperti rukuk lalu masuk dengan berjalan ke arah belakang sambil mengarahkan leher belakangnya ke arah raja sebagai dan bukan wajahnya. Di sinilah Raja mengetahui bahwa di hadapannya ada bencana besar.

Al-Baqilany -rahimahullah- masuk lalu menyampaikan ucapan penghormatan untuk mereka, namun beliau tidak mengucapkan salam kepada mereka karena adanya larangan dari Rasulullah shallallahu alaihi was sallam agar tidak mendahului mengucapkan salam kepada Ahli Kitab.

Kemudian beliau menoleh kepada pendeta terbesar dan berkata kepadanya: "Bagaimana keadaan Anda dan anak istri?"

Mendengar hal itu maka Raja marah dan mengatakan: "Apakah engkau tidak tahu bahwa para pendeta kami tidak menikah dan tidak memiliki anak?!"

Al-Baqilany menjawab: "Allahu akbar. Kalian mensucikan para pendeta kalian dari pernikahan dan anak-anak, kemudian kalian menuduh Rabb kalian telah menikahi Maryam dan melahirkan Isa!"

Maka Raja semakin naik pitam kemudian mengatakan: "Lalu apa pendapatmu tentang apa yang dilakukan oleh Aisyah?!"

Al-Baqilany menjawab: "Jika Aisyah radhiyallahu anha telah dituduh dengan tuduhan dusta dan keji (dituduh oleh orang-orang munafik dan Rafidhah), maka sungguh Maryam pun telah dituduh seperti itu juga (dituduh oleh Yahudi), namun keduanya adalah wanita suci (dari perbuatan keji -pent). Hanya saja Aisyah menikah namun tidak memiliki anak. Adapun Maryam melahirkan tanpa menikah. Jadi manakah dari keduanya yang lebih pantas dituduh secara bathil, dan alangkah jauhnya beliau berdua -radhiyallahu anhuma- dari tuduhan itu?!"

Maka Raja pun semakin bingung, lalu dia mengatakan: "Apakah nabi kalian dahulu ikut berperang?"

Al-Baqilany menjawab: "Ya."

Raja bertanya lagi: "Apakah dia berperang di depan pasukan?"

Al-Baqilany menjawab: "Ya."

Raja bertanya lagi: "Apakah dia pernah menang?"

Al-Baqilany menjawab: "Ya."

Raja bertanya lagi: "Apakah dia pernah kalah?"

Al-Baqilany menjawab: "Ya."

Maka Raja mengatakan: "Aneh sekali, nabi kok kalah!"

Maka al-Baqilany menimpali: "Apakah ada sesembahan yang disalib?!"

Akhirnya terbungkamlah orang kafir itu.[]

(Tarikh Baghdad, jilid 5 hal. 379. Majmu'ah an-Nahjul Audhah)
Selengkapnya ...

Senin, 25 Januari 2016

Kisah Senyuman dan Segelas Teh


 
SEORANG guru di Jeddah bercerita :

Di saat saya sedang berada di ruang guru, saya membuat segelas teh untuk diminum, tapi lonceng kemudian berbunyi sementara tehnya masih sangat panas, dan di sekolah ini semua guru wajib untuk bersegera menuju kelas saat lonceng sudah berbunyi.

Saya kemudian melihat seorang OB (Office Boy) berkebangsaan Filiphina, saya tersenyum kepadanya dan memberinya segelas teh itu.

Keesokan harinya, OB itu datang kepada saya dan berkata kalau dia sangat kaget, itu adalah kali pertama ada seorang guru yang tersenyum kepadanya dan bahkan memberinya segelas teh, dia merasa kalau ada sesuatu yang salah.

 Dengan berat saya berkata kepadanya: "Saya ingin memuliakanmu dan kami orang Islam, dan beginilah akhlaq kami "

Dia (OB) berkata : "Saya di sini sudah 2 tahun bekerja, tak ada satu pun dari guru-guru yang ada yang berbicara dengan saya dan memberi saya senyuman. Sebenarnya saya punya ijazah S2 tapi karena kemiskinan dan kebutuhan hidup akhirnya saya mengambil pekerjaan ini."

Saya tidak percaya dan ingin membuktikan pengakuannya, saya lalu mengundangnya ke rumah, kebetulan saya punya seorang anak yang duduk di kelas 3 SMA, saya lalu menyodorkan buku ensiklopedia berbahasa inggris, dia (sang OB) lalu membacanya tanpa terbata-bata, saya pun akhirnya yakin kalau dia berkata jujur.

Dia kemudian rutin ziarah kerumah saya setiap Jumat. Dia lalu mengumumkan keislamannya, bahkan bisa meyakinkan 10 orang temannya untuk ikut masuk Islam.

 Sebabnya :
"SENYUMAN DAN SEGELAS TEH "

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Jangan engkau menganggap remeh sebuah kebaikan, bahkan jika kebaikan itu hanya meperlihatkan wajah yang sumringah di hadapan saudaramu saat bertemu." (HR. Muslim)
 Semoga ALLAH memaafkan kita semua dari segala kekurangan-kekurangan yang ada.[]

-------------------
Diterjemahkan dari kisah yang di muat di akun resmi FB Syekh Muhammad Al 'Arifi -hafidzahhullah- .
Oleh : Muttaqin Rusli
Selengkapnya ...

Selasa, 10 November 2015

Kisah Ulama Cerdas "Mengerjai" Kaisar Romawi



Al-Imam Abut Thaib Al-Baqillani rahimahullah adalah salah seorang ulama yang terkenal dengan kecerdasannya. Sehingga beliau dipilih oleh Khalifah kaum muslimin sebagai utusan kepada Kaisar Romawi yang beragama Nashrani.

Berangkatlah Abut Thaib menuju istana Kaisar, mengetahui kedatangan Abut Thaib kaum Nasrani memutar otak agar Abut Thaib mau ruku di hadapan Kaisar mereka.

Mereka pun membuat pintu khusus untuk dilewati Abut Thaib, pintu itu dibuat dalam ukuran yang pendek, sehingga setiap yang melewatinya harus menunduk agar bisa masuk lewat pintu tersebut.

Apa yang terjadi?

Setiba di istana Kaisar Romawi Abut Thaib datang menghadap Kaisar, dan Abut Thaib harus melewati pintu khusus yang dirancang untuk dilewatinya.

Apa yang ia lakukan ?
Apakah ia akan menunduk di hadapan Kaisar karena melewati pintu itu?

Abu Thaib melihat pintu yang harus ia lewati adalah pintu yang ukurannya pendek dan mengharuskan dirinya untuk menunduk.
Dengan segera ia membalikan badannya dan masuk melewati pintu tersebut dengan mendahulukan pantatnya.
Dalam ilmu diplomasi Kaisar sudah kalah.

Setelah itu, terjadilah dialog antara Abut Thaib dengan Kaisar dan orang-orang Nahsrani, salah satu isi dari dialog yang terjadi adalah kisah berikut ini.

Diadakan pertemuan antara Abu Thaib dengan Kaisar, Para Pendeta dan Pemimpin tertinggi gereja.
Abut Thaib menyapa pemimpin tertinggi gereja : Apa kabarnya? Bagaimana kabar istri dan anak anda?

Mendengar pertanyaan Abut Thaib semuanya yang ada di tempat itu mengingkarinya, mereka berkata : Kenapa engkau bertanya tentang istri dan anaknya, padahal engkau mengetahui bahwa pemimpin agama kami mensucikan diri dari memiliki istri dan anak.

Abu Thaib berkata : Kalian mensucikan pemimpin agama kalian dari istri dan anak, tapi kalian tidak mensucikan Allah Tuhan kalian dari istri dan anak?

Orang-orang Nashrani pun diam seribu bahasa, tidak bisa menjawabnya sama sekali.[]
Selengkapnya ...

Kamis, 26 Februari 2015

Kisah Imam Abu Hanifah Belajar pada Tukang Cukur

Kisah Imam Abu Hanifah Belajar pada Tukang Cukur

Imam Abu Hanifah rahimahullah mengisahkan “Aku melakukan kesalahan dalam lima hal tentang manasik haji, lalu aku diajarkan oleh seorang tukang cukur, yaitu ketika aku ingin selesai dari ihram. Aku mendatangi salah seorang tukang cukur, lalu aku berkata kepadanya, "berapa harganya? "

“Semoga Allah menunjukimu. Ibadah tidak mensyaratkan soal harga. Duduk sajalah dulu. Soal harga gampang,” jawab tukang cukur.

Waktu itu aku duduk tidak menghadap kiblat, lantas ia mengarahkan dudukku hingga menghadap kiblat.
Aku menunjukkan bagian kiri kepalaku, lalu ia memutarnya sehingga mulai mencukur kepalaku dari sebelah kanan.

Ketika aku dicukur, ia melihatku diam saja. Lalu ia menegurku, “Kenapa diam saja? Ayo perbanyaklah takbir.” Maka aku pun bertakbir.

Setelah selesai, aku hendak langsung pergi. Lalu ia berkata, “Mau kemana kamu?”
“Aku mau ke kendaraanku,” jawabku.
Tukang cukur itu mencegahku seraya berkata, “Shalat dulu dua rakaat, baru kau boleh pergi kemana kau suka.”

Aku berkata dalam hati, tidak mungkin tukang cukur bisa seperti ini kalau bukan dia orang alim. Lalu aku berkata kepadanya, “Dari mana engkau dapati mengenai beberapa manasik yang kau perintahkan kepadaku?”

“Demi Allah, aku melihat Atho bin Abi Rabaah mempratekkan hal itu, lalu aku mengikutinya, dan aku arahkan orang banyak untuk belajar kepadanya,” jawab tukang cukur alim tersebut.

Kita lihat bagaimana Tabi'in Atho' bin Abi Rabah mentarbiyah tukang cukur tersebut dengan keteladanan dan bagaimana semangatnya tukang cukur tersebut mendakwahkan pelajaran yang ia dapat dari seorang ahlul ilmi. Dak tak kalah hebatnya ialah bagaimana kelapangan hati seorang Imam besar, Abu Hanifah untuk belajar dari seorang tukang cukur. Sungguh ini adalah potret orang-orang alim di zaman generasi terbaik Islam.[]
Selengkapnya ...

Selasa, 24 Februari 2015

Penumpang Taksi Insaf Mendengar Murattal al-Qur'an

Pria Ini Bertobat Setelah Menumpang Taksi

Seorang supir taksi bernama Abdullah Ash Sherif bekerja pada periode 2004-2008. Dia mengemudi sepanjang jalan Alexandria Mesir sambil mendengarkan suara Sheikh Mishari ar Rasyid membacakan Surat Al Hadid.

Seorang pria berusia 60 tahun menyetop taksinya dan meminta diantar ke Karmuz. Tiba-tiba pria tersebut gemetar ketika mendengar Mishari menyebutkan surat Al-Hadid ayat 16.
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hatinya, mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka, dan janganlah mereka seperti  orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan kitab padanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang fasik."

Setelah mendengar ayat tersebut, tiba-tiba dia menangis histeris. Supir taksi pun menghentikan taksinya untuk menenangkannya. Dia juga menghentikan kaset lantunan al-Qur'an tersebut. Namun penumpang taksi itu meminta melanjutkan untuk memutar lantunan ayat al-Qur'an.

Tetapi dia kembali menangis. Setelah selesai mendengarkan ayat terakhir penumpang tersebut kemudian berkisah mengenai dirinya. Penumpang tersebut bernama Musad. Dia memiliki penyakit jantung. Satu ketika dia terkena serangan jantung dan pergi ke dokter pribadi.

Namun dokternya tidak mau membukakan pintunya karena hari telah malam. Kemudian anak-anaknya membawa dia ke rumah sakit umum tetapi tidak ada  perawatan yang cocok untuknya. Dia pun pergi ke pinggir sungai dan berdoa pada Allah untuk menyembuhkannya.

Seketika sakitnya semakin hebat namun pelan-pelan sakitnya mulai mereda. Setelah itu hidupnya kembali seperti biasa. Namun sejak sembuh dia tak pernah berdoa dan shalat bahkan satu rakaat pun. Melalui lantunan ayat Alquran tadi dia merasa sedang diingatkan Allah.

Dia menangis bukan karena takut diberikan sakit jantung kembali. Tetapi karena malu Allah telah memenuhi semua keinginanya tetapi tidak pernah menuruti firman-Nya.[]

Sumber: republika.co.id
Selengkapnya ...

Selasa, 03 Februari 2015

Abdurrahman Ad-Dakhil, Sang Penakluk Andalusia

- Istana al-Hamra peninggalan Dinasti Bani Umayyah II di Spanyol -
- Istana al-Hamra peninggalan Dinasti Bani Umayyah II di Spanyol -

Kisah bagaimana Abdurrahman Ad-Dakhil meninggikan Islam di tanah eropa terbilang luar biasa.

Kala itu, Abdurrahman yang saat itu berusia 19 tahun harus kabur dari istana saat keluarganya dari Dinasti Umayyah dihancurkan oleh Dinasti Abbasiyah. Pemuda yang mempunyai nama lengkap Abdurrahman bin Muawiyah bin Hisyam bin Abdul Malik sempat lari dari Irak, mengarungi gurun Syria menuju Palestina. Kemudian menyeberangi gurun Sinai ke Mesir, lalu melewati beberapa wilayah Afrika menuju Andalusia (Spanyol) yang telah ditaklukkan oleh nenek moyangnya dari Dinasti Umayyah.

Saat di perjalanan, Abdurrahman diikuti oleh 400 budak yang setia pada Bani Umayyah. Ada yang mengatakan, ketika dia mendarat pada 755 M, pasukan tentara Syam menghadiahkan seorang budak perempuan yang sangat cantik. Namun, Abdurrahman mengembalikan perempuan itu kepada mereka.
Abdurrahman dikenal sebagai orang yang cerdas dan berani. Ia memilih menaklukan Spanyol daripada harus merebut kembali kekuasaan khalifah dari tangan Abbasiyah. Dengan pasukan yang dihimpunnya selama perjalanan, ia kemudian memilih menyerang Cordoba. Dia berhasil menaklukkan kota itu dan kemudian menjadikannya sebagai ibu kota kerajaan.

Sayangnya, sejumlah orang dari bangsa Yamaniyun (Arab Selatan) tidak menghendaki Abdurrahman menjadi pimpinan mereka. Bersama sejumlah orang barbar, mereka pun melakukan pemberontakan.

Ancaman terhadap Abdurrahman pun tidak hanya dari kalangan sendiri, Khalifah Al Manshur yang mendirikan Dinasti Abbasiyah pun tak luput mengancam Abdurrahman. Beberapa kali Khalifah Al-Manshur mengirimkan bala tentaranya yang terdiri dari para budak belian yang setia kepada Daulah Abbasiyah untuk mengembalikan Andalusia ke tangan mereka. Lagi-lagi, Abdurrahman mampu memadamkan berbagai pergolakan tersebut, serta memukul mundur tentara Al-Manshur.

Ancaman terhadap Abdurrahman tidak hanya dari Dinasti Abbasiyah. Kaisar Romawi yang bertahta di Prancis, Charlemagne juga beberapa kali menyerang Cordoba. Namun berkat kesigapan dan keterampilan Abdurrahman dalam memimpin, pasukan Romawi bisa dipukul balik.

Abdurrahman pun kemudian membangun angkatan bersenjata yang teratur yang jumlahnya tidak kurang dari empat puluh ribu personel. Dia sadar bahwa Andalusia sangat mungkin diserang dari tiga arah di lautan. Oleh sebab itu, dia kemudian membangun armada perang laut yang tergolong sebagai armada yang pertama kali di Andalusia. Armada ini menjadi armada perang laut terkuat di Barat dan Laut Tengah.

Abdurrahman pun tak hanya cakap dalam memimpin pasukannya. Di bawah kekuasaanya, Andalusia mencapai pertumbuhan ekonomi yang paling tinggi, dan perkembangan peradaban yang sangat pesat. Suatu kemajuan yang belum pernah dicapai oleh Andalusia hingga saat ini. Cordoba bersaing dengan Konstantinopel dan Baghdad dari segi kemegahan, kemewahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan seni. Cordoba kemudian dikenal di barat sebagai sebagai Permata Dunia.

Masjid Cordoba - di Spanyol

Tiga tahun sebelum meninggal dunia, Abdurrahman merenovasi dan memperluas bangunan Masjid Cordoba. Atapnya disangga oleh tiang-tiang besar yang berjumlah 1293 tiang. Bangunan ini laksana Ka’bah kaum Muslimin di dunia Islam bagian barat. Hingga kini masjid itu masih berdiri megah. Ia termasuk tempat yang paling banyak dikunjungi oleh para wisatawan setelah Istana Al-Hamra, sebagai peninggalan sejarah yang menarik.

Selain itu, Abdurrahman juga dikenal sebagai seorang penyair dan orator ulung. Meskipun sejarah menyebutkan bahwa dia adalah pemuda terusir, namun dengan ketegaran dan kemauan kerasnya ia berhasil mendirikan Daulah Umayyah II yang mampu bertahan hingga 1031 M.

Setelah memerintah selama 32 tahun, Abdurrahman Ad-Dakhil meninggal pada 172 H dalam usia 61 tahun. Abdurrahman layak disebut Rajawali Quraisy, dari seorang pelarian politik menjadi penguasa Andalusia.[]

(islamstory.com)
Selengkapnya ...

Kamis, 29 Januari 2015

Ummu Kultsum, Ibu Negara yang Menjadi Bidan Bagi Rakyatnya

 -Kisah Umar bin Khattab dan Ummu Kultsum -

alBalaghMedia.com-- Pada malam itu, sebagaimana biasa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu melakukan ronda mengelilingi wilayahnya. Untuk memantau keadaan masyarakat, kalau-kalau ada orang yang kelaparan atau membutuhkan pertolongan.

Di pinggir kota Madinah, Umar bertemu dengan seorang Badui yang tengah gelisah di depan sebuah kemah. Dari dalam kemah terdengar rintihan seorang wanita. Bergegas Umar mendatangi Badui tersebut dan menanyakan apa yang sedang terjadi. Awalnya Badui itu menolak menjawab, namun karena Umar terus mendesak akhirnya Badui itu berkata bahwa istrinya sedang kesakitan karena mau melahirkan sementara tidak ada seorang pun yang menolongnya.

Umar bergegas meninggalkan Badui itu dan pulang ke rumahnya. Ia menemui istrinya, Ummu Kultsum binti Ali bin Abu Thalib radhiyallahu 'anhuma dan berkata,” Apakah kamu ingin mendapat pahala yang Allah akan limpahkan kepadamu?” Ummu Kultsum radhiyallahu 'anha menjawab dengan antusias, “Apa wujud kebaikan dan pahala tersebut wahai Umar?” Lalu Umar menjelaskan kondisi keluarga Badui yang baru ditemuinya sekaligus mengajak Ummu Kultsum untuk membantu persalinan wanita istri Badui tersebut. Ummu Kultsum bergegas menyiapkan peralatan untuk persalinan bayi dan Umar memanggul gandum serta membawa minyak samin.

Sesampainya di sana, Ummu Kultsum bergegas masuk ke dalam kemah dan menolong wanita Badui melahirkan bayinya. Sementara itu Umar bergegas memasak makanan di luar kemah. Ketika bayi telah lahir, Ummu Kultsum secara spontan berseru dari dalam kemah: "Wahai Amirul Mukminin, sampaikan kepada temanmu itu bahwa ia dikaruniai anak laki-laki." Orang Badui dan istrinya pun kaget, tidak menyangka bahwa orang yang membantu persalinan adalah Ummul Mukminin dan yang memasakkan mereka adalah  Amirul Mukminin.[]
Selengkapnya ...

Senin, 26 Januari 2015

Saat Istri Tak Kelihatan Cantik Lagi

hikmah menundukkan pandangan
- Hikmah Menundukkan Pandangan -

SEORANG suami mengadukan apa yang ia rasakan kepada seorang Syekh. Dia berkata:

Ketika aku mengagumi calon istriku seolah-olah dalam pandanganku Allah tidak menciptakan perempuan yang lebih cantik darinya di dunia ini.

Ketika aku sudah meminangnya, aku melihat banyak perempuan seperti dia.

Ketika aku sudah menikahinya aku lihat banyak perempuan yang jauh lebih cantik dari dirinya.

Ketika sudah berlalu beberapa tahun pernikahan kami, aku melihat seluruh perempuan lebih manis dari pada istriku.

Syekh berkata: "Apakah kamu mau aku beritahu yang lebih dahsyat dari pada itu dan lebih pahit?"

Laki-laki penanya: Iya, mau.

Syekh: Sekalipun kamu mengawini seluruh perempuan yang ada di dunia ini pasti anjing yang berkeliaran di jalanan itu lebih cantik dalam pandanganmu dari pada mereka semua.

Laki-laki penanya itu tersenyum masam, lalu ia berujar: "Kenapa tuan Syekh berkata demikian?"

Syekh: Karena masalahnya terletak bukan pada istrimu. Tapi masalahnya adalah bila manusia diberi hati yang tamak, pandangan yang menyeleweng, dan kosong dari rasa malu kepada Allah, tidak akan ada yang bisa memenuhi pandangan matanya kecuali tanah kuburan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ ثَانِيًا، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ "

"Andaikan anak Adam itu memiliki lembah penuh berisi emas pasti ia akan menginkan lembah kedua, dan tidak akan ada yang bisa memenuhi mulutnya kecuali tanah. Dan Allah akan menerima taubat siapa yang mau bertaubat".

Jadi, masalah yang kamu hadapi sebenarnya adalah kamu tidak menundukkan pandanganmu dari apa yang diharamkan Allah.

Sekarang, apakah kamu menginginkan sesuatu yang akan mengembalikan kecantikan istrimu seperti pertama kali kamu mengenalnya? Ketika ia menjadi wanita tercantik di dunia ini?

Laki-laki penanya: Iya, mau sekali.

Syekh: Tundukkan pandanganmu![]


Sumber: facebook.com/ShalatDhuha
Selengkapnya ...

Sabtu, 24 Januari 2015

Umar bin Khattab dan Ibu Pemasak Batu

 
Umar bin Khattab dan Ibu Pemasak Batu
- Umar bin Khattab Dan Ibu Pemasak Batu -


alBalaghMedia.com-- Hampir setiap malam Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu melakukan perjalanan diam-diam. Ditemani salah seorang sahabatnya, ia masuk keluar kampung. Ini ia lakukan untuk mengetahui kehidupan rakyatnya. Umar khawatir jika ada hak-hak mereka yang belum ditunaikan oleh aparat pemerintahannya.

Suatu malam, bersama Aslam, Khalifah Umar berada di suatu kampung terpencil. Kampung itu berada di tengah-tengah gurun yang sepi. Saat itu Umar terperanjat. Dari sebuah kemah yang sudah rombeng, terdengar seorang anak kecil sedang menangis berkepanjangan. Umar bin Khattab dan Aslam bergegas mendekati kemah itu, siapa tahu penghuninya membutuhkan pertolongan mendesak.

Setelah dekat, Umar melihat seorang perempuan tua tengah menjerang panci di atas tungku api. Asap mengepul-ngepul dari panci itu, sementara si ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang.

Umar memberi salam. Mendengar salam Umar, ibu itu mendongakkan kepala seraya menjawab salam Umar. Tapi setelah itu, ia kembali pada pekerjaannya mengaduk-aduk isi panci.

 “Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?” tanya Umar.

Dengan sedikit tak peduli, ibu itu menjawab, “Anakku….”

“Apakah ia sakit?”

“Tidak,” jawab si ibu lagi. “Ia kelaparan.”

Umar berkata, “Apa yang sedang kau masak, hai Ibu”

Ibu itu menoleh dan menjawab, “Hmmm, kau lihatlah sendiri!”

Umar dan Aslam segera melihat ke dalam panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut. Sambil masih terbelalak tak percaya, Umar berteriak, “Apakah kau memasak batu?”

Perempuan itu menjawab dengan menganggukkan kepala. “Buat apa?”

Dengan suara lirih, perempuan itu kembali bersuara menjawab pertanyaan Umar, “Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum. Aku seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah maghrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.”

Ibu itu diam sejenak. Kemudian ia melanjutkan, “Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”

Mendengar penuturan si Ibu seperti itu, Aslam akan menegur perempuan itu. Namun Umar sempat mencegah. Dengan air mata berlinang ia bangkit dan mengajak Aslam cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda tua yang sengsara itu.

Karena Umar bin Khattab terlihat keletihan, Aslam berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku saja yang memikul karung itu.”

Dengan wajah merah padam, Umar menjawab, “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”

Ketika sampai di tempat wanita tersebut kemudian khalifah Umar meletakkan karung berisi gandum dan beberapa liter minyak samin ke tanah, kemudian memasaknya. Tatkala gandum tersebut sudah masak Khalifah Umar meminta sang ibu membangunkan anaknya.

“Bangunkanlah anakmu untuk makan.”

Anak yang kelaparan tersebut bangun dan makan dengan lahapnya. Anak tersebut kembali tertidur dengan perut yang telah kenyang.

Wanita itu berkata, “Terima kasih, semoga Allah membalas perbuatanmu dengan pahala yang berlipat.”
Sebelum pergi, khalifah Umar berkata kepada wanita tersebut untuk datang menemui khalifah Umar bin Khattab, karena khalifah akan memberikan haknya sebagai penerima santunan negara.

Esok harinya pergilah wanita tersebut ke tengah kota Madinah untuk menemui khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu‘anhu, dan tatkala wanita tersebut bertemu dengan khalifah Umar, betapa terkejutnya wanita tersebut bahwa khalifah Umar adalah orang yang memanggulkan dan memasakkan gandum tadi malam.[*/albalaghmedia]
Selengkapnya ...

Jumat, 16 Januari 2015

Khamr Berasal dari Bahan Yang Halal, Kenapa Jadi Haram?

Khamr (minuman) memabukkan berasal dari bahan-bahan yang halal kenapa diharamkan? Mungkin kita pernah dihadapkan pada pertanyaan seperti tersebut. Biasanya orang yang bertanya tersebut adalah orang yang tidak mempan dengan dalil dari al-Qur’an dan Sunnah sehingga membutuhkan penjelasan lanjutan dengan logika.  Iyas bin Muawiyah al-Muzanni rahimahullah seorang tabi’in pernah mendapat pertanyaan serupa. Simak bagaimana kecerdasan beliau menjawab pertanyaan tersebut.  Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Iyas bin Mu’awiyah diangkat menjadi Qadhi (hakim) di Bashrah. Beliau terkenal sebagai hakim yang cerdas. Alkisah tersebarlah berita tentang kecerdasan Iyas, sehingga orang-orang berdatangan kepadanya dari berbagai penjuru untuk bertanya tentang ilmu dan agama. Sebagian ingin belajar, sebagian lagi ada yang ingin menguji dan ada pula yang hendak berdebat kusir.  Diantara mereka ada Duhqan (seperti jabatan lurah di kalangan Persia dahulu) yang datang ke majelisnya dan bertanya:  Duhqan: “Wahai Abu Wa’ilah, bagaimana pendapatmu tentang minuman yang memabukkan?”  Iyas: “Haram!”  Duhqan: “Dari sisi mana dikatakan haram, sedangkan ia tak lebih dari buah dan air yang diolah, sedangkan keduanya sama-sama halal.”  Iyas: ”Apakah engkau sudah selesai bicara, wahai Duhqan, ataukah masih ada yang hendak kau utarakan?”  Duhqan: ” Sudah, silahkan bicara!”  Iyas: ”Seandainya kuambil air dan kusiramkan ke mukamu, apakah engkau merasa sakit?”  Duhqan: ”Tidak!”  Iyas: ”Jika kuambil segenggam pasir lalu kulempar kepadamu, apakah terasa sakit?”  Duhqan: ”Tidak!”  Iyas: ”Jika aku mengambil segenggam semen dan kulemparkan kepadamu, apakah terasa sakit?”  Duhqan: ”Tidak!”  Iyas: ”Sekarang, jika kuambil pasir, lalu kucampur dengan segenggam semen, lalu aku tuangkan air diatasnya dan kuaduk, lalu kujemur hingga kering, lalu kupukulkan ke kepalamu, apakah engkau merasa sakit?”  Duhqan: ”Benar, bahkan bisa membunuhku!”  Iyas: ”Begitulah halnya dengan khamr. Disaat kau kumpulkan bagian-bagiannya lalu kau olah menjadi minuman yang memabukkan, maka dia menjadi haram.”  (Sumber kisah: Mereka adalah Tabi’in, oleh: Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, hal. 70-)
- Khamr hasil fermentasi buah anggur -
Khamr (minuman memabukkan) berasal dari bahan-bahan yang halal kenapa diharamkan? Mungkin kita pernah dihadapkan pada pertanyaan seperti itu. Biasanya orang yang bertanya tersebut adalah orang yang tidak mempan dengan dalil dari al-Qur’an dan Sunnah sehingga membutuhkan penjelasan lanjutan dengan logika.

Iyas bin Muawiyah al-Muzanni rahimahullah seorang tabi’in pernah mendapat pertanyaan serupa. Simak bagaimana kecerdasan beliau menjawab pertanyaan tersebut.

Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Iyas bin Mu’awiyah diangkat menjadi Qadhi (hakim) di Bashrah. Beliau terkenal sebagai hakim yang cerdas. Alkisah tersebarlah berita tentang kecerdasan Iyas, sehingga orang-orang berdatangan kepadanya dari berbagai penjuru untuk bertanya tentang ilmu dan agama. Sebagian ingin belajar, sebagian lagi ada yang ingin menguji dan ada pula yang hendak berdebat kusir.

Diantara mereka ada Duhqan (seperti jabatan lurah di kalangan Persia dahulu) yang datang ke majelisnya dan bertanya:

Duhqan: “Wahai Abu Wa’ilah, bagaimana pendapatmu tentang minuman yang memabukkan?”

Iyas: “Haram!”

Duhqan: “Dari sisi mana dikatakan haram, sedangkan ia tak lebih dari buah dan air yang diolah, sedangkan keduanya sama-sama halal.”

Iyas: ”Apakah engkau sudah selesai bicara, wahai Duhqan, ataukah masih ada yang hendak kau utarakan?”

Duhqan: ” Sudah, silahkan bicara!”

Iyas: ”Seandainya kuambil air dan kusiramkan ke mukamu, apakah engkau merasa sakit?”

Duhqan: ”Tidak!”

Iyas: ”Jika kuambil segenggam pasir lalu kulempar kepadamu, apakah terasa sakit?”

Duhqan: ”Tidak!”

Iyas: ”Jika aku mengambil segenggam semen dan kulemparkan kepadamu, apakah terasa sakit?”

Duhqan: ”Tidak!”

Iyas: ”Sekarang, jika kuambil pasir, lalu kucampur dengan segenggam semen, lalu aku tuangkan air diatasnya dan kuaduk, lalu kujemur hingga kering, lalu kupukulkan ke kepalamu, apakah engkau merasa sakit?”

Duhqan: ”Benar, bahkan bisa membunuhku!”

Iyas: ”Begitulah halnya dengan khamr. Disaat kau kumpulkan bagian-bagiannya lalu kau olah menjadi minuman yang memabukkan, maka dia menjadi haram.”

(Sumber kisah: Mereka adalah Tabi’in, oleh: Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, hal. 70-)
Selengkapnya ...

Sabtu, 10 Januari 2015

Kisah Laki-Laki Buta Membunuh Penghina Nabi

Laki-laki buta membunuh penghina nabi
Laki-laki buta membunuh penghina nabi (ils)
 
Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma pernah menceritakan:

Seorang laki-laki buta mempunyai Ummul Walad (budak wanita yang dijadikan isteri) yang menghina Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan ia benar-benar telah melakukannya (penghinaan). Laki-laki itu melarang dan mengancamnya namun ia tidak berhenti dan ia terus melarangnya namun wanita itu tidak menggubris.

Ibnu Abbas melanjutkan ceritanya,
"Pada suatu malam wanita itu kembali mencela Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka laki-laki itu mengambil sebuah pisau tajam dan meletakkan di atas perut wanita itu seraya menusuknya. Laki-laki itu membunuhnya, sementara antara kedua kaki wanita tersebut lahir seorang bayi mungil hingga ia pun berlumuran darah.

Ketika hari telah pagi, kejadian tersebut disampaikan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Beliau lantas mengumpulkan orang-orang dan bersabda: "Aku bersumpah kepada Allah atas seorang laki-laki, ia telah melakukan suatu perbuatan karena aku, ia dalam kebenaran."

Kemudian laki-laki buta itu melangkah di antara manusia hingga ia duduk di hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Ia lalu berkata, "Wahai Rasulullah, aku adalah suaminya. Namun ia mencela dan menghinamu, aku telah melarang dan mengancamnya, namun ia tidak berhenti atau menggubrisnya. Darinya aku telah dikaruniakan dua orang anak yang layaknya bintang yang bersinar, wanita itu sangat sayang kepadaku. Namun, tadi malam ia mencela dan menghinamu, lantas aku mengambil pisau tajam, pisau itu aku letakkan di atas perutnya dan aku tusukkan hingga ia mati."

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu bersabda: "Ketahuilah, bahwa darah wanita itu adalah sia-sia (halal)."

--------------
Kisah tersebut diatas berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Abu Daud Nomor 3795

حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ مُوسَى الْخُتَّلِيُّ أَخْبَرَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ الْمَدَنِيُّ عَنْ إِسْرَائِيلَ عَنْ عُثْمَانَ الشَّحَّامِ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ أَنَّ أَعْمَى كَانَتْ لَهُ أُمُّ وَلَدٍ تَشْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقَعُ فِيهِ فَيَنْهَاهَا فَلَا تَنْتَهِي وَيَزْجُرُهَا فَلَا تَنْزَجِرُ قَالَ فَلَمَّا كَانَتْ ذَاتَ لَيْلَةٍ جَعَلَتْ تَقَعُ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَشْتُمُهُ فَأَخَذَ الْمِغْوَلَ فَوَضَعَهُ فِي بَطْنِهَا وَاتَّكَأَ عَلَيْهَا فَقَتَلَهَا فَوَقَعَ بَيْنَ رِجْلَيْهَا طِفْلٌ فَلَطَّخَتْ مَا هُنَاكَ بِالدَّمِ فَلَمَّا أَصْبَحَ ذُكِرَ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَمَعَ النَّاسَ فَقَالَ أَنْشُدُ اللَّهَ رَجُلًا فَعَلَ مَا فَعَلَ لِي عَلَيْهِ حَقٌّ إِلَّا قَامَ فَقَامَ الْأَعْمَى يَتَخَطَّى النَّاسَ وَهُوَ يَتَزَلْزَلُ حَتَّى قَعَدَ بَيْنَ يَدَيْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا صَاحِبُهَا كَانَتْ تَشْتُمُكَ وَتَقَعُ فِيكَ فَأَنْهَاهَا فَلَا تَنْتَهِي وَأَزْجُرُهَا فَلَا تَنْزَجِرُ وَلِي مِنْهَا ابْنَانِ مِثْلُ اللُّؤْلُؤَتَيْنِ وَكَانَتْ بِي رَفِيقَةً فَلَمَّا كَانَ الْبَارِحَةَ جَعَلَتْ تَشْتُمُكَ وَتَقَعُ فِيكَ فَأَخَذْتُ الْمِغْوَلَ فَوَضَعْتُهُ فِي بَطْنِهَا وَاتَّكَأْتُ عَلَيْهَا حَتَّى قَتَلْتُهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا اشْهَدُوا أَنَّ دَمَهَا هَدَرٌ
Selengkapnya ...

Jumat, 09 Januari 2015

Umair bin Wahab radhiyallahu 'anhu

Kisah Umair bin Wahab radhiyallahu 'anhu
Kisah Umair bin Wahab radhiyallahu 'anhu
“Sungguh Umair telah menjadi seseorang yang lebih aku cintai dari sebagian anak-anakku.” (Umar bin al-Khattab)

Umair bin Wahab al-Jumahi pulang dari Badar dengan selamat, namun dia meninggalkan anaknya di belakangnya sebagai tawanan di tangan kaum muslimin.

Umair khawatir kaum muslimin akan melakukan sesuatu yang buruk terhadap anaknya atas dosa-dosa bapaknya, menyiksanya dengan siksaan terburuk sebagai balasan atas penderitaan yang telah dia timpakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sebagai hukuman atas siksaan yang telah dia timpakan kepada para sahabatnya.

Di suatu pagi, Umair menuju masjid untuk thawaf di Ka’bah dan memohon keberkahan kepada berhala-berhalanya, dia melihat Shafwan bin Umayyah yang sedang duduk di sisi Hijir, dia berjalan kepadanya dan mengucapkan, “Im habahan. Wahai sayid Quraisy.”
Shafwan berkata, “’Im shabahan wahai Abu Wahab. Duduklah, kita berbicara sebentar, kita menghabiskan waktu dengan berbicara.”

Umair pun duduk di depan Shafwan bin Umayyah, dua laki-laki ini mulai berbicara mengenang Badar, mengenang musibahnya yang besar, menghitung tawanan-tawanan yang jatuh di tangan Muhammad dan para sahabatnya, berduka cita atas kematian para pemuka Quraisy di ujung pedang kaum muslimin dan dilemparkannya jasad mereka ke dasar sumur di Badar. Maka Shafwan menarik nafas sedih seraya berkata, “Demi Allah tidak ada kebaikan dalam hidup ini sesudah mereka.”

Umair berkata, “Kamu benar, demi Allah.” Kemudian Umair diam sesaat lalu dia melanjutkan, “Demi Rabb Ka’bah, kalau aku tidak memikul utang yang saat ini aku tidak memiliki sesuatu yang bisa aku gunakan untuk melunasinya. Dan keluarga, dimana aku khawatir mereka akan terlunta-lunta sesudahku, niscaya aku akan pergi kepada Muhammad dan membunuhnya, aku akan menghabisi perkara dan mengakhiri keburukannya.”
Umair melanjutkan dengan suara pelan, “Keberadaan anakku Wahab di antara mereka membuat kehadiranku ke Yatsrib tidak menimbulkan kecurigaan pada mereka.”

Shafwan bin Umayyah memanfaatkan ucapan Umair bin Wahab, dia tidak ingin melepaskan peluang ini begitu saja, maka dia berkata, “Wahai Umair, biarkan aku yang memikul seluruh utang-utangmu, aku akan melunasinya sebesar apapun. Dan keluargamu, akan aku akan menanggung kehidupan mereka bersama dengan keluargaku, selama aku dengan mereka masih hidup. Hartaku melimpah, cukup untuk membiayai mereka dan membuat mereka hidup makmur.”

Umair berkata, “Kalau begitu simpanlah perbicaraan kita ini, jangan katakan kepada siapa pun.”
Maka Shafwan berkata, “Aku menjaminnya untukmu.”

Umair meninggalkan al-Haram sementara api kebencian bergolak di dadanya terhadap Muhammad, dia langsung menyiapkan segala perlengkapannya untuk melaksanakan tekadnya, dia tidak perlu khawatir dicurigai oleh seseorang dalam perjalanannya karena dia termasuk orang-orang Quraisy yang masih mempunyai urusan dengan kaum muslimin terkait dengan tawanan perang Badar, mereka hilir mudik ke Madinah untuk membebaskan tawanan mereka.

Umair mengasah pedangnya setajam mungkin dan menaburkan racun padanya.
Umair menyiapkan kendaraannya, dan naik ke atas punggungnya.

Dia bergerak menuju Madinah dengan niat buruk dan tekad jahat memenuhi sesuatu di dalam jubahnya.
Umair tiba di Madinah, dia menuju masjid hendak menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , setibanya dia di dekat pintu masjid, dia menderumkan onta dan turun dari punggungnya.

Umar bin al-Khattab pada saat itu sedang duduk bersama sebagian sahabat di dekat pintu masjid, mereka membicarakan Badar dan apa yang dibawa olehnya berupa tawanan perang dari orang-orang Quraisy dan korban mereka, mereka mengenang kepahlawanan-kepahlawanan kaum muslimin dari kalangan orang-orang Muhajirin dan Anshar, mereka membicarakan kemenangan yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada mereka, kekalahan dan kehinaan yang Allah Ta’ala timpakan kepada musuh mereka.

Tiba-tiba Umar menoleh, dia melihat Umair bin Wahab turun dari punggung kendaraannya dan berjalan menuju masjid dengan menenteng pedangnya, maka Umar berdiri dengan perasaan cemas, dia berkata, “Anjing, musuh Allah Umair bin Wahab. Demi Allah, dia tidak datang kecuali bermaksud jahat. Dia telah mempengaruhi orang-orang musyrikin di Mekah untuk memusuhi kami dan dia adalah mata-mata mereka atas kami sebelum terjadi perang Badar.”

Kemudian Umar berkata kepada rekan-rekannya, “Pergilah kalian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetaplah kalian di samping beliau, berhati-hatilah terhadap kelicikan orang busuk itu.”
Kemudian Umar bergegas menuju Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia berkata kepada beliau, “Ya Rasulullah, ini musuh Allah Umair bin Wahab telah datang dengan menghunus pedangnya, menurutku dia tidak datang kecuali dengan maksud jahat.”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bawa dia masuk kepadaku.”
Maka al-Faruq membawa Umair bin Wahab kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mencengkeram kerah bajunya dan mengalungkan tali pedangnya di lehernya.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya dalam kondisi demikian, beliau bersabda, “Lepaskan dia wahai Umar.” Maka Umar melepaskannya. Kemudian beliau bersabda kepada Umar, “Mundurlah dariku.” Maka Umar mundur. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghampiri Umair bin Wahab dan beliau bersabda, “Mendekatlah wahai Umair.” Umair berkata, “An’im shabahan.” Ini adalah ucapan salam jahiliyah.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Allah telah memulaikan kami dengan sebuah penghormatan yang lebih baik dari ucapanmu itu wahai Umair. Allah telah memuliakan kami dengan salam, ia adalah penghormatan untuk penduduk surga.”
Maka Umair berkata, “Demi Allah, engkau sendiri tidak asing dengan penghormatan kami dan engkau belum lama meninggalkannya.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu datang wahai Umair?”

Umair menjawab, “Aku datang dengan harapan engkau berkenan melepaskan tawanan yang ada di tanganmu, berbuat baiklah kepadanya demi aku.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Lalu mengapa pedang itu ada di pundakmu?”
Umair menjawab, “Pedang yang buruk dan tidak berguna apapun bagi kami di perang Badar.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencercanya, “Katakan kepadaku dengan jujur, apa yang membuatmu datang kepadaku?”

Umair menjawab, “Aku tidak datang kecuali untuk itu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak demikian, akan tetapi kamu duduk bersama Shafwan bin Umayyah di Hijir, lalu kalian berdua mengenang orang-orang Quraisy yang dilemparkan ke sumur Badar. Kamu berkata, ‘Kalau bukan karena utang yang aku pikul dan keluarga yang aku tanggung niscaya aku akan berangkat menemui Muhammad untuk membunuhnya’. Lalu Shafwan bin Umayyah memikul utangmu dan menjamin kehidupan keluargamu dengan syarat kamu membunuhku. Allah Ta’ala menghalangimu untuk melakukan hal itu.”

Umair terhenyak sesaat, kemudian dia berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.”
Kemudian dia buru-buru menambahkan, “Ya Rasulullah, dulu kami mendustakanmu dengan tidak mempercayai berita langit yang engkau bawa dan wahyu yang turun kepadamu, akan tetapi ceritaku dengan Shafwan bin Umayyah hanya diketahui oleh kami berdua. Demi Allah, sungguh aku yakin bahwa yang menyampaikannya kepadamu hanyalah Allah. Segala puji bagi Allah yang telah menggiringku kepadamu sehingga Dia membimbingku kepada Islam.”

Kemudian Umair bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dia masuk Islam.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat, “Jadikanlah saudara kalian ini paham (dengan) agamanya dan ajarilah dia Alquran serta bebaskanlah tawanannya.”

Kaum muslimin berbahagia dengan masuknya Umair bin Wahab ke dalam Islam, sampai-sampai Umar bin al-Khatthab berkata, “Seekor babi lebih aku cintai daripada Umair bin Wahab ketika dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , namun sekarang dia lebih aku cintai daripada sebagian anakku sendiri.”

Umair terus menyucikan dirinya dengan ajaran-ajaran Islam, mengisi hatinya dengan cahaya Alquran, menghidupkan hari-hari kehidupannya yang paling mengagumkan dan paling sarat kebaikan, hal ini membuatnya melupakan Mekah dan siapa yang tinggal di sana.

Shafwan bin Umayyah menggantungkan harapan kepada Umair, dia melewati sekumpulan orang-orang Quraisy sambil berkata, “Bergembiralah kalian, sebuah berita besar akan datang kepada kalian dalam waktu dekat, berita yang membuat kalian melupakan kekalahan di Badar.”

Shafwan bin Umayyah menunggu dan menunggu, penantiannya berjalan lama, akhirnya kecemasan mulai menggelayuti benaknya sedikit demi sedikit, sampai dia seperti berguling-guling di atas bara api yang paling panas, dia mulai bertanya-tanya kepada para rombongan musafir yang lewat tentang Umair bin Wahab, namun dia tidak menemukan jawaban yang memuaskan.

Sampai datanglah seorang musafir yang berkata kepadanya, “Umair telah masuk Islam.”
Berita yang terdengar di telinga Shafwan bak halilintar yang menyambar di siang hari karena sebelumnya dia yakin bahwa Umair tidak akan masuk Islam sekalipun seluruh penduduk bumi masuk Islam.
Umair bin Wahab terus mendalami agamanya, menghafal kalam Allah yang bisa dia hafal, sehingga dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Ya Rasulullah aku telah melewati suatu zaman, selama itu aku selalu berusaha untuk memadamkan cahaya Allah, kerap menimpakan gangguan kerasa terhadap orang-orang yang masuk ke dalam agama Allah, aku ingin engkau berkenan memberi izin kepadaku untuk pergi ke Mekah untuk mengajak orang Quraisy kepada Allah dan Rasul-Nya, jika mereka menerimanya dariku maka apa yang mereka lakukan adalah sebaik-baik perbuatan, namun jika mereka berpaling maka aku akan melakukan terhadap mereka seperti dulu aku melakukan terhadap orang-orang yang masuk Islam.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan, maka Umair datang ke Mekah, dia datang ke rumah Shafwan dan berkata, “Wahai Shafwan, sesungguhnya kamu adalah salah seorang pembesar Mekah, salah seorang Quraisy yang berakal, apakah menurutmu apa yang kalian yakini selama ini, yaitu menyembah batu dan menyembelih untuknya benar dalam akal sehingga ia patut dijadikan sebagai agama? Aku telah bersaksi bahwa tiada Ilah yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Kemudian Umair terus berdakwah kepada Allah di Mekah sehingga banyak orang Mekah masuk Islam atas ajakannya.

Semoga Allah memberikan pahala yang besar kepada Umair bin Wahab dan meliputi kuburnya dengan cahaya.[]

Sumber: buku Mereka Adalah Para Sahabat Penulis DR. Abdurrahman Ra’fat Basya Penerbit At-Tibyan
Selengkapnya ...

Jumat, 02 Januari 2015

Kisah Tentang Bahayanya Namimah (Mengadu Domba)


Kisah Tentang Bahayanya Namimah (Mengadu Domba)
Bahayanya Namimah (Mengadu Domba)

Namimah (mengadu domba) termasuk dosa besar. Allah Subhanahuu wa Ta’ala telah mengingatkan kita dengan firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah berita tersebut, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada sebuah kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan kalian itu.” (Qs. Al-Hujuraat: 6)

Berikut ini kisah tentang namimah yang berakhir tragis:

Seorang laki-laki yang menawarkan barang dagangannya di sebuah pasar bangsa Arab.

“Dijual…dijual….”

Tahukah Anda barang apa yang akan dijualnya itu? Ya…Seorang budak laki-laki.

Setiap kali ada yang berminat untuk membelinya, tuannya ini selalu mengatakan bahwa budaknya bagus dalam bekerja, namun ia memiliki satu ‘aib. Budaknya ini seorang “nammaam” (suka namiimah=alias suka mengadu domba).

Hampir semua orang yang berminat mengurungkan niat untuk membelinya karena hobinya yang suka namiimah itu. Setelah beberapa lama menunggu di pasar, akhirnya datang juga rejeki yang diharap-harapkan. Seorang saudagar tertarik untuk membeli budak itu. Walaupun telah diberitahukan kepadanya tentang ‘aib si budak tersebut, dia tetap pada keinginannya untuk membeli sambil menyepelekan atau menganggap ‘aib yang dimaksud tidak berpengaruh pada pekerjaannya.

Singkat cerita, si budak itu akhirnya berpindah tuan. Selama bekerja di tempat tuannya yang baru, si budak sama sekali tidak menunjukkan hal-hal yang negatif. Pekerjaannya bagus, orangnya rajin, tidak bermalas-malasan. Pokoknya tuannya semakin senang dengannya.

Demikianlah tahun demi tahun dilalui. Hingga pada suatu hari…….

Si budak tukang namimah ini berkata kepada istri tuannya, “Ya Sayyidatii… Wahai Nyonya… Maukah Anda kuberitahukan agar Tuan -suami Anda- lebih mencintai Anda sedalam-dalamnya dan tidak akan pernah berpaling dari Anda?”

Sang Nyonya pun kepincut. Siapa pula orangnya tak mau disayang suami dengan sangat? “Ah, bagaimana caranya wahai budakku agar suamiku lebih mencintai diriku?”, tanyanya penuh penasaran. Si budak berkata, “Anda cukup mengambil 3 helai jenggotnya. Setelah itu berikan kepada saya. Selanjutnya urusan saya, Anda tinggal terima beres.” Sang Nyonya akhirnya menuruti apa yang diminta oleh si budak.

Pada sore harinya, si budak berkata kepada tuannya, “Ya Sayyidii… Wahai Tuanku… Tahukah Anda kalau selama ini istri Anda telah berkhianat kepada Anda?”

Spontan sang Tuan terperanjat, “Bagaimana mungkin? Kamu tahu darimana?”, tanyanya dengan keheranan. Si budak berkata, “Hmm… Biar Anda tahu saja, malam ini istri Anda berencana akan membunuh Anda agar kasus “selingkuh”nya aman.”

“Waspadalah Tuan… Ini semua karena saya sayang sama Tuan…”, begitu si budak mengingatkan.

Pada malam harinya, sang istri ketika menuju ke kamar suaminya yang sedang tidur, ia membawa pisau cukur guna mengambil 3 helai jenggot suaminya. Suaminya yang melihat hal itu semakin yakin dengan perkataan budaknya. Akhirnya sebelum sang istri mendekat, sang suami terlebih dahulu merebut pisau cukur tersebut dan langsung menikamkan ke dada istrinya. Terbunuhlah sang istri.

Si budak memberitahukan peristiwa ini kepada saudara-saudara sang istri. Mengetahui hal itu, mereka segera memburu sang suami. Mereka berhasil membunuh sang suami.

Berita terbunuhnya sang suami tersebar dan diketahui oleh kabilahnya. Terjadilah perang antar dua kabilah: kabilah sang suami dan kabilah sang istri. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.[]
Selengkapnya ...

Jumat, 26 Desember 2014

Kenapa Mereka Begitu Benci kepada Khalifah Sulaiman Al-Qonuni?


Oleh : Ustadz Aly Raihan El-Mishry hafizhahullah

Simak kisah singkat ini : Pernahkah anda mendengar tentang perang Mohacs? Sesungguhnya itu bukanlah perang..tapi pembantaian. Peristiwa ini terjadi pada 21/11/932 hijriyah.

Ringkas cerita : utusan khalifah utsmani Sulaiman al-Qonuni berangkat untuk mengambil jizyah dari raja Hongaria dan pemimpin Eropa ketika itu luis II.

Maka atas saran paus di Vatikan raja Hongaria membunuh utusan Sulaiman al-Qonuni. Mendengar berita itu bersiap-siaplah Sulaiman al-Qonuni untuk menyerang Eropa. Begitu juga gereja dan eropa menyiapkan pasukannya.

Sulaiman al-Qonuni menyiapkan pasukan yang terdiri dari 100000 prajurit, 350 meriam dan 800 kapal perang. Sedangkan kekuatan eropa 200000 pasukan berkuda. 35 ribu diantaranya bersenjata lengkap dengan baju besi.

Sulaiman dan pasukannya menempuh jarak 1000 kilometer dan berhasil merebut benteng-benteng sepanjang perjalanannya guna mengamankan jalan ketika menarik pasukannya mundur jika terjadi kekalahan. Beliau dan pasukannya melewati sungai.... yang terkenal dan menunggu di lembah Mohacs selatan Hongaria dan timur Rumania menanti pasukan Eropa yg terdiri dari Hongaria, Rumania, Kroasia, Buhemia, Kekaisaran Romawi, negara kepausan dan Polandia. Masalah yang dihadapi Sulaiman adalah banyaknya pasukan berkuda Romawi dan Hongaria yang tertutup penuh oleh baju besi yang sulit ditembus panah atau peluru.

Lalu apa yang ia lakukan? Setelah selesai sholat subuh ia berdiri dihadapan pasukannya yang menatap pasukan Eropa yang banyak yang tidak terlihat ujungnya. Kemudian ia berkata disertai tangisan (sesungguhnya Ruh Nabi Muhammad melihat kalian dengan kerinduan dan cinta) maka menangislah semua pasukan kaum muslimin.

Kemudian... Kedua pasukan saling berhadapan... Taktik perang Sulaiman adalah sebagai berikut : Ia membagi pasukannya menjadi tiga barisan sepanjang 10 km. Dan pasukan Inkisyaariah di garis depan, mereka ini adalah prajurit pilihan. Kemudian di barisan kedua pasukan berkuda dengan senjata ringan dan pasukan pejalan kaki (invanteri) diantara mereka adalah relawan.

Adapun barisan ketiga adalah beliau dan pasukan meriam. Pasukan Eropa menyerang setelah sholat ashar. Maka Sulaiman memerintahkan pasukan Inkisyaariyah bertahan selama satu jam saja. Kemudian ia memerintahkan mereka lari... Dan ia perintahkan pasukan lapis kedua untuk membuka jalan pelarian ke kiri dan ke kanan bukan ke belakang.

Sesuai arahan sulaiman para pahlawan pasukan Inkisyaariah bertahan dengan gagah berani. Dan berhasil menghancurkan kekuatan eropa dengan sempurna pada dua penyerangan bertubi-tubi yang dilancarkan eropa. Dalam satu serangan saja habis 20 ribu pasukan eropa.

Kemudian kekuatan inti pasukan eropa serempak menyerang... tibalah saat melarikan diri dan dibukalah jalan untuk lari.. maka mundurlah pasukan Inkisyaariah ke sisi kiri dan kanan diikuti pasukan infantri, sehingga jantung pasukan Utsmani benar-benar terbuka.. maka masuklah 100 ribu pasukan eropa sekaligus menuju (jebakan) jantung pasukan kaum muslimin. Dan inilah awal pembantaian itu...

Mereka langsung berhadapan dengan meriam-meriam pasukan Utsmaniyah tanpa mereka sadari. Meriam-meriam itu langsung menyalak menyambut 100 ribu pasukan eropa yang tidak sadar telah masuk jebakan. Tidak sampai satu jam musnahlah pasukan eropa semua dihantam meriam dari segala arah.. menjadi kenangan hitam orang2 kafir sampai saat ini.

Sisa-sisa pasukan eropa di garis belakang berusaha lari menyeberangi sungai.. apa daya karena ketakutan dan berdesak-desakan ribuan prajurit tenggelam di sungai.

Akhirnya pasukan eropa hendak menyerah. Dan keputusan Khalifah Sulaiman al Qonuni yang tidak pernah dilupakan Eropa sampai sekarang dan mereka mengingatnya dengan penuh dendam. Sulaiman memutuskan : Tidak ada tawanan!

Maka pasukan Utsmaniyyun menyerahkan kembali senjata kepada pasukan eropa yang ditawan agar mereka berperang lagi atau dibunuh!

Akhirnya mereka kembali berperang dengan putus asa. Berakhirlah perang dengan tewasnya raja Hongaria Louis II beserta para uskup yang tujuh orang mewakili nasrani dan utusan paus dan 70 ribu pasukan. Disamping itu 25 ribu ditawan dalam keadaan terluka.

Pasukan Utsmaniyyah melakukan parade militer di ibukota Hongaria. Setelah dua hari mengurus urusan kenegaraan di sana Khalifah Sulaiman kembali pulang ke Turki.

Pasukan Utsmaniyyah yang gugur dalam perang itu hanya 150 orang saja dan tiga ribu terluka. Selebihnya pasukan masih sempurna tanpa kurang suatu apapun walhamdulillah.

Diringkas dari web Dr. Roghib Sirjani.

Inilah kenapa dibuat film yang menjelekkan Sultan Sulaiman oleh orang yang benci Islam.[]
Selengkapnya ...

Kamis, 18 Desember 2014

Ketika Umar Bin Khattab Menangis Melihat Pendeta



Dikisahkan pada suatu hari, Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berhenti di suatu gereja kecil, ia melihat seorang pendeta berada di dalamnya. Pendeta itu diberi tahu bahwa ada Amirul Mukminin datang kepadanya, maka ia berdiri dengan gemetar karena badannya lemah. Melihat keadaan pendeta itu, maka Umar menangis. Ketika diberitahu bahwa laki-laki itu adalah orang Nasrani maka Umar berkata, “Aku tahu bahwa ia adalah orang Nasrani, tapi (yang membuatku menangis) aku ingat firman Allah:

عَامِلَةٌ    نَّاصِبَةٌ
تَصْلَىٰ    نَارًا    حَامِيَةً 
“(Ia) bekerja keras lagi kepayahan, lalu memasuki api yang panas (neraka)” (Terjemah QS. Al-Ghasiyah: 3-4)
Pelajaran Kisah:

Sekeras apapun seseorang beribadah namun jika tidak mengimani Allah dengan benar, tidak melaksanakan syariat-Nya, bahkan mempersekutukanNya maka semua  amal yang dilakukannya hanya sia-sia belaka. Kepayahannya hanya membuatnya masuk neraka. Na'udzubillah.

Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk kepada kita.[]
Selengkapnya ...

Kamis, 09 Januari 2014

Seorang Anak Miskin yang Mengguncang Vatikan


Di suatu malam di musim panas tahun 1918 M di perbatasan barat India, tepatnya di salah satu perkampungan miskin di Kota Surat yang menghadap ke Laut Arab, lahirlah seorang anak dari pasangan suami istri muslim. Ia adalah anak pertama mereka ketika mereka sudah mencapai usia tua.
Anak kecil ini hidup sebagaimana kebanyakan anak kecil di perkampungan miskin tersebut, tidak ada yang membedakan antara dirinya dengan lainnya dalam masalah ketergantungannya kepada kedua orang tuanya, tidak juga kecerdasannya. Ia memiliki wajah bulat dan gembung, kulit kehitam-hitaman, tingginya sedang, penuh semangat. Ia selalu kagum dengan segala sesuatu dan tidak ada yang menghentikan derasnya berbagai pertanyaan di kepalanya kecuali jika ia dilkalahkan oleh rasa kantuknya.
Selengkapnya ...

Kamis, 05 Desember 2013

Tentang Sandal!!


alBalaghMedia.com. Sekitar pukul 14 Ahad (30/11/13), saya dan beberapa sahabat mengunjungi RS Al-Islam. Rencananya membesuk salah seorang siswa SDIT Insan Teladan yang dirawat di HCU. Karena bukan waktu besuk, security RS hanya memperbolehkan tamu 1 orang saja. Itupun atas izin Allah, tanpa sengaja saya dipertemukan dengan ayah dari murid SDIT Insan Teladan juga, yang adiknya dirawat di RS yang sama.

Selengkapnya ...

Berita

Kajian

Koreksi

Kisah

Muslimah

Khazanah

Catatan Kecil

Opini

Dari Ummat

Dibolehkan menyebarkan konten website ini tanpa perlu izin dengan tetap menyertakan sumbernya. Tim al-Balagh Media