Tampilkan postingan dengan label Koreksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Koreksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Januari 2016

Urusan Khilafah dan Alasan Para Shahabat Mengakhirkan Penyelenggaraan Jenazah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam



Oleh: Ustadz Rappung Samuddin, Lc. MA.

MENILIK fakta sejarah penunjukkan Abu Bakar al-Shiddiq radhiyallahu 'anhu sebagai khalifah pertama dalam Islam, seperti diriwayatkan imam-imam muktabar, nampak perhatian besar para shahabat radhiyallahu 'anhu terhadap persoalan politik, kepemimpinan, serta semangat menciptakan persatuan dalam barisan kaum muslimin. Terbukti melalui ijtihad mereka mengakhirkan penyelenggaraan jenazah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hingga tercapai kesepakatan siapa yang bakal menjadi khalifah bagi kaum muslimin. Memang sempat terjadi silang pendapat dan dialog antara kaum Muhajirin dan Anshar di Saqifah Bani Sa’idah. Namun bukan sebagai perselisihan sebagaimana tuduhan sebagian kalangan. Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah (wafat 728 H) mengatakan: “... semisal perdebatan yang terjadi pada pertemuan di Saqifah, dari proses hingga terjadi kesepakatan, tidaklah dikatakan sebagai sebuah perselisihan”.[1]

Pernyataan ini dipertegas oleh Abu al-Abbas al-Qurthubi (wafat 656 H), melalui komentar beliau terkait peristiwa di Saqifah: “Dalam majelis tersebut, terjadi diantara mereka dialog, tukar pandangan dan sikap adil dalam menimbang (inshof). Semua itu menunjukkan akan pengetahuan (kesadaran) sebagian mereka akan keutamaan sebagian lainnya, dan bahwasanya hati-hati mereka sepakat untuk saling menghormati dan cinta pada sebagian lainnya...”.[2]

Nah, terkait keputusan para shahabat radhiyallahu anhum mengakhirkan penyelenggaraan jenazah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, hingga kelar seluruh persoalan kepemimpinan dalam negara, mungkin saja terlintas dalam benak sebagian orang, tak terkecuali para penulis sejarah tuduhan terhadap mereka akan sikap tamak terhadap kekuasaan serta perlombaan padanya, wal’iyadzubillah. Dugaan serta tuduhan semisal ini tidak lahir melainkan karena kejahilan terhadap perihal para shahabat yang mulia dan ajaran agama yang mereka emban. Untuk meluruskan hal tersebut, sekurangnya ada dua hal yang harus dipahami dengan baik:

Pertama: Orang yang memahami karakter aturan kekuasaan politik bangsa Arab zaman dimana Nabi diutus, mengkaji sirah perjalanan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, serta mendalami ajaran agama yang diemban dan diaplikasikan para sahabat -yakni Islam-, tentu tidak asing baginya akan rahasia mengapa kaum Muhajirin dan Anshar bersegera menyelesaikan persoalan khilafah sebelum menyelenggarakan jenazah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Perlu diketahui, diantara karakter politik yang mengakar pada masyarakat Arab sebelum bi’tsah (diutusnya Nabi), adalah pengangkatan pemimpin dalam setiap kabilah atau jama’ah yang kemudian disebut sebagai “al-sayyid” atau “Syaikh kabilah”. Tugasnya adalah menjaga persatuan, mengatur urusan, memimpin perang, menyambut utusan (duta), mengikat perjanjian damai dan selainnya. Olehnya, jika mereka wafat secara otomatis berpindah pada orang lain yang layak menggantikan posisinya.[2]

Perhatian besar dalam hal penunjukkan pemimpin yang mengurus persoalan-persoalan rakyat pada aturan politik bangsa Arab sebelum bi’tsah tersebut, mendapat respon dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, yang kemudian disaksikan oleh para shahabat tatkala Daulah Islam eksis di kota Madinah. Tidak heran jika Nabi senantiasa menunjuk seseorang sebagai pemimpin pada saat pengiriman kombatan-kombatan kecil kendati jumlah mereka sedikit dan waktu keluarnya sangat pendek. Bahkan, tatkala beliau khawatir terjadi sesuatu yang buruk terhadap kombatan kaum muslimin dalam perang Mu’tah, beliau lantas mengajukan tiga nama yang bakal saling menggantikan dalam kepemimpinan. Beliau tidak pernah meninggalkan kota Madinah melainkan setelah menunjuk salah seorang yang mewakili beliau untuk sementara waktu sebagai pemimpin. Makanya, banyak sekali riwayat-riwayat dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam akan perintah menunjuk salah seorang sebagai pemimpin ketika keluar untuk bersafar.[3]

Respon terhadap karakter politik tersebut, yang kemudian direalisasikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam negara Islam, dalam situasi-situasi yang mungkin saja bukan darurat, menguatkan  dalam benak para sahabat akan kewajiban bersegera pada persoalan yang dikategorikan termasuk urusan paling mendesak dan darurat dalam sebuah negara yang baru terbentuk, yakni menegakkan dan mengangkat pemimpin kaum muslimin pada saat wafatnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kedua: Di sisi lain, jika kita perhatikan kondisi darurat kota Madinah sebagai pusat Daulah Islam pasca wafatnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, akan nampak bahwa mungkin saja kondisi tersebut menjadi alasan dan motivasi besar yang mendorong para shahabat segera menyelesaiakan persoalan khilafah sebelum menyelenggarakan jenazah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Diantara kondisi-kondisi darurat tersebut adalah sebagai berikut:

1. Kota Madinah saat itu tidak dalam keadaan aman dari serbuan suku-suku Arab yang belum mau tunduk secara totalitas.

2. Adanya ancaman bahaya dari sebagian orang yang mengklaim diri sebagai Nabi dan mulai menancapkan taring-taring pengaruhnya di sekitar bangsa Arab pada akhir-akhir hayat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, seperti al-Aswad al-‘Ansiy di Yaman dan Musailamah al-Kaddzab di Yamamah.

3. Adanya rongrongan bangsa Romawi Kristen terhadap kaum muslimin dan ibukota Madinah hingga batas dimana Rasulullah harus menyiapkan kombatan di bawah pimpinan Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu di akhir-akhir hayat beliau guna menghadapi mereka.

4. Kondisi-kondisi darurat di atas, diperkeruh lagi ancaman internal kaum munafik di dalam kota Madinah yang setiap saat senantiasa mengintai dan mencari cela membuat makar bagi kaum muslimin.[4]

Semua hal ini dijabarkan oleh Ibnu Hisyam dalam kitabnya “al-Sirah al-Nabawiyah”, dimana beliau menyatakan: “Wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam merupakan musibah paling besar yang menghantam kaum muslimin. Menurut keterangan yang sampai padaku, Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: “Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wafat, orang-orang Arab banyak yang murtad, Yahudi dan Nashrani mulai menggeliat dan menjulurkan lehernya (mencari kesempatan menyerang), kemunafikan mulai nampak, dan kaum muslimin menjadi seolah kumpulan kambing di tengah malam yang hujan dan dingin karena kehilangan Nabi mereka”.[5]

Jadi jelas di sini, ijtihad para shahabat radhiyallahu anhum untuk segera menyelesaikan persoalan khilafah tidak lain adalah demi menjaga maslahat agama, eksistensi negara serta keselamatan kaum muslimin dari berbagai kepungan makar yang sengaja dibuat oleh musuh-musuh Islam dari segala arah. Disamping itu, terbantahkan pula anggapan yang mengatakan bahwa perkumpulan mereka tersebut semata karena jabatan dan kekuasaan. Fakta ini lebih dikuatkan oleh sikap mereka saling menolak dan melemparkan jabatan tersebut kepada yang lain, sebagaimana terungkap dalam riwayat-riwayat yang shahih. Wallahu A’lam.[]

__________________
Footnote:

1. Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah, Riyadh: Jami’ah Imam Muhammad bin Su’ud, t.thn, Vol. I, hlm. 29
2. Abu al-Abbas Ahmad bin Umar al-Qurthubi, al-Mufhim Lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim, Tahqiq: Muhyiddin Mastu, et, al, (Cet. I, Beirut, Daar Ibni Katsir, thn. 1417 H/1996 M), Vol. III, hlm. 570-571.
3. Lihat: Dr. Ahmad Ibrahim al-Syarif, Makkah wa al-Madinah fi al-Jahiliyah, hlm. 36-40, terkutip dalam: Dr. Muhammad bin Ibrahim bin Shalih Aba al-Khail, Tarikh al-Khulafa’ al-Rasyidin, (Cet. I, Saudi Arabiyah, Daar al-Fadhilah, thn. 1430 H/2009 M), hlm. 35.
4. Ibid, hlm. 35.
5. Ibid, hlm. 35-36.
6. Lihat: Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, Tahqiq: Majdi Fathi al-Sayyid, Cet. I. Thantha: Daar as-Shahabah li at-Turats, thn. 1416 H/1995 M, Vol. IV, hlm. 323.

Sumber: RappungSamuddin.com
Selengkapnya ...

Jumat, 06 November 2015

Khalid bin Walid Membunuh dan Merampas Istri Tawanannya?

Khalid bin Walid Membunuh dan Merampas Istri Tawanannya?

Oleh: Ustadz Rappung Samuddin, Lc. MA.

 Diantara syubhat dan tuduhan yang banyak dilontarkan kelompok Syi'ah dan Orientalis terkait 'Adalah (kredibilitas) Khalid bin Al Walid radhiyallahu 'anhu, adalah persoalan pembunuhan Khalid bin al-Walid radhiyallahu 'anhu terhadap Malik bin Nuwairah.

Nah, untuk menyanggah syubhat tersebut, secara ringkas dapat dijelaskan bahwa:

Pertama: Khalid bin al-Walid radhiyallahu 'anhu tidak membunuh Malik bin Nuwairah melainkan karena keyakinan beliau bahwa Malik bin Nuwairah telah murtad dari Islam dan pada saat itu darah dan hartanya halal. Dalam hal ini, orang-orang berbeda pendapat, apakah Khalid membunuhnya lantaran ia menahan zakat atau karena murtad.

Yang berpendapat karena dia murtad, alasannya karena Malik termasuk yang mengikuti Sajah al-Thaghlabiyah sang nabi palsu. Wanita ini saat datang kepada Bani Tamim (kaum Malik bin Nuwairah) dan mengaku sebagai nabi, mereka membenarkan pengakuannya serta mengikutinya, termasuk Malik bin Nuwairah al-Tamimi, Utharid bin Hajib dan beberapa pembesar Bani Tamim. Olehnya, Khalid pun membunuhnya karena alasan tersebut.

Adapun yang mengatakan dia dibunuh karena menahan zakat (tidak menyerahkannya kepada Bait al-Mal) dan mengajak kaumnya terhadap sikap demikian, mereka berdalil melalui percakapan Khalid dengannya. Saat itu Khalid berkata: “Mengapa kalian tidak mengeluarkan zakat, padahal ia adalah padanan shalat?” Malik menjawab: “Teman kalian (Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) juga mengira demikian”. Mendengar jawaban ini, Khalid marah sembari berseru: “Apakah dia (Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) hanya teman kami dan bukan teman kalian?”. Khalid pun memerintahkan Dhirar bin al-Azwar untuk membunuhnya.

Kedua: Riwayat lain menyatakan, sebab terjadinya pembunuhan tersebut adalah karena kesalahan persepsi yang terjadi pada sebagian pasukan Khalid. Yang demikian tatkala Malik bin Nuwairah dan orang-orang yang bersamanya ditawan, Khalid bin al-Walid ra datang dan mengajaknya kembali pada kebenaran, dan ia menyatakan siap mengeluarkan zakat. Pada malam itu, udara sangat dingin menusuk, olehnya Khalid radhiyallahu 'anhu merasa kasihan pada mereka dan berkata kepada sebagian pasukannya: “Adfi-uu Asraakum, yakni hangatkan tawanan kalian!”. Diantara pasukan Khalid ada yang berasal dari Bani Kinanah, dan kata “Adfi-uu” menurut mereka artinya “Bunuhlah”. Mereka pun salah mengira, disangka Khalid memerintahkan membunuh para tawanan, dan Dhirar bin al-Azwar pun telah membunuh Malik bin Nuwairah. Mendengar keributan yang terjadi, Khalid bergegas keluar namun mereka telah selesai membunuh para tawanan, lantas beliau berkata: “Apabila Allah menghendaki sesuatu, niscaya akan mengenainya”.

Sedangkan tuduhan bahwa Khalid ra membunuh Malik lantaran tergoda dengan kecantikan istrinya, hingga kemudian beliau masuk ke kamar istri Malik bin Nuwairah malam itu juga setelah membunuhnya, maka ia adalah kedustaan atas diri Khalid. Adapun perkara Khalid kemudian menjadikan istri Malik (yang tertawan) sebagai istrinya setelah itu, maka masalahnya apa?! Hal semacam ini merupakan sesuatu yang lumrah dan makruf dalam syariat. Jika ini dikatakan telah menyalahi tradisi Islam hingga kredibilitas Khalid patut diragukan, maka hal itu bertentangan dengan kenyataan sebenarnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga menikahi Juwairiyah binti al-Harits dari Bani Musthaliq setelah perang Muraisi. Dimana Juwairiyah radhiyallahu 'anha termasuk dalam tawanan perang tersebut, kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengawininya. Berkah dari pernikahan ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membebaskan seratus orang tawanan Bani Musthaliq karena telah mengikat tali perbesanan dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, juga ayah Juwairiyah al-Harits bin Dhirar masuk Islam. Demikian pula, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menikahi Shafiyah binti Huyay sebagai bagian beliau dari rampasan perang, tatkala terjadi pengepungan dan penaklukkan Khaibar. Jadi, menikahi wanita yang merupakan bagian seseorang dari rampasan perang merupakan sesuatu yang teranggap dalam syariat.[]

(Lebih jelasnya, lihat: Dr. Utsman bin Muhammad al-Khamis, Hiqbah min al-Tarikh, Cet. I, Iskandariyah, Daar al-Iman, thn 1999 M, hlm. 170-172. Dr. Muhammad bin Ibrahim bin Shalih Aba al-Khail, Tarikh al-Khulafa’ al-Rasyidin, Cet. I, Saudi Arabiyah, Daar al-Fadhilah, thn, 1430 H/2009 M, hlm. 63-68. Prof. Dr. Ali bin Muhammad al-Shallabi, Sirah Amir al-Mu’minin Abi Bakar al-Shiddiq, Cet. I, Kairo, Daar Ibni al-Jauzi, thn. 1428 H/2007 M, hlm. 203-208).

Sumber: Catatan kaki dari buku kami yang akan segera terbit InsyaAllah "FIQIH TARIKH SAHABAT, Menguak Fakta di Balik Fitnah dan Pemalsuan Sejarah Sahabat".
Selengkapnya ...

Senin, 26 Oktober 2015

Mantan Murid Jalaluddin Rakhmat Membongkar Pintu Jebakan Syiah


 Ternyata Jalaluddin Rakhmat dedengkot syiah (IJABI) bukan hanya ditinggalkan oleh istrinya yang bahkan mengumumkan perceraiannya di media sosial; kini mantan muridnya ada yang justru membongkar apa yang disebut pintu jebakan syiah dalam bentuk buku dan diedarkan pula di internet.

Buku ini saya tulis berdasarkan pengalaman saya berguru pada Jalaluddin Rakhmat selama kurun waktu [sekitar] tahun 92 hingga 98. Meski kehadiran saya tidak rutin setiap minggu pagi, namun semoga kekeliruan ilmu yang saya dapati waktu itu, bisa memberi kejelasan bagi kita semua. Dan semoga buku kecil ini mampu memberi pemahaman yang tepat tentang apa itu Syiah, sehingga kita bisa sama sama membendung arus Syiah di Indonesia. Amin.
Surabaya, September 2015

Ika Rais
Demikian akhir kata dari pendahuluan buku Pintu Jebakan Syiah Dalam Menjerat Umat' yang diposting di http://muhammadsaw.info/

Selamat menyimak kutipan sebagian dari buku kecil ini berupa kata pengantar penulisnya.
***


Buku 'Pintu Jebakan Syiah Dalam Menjerat Umat'
________________________________________

KATA PENGANTAR Dan DAFTAR ISI

Bismillahirrahmanirrahim.
Masih sangat banyak masyarakat awam yang belum mengenal ajaran Syiah secara benar dan tepat. Kebanyakan dari mereka hanya tahu bahwa Syiah berbeda dari Islam. Tapi apa bedanya, dan apakah syiah itu sesungguhnya, banyak masyarakat yang belum paham.

Bahkan tidak terkira pula banyaknya umat yang menyangka jika Syiah itu hanya semacam ‘mahzab’ dalam Islam. Tidak lebih dari itu.

Semua itu terjadi karena beragamnya sumber informasi dan massifnya media media sekuler liberal yang gencar menyuarakan ‘kebenaran’ Syiah.

Syiah adalah sebuah agama yang mengajarkan pada penganutnya bahwa Tuhan mereka adalah Allah yang telah memberi perintah kepada Nabi Muhammad untuk menunjuk Ali bin Abu Thalib dan keturunannya [ yang berjumlah 12 ] menjadi Imam umat Islam, menggantikan Nabi Muhammad.

Secara garis besarnya demikian. Saya pribadi, saya akan langsung menyebut Syiah adalah agama. Dan jelas, agama disini bukanlah agama Islam.

Karena memang sudah sejak awal, sejak seseorang berniat memeluk Syiah, maka dia berkeyakinan bahwa :
• Tuhannya bukanlah Tuhan yang sama yang diimankan oleh umat Islam. Tuhan mereka adalah Tuhan yang memberi perintah kepada Nabi Muhammad bahwa pengganti beliau adalah Ali bin Abu Thalib dan keturunannya
• Syahadatnya ditambah tambahi dengan bersaksi terhadap Ali, Fathimah, Hasan Husein dan mencaci Abu Bakar,Umar, Ustman dan Aisyah, kitabnya bukan Al Quran yang sekarang ini ada ditangan umat Islam sekarang ini.
• Mereka membenci para sahabat Nabi. Apa, bagaimana dan mengapa kita wajib memuliakan para sahabat, silahkan baca di link ini : Para Sahabat Nabi.
• Mereka percaya, ada ayat ayat yang disembunyikan dalam Al Quran, yang dihilangkan ketika proyek pengumpulan Al Quran dilakukan pada jaman Sayyidina Ustman. Ayat ayat yang dihilangkan itu adalah ayat tentang pengangkatan Ali bin Abu Thalib sebagai pengganti Nabi Muhammad yang sah. ‘Tidak seorangpun mampu untuk mengaku bahwa padanya terdapat kumpulan Al Quran yang lengkap lahir dan batin selain orang orang yang mendapatkan wasiat [ yakni para Imam ]’. Ushul al Kafi Juz I hal 136.
• Mereka melaknat sahabat sahabat Nabi yang mulia karena dianggap berkhianat, makar, dan mendzolimi Ali
• Tidak mempercayai seluruh hadis yang dinukil oleh imam imam hadis ahlu Sunnah, mereka hanya percaya dengan hadis yang diriwayatkan oleh imam imam mereka sendiri. Konsekuensi dari ketidakpercayaan itu adalah seluruh praktekibadah mereka menjadi berbeda dengan apa yang dilakukan oleh umat Islam. Mulai dari ibadah sholat, doa, puasa, haji,zakat dst.

Disinilah letak kesalahan jika menyatakan bahwa perbedaan antara Syiah [ Imamiyah Itsma Asyariyah ] dengan Ahlusunnah adalah semata mata masalah khilafiyah furu’iyah saja. Perbedaan ajaran Syiah sudah berada di wilayah prinsip sehingga masuk pada wilayah penyimpangan.

Apa saja detil perbedaan Syiah dengan Islam hanya akan dibahas secara ringkas di buku ini.
Karena buku ini hanya akan mengkhususkan pada pengenalan bagaimana trik Syiah dalam menjebak umat. Bagaimana cara Syiah menggiring umat untuk secara perlahan lahan mengikuti ajaran mereka.

Saya pikir saat ini yang paling penting adalah umat menyadari apa apa saja pintu masuk Syiah dalam menarik simpati umat.
Kita harus betul betul paham trik trik tersebut, sehingga kedepan kita bisa membendung ajaran sesat ini dengan lebih mudah dan efektif.
Mungkin nanti akan ada sanggahan bahwa biar saja Syiah sesat, apa urusannya dengan kita?
Jawabnya: tentu saja amat berkaitan dengan kita!

Karena ajaran Syiah itu sendiri telah menghancurkan seluruh sendi sendi akidah dan iman Islam. Syiah telah memutarbalikkan fakta Islam. Mereka melakukan penistaan terhadap banyak sahabat, bahkan juga menista Rasulllah karena telah memutar balikkan sabda sabda Nabi. Mereka melakukan pembohongan. Mulai dari soal keimanan terhadapAllah SWT hingga masalah tatacara ibadah Islam. Disinilah kita perlu membendung ajaran Syiah dan membatasi ruang gerak mereka.

Dan yang lebih mengerikan, adalah karena agenda utama Syiah di banyak Negara, adalah melakukan kudeta terhadap pemerintahan resmi agar mereka bisa berkuasa.
Kita bisa mengambil contoh Iran, yang kini menjadi mercu suar dari ajaran Allah ini, lalu Libanon, Suriah, Yaman, Mesir, Turki [ sebelum Erdogan berkuasa ] dan hampir di seluruh Negara Afrika dan Timur Tengah sejatinya. Di Suriah dan Yaman bahkan telah terjadi pembantain demi pembantaian orang orang sunni yang dilakukan oleh Syiah.

Kekejaman orang orang Syiah hanya bisa disandingkan dengan kekejaman Israel. Mengapa? Ya karena sejatinyaSyiah berasal dari orang Yahudi. Yang kemudian disemai oleh orang Persia [ Iran ]

Syiah sesungguhnya adalah kerjaan orang orang Yahudi. Mereka ingin membendung bahkan ingin meruntuhkan kejayaanIslam, dengan cara membuat kekacauan dan makar terhadap pemerintahan yang sah umat Islam, pada waktu itu Islam dipimpin oleh khalifah Abu Bakar, Umar dan Ustman.

Dan kemudian ide licik ini disemai oleh Persia [ Iran ]. Ketika sudah di’ambil alih’ oleh orang orang Persia inilah, Syiahbukan hanya di back up, tapi juga dipelihara, dikembangkan dan disebar benihnya ke seluruh dunia.

Masyarakat Indonesia masih amat sangat banyak yang belum tahu apa itu Syiah.
Saya sendiripun ketika pertama kali bersinggungan dengan Syiah, waktu itu sekitar tahun 1993/ 94, saya sama sekali tidak tahu bahwa kajian kajian yang dipandu Jalaluddin Rakhmat di masjid samping rumahnya di Jalan Kebaktian [dulunya] Bandung, adalah kajian Syiah.

Padahal pada saat itu, status saya adalah mahasiswa sebuah perguruan tinggi negri di Bandung.
Dan fakta, bahwa hampir seluruhnya murid murid yang hadir saat itu adalah juga mahasiswa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi bergengsi di kota Bandung !

Anda bisa bayangkan, kalau mahasiswa yang notabene mewakili kalangan terpelajar, bisa juga di’kerjai’. Apatah lagi kalangan masyarakat awam ?

Dan masih banyaknya masyarakat yang belum paham Syiah, terbukti dari seringnya mereka bertanya : apa itu Syiah atau sesatnya Syiah itu dimana?

Untuk itulah buku ini sengaja saya tulis dalam bahasa yang diusahakan seringan mungkin agar mudah dipahami. Tidak mudah menulis sebuah topic yang berat kedalam bahasa yang ringan. Jadi seandainya pembaca masih ingin mengajukan pertanyaan lanjutan, sila email ke penerbit. InsyaAllah akan kami bantu sebisa mungkin.

Buku ini saya tulis berdasarkan pengalaman saya berguru pada Jalaluddin Rakhmat selama kurun waktu [sekitar ] tahun 92 hingga 98. Meski kehadiran saya tidak rutin setiap minggu pagi, namun semoga kekeliruan ilmu yang saya dapati waktu itu, bisa memberi kejelasan bagi kita semua. Dan semoga buku kecil ini mampu memberi pemahaman yang tepat tentang apa itu Syiah, sehingga kita bisa sama sama membendung arus Syiah di Indonesia. Amin.
Surabaya, September 2015

Ika Rais
http://muhammadsaw.info/

Sumber: nahimunkar.com
Selengkapnya ...

Minggu, 05 April 2015

Kumpulan Fatwa Pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari Tentang Sesatnya Syiah



Fatwa Pendiri Nahdhatul Ulama KH. Hasyim Asy’ari (1292-1366 H, 1875-1947 M) Tentang Syi’ah


المقالة

الأولى: فصل في بيان تمسك أهل جاوى بمذهب أهل السنة والجماعة، وبيان ابتداء ظهور البدع وانتشارها في أرض جاوى، وبيان أنواع المبتدعين في هذا الزمان. قد كان مسلموا الأقطار الجاوية في الأزمان السالفة الخالية متفقي الآراء والمذهب ومتحدي المأخذ والمشرب، فكلهم في الفقه على المذهب النفيس مذهب الإمام محمد بن إدريس، وفي أصول الدين على مذهب الإمام أبي الحسن الأشعري، وفي التصوف على مذهب الإمام الغزالي والإمام أبي الحسن الشاذلي رضي الله عنهم أجمعين. ثم إنه حدث في عام الف وثلاثمائة وثلاثين أحزاب متنوعة وآراء متدافعة وأقوال متضاربة، ورجال متجاذبة، فمنهم سلفيون قائمون على ما عليه أسلافهم من التمذهب بالمذهب المعين والتمسك بالكتب المعتبرة المتداولة، ومحبة أهل البيت والأولياء والصالحين، والتبرك بهم أحياء وأمواتا، وزيارة القبور وتلقين الميت والصدقة عنه واعتقاد الشفاعة ونفع الدعاء والتوسل وغير ذلك…ومنهم رافضيون يسبون سيدنا أبا بكر وعمر رضي الله عنهما ويكرهون الصحابة رضي الله عنهم، ويبالغون هوى سيدنا علي وأهل بيته رضوان الله عليهم أجميعن، قال السيد محمد في شرح القاموس: وبعضهم يرتقي إلى الكفر والزندقة أعاذنا الله والمسلمين منها. قال القاضي عياض في الشفا: عن عبد الله بن مغفل قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (الله الله في أصحابي لا تتخذوهم غرضا بعدى فمن أحبهم فبحبي أحبهم ومن أبغضهم فببغضي أبغضهم ومن آذاهم فقد آذانى ومن آذانى فقد آذى الله ومن آذى الله يوشك أن يأخذه) وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم (لا تسبوا أصحابي فمن سبهم فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل الله منه صرفا ولا عدلا) وقال صلى الله عليه وسلم (لا تسبوا أصحابي فإنه يجئ قوم في آخر الزمان يسبون أصحابي فلا تصلوا عليهم ولا تصلوا معهم ولا تناكحوهم ولا تجالسوهم وإن مرضوا فلا تعودوهم) وعنه صلى الله عليه وسلم (من سب أصحابي فاضربوه) وقد أعلم النبي صلى الله عليه وسلم أن سبهم وآذاهم يؤذيه وأذى النبي صلى الله عليه وسلم حرام فقال (لا تؤذوني في أصحابي ومن آذاهم فقد آذانى) وقال (لا تؤذوني في عائشة) وقال في فاطمة (بضعة منى يؤذيني ما آذاها). اهـ (الشيخ محمد هاشم أشعري، رسالة أهل السنة والجماعة، ص 9-10).


Maqolah 1

Pasal untuk menjelaskan penduduk Jawi berpegang kepada madzhab Ahlusunnah wal Jama’ah, dan awal kemunculan bid’ah dan meluasnya di Jawa, serta macam-macam ahli bid’ah di zaman ini. Umat Islam yang mendiami wilayah Jawa sejak zaman dahulu telah bersepakat dan menyatu dalam pandangan keagamaannya.

Di bidang fikih, mereka berpegang kepada mazhab Imam Syafi’i, di bidang ushuluddin berpegang kepada mazhab Abu Al-Hasan Al-Asy’ari, dan di bidang tasawuf berpegang kepada mazhab Abu Hamid Al-Ghazali dan Abu Al-Hasan Al-Syadzili, semoga Allah meridhoi mereka semua. Kemudian pada tahun 1330 H muncul kelompok, pandangan, ucapan dan tokoh-tokoh yang saling berseberangan dan beraneka ragam.

Di antara mereka adalah kaum Salaf yang memegang teguh tradisi para tokoh pendahulu mereka dengan bermazhab dengan satu mazhab dan kitab-kitab mu’tabar, kecintaan terhadap Ahlul Bait Nabi, para wali dan orang-orang salih, selain itu juga tabarruk dengan mereka baik ketika masih hidup atau setelah wafat, ziarah kubur, mentalqin mayit, bersedekah untuk mayit, meyakini syafaat, manfaat doa dan tawassul serta lain sebagainya.

Di antara mereka juga ada golongan rofidhoh yang suka mencaci Sayidina Abu Bakr dan ‘Umar radhiallahu anhum, membenci para sahabat nabi dan berlebihan dalam mencintai Sayidina ‘Ali dan anggota keluarganya, semoga Allah meridhoi mereka semua.

Berkata Sayyid Muhammad dalam Syarah Qamus, sebagian mereka bahkan sampai pada tingkatan kafir dan zindiq, semoga Allah melindungi kita dan umat Islam dari aliran ini.

Berkata Al-Qadhi ‘Iyadh dalam kitab As-Syifa bi Ta’rif Huquq Al-Musthafa, dari Abdillah ibn Mughafal, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah mengenai sahabat-sahabatku. Janganlah kamu menjadikan mereka sebagai sasaran caci-maki sesudah aku tiada. Barangsiapa mencintai mereka, maka semata-mata karena mencintaiku. Dan barang siapa membenci mereka, maka berarti semata-mata karena membenciku. Dan barangsiapa menyakiti mereka berarti dia telah menyakiti aku, dan barangsiapa menyakiti aku berarti dia telah menyakiti Allah. Dan barangsiapa telah menyakiti Allah dikhawatirkan Allah akan menghukumnya.” (HR. al-Tirmidzi dalam Sunan al-Tirmidzi Juz V/hal. 696 hadits No. 3762)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Janganlah kamu mencela para sahabatku, Maka siapa yang mencela mereka, atasnya laknat dari Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Allah Ta’ala tidak akan menerima amal darinya pada hari kiamat, baik yang wajib maupun yang sunnah.” (HR. Abu Nu’aim, Al-Thabrani dan Al-Hakim)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Janganlah kamu mencaci para sahabatku, sebab di akhir zaman nanti akan datang suatu kaum yang mencela para sahabatku, maka jangan kamu menyolati atas mereka dan shalat bersama mereka, jangan kamu menikahkan mereka dan jangan duduk-duduk bersama mereka, jika sakit jangan kamu jenguk mereka.” 

Nabi shallallahu alaihi wasallam telah kabarkan bahwa mencela dan menyakiti mereka adalah juga menyakiti Nabi, sedangkan menyakiti Nabi haram hukumnya.

Rasul shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Jangan kamu sakiti aku dalam perkara sahabatku, dan siapa yang menyakiti mereka berarti menyakiti aku.” Beliau bersabda, “Jangan kamu menyakiti aku dengan cara menyakiti Fatimah. Sebab Fatimah adalah darah dagingku, apa saja yang menyakitinya berarti telah menyakiti aku.” (Risalat Ahli Sunnah wal Jama’ah, h.9-10)

المقالة الثانية: وليس مذهب في هذه الأزمنة المتأخرة بهذه الصفة إلا المذاهب الأربعة، اللهم إلا مذهب الإمامية والزيدية وهم أهل البدعة لا يجوز الاعتماد على أقاويلهم. اهـ (الشيخ محمد هاشم أشعري، رسالة في تأكد الأخذ بمذاهب الأئمة الأربعة، ص 29).


Maqolah 2

Bukanlah yang disebut mazhab pada masa-masa sekarang ini dengan sifat yang demikian itu kecuali Mazahib Arba’ah (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I dan Imam Ahmad).

Selain dari pada itu, seperti mazhab Syiah Imamiyah dan Syiah Zaidiyah, mereka adalah ahul bid’ah yang tidak boleh berpegang kepada pandangan-pandangan mereka. (Risalah fi Ta’akkud Al-Akhdzi bi Al-Madzahib Al-Arba’ah, h.29)

المقالة الثالثة: أما أهل السنة فهم أهل التفسير والحديث والفقه، فإنهم المهتدون المتمسكون بسنة النبي صلى الله عليه وسلم والخلفاء بعده الراشدين، وهم الطائفة الناجية، قالوا وقد اجتمعت اليوم في مذاهب أربعة الحنفيون والشافعيون والمالكيون والحنبليون، ومن كان خارجا عن هذه الأربعة في هذا الزمان فهو من المبتدعة. اهـ اهـ (الشيخ محمد هاشم أشعري، زيادة تعليقات، ص 24-25).

Maqolah 3
Adapun Ahlusunnah mereka adalah para Ahli Tafsir, Hadits dan Fiqih. Sungguh merekalah yang mendapat petunjuk dan berpegang teguh dengan sunnah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan para khalifah yang rasyid setelah beliau.

Mereka adalah ‘kelompok yang selamat’ (thaifah najiyah).

Para ulama berkata, pada saat ini kelompok yang selamat itu terhimpun dalam mazhab yang empat; Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hanbali. Maka siapa saja yang keluar atau di luar empat mazhab itu adalah ahlul bid’ah di masa ini. (Ziyadat Ta’liqat, h. 24-25)

المقالة الرابعة وَاصْدَعْ بِمَاتُؤْمَرُ لِتَنْقَمِعَ الْبِدَعُ عَنْ اَهْلِ اْلمَدَرِوَالْحَجَرِ. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “اِذَاظَهَرَتِ الْفِتَنُ اَوِالْبِدَعُ وسُبَّ اَصْحَابِيْ فَلْيُظْهِرِالْعَالِمُ عِلْمَهُ فَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ

Sampaikan secara terang-terangan apa yang diperintahkan Allah kepadamu, agar bid’ah-bid’ah terberantas dari semua orang.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila fitnah-fitnah dan bid’ah-bid’ah muncul dan sahabat-sahabatku di caci maki, maka hendaklah orang-orang alim menampilkan ilmunya. Barang siapa tidak berbuat begitu, maka dia akan terkena laknat Allah, laknat Malaikat dan semua orang.” (Muqadimah Qanun Asasi Nahdlatul ulama)

Fatwa Al-Habib Al-Musnid Syekh Salim bin Ahmad bin Jindan (1324-1389 H, 1906-1969 M) Tentang Syi’ah dan Rofidhoh



المقالة الأولى: من هم الرافضة؟ هم الذين ينتحلون حب أهل البيب وليسوا كذلك ويزعمون أنهم أتباع أكابر أهل البيت مثل الحسنين وأبيهما وعلي بن الحسين وزيد بن علي رضي الله عنهم وهم يتبرأون من أبي بكر وعمر وعثمان ومعاوية وعمرو بن العاص وأنصارهم رضوان الله عليهم أجمعين فيسبونهم. (الراعة الغامضة في نقض كلام الرافضة, ص 1)

Siapakah golongan Rofidhoh itu? Mereka adalah kaum yang suka mengklaim palsu kecintaan terhadap ahlul bait, padahal mereka tidaklah demikian. Mereka mengaku sebagai pengikut para tokoh utama ahlul bait seperti Al-Hasan dan Al-Husain dan ayah mereka berdua (Sy. ‘Ali bin Abi Thalib), juga ‘Ali bin Al-Husain (Zainal Abidin), dan Zaid bin ‘Ali—semoga Allah meridhoi mereka, namun mereka berlepas diri dari Sy. Abu Bakr, Sy. ‘Umar, Sy. ‘Utsman, Sy. Mu’awiyah, Sy. ‘Amr bin ‘Ash dan para penolong mereka, dan mencaci mereka semuanya. (Kitab Ar-Ra’at Al-Ghamidhoh fi Naqdh Kalam Al-Rafidhoh, hlm. 1)

المقالة الثانية: واتفق بجواز لعن شاتمهم في حديث ابن عمر ما رواه الترمذي والخطيب قوله عليه السلام: إذا رأيتم الذين يسبون أصحابي فقولوا لعنة الله على شركم فهذا لا ريب في ذلك لأن شرار هذه الأمة الذين يسبون أصحاب نبيهم, والسب والذم على أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم من سنة الرافضة والشيعة. فهؤلاء يسميهم أهل السنة يهود هذه الأمة, بل كانت اليهود خيرا منهم لو سألنا رجلا يهوديا عن أصحاب موسى ليقول هؤلاء خيارنا وأحباءنا ولو سألنا النصراني أيضا عن حواري عيسى ليقول هؤلاء هم سادتنا وخيارنا ولو سألنا الروافض والشيعة عن أصحاب محمد ليقولون إنهم أشرارنا وظالمونا قاتلهم الله أنى يؤفكون! والحاصل أن الرافضة وأذنابهم ثبت في الكتاب والسنة أنهم من أهل النار مع إثبات الكفر عليهم والخروج من الدين الإسلامي وإن كانوا يزعمون أنفسهم مسلمين, أوليست اليهود والنصارى أنهم مسلمون من أهل الجنة؟؟؟ ولذلك قال الله تعالى ليس بأمانيكم ولا أماني أهل الكتاب من يعمل سوءا يجز به (النساء: 122) وإن كان مسلما يزعم أنه من أمة محمد صلى الله عليه وسلم فهو من أهل الفرق الضالة خارج عن السنة والجماعة وكان من أهل النار (الراعة الغامضة في نقض كلام الرافضة, ص 7-8)

Disepakati akan bolehnya melaknat orang yang mencerca para sahabat.

Di riwayatkan oleh Ibnu ‘Umar radhiallahu anhu, sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam,
 “Jika kamu melihat orang-orang yang mencela para sahabatku maka ucapkanlah laknat Allah atas kejahatan kalian!” (HR. Tirmidzi dan Al-Khatib).

Hal ini tak diragukan lagi sebab orang-orang yang mencaci para sahabat nabi adalah seburuk-buruk umat ini. Cacian dan cercaan kepada para sahabat nabi shallallahu alaihi wasallam adalah tradisi kaum rofidhoh dan syiah secara umum.

Mereka itulah yang dinamakan ‘Yahudi Islam’, yaitu kaum yahudi-nya umat ini.

Bahkan umat Yahudi lebih baik daripada mereka, sebab jika kita tanyakan tentang sahabat nabi Musa, mereka jawab, mereka adalah para kekasih orang-orang pilihan kami. Jika kita tanyakan orang nasrani tentang para hawari nabi Isa, mereka jawab, bahwa hawari Isa adalah para pemimpin dan orang terbaik kami. Namun jika kita tanyakan tentang para sahabat nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam kepada kaum rofidhoh dan syiah, mereka jawab, bahwa para sahabat adalah orang-orang yang jahat dan zalim!

Semoga Allah perangi mereka karena ucapan keji itu.

Kesimpulannya, kaum rafidhoh dan para pengekornya (syiah) telah ditetapkan dalam Qur’an dan Sunnah adalah ahli neraka dengan penetapan kekufuran atas mereka dan telah keluar dari agama Islam, betapa pun mereka tetap mengaku muslim.

Sebab, bukankah Yahudi dan Nasrani juga tetap mengaku muslim (pasrah) kepada Allah, dan mengklaim diri mereka ahli syurga?!

Oleh karena itulah, Allah berfirman: bukan karena angan-angan kalian dan juga angan-angan ahli kitab, siapa saja yang mengerjakan keburukan maka ia akan dibalas setimpal (QS. An-Nisa: 122). Dan jika dia tetap kukuh mengaku muslim dari umat Muhammad sallallahu alayhi wasallam, maka ia tergolong pengikut sekte sesat dan telah keluar dari garis sunnah dan jama’ah, dan termasuk ahli neraka. (hlm.7-8)


المقالة الثالثة: فيجب على كل مسلم مخلص الإيمان عالم بلذة إسلامه وطعم إيمانه أن يؤدي شكره لأبي بكر الصديق فضلا عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولكن وجدنا أشرار هذه الأمة ويهودها يعني الروافض سبوه وطعنوه ورموه بالظلم و حاشا أن يكون للطيب صاحب سوء –يعني بالطيب النبي صلى الله عليه وسلم- ولكن الروافض هم الكافرون, وحكمنا بالكفر على من سب أحدا من أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم مثل الخلفاء الراشدين لا يحبهم إلا مؤمن ولا يبغضهم إلا منافق معاند كافر ملعون من السبع الأرضين والسموات ألا إن لعنة الله على الكافرين (الراعة الغامضة في نقض كلام الرافضة, ص 11)


Maka wajib atas setiap muslim yang ikhlas dalam imannya, dan merasakan kelezatan islam dan rasa imannya, untuk menunaikan rasa terimakasih kepada Abu Bakr As-Shiddiq, terlebih lagi kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Akan tetapi kita telah dapati seburuk-buruk umat ini dan yahudinya, yaitu kaum rafidhoh, telah mencaci dan mendiskreditkan beliau (Abu Bakr radhiallahu anhu) dan menuduhnya berbuat zalim.

Sungguh mustahil orang yang baik (yaitu Nabi Muhammad) memiliki teman yang jahat, namun kaum rofidhoh itulah orang kafir, dan kami telah memvonis kekufuran atas siapa saja yang mencaci salah seorang sahabat Nabi Muhammad sallallahu alayhi wasallam, seperti Khulafa’ Rasyidin.

Hanya orang mukminlah yang mencintai mereka, dan hanya orang munafik, keras kepala, dan kafir lah yang membenci mereka. Orang itu dikutuk dari tujuh lapis bumi dan tujuh lapis langit, ingatlah bahwa laknat Allah atas orang-orang kafir! (hlm. 11). [Abu Taqi Machicky Mayestino]
Selengkapnya ...

Rabu, 01 April 2015

Pernahkah Syiah Melawan Zionis?



Oleh : AM Waskito.

Salah satu alasan yang membuat kaum Syiah Rafidhah selalu berbunga-bunga ialah sebagai berikut…

[=] Syiah adalah musuh terbesar Amerika dan Israel.

[=] Syiah adalah musuh utama Zionis Yahudi yang sangat ditakuti karena punya intalasi nuklir.

Sejarah Syiah: “Selalu Menusuk Ahlus Sunnah dari Belakang. Dan Tak Pernah Perang Melawan Orang Kafir.”

[=] Hizbullah adalah sosok kekuatan Syiah yang selalu gagah-berani menghadang barisan Zionis Israel.

[=] Sementara Saudi, Kuwait, dan Qatar, selalu bermanis-manis kata dengan dedengkot Yahudi, yaitu Amerika.

[=] Revolusi Khomeini adalah revolusi Islam yang menginspirasi perjuangan gerakan-gerakan Islam di dunia.

Ya, kurang lebih begitu klaim para aktivis agama Persia (Syiah Rafidhah) ini. Di berbagai forum, kesempatan, termasuk dalam diskusi di blog ini, alasan-alasan itu selalu mereka munculkan. Seakan-akan, tidak lagi alasan bagi Syiah untuk tetap eksis di muka bumi, selain klaim-klaim seperti itu.

Lalu bagaimana pandangan kita sebagai Ahlus Sunnah tentang klaim kaum Syiah ini?

Mari kita bahas secara ringkas dan praktis, dengan memohon pertolongan Allah Al Hadi…

PERTAMA. Kaum Syiah Rafidhah itu terus bekerja keras dan sangat nafsu, agar mereka tetap diakui sebagai Islam, tetap dipandang sebagai Muslim, tetap menjadi bagian dari kaum Muslimin sedunia.

Hal ini adalah hakikat siksaan spiritual yang Allah timpakan atas hati-hati mereka, selamanya. Mereka telah sangat berdosa karena mencaci, melecehkan, mengutuk, dan mendoakan keburukan atas isteri-isteri Nabi, para Khulafaur Rasyidin, dan para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum.

Maka Allah pun menjadikan mereka selalu gelisah, takut, dan sangat menginginkan diberi label Islam atau Muslim.

Mereka selalu dalam kebingungan seperti ini, layaknya Bani Israil yang kebingungan selama 40 tahun di Padang Tiih, karena telah menghina Musa ‘Alaihissalam dan Allah Ta’ala.

Lihatlah manusia-manusia pemeluk agama Persia (Rafidhah) itu…mereka kemana-mana membawa laknat atas doa-doa laknat yang mereka bacakan untuk mengutuki manusia-manusia terbaik dari para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum.

KEDUA. Dalam sejarahnya, sejak zaman Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu sampai hari ini, ketahuilah bahwa Syiah Rafidhah (agama Persia) ini tidak pernah berjihad melawan kaum kufar, baik itu Nashrani, Yahudi, musyrikin, dan orang-orang atheis. Syiah tidak punya sejarah jihad menghadapi kaum kufar. “Jihad” kaum Syiah sebagian besar diarahkan untuk menyerang kaum Sunni, sejak zaman dahulu sampai saat ini.

Mula-mula Syiah di Kufah mengundang Husein Radhiyallahu ‘Anhu datang ke Kufah, katanya mau dibaiat.

Karena Husein sudah berangkat ke Kufah, oleh penguasa kala itu (Yazid bin Muawiyah) Husein dianggap bughat, sehingga boleh ditumpas.

Waktu tiba di Kufah, tak satu pun kaum Syiah keluar untuk membaiat, menolong dan mendukung Husein. Posisi Husein sangat terjepit, akan kembali ke Madinah, dia sudah dianggap bughat. Meminta bantuan Kufah, tak satu pun Syiah yang akan menolong. Akhirnya, Husein ditumpas di Padang Karbala.

Bahkan kala penumpasan itu, tak satu pun hidung Syiah menampakkan diri, walau sekedar untuk menolong korban dari pihak Husein dan keluarganya.

Nah, peristiwa pembantaian Husein oleh kaum Syiah itulah yang selalu mereka rayakan dan nikmati dalam momen-momen Asyura. Air mata mereka mengutuk para pembunuh Husein, sedangkan hati mereka berucap: “Alhamdulillah Husein dan keluarganya telah binasa di Karbala.”

“Jihad” kaum Syiah berikutnya ialah membantu Hulagu Khan (penguasa Mongol) untuk menumpas Khilafah Abbassiyah.

Kemudian mereka berusaha melenyapkan kaum Sunni di Mesir, tetapi berhasil ditumpas oleh Nuruddin Mahmud Zanki.

Mereka terus menikam perjuangan Shalahuddin Al Ayyubi.

Mereka juga selalu menjadi musuh Khilafah Turki Utsmani, selalu kerjasama dengan negara-negara Nashrani Eropa untuk melemahkan Khilafah Turki.

Di zaman kontemporer, Revolusi Khomeini di Iran telah menumpas Ahlus Sunnah di Iran.

Mereka juga menikam perjuangan mujahidin di Afghanistan. Mereka membantai Ahlus Sunnah di Irak, Libanon, Suriah, Yaman, bahkan mereka hampir menguasai Bahrain.

Singkat kata, tidak ada Jihad kaum Syiah dalam sejarah, selain “jihad” yang diarahkan untuk memusnahkan dan menghancur-leburkan kaum Sunni.

Sejarah klasik dan modern sudah memaparkan fakta. Bahkan dalam kasus Iran Contra Gate terbongkar skandal besar.

Ternyata, di balik gerakan Kontra di Nikaragua, Amerika memasok senjata kepada para gerilyawan itu.

Darimana dananya?

Dari hasil kerjasama jual-beli minyak dengan Iran.

Padahal dalam kampanye dunia, sudah dimaklumkan bahwa Amerika itu sedang konflik dengan Iran.

Tetapi di balik itu ada sandiwara “jual-beli minyak” yang menggelikan.

Kasus ini sangat terkenal, sehingga seorang kolonel Amerika dikorbankan sebagai tumbalnya.

KETIGA. Apa sih yang dilakukan Hizbullah (Syiah Rafidhah) di Libanon kepada Israel?

Apakah dia terlibat perang terbuka dengan Israel?

Apakah dia menduduki wilayah Israel dan berusaha mengusir penduduk Yahudi?

Ternyata, aksi-aksi Hizbullah itu hanya melepaskan tembakan mortir ke arah pasukan Israel atau wilayah Israel.

Atau mereka melakukan tembakan senapan, atau tembakan rudal anti tank.

Hanya itu saja.

Mereka tidak pernah terlibat perang terbuka vis a vis, seperti para pejuang Ahlus Sunnah di Irak, Afghanistan, Chechnya dan lainnya.

Jadi singkat kata, aksi-aksi Hizbullah itu hanya semacam “main-main” untuk membuang amunisi-amunisi ringan. Itu saja kok.

KEEMPAT. Dalam sejarah perang Arab-Israel, sejak merdeka tahun 1948 Israel sudah berkali-kali bertempur dengan pasukan Arab.

Yang terkenal adalah perang tahun 48, perang tahun 67, dan perang tahun 70-an.

Ia kerap disebut perang Arab-Israel. Setelah itu belum ada lagi perang yang significant.

Dalam sejarah ini, lagi-lagi tiada peranan Iran sama sekali. Bahkan ketika Ghaza dihancur-leburkan Israel pada tahun 2008-2009 lalu, Iran lagi-lagi tidak terlibat apa-apa.

Jadi, apa yang bisa dibanggakan dari manusia-manusia pemeluk agama Persia (Syiah Rafidhah) itu?

KELIMA. Menurut Ustadz Farid Okbah, di Iran itu sangat banyak orang-orang Yahudi.

Menurut informasi, jumlahnya bisa mencapai 50.000 jiwa.

Mereka bisa hidup aman dan sentosa di Iran, sedangkan Ahlus Sunnah hidupnya sangat menderita disana.

Iran bersikap welcome kepada kaum Yahudi, dan sangat ofensif kepada kaum Muslimin.

Ini adalah realitas yang sangat menyedihkan.

Makanya tidak salah kalau ada yang mengatakan, Rafidhah lebih sadis dari orang-orang kafir lain.

Contoh yang sangat unik ialah kerjasama antara Hamas dan Iran.

Banyak orang menyebutkan, Hamas kerap kerjasama dengan Iran.

Hal itu konon berdasarkan sikap Syaikh Al Bana yang dulunya pernah berujar, bahwa Syiah adalah sesama saudara Muslim juga.

Mereka sama-sama Ahlul Qiblah.

Tetapi realitasnya, Ikhwanul Muslimin di Suriah dibantai puluhan ribu manusia disana oleh rezim Hafezh Assad.

Ternyata, rezim itu dan anaknya, dibantu oleh Iran juga.

Nah, ini kan sangat ironis.

Hamas kerjasama dengan Iran, sementara Al Ikhwan di Suriah dibantai oleh regim Suriah yang didukung oleh Iran.

KEENAM. Propaganda bahwa Syiah Rafidhah itu musuh Zionis Israel, semua ini hanya propaganda belaka.

Sejatinya mereka itu teman-karib, sahabat dekat, saling tolong-menolong, sebagian menjadi wali atas sebagian yang lain. Mereka ini selamanya tak akan pernah terlibat dalam peperangan.

Kaum Yahudi membutuhkan Iran, sebagai seteru Ahlus Sunnah.

Sedangkan Iran membutuhkan Yahudi, juga sebagai seteru Ahlus Sunnah.

Dalam hadits Nabi Saw juga disebutkan bahwa kelak dajjal akan muncul dari Isfahan (salah satu kota di Iran yang saat ini banyak dihuni Yahudi) dengan 70.000 pasukan.

Yahudi membutuhkan Iran, karena darinya akan muncul pemimpin mereka. Dan dalam literatur-literatur Syiah, sosok dajjal itu sebenarnya adalah sosok “Al Mahdi Al Muntazhar” yang selalu mereka tunggu-tunggu. Begitulah, banyak kesamaan kepentingan antara Syiah dan Yahudi.

KETUJUH. Fakta berikutnya yang sangat mencengangkan.

Ternyata Syiah Iran juga menjalin kerjasama dengan China dan Rusia, dua negara dedengkotnya Komunis.

Mereka ini umumnya kerjasama dalam soal industri, perdagangan, dan jual-beli senjata.

Ketika Amerika berniat menjatuhkan sanksi akibat instalasi nuklir Iran, segera China dan Rusia memveto niatan itu.

Kedua negara terang-terangan membela Iran. Begitu juga China dan Rusia juga membela rezim Bashar Assad (semoga Allah Al Aziz segera memecahkan kepala manusia durjana satu ini, amin ya Mujibas sa’ilin) dari ancaman sanksi internasional.

Sedangkan kita tahu, rezim Suriah sangat dekat koneksinya dengan Iran. Jadi, kita bisa simpulkan sendiri posisi Iran di mata China, Rusia, dan rezim Suriah.

    Jadi kalau kemudian kita mendengar propaganda Syiah anti Yahudi, Syiah anti Amerika, Syiah anti Zionis, dan sebagainya…ya sudahlah, saya akan ketawa saja.

Tidak usah dianggap serius. Anggaplah semua itu hanya “olah-raga kata-kata” saja (meminjam istilah seorang politisi busuk). Syiah selamanya akan berkawan dengan kaum kufar dan sangat apriori dengan kaum Muslimin (Ahlus Sunnah). Mereka itu lahir dari sejarah kita, tetapi wujud dan hatinya milik orang kafir. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Semoga artikel sederhana ini bermanfaat.

Semoga kita semakin sadar, bahwa Syiah Rafidhah bukanlah kawan.

Mereka membutuhkan istilah kawan selagi masih lemah.

Nanti kalau sudah kuat, mereka akan menghancur-leburkan Ahlus Sunnah.

Tetapi cukuplah Allah Ta’ala sebagai Wali, Pelindung, dan Penolong kita. Dialah sebaik-baik Pelindung dan Penjaga. Walhamdulillahi Rabbil a’alamiin.[].


Sumber: syiahindonesia.com
Selengkapnya ...

Rabu, 11 Maret 2015

Benarkah Perpecahan Umat Islam Terjadi Karena Sunni & Syiah tidak Bersatu?


Benarkah Perpecahan Umat Islam Terjadi Karena Sunni & Syiah tidak Bersatu?

Untuk mengelabuhi kaum Muslimin, sebagian media masa mengemukakan bahwa diantara factor perpecahan adalah membicarakan masalah Syiah, karena pada dasarnya umat Islam di dunia terbagi dua madzhab atau golongan yaitu Syiah dan Sunni.

Pandangan ini sangat keliru jika dilihat dari dua sisi,


Pertama; Jumlah orang Syiah tidak sampai 11% dari pemeluk agama Islam di seluruh dunia (yaitu sekitar 150 juta jiwa). Suatu bentuk kezhaliman yang nyata bagi umat Islam (Sunni) jika mereka mendiamkan Syiah, demi menjaga jumlah minoritas dengan memasukkannya ke dalam kesatuan umat Islam, tanpa meminta dari kaum Syiah untuk berpegang teguh terhadap kaidah-kaidah umat Islam, baik akidah, akhlak, sejarah maupun politiknya.

Kedua; Sebagaimana yang telah kami sampaikan dalam makalah sebelumnya tentang “Bahaya Syiah” bahwa fitnah antara Syiah-Sunni, bukanlah sesuatu yang sudah reda, kemudian kita berupaya membangkitkannya lagi. Ternyata fitnah antara kedua kelompok ini benar-benar terjadi, bahkan terus menyala dengan dahsyatnya. Pengaruhnya dapat dirasakan hampir di seluruh penjuru dunia, terutama dominasi Syiah di Irak sekarang. Lantas apa yang harus kita perbuat ketika menyaksikan kekejaman mereka terhadap Ahlusunnah di sana? Ini hanya sebuah permulaan ancaman untuk menguasai negara-negara yang berdekatan atau berjauhan dari negara Syiah Iran.

Kita berupaya membicarakan masalah ini supaya dapat memahami pokok permasalahan, agar kita dapat menentukan sikap yang benar. Sebab, jika tanpa mengetahui asal-usul, pokok permasalahan, pemahaman, tujuan dan ambisi mereka, maka bagaimana mungkin kita dapat memberi solusi untuk menyelesaikan masalah ini?!

Alasan Mengapa Ajaran Syiah Sangat Berbahaya


Dalam makalah “Bahaya Syiah” kami telah menyebutkan sepenggal bahaya Syi’ah masa kini dan dampaknya bagi umat Islam, selanjutnya kami bagi menjadi lima alasan yang satu saja alasan daripadanya cukup jadi sebab kita membicarakan Syiah, alasan-alasan itu antara lain:

1.    Syiah tak pernah berhenti menyerang para sahabat, seakan-akan hal ini menjadi dasar pokok agama mereka, yaitu kebencian yang sangat jelas dan nyata sampai di luar batas. Bahkan di website kami (www.Islamstory.com), kami sebutkan berbagai komentar yang menunjukkan kebencian dan permusuhan Syi’ah terhadap para sahabat khususnya Abu Bakr, Umar, dan Utsman radhiallahu ‘anhum, dan para sahabat pada umumnya. Hanya karena menyebut salah seorang sahabat yang memiliki sensivitas di kalangan Syi’ah, maka mereka akan menyerangnya habis-habisan. Bagaimana kita bisa diam terhadap pernyataan gila ini? Kami sebutkan bahwa diam terhadap perkara yang hina ini merupakan pengkhianatan agama yang sepatutnya tidak kita perbuat.

2.    Kuatnya penyebaran Syiah di negara-negara Islam, baik penyebaran ajaran Syiah yang dapat merubah akidah langsung atau hanya mengarahkan opini publik kepada paham Syiah tanpa disadari.

3.    Jatuhnya ribuan korban dari pihak Ahlisunnah di Irak.

4.    Kekuasaan Syiah mendominasi secara langsung di Irak, baik dari segi politik, ekonomi, maupun militer, dengan membonceng kekuatan Amerika

5.    Ancaman Syiah secara langsung terhadap negara-negara yang berdekatan dengan Irak, sebagaimana yang kami sebutkan mengenai ancaman Syiah terhadap Uni Emirat, Bahrain dan Saudi Arabia, kami tidak tahu apakah dengan berdiam diri sampai negara ini hilang? Ataukah kita segera melakukan langkah-langkah positif untuk menjaga stabilitas dan keamanan masyarakat?

Kelima hal ini telah kami rinci penjelasannya dalam makalah sebelumnya, yaitu “Bahaya Syi’ah” kami ajak para pembaca untuk membaca lebih seksama mengenai dampak bahayanya Syiah, sebagaimana halnya kami juga mensarankan untuk membaca dua makalah sebelumnya, mengenai “Pokok Ajaran Syi’ah” dan “Ancaman Syi’ah” supaya dari pembahasan ini, pembaca dapat mengambil sikap yang benar.

Lalu apakah kelima hal diatas telah mewakili semuanya?!
Jawabannya adalah tidak!

Sungguh, bahaya Syiah lebih besar daripada itu semua. Sejarah telah mencatat bahwa kerusakan yang dilakukan Syiah jauh dari apa yang kita bayangkan, penjajahan yang di lakukan Syiah Ismailiyah Al Ubaidiyah terhadap Mesir yang berlangsung selama dua ratus tahun lebih, bahkan tidak pernah terbayangkan oleh seorang pesimis sekalipun, namun hal ini telah terjadi sebagaimana yang kita ketahui, dari itu mestinya sikap waspada terhadap bahaya Syiah merupakan hal yang harus dan tidak bisa dielakkan.

Kami akan coba melengkapi perkara-perkara yang kami sebutkan diatas sehubungan dengan bahaya Syi’ah di zaman kita sekarang....

6.    Kedekatan hubungan Suriah dengan Iran dan bahayanya.
Nampak jelas sekali bagi kita kedekatan antara Suriah dengan Iran, bahayanya adalah dampak buruk yang akan di alami oleh Suriah, yaitu dari sikap penguasanya yang Syiah Nushairiyah (dikenal juga dengan Alawiyyin), yang telah memerintah selama kurang lebih 40 tahun. Mereka adalah kelompok yang menisbatkan dirinya kepada Abu Syu’aib Muhammad bin Nushair Al Bashri (w 270 H), pendiri madzhab Syiah Nushairiyah, yang mengaku sebagai nabi dan meyakini Ali adalah Allah –Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan-

Walaupun para penganut Syiah Nushairiyah di Suriah tidak lebih 10% dari total penduduk Suriah,  namun mereka berhasil menguasai pemerintahan dan membuka kesempatan selebar-lebarnya demi menyebarkan ajaran Syiah di Suriah. Karena itu, program Bulan Sabit Syiah yang menghubungkan Iran ke Irak, dan selanjutnya ke Suriah dan Lebanon sangat membahayakan bagi umat Islam, yang akan mengisolasi negeri timur dari baratnya dan ancaman ekspansi yang tidak dapat dibayangkan. 

7.    Juga terdapat perkara yang sangat berbahaya, yang harus dihentikan secepat mungkin tanpa menunda-nundanya, yaitu fitnah yang menimpa kaum muslimin Ahlisunnah, khususnya terhadap dua simbol utama kepemimpianan Syiah yaitu Hizbullah Hasan Nashrullah di Lebanon dan presiden Iran Ahmadi Nejad.

Tidak perlu diperdebatkan lagi, bahwa kedua pemimpin di atas telah menimbulkan fitnah dikalangan umat Islam Ahlisunnah, khususnya ketika hilangnya symbol para pemimpin negeri Islam yang menisbatkan kepada Ahlisunnah. Fitnah itu adalah keberhasilan yang diraih oleh kedua pemimpin itu, baik keberhasilan Hizbullah melawan Yahudi maupun kemandirian Iran dalam membangun negaranya.

Dari sini kita selaku kaum muslimin Ahlisunnah harus kembali melihat dengan seksama, bahwa jalan untuk selamat adalah harus memiliki akidah dan manhaj yang benar. Karena itu, kita tidak akan terpengaruh -jika akidah dan manhaj kita benar- walaupun pengaruh itu kuat.

Kita juga masih ingat, bahwa daulah Syiah Al Ubaidiyah telah meraih keberhasilan -baik militer maupun politik- sepuluh atau seratus kalilipat jauh lebih besar daripada keberhasilan yang pernah di raih Iran dan Hizbullah, meski demikian kita tetap tidak menjadikan mereka sebagai teladan, bahkan kita tidak mengambil teladan dari pemimpin sekuler –meski dia seorang sunni-. Sebab kita percaya bahwa teladan dari pemimpin Islam adalah pemimpin yang memiliki integrasi, keseimbangan, komprehensif dalam masalah aqidah, akhlak, ilmu serta amal, jihadnya untuk di jalan Allah dan menolong agama Allah, dan demi menegakkan syari’at islam tanpa penyelewengan dan pengubahan.

Pesanku kepada orang-orang yang mengagumi pemimpin Syi’ah, meski dia seorang yang adil, aku katakan; “Apakah kalian akan terima keyakinan dua belas imam sebagaimana yang mereka serukan? Kemudian, apakah kita akan terima meninggalkan perjalanan hidup para sahabat, madzhab fiqih dan kitab-kitab sunnah yang kita jadikan pegangan? Apakah kita akan berharap dari salah seorang pemimpin Syiah untuk menggunakan kurikulum pendidikan sesuai kurikulum kita ataukah kurikulum Syi’ah?!....

Ismail As Shafawi telah mendirikan daulah yang sangat kuat di Iran, dia telah membangun daulah dengan sangat cemerlang jika ditinjau dari administrasi pemerintahannya, namun apa yang dia perbuat ketika daulah ini berdiri?! Cobalah kembali ke makalah sebelumnya, tentang “Ancaman Syiah” supaya anda tahu bagaimana daulah ini memanfaatkan kekuatannya untuk memerangi daulah Utsmaniyah, menyebarkan ajaran Syiah kepada penduduk Irak, dan bersekongkol dengan Portugis untuk melawan daulah Utsmaniyah.

Sesungguhnya agama Islam ini terdiri dari satu kesatuan, kita tidak boleh mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain, Allah berfirman;

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al Baqarah; 208).

Sekiranya kita hendak mengambil teladan, seharusnya kita mengambilnya secara utuh, sekiranya ada kekurangan darinya, tidak mungkin hal itu kita jadikan sebagai teladan, apalagi kekurangan dalam masalah Aqidah dan pemahaman, sekiranya kita mengabaikan hal ini, niscaya akan mengakibatkan kerusakan.

8.    Sangat disayangkan, sehubungan dengan riwayat-riwayat berbau Syiah yang masuk dalam buku sejarah umat Islam secara umum, sehingga jika kita ingin membaca kitab sejarah atau mengambil faidah darinya, maka kita harus menyeleksi dari penyimpangan dan penyelewengannya. Ini penting, karena jika tidak, akan banyak sekali perbendaharaan kita yang akan hilang, bahkan sejarah para sahabat dan generasi paling utama akan diputarbalikkan.

Jalan pertama yang mesti kita tempuh adalah memahami bahaya Syiah terhadap kitab-kitab sejarah, kemudian berupaya membersihkan kitab-kitab tersebut dari riwayat-riwayat dusta mereka, setelah itu mengambil kesimpulan dan pelajaran setelah memastikan dari riwayat-riwayat yang shahih.

Supaya saya dapat memperingatkan dari bahayanya masalah ini, maka saya melakukan penelitian terhadap riwayat-riwayat yang ada dalam Tarikh At Thabari sehubungan dengan kisah “Perang Shifin”, saya dapati sekitar 113 riwayat Syiah, diantaranya 99 riwayat yang mengandung riwayat-riwayat Syiah yang menunjukkan kedengkian dan celaan terhadap para sahabat. Riwayat-riwayat ini telah dinukil oleh Syiah, begitu halnya riwayat-riwayat yang terkontaminasi dengan pemikiran mereka, karena ketidaktahuan awak media, akhirnya riwayat tersebut mereka nisbatkan kepada Ahlisunnah, dengan dalih bahwa riwayat-riwayat itu tercantum dalam Tarikh At Thabari, sementara At Thabari termasuk ulama Ahlisunnah. Anehnya, mereka tidak memperhatikan sanad yang disebutkan At Thabari, bahkan sekiranya mereka memperhatikannya pun, mereka tidak akan tahu nama-nama perawinya. Karena itu, membersihkan kitab-kitab sejarah dari riwayat-riwayat Syiah menjadi suatu keharusan, sehingga umat Islam dapat membaca sejarah ummat dari sumbernya yang shahih.

9.    Banyak orang (Ahlussunnah) yang mengabaikan dan tidak meresa berkewajiban untuk berdakwah kepada Syiah. Apakah bijaksana, jika kita membiarkan 150 juta orang yang meyakini akidah yang rusak tanpa kita peringatkan mereka dari bahaya meyakini akidah ini.

Bukankah mereka membutuhkan pengajaran, penjelasan, Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar? Apakah nanti kita tidak ditanya oleh Allah, sehubungan dengan sikap kita tatkala melihat orang-orang yang berkeyakinan dengan akidah yang sebagiannya telah kami jelaskan di makalah “Ushul As Syi’ah”?...

Sebagian orang Syi’ah pernah mengirim berbagai komentar berkaitan dengan makalah ini, mereka menginginkan agar Allah menghukumku supaya mengumpulkanku bersama Abu Bakar dan Umar!! Begitu bahagianya diriku, karena itulah harapanku untuk bisa dikumpulkan bersama Abu Bakar dan Umar. Namun saya sedih atas sikap mereka, karena mereka menjadikan permusuhan terhadap dua tokoh sahabat yang telah Allah pilih untuk menemani Rasul-Nya.

Saya rasa tugas yang paling pokok bagi para da’I dan para ulama adalah menjelaskan bahaya Syi’ah terhadap mereka, dan saya yakin bahwa di dalam diri mereka masih ada sifat adil, jika sampai kepadanya ilmu yang benar, maka dia akan menerima kebenaran itu meskipun menghadapi berbagai macam kesulitan.

10.    Siapakah yang menolong dan melindungi kaum Sunni yang berada di Iran? Tahukah kalian jumlah mereka? Jumlah mereka mencapai 20 juta jiwa, mewakili 30% penduduk Iran secara keseluruhan. Di sana tidak terdapat walau satu menteri pun dari perwakilan Sunni, dan jumlah mereka di parlemen kurang dari 10%, orang-orang Sunni di Taheran berjuang mati-matian untuk mendirikan satu mesjid saja dan itu pun gagal hingga saat ini.
Ditambah lagi, kaum Syiah menindas siapa  saja yang ingin menuntut haknya, bahkan penindasan itu sampai kepada penghancuran masjid-masjid Ahlisunnah, sebagaimana peristiwa yang paling terkenal adalah penghancuran masjid Syaikh Feed di Khurasan pada tahun 1414 H/1994 M, kemudian penghancuran masjid Jami di wilayah Blustan, dan membantai dua ratus pemuda Ahlisunnah yang membela mati-matian masjid tersebut. Perlu diingat bahwa kurikulum yang dipelajari oleh kaum Sunni yang berjumlah dua puluh juta jiwa di Iran, bukanlah berdasarkan akidah Ahlussunnah yang sesungguhnya, akan tetapi kurikulum yang sesuai dengan ajaran Syiah.

Sungguh sangat di sesalkan, krisis besar telah di alami oleh Ahlusunnah di Iran, kita melihatnya namun kita tidak menangis atas apa yang mereka alami, apakah kita hanya diam terhadap permasalahan mereka dan permasalahan Ahlisunnah di Irak? Ataukah kita perlu membicarakannya agar Allah menyadarkan hati orang-orang untuk berbuat sesuatu?.

Inilah beberapa bahaya syi’ah yang nampak pada kita.... dan inilah sepuluh bahaya tersebut!
Wahai saudara-saudariku, apakah bijaksana jika kita bersikap diam?!
Apakah para cendekia dan para analisis berpandangan bahwa kerusakan yang ditimbulkan oleh ucapan lebih besar daripada kerusakan yang ditimbulkan oleh kenyataan dimana kita hidup..! sebagaimana sebelumnya kami telah mencantumkannya dalam pembahasan demi pembahasan, diantaranya adalah sepuluh hal diatas.
Namun demikian, makalah-makalah ini tidak bertujuan untuk mengangkat senjata, yang kemudian kita arahkan ke Syi’ah Iran, Irak, Suriah atau Lebanon... bukan pula tujuan dari makalah-makalah ini untuk menyimpulkan bahwa bahaya Syi’ah lebih besar daripada Yahudi, namun tujuan dari makalah ini adalah untuk memahami realita yang sebenarnya, dan supaya para cendekia Ahlisunnah sepakat dalam satu sikap yang paling pas dan sesuai setelah mengetahui hakekat sebenarnya.
Sesungguhnya jutaan orang secara sukarela telah mengemukakan pendapatnya dalam berbagai masalah yang kompleks, namun mereka tidak tahu apa-apa mengenai masalah yang mereka perbincangkan, dan mereka membicarakan masalah tersebut hanya berdasarkan simpati semata, Bahkan mereka beranggapan bahwa pendapat-pendapat semu tersebut merupakan point-point yang paling bisa diterapkan oleh mereka yang tulus. (nisyi/syiahindonesia.com)




Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh Dr. Raghib As Sirjani
Selengkapnya ...

Jumat, 16 Januari 2015

Apakah Salafiyah Suatu Manhaj atau Jama'ah?

 
Apakah Salafiyah Suatu Manhaj atau Jama'ah?
- Apakah Salafiyah Suatu Manhaj atau Jama'ah? -

alBalaghMedia.com--  Hari ini media menjadi saksi atas serangan keras dan bertubi-tubi yang ditujukan terhadap Salafiyah di berbagai belahan dunia Islam. Suatu fenomena yang menarik perhatian siapa pun yang mengikuti berita tentang awal serangan terhadap Salafiyah.

Sebenarnya, serangan terhadap Salafiyah merupakan gerakan yang selalu berlangsung tanpa henti. Kadang dengan tajam, dan pada waktu lain dengan lembut. Tidak ada musim khusus serangan terhadap Salafiyah. Hal itu sudah merupakan konsumsi harian bagi mayoritas orang yang takut terhadap Islam sebagai alternatif.

Apakah Salafiyah suatu manhaj, atau suatu jama'ah dan partai tertentu?

Mayoritas orang yang menyerang Salafiyah tidak dapat membedakan antara dua hal, akibat permusuhan yang mendalam terhadap manhaj Islam, sehingga perbedaan tersebut tidak berpengaruh besar bagi mereka. Karena serangan ditujukan secara mendasar pada manhaj Islam.

Salafiyah adalah suatu manhaj dalam mengamalkan petunjuk Islam. Sebab dalam memahami Islam dan hukum-hukumnya, ada beragam metode untuk memahaminya. Salafiyah tampil dengan berdasar pada manhaj Salafus Shalih: sahabat, tabi'in dan atba'ut tabi'in. Mereka adalah generasi terbaik umat, paling suci agamanya, paling tinggi kedudukannya, paling mendalam pemahamannya, paling mengerti tentang petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Maka barangsiapa yang bersungguh-sungguh mengikuti jalan mereka, maka ia adalah Salafiy sejati, di jama'ah manapun ia berkiprah.

Kekuatan Salafiyah bertumpu pada perhormatan dan pengidolaan terhadap generasi Islam yang unik ini, pembinaan pribadi dan generasi pelanjut atas penghormatan dan penjelasan tentang keutamaan mereka. Bukan menganggap mereka suci dari kesalahan, tetapi upaya mengikuti pemahaman sekaligus meniti jalan mereka.

Salafiyah senantiasa meniti jalan yang telah disepakati oleh para pendahulu  tersebut, mengikuti manhaj talaqqi,  sumber dan metode istidlal mereka, juga mengikuti cara ibadah dan akhlak mereka. Mereka adalah generasi yang paling dekat kepada kebenaran. Kebenaran tidak akan keluar dari ijma' mereka, bahkan tidak akan meleset dari salah satu  pendapat mereka, jika mereka berselisih.

Salafiyah senantiasa mengagungkan nash-nash syariat, baik nash al-Qur'an ataupun nash Sunnah yang shahih. Ia menjadikan nash-nash tersebut sebagai asas pegangan dan cahaya petunjuk. Ia tidak menolak nash shahih sedikitpun atas dasar perasaan, hawa nafsu, maupun logika. Ia juga tidak membuat ikatan dan persyaratan tertentu bagi nash. Ia tunduk dan patuh kepadanya, jika telah jelas apa yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam. Inti nash baginya merupakan petunjuk dan dalil yang harus diikuti oleh manusia. Bukan justru nash yang ikut dan tunduk pada kehendak manusia dan cara bacanya yang berbeda-beda.

Salafiyah percaya terhadap syumuliyah (komprehensifitas) Islam dalam bidang ibadah, akhlak, mu’amalah dan segala sisi kehidupan. Syumuliyah yang mencakup pribadi dan masyarakat secara umum, mencakup pemerintah, masyarakat, hukum, dunia, akhirat, kemaslahatan, baik yang cepat ataupun yang lambat, dalam suatu pandangan yang sempurna terhadap segala yang membawa kebahagiaan bagi setiap Muslim dalam urusan agama dan dunianya.

Salafiyah concern menyuarakan perlunya selalu mengikhlaskan ibadah kepada Allah dan mensucikan diri dari segala bentuk khurafat, keyakinan yang salah, dan bid'ah yang menyelisihi praktek para sahabat dan tabi'in.

Inilah prinsip-prinsip dasar Salafiyah secara global. Jadi, Salafiyah merupakan manhaj dan cita-cita. Barangsiapa komitmen terhadapnya, berdakwah kepadanya dan bermujahadah dalam mewujudkannya, maka dialah Salafiy. Siapa pun dia, dan di barisan partai politik manapun ia. Sebaliknya, siapapun yang menyimpang dari prinsip-prinsipnya maka ia telah keluar dari Salafiyah.

Kalau demikian, apa yang dimaksud dengan Salafiyah sebagai manhaj dan bukan jama'ah?

Pertama, tidak ada seseorang yang menjadi juru bicara atau yang mewakili Salafiyah serta mengemukan pendapat dan manhaj atas nama Salafiyah. Yang dapat dikatakan barangsiapa menyelisihinya maka ia telah menyelisihi Salafiyah, dan siapa yang sepakat dengannya maka ia telah sepakat dengan Salafiyah. Tidak sebagai satu person, jama'ah ataupun sebagai partai. Jadi ia adalah manhaj istidlal yang mengatur pribadi dan jama'ah, ia tidak dapat tunduk pada person tertentu. Maka tidak ada satu jama'ah atau kelompok yang merepresentasikan Salafiyah. Yang ada adalah pribadi atau jama'ah yang intisab (berafiliasi) kepada Salafiyah dan berusaha mewujudkan manhaj Salaf. Karenanya, Salafiyah tidak dapat dibatasi pada satu jama'ah tertentu atau pada beberapa masalah tertentu saja.

Inilah yang mengungkap kepada Anda perbedaan yang sangat jauh antara jama'ah-jama'ah yang intisab kepada Salafiyah dalam banyak kejadian. Sehingga Anda mendapati sikap terhadap rezim politik kontemporer, dari bagian kanan paling jauh sampai bagian kiri paling jauh, dari beberapa jama'ah yang intisab kepada Salafiyah berbeda. Perdebatan dan perbedaan yang sangat esensial ini mempertegas bahwa Salafiyah bukanlah jama'ah tertentu. Tetapi ia adalah sebuah manhaj dan visi. Yaitu manhaj dan visi yang boleh jadi seorang Muslim merealisasikannya secara baik, atau sebaliknya memahami secara keliru sehingga berakibat kesalahan dan penyimpangan.

Kedua, sekadar intisab kepada Salafiyah tidak cukup menjadikan seseorang menjadi Salafiy. Sebaliknya, seseorang yang tidak menggunakan label Salafiy tidak berarti ia keluar dari Salafiyah. Karena Salafiyah bukanlah jama'ah yang terbatas pada person yang intisab kepadanya. Seseorang tidak cukup menjadi Salafiy dengan sekadar intisab kepadanya. Tetapi Salafiyah adalah manhaj dan visi yang dibangun di atas prinsip kesadaran perlunya mengenal dan merealisasikan manhaj para sahabat dan para imam dan ulama besar sesudahnya.

Ketiga, kesalahan sebagian orang yang intisab kepada Salafiyah tidak boleh dinisbatkan kepada Salafiyah. Pendapat dan tindakan hanya dinisbatkan kepada person yang menyatakannya, atau kepada jam'ah yang menetapkannya. Karenanya, kritik media kepada Salafiyah secara umum, termasuk kritik yang tidak objektif. Karena saat mengeritik, dia hanya berbicara tentang person atau kelompok tertentu, dan berbicara dengan pernyataan umum. Lalu menyatakan bahwa ia tidak bermaksud menyalahkan semua, tetapi hanya sebagian saja. Kesalahan pengeritik tersebut lahir dari ketidaktahuannya terhadap perbedaan antara Salafiyah sebagai manhaj, dan bukan jama'ah.

Keempat, Salafiyah tidak berarti kesepakatan atas semua permasalahan fiqh dan sikap politik yang lahir dari prediksi maslahat dan mafsadat. Kesepakatan atas prinsip global dan manhaj umum tidak berarti harus sepakat pula pada masalah-masalah furu' yang bersifat detail.

Para as-Salafus Shalih juga dahulu banyak berselisih dalam masalah-masalah fiqh dan dalam memprediksi maslahat dan mafsadat. Tetapi hal itu tidak menyebabkan mereka mencela seseorang di antara mereka, selama ia berpegang pada prinsip dan manhaj secara global. Bahkan hal ini menjadi bukti kekayaan dan keragaman manhaj Salafiy.

Kelima, kesalahan seseorang tidak mengeluarkan pribadinya dari Salafiyah, selama ia komitmen dengan manhaj Salaf, berpegang teguh pada prinsip-prinsipnya, bersungguh-sungguh dalam mewujudkan dan menerjemahkannya ke dalam realitas kehidupan. Kecuali jika ia menyelisihi salah satu prinsip di antara prinsip-prinsip global Ahlus Sunnah, atau penyimpangannya dalam hal-hal furu' demikian banyak, sedemikian rupa, sampai mengarah pada penyimpangan dari prinsip global [1]. Tetapi perlu segera ditegaskan, bahwa hukum ini berlaku pada criteria, bukan pada person secara khusus. Karena menghukumi person tertentu memerlukan standar khusus dan kehati-hatian yang bersifat ekstra.

Keenam, posisi Salafiyah sebagai manhaj dan bukan sebagai jama'ah itu berarti bahwa Salafiyah merupakan sektor yang sangat luas cakupannya dalam dunia Islam dan Arab. Bahkan Salafiyah merupakan induk di tengah masyarakat muslim. Karena pada dasarnya, seorang Muslim senantiasa mengikuti dalil, ia meniti jalan dibelakangnya dengan merujuk pada pemahaman sahabat. Sehingga siapa yang tidak berjalan diatasnya, maka dialah yang menyimpang. Jadi Salafiyah merupakan dasar, bukan pengecualiaan. Maka upaya membatasinya pada jama'ah tertentu atau pada permasalahan tertentu termasuk tindakan jahil oleh segelintir orang, atau makar oleh sebagian orang yang menyimpang untuk tujuan yang bukan rahasia lagi.

Ketujuh, eksistensi Salafiyah sebagai suatu manhaj dan bukan sebagai jama'ah tidak berarti bahwa semua ijtihad dan interpretasi dapat diterima dan mu'tabar dalam manhaj Salaf. Salafiyah merupakan manhaj yang memiliki prinsip, tetapi di dalamnya terdapat peluang berijtihad yang cukup besar. Karena keluasan manhaj dan kekayaan pendapatnya tidak menyebabkan relativisme dan hilangnya batas-batas ijtihad yang diterima dan yang tidak diterima, dalam bingkai ijtihad manhaj Salafiy.

Kedelapan, kritik kepada Salafiyah harus dibedakan, antara kritik kepada jama'ah ataupun person yang intisab kepada Salafiyah, dengan yang ditujukan kepada Salafiyah sebagai manhaj. Kritik pertama dapat diterima dan mu'tabar, dengan syarat kritik tersebut adil dan berada pada lingkup perbuatan orang-orang yang intisab pada Salafiyah; bukan ditujukan pada Salafiyah itu sendiri.

Orang-orang yang intisab kepada Salaf seharusnya menjadi orang yang paling menyadari perlunya mengambil pelajaran dari nasehat, kritik dan penilaian orang lain. Walau seandainya kritik tersebut lahir dari orang yang tidak senang kepada Salafiyah, atau dengan cara yang keliru. Sehingga kritiknya tetap dapat diambil manfaatnya. Sedang maksud pengritiknya tidak memberinya mudharat.

Apakah serangan terhadap Salafiyah akan berakhir dengan kristalisasi Salafiyah sebagai manhaj dan bukan sebagai jama'ah?

Jawabannya: tentu tidak.

Karena komitmen manhaj Salafiy dalam menjadikan nash syariat sebagai poros dalam beraktivitas, dan keterikatannya dengan al-Salafus Shaleh dalam memahami dan menginterpretasikan nash tersebut, menjadikannya sebagai manhaj yang tepat dalam memahami Islam dan mewujudkannya. Itulah yang menjadikan jiwa ini selalu bersemangat dan tertarik kepadanya. Karena jiwa orang-orang Islam senantiasa rindu untuk kembali kepada identitas, idiologi, dan nilai-nilainya dengan pemahaman yang benar.

Mayoritas manusia mencari apa yang dikehendaki Allah, mencari manhaj dan jalan yang dapat menyelamatkannya di akhirat. Mereka bukanlah orang-orang yang mau diangan-angani dengan manhaj “beradaptasi dengan realitas” atau membebaskan Islam dari berbagai syubhat dan upaya meyakinkan umat Islam tentang keabsahan agamanya pada setiap waktu dan tempat. Mayoritas umat Islam tidak terlalu memerlukan hal itu. Hal tersebut hanya sebatas tambahan wawasan saja.

Kejelasan dan kedalaman inilah yang menjadikan manhaj Salafiy menjadi bumerang bagi mayoritas orang-orang yang menyimpang, yang tidak pernah rasa dendam dalam jiwanya berhenti mendidih.

Manhaj Salafiy menanamkan pada diri pengikutnya nilai-nilai kokoh dan izzah dengan Islam sebagai suatu misi dan peradaban. Sangat jauh berbeda antara orang yang membaca nash untuk mengetahui kehendak nash tersebut untuk dijalankan, sebagaimana ia merupakan karakter manhaj Salafiy; dengan orang mencari jalan mewujudkan ambisinya melalui nash. Sebagaimana yang merupakan manhaj banyak manhaj sekuler dan manhaj talfiqiy (campur aduk).

Sangat jauh berbeda antara orang yang mengkaji nash dan ia yakin bahwa ada makna syariat tertentu yang diinginkan Allah, dengan orang yang memandang relative kebenaran dan bahwa tidak ada person yang memiliki kebenaran mutlak. Seperti kondisi yang banyak menimpa orang-orang yang bimbang di era ini.

Sangat jauh berbeda antara orang yang telah memiliki manhaj tertentu, prinsip yang jelas dalam berinteraksi dengan nash, dengan orang yang berpindah dari satu manhaj dan pemikiran kepada manhaj dan pemikiran yang lain, sesuai dengan kondisi riil yang ada.

Sangat jauh berbeda antara orang yang menjadikan sahabat dan tabi'in sebagai penuntun di hadapannya, dengan orang yang mengekor kepada tokoh-tokoh sesat dan para filosof Timur dan Barat.

Manhaj Salafiy adalah manhaj yang bercirikan: jelas, sistematis, konsisten dan terpadu,  yang menjadikannya memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam jiwa orang-orang yang mengikutinya. Menjadikan ia mampu mempengaruhi orang-orang yang menyelisihinya. Ia juga merupakan manhaj yang paling kompeten untuk membela hukum-hukum Islam. Karena ia tidak memberi peluang kepada lawan untuk menggunakan kebatilan sebagai pintu masuk mencela Islam.

Sebagian orang-orang menyimpang menyerang Salafiyah, lalu mengritiknya dalam beberapa hal yang merupakan bagian mendasar dalam Islam. Jadi walaupun secara lahir mereka mengeritik jama'ah-jama'ah Salafiyah, tetapi hakekatnya mereka mengeritik Islam itu sendiri. Seperti kritik terhadap hijab, tauhid, atau hukum Islam. Pada hakekatnya, ia mengeritik Islam meskipun maksudnya adalah mengeritik jama'ah-jama'ah Salafiyah.

Sehingga sesungguhnya termasuk kesalahan fatal dan kurang bijak jika sebagian orang menyikapi fenomena kritik ini, seakan-akan hanya kritik yang diarahkan kepada jama'ah tertentu.

Sangat penting untuk mengetahui sebab dan latar belakang yang menyebabkan lahirnya kritikan dan esensi kritikan tersebut. Agar dapat diketahui, apakah ia merupakan kritik terhadap suatu jama'ah, atau serangan terhadap manhaj dan risalah.**          


 [1] ). Lihat: Imam Syathibi, al-I'tisham, Juz III, h. 130.


(albayan.co.uk/alinshof.com/albalaghmedia.com)
Selengkapnya ...

Kamis, 08 Januari 2015

Mengenal Sejarah Maulid Nabi Shallallahu 'Alahi Wa Sallam

Pohon Maulid Mirip Pohon Natal
Pohon Maulid yang Mirip dengan Pohon Natal

alBalaghMedia.com-- Setiap tahun di bulan Rabiul awal, tepatnya tanggal 12 di bulan ini, sebagian dari umat Islam merayakan hari maulid Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan berbagai macam bentuk dan ragamnya, dari yang merayakan secara sederhana di masjid-masjid diselingi dengan ceramah tentang perjalanan hidup Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sampai yang merayakannya dengan penuh semarak, berisikan rangkaian acara yang menyita waktu, tenaga dan dana yang tidak sedikit.

Tapi, tahukah kita dari mana perayaan maulid Nabi shallallahu alaihi wa sallam berasal? Siapakah yang pertama kali merayakannya dan kapan itu terjadi? Apakah hal ini telah ada sejak zaman Rasulullah, ataukah zaman Abu bakar, Umar bin Khattab, Utsaman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib?

Sejarah tidak mencatat bahwa perayaan maulid pernah dilaksanakan pada masa Rasulullah hidup, dan juga tidak ada pada zaman alkhulafa’ arrasyidin, Abu Bakar ash shiddiq, Umar bin Khattab, Utsaman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, padahal mereka adalah orang yang paling cinta pada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bahkan sejarah tidak menyaksikan perayaan ini di masa-masa awal Islam, baik pada masa sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, Tabi’in dan generasi pengikut Tabi’in, masa di mana hidup para ulama-ulama mazhab ternama, seperti Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad. Padahal mereka adalah generasi yang paling paham dengan sunnah-sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam, sangat antusias dalam mengamalkan dan menyebarkannya baik lisan maupun tulisan, merekalah generasi yang dikatakan oleh Rasulullah sebagai generasi terbaik. Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para sahabat) kemudian generasi berikutnya (tabi’in) kemudian generasi berikutnya ( tabiu’t tabi’in )” (HR. Bukhari&Muslim).

Maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam pertama kali dirayakan setelah generasi terbaik Islam, yaitu pada abad keempat hijiriyah, di zaman dinasti Fathimiyah berkuasa di Mesir. Hal ini dinyatakan oleh seorang pakar sejarah dinasti Fathimiyah, Taqiyuddin al Muqrizy (wafat 845 H), beliau berasal dari Kairo dan tinggal di sana, beliau berkata: “Adalah para khalifah (pemimpin) dinasti Fathimiyyah di sepanjang tahun memiliki hari-hari raya dan hari-hari besar (yang mereka rayakan), yaitu: hari Raya tahun baru, hari raya Asyura`, hari raya maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam, hari ulang tahun Ali ibn Abi Thalib, ulang tahun Hasan dan Husain, ulang tahun Fathimah, ulang tahun Khalifah yang sedang berkuasa, malam awal Rajab, malam nishfu Rajab, malam awal Sya’ban, malam nishfu Sya’ban, malam Ramadhan, awal Ramadhan, tengah Ramadhan, malam khataman, hari raya Idul Fitri, hari raya Kurban, hari raya Ghadir, Kiswah as-Syita` (pakaian musim hujan), Kiswah as-Shaif (pakaian musim panas), hari besar penaklukan Teluk, hari raya Nairuz (tahun Baru Persia), hari raya al-Ghuthas, hari ulang tahun, hari raya Khamis al-Adas (perayaan 3 hari sebelum hari paskah umat Nasrani), dan hari-hari Rukubat”([1]). Dalam keterangan lain beliau berkata: “Pada bulan Rabiul Awal (yakni pada tahun 394 H) manusia dipaksa untuk menyalakan kendil-kendil (lampu) di malam hari di rumah-rumah, jalan-jalan dan gang-gang di Mesir”([2]).

Perayaan maulid ini terus berlangsung pada masa pemerintahan Fathimiyah sampai pertengahan abad keenam hijriyah di saat runtuhnya dinasti Fathimiyah di tangan Salahuddin al Ayyubi.

Perayaan maulid Nabi shallallahu alaihi wa sallam kembali dirayakan dengan semarak oleh Raja Mudzaffaruddin, yang diangkat oleh Shalahuddin al Ayyubi menjadi raja Irbil pada tahun 580 H dan juga ipar dari Salahuddin al Ayyubi. As Suyuthi berkata: “Orang yang pertama kali melakukan hal itu (merayakan maulid Nabi shallallahu alaihi wasallampent) penguasa Irbil, raja al Mudzhaffar Abu Said kukburi bin Zainuddin Ali bin baktakin”([3]). Ibnu Katsir menyebutkan bahwa perayaan maulid di masa raja al Mudzhaffar sangat semarak, dengan berbagai bentuk makanan dan menghadirkan tokoh-tokoh sufi lalu bersama mereka mendengarkan irama-irama musik dari waktu dhuhur sampai subuh, perayaan tersebut sampai menghabiskan dana 300 ribu dinar([4]).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa yang pertama kali memunculkan perayaan maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah dari kalangan pemimpin dinasti Fathimiyah di Mesir.

Lalu, siapakah mereka? Mereka adalah keturunan Bani Ubaid al Qaddah, yang menamakan diri mereka dengan nama Fathimi, mereka mengklaim bahwa nasab mereka berasal dari salah seorang anak Ali bin Abi Thalib, yaitu Aqil. Namun klaim ini dibantah oleh para ulama dan pakar sejarah. Kakek mereka Ibnu Daishan al Qaddah, salah seorang pendiri paham bathiniyah yang merupakan paham sesat dan kufur, sebagaimana yang dikatakan oleh al Qadhi al Baqillani: “mereka adalah kelompok yang menampakkan paham rafidhah (syi’ah) secara lahiriyah dan menyembunyikan kekufuran tulen”([5]). Mereka merayakan maulid Nabi shallallahu alaihi wa sallam bukan karena cinta kepada beliau dan keluarganya, tetapi untuk mengelabui orang-orang awam agar mendapat legitimasi atas klaimnya bahwa mereka adalah keturuan Ali bin Abi Thalib dan secara tersembunyi menjalankan misinya untuk merusak Islam dengan menyusupkan ke dalam ajaran Islam pemahaman dan amalan yang tidak berasal dari Islam.

Wallahu Ta’ala a’lam.

[1]. Almawa’idzh wal i’tibar (1/490)
[2]. Itti’azhul hunafa` (2/48)
[3]. lihat albida’ alhauliyah hal.148.
[4]. lihat albidayah wa annihayah (13/131)
[5]. lihat al bida’ alhauliyah hal 141.

(MarkazInayah.com/albalaghmedia.com)
Selengkapnya ...

Jumat, 02 Januari 2015

Salah Kaprah tentang Jarh wa Ta'dil

Salah Kaprah tentang Jarh wa Ta'dil
Salah Kaprah tentang Jarh wa Ta'dil.

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah pernah ditanya tentang jarh wa ta'dil.

Pertanyaan:
Banyak orang pada saat ini yang memperbincangkan para Masyāyikh, para Da'i serta para Ulama, dengan beralasan bahwa hal tersebut adalah jarh wa ta'dil (menilai baik buruknya seseorang; red). Apakah dalam jarh wa ta'dil itu ada persyaratannya?

Jawaban:

Jarh wa ta'dil itu adalah ilmu pembahasan dalam ilmu-ilmu Hadits dan ia bukanlah ghibah dan namimah (mengadu domba; red).

Adapun ghibah dan namimah itu adalah haram dan bukanlah jarh wa ta'dil, tidak dibolehkan memperbicangkan manusia, memperbincangkan para Ulama, para penuntut ilmu dan orang-orang yang baik.

Jika kamu mendapatkan adanya sesuatu (kesalahan atau keburukan; red) pada diri mereka, tidaklah boleh diperbincangkan hal itu dihadapan orang lain, ini haram, ini adalah ghibah dan namimah. Jika kamu mendapatkan adanya sesuatu (kesalahan atau keburukan; red) pada mereka, maka sampaikan kepada mereka hal tersebut.

Hendaknya semua menahan lisan dan diam. Segala puji bagi Allah.

Dan, ini bukanlah jarh wa ta'dil, namun ini merupakan ghibah.[]

Dengar audionya di sini: alfawzan.af.org.sa/node/9820
Selengkapnya ...

Rabu, 31 Desember 2014

Jauhkan Diri dan Keluarga Kita dari Perayaan Tahun Baru


Dalam Islam, pergantian hari terjadi saat matahari terbenam. Berbeda dengan penanggalan kristiani (Masehi) yang menunggu sampai tengah malam untuk pergantian harinya. Dalam hal ini saja kita sudah berbeda.

Islam punya penanggalan sendiri, yang jika dibolehkan merayakan pergantiannya itu lebih patut untuk kita rayakan. Hanya saja teladan kita, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mencontohkannya. Juga oleh para sahabat beliau tidak juga merayakannya. Maka kita pun tak perlu untuk merayakan tahun baru Islam. Jika demikian kenapa kaum muslimin latah dan ikut-ikutan merayakan pergantian tahun agama lain?

Perayaan tahun baru identik dengan pemborosan, hingar bingar dan kemaksiatan.

Pemborosan dengan petasan-petasan dan kembang api ala agama majusi (penyembah api). Yang  memekakkan telinga dan menzhalimi orang lain. Mungkin seseorang bangga dan takjub saat petasan itu meledak dan membentuk bunga api, tapi pada saat yang sama ada orang yang melaknat dan mendoakan keburukan untuknya. Karena istirahatnya terganggu, anak-anak dan bayinya menangis ketakutan. Atau karena penyakit jantungnya kambuh. Ketahuilah bahwa doa orang yang terzhalimi itu makbul!

Dan hitunglah pemborosan itu! Jika ditotal di seluruh Indonesia, ratusan miliar habis terbakar dalam 1 malam. Itu terjadi di saat jutaan masyarakat kita masih sulit untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Miris!

Dan terompet ala yahudi. Ketahuilah bahwa terompet-terompet itu menjadi media penyebar penyakit dari mulut-mulut pembuat, penjual dan calon pembeli. Sayangi diri dan anak-anak Anda. Selain penyakit medis, penyakit  yang paling berbahaya adalah mendekatkan mereka pada tradisi orang-orang yahudi. Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa menyelisihi kebiasaan-kebiasaan dan tradisi orang-orang yahudi.

Dari tahun ke tahun, perayaan tahun baru diliputi oleh berbagai kemaksiatan, utamanya pesta miras (khamr) dan perzinahan.

Khamr adalah induk dari segala kejahatan. Maka tak heran jika berita pesta tahun baru juga dikaitkan dengan berita pembunuhan, perampokan, pemerkosaan dan kejahatan lainnya.

Berbagai media telah memberitakan bahwa menjelang tahun baru alat kontrasespsi berupa kondom laris manis. Ini diakui sendiri oleh penjual di apotek. Menurut mereka rata-rata pembelinya adalah anak muda. Maka bisa dipastikan bahwa itu digunakan untuk berzina.

Maka wahai orangtua, jangan sampai anak-anak Anda menjadi salah satu pelakunya. Jangan sampai anak-anak perempuan atau saudari-saudari Anda menjadi korbannya. Jangan biarkan mereka keluar rumah di malam hari tanpa penjagaan Anda.
يٰٓأَيُّهَا   الَّذِينَ   ءَامَنُوا۟   قُوٓا۟   أَنفُسَكُمْ   وَأَهْلِيكُمْ   نَارًا   وَقُودُهَا   النَّاسُ   وَالْحِجَارَةُ
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;..." (QS. At-Tahrim: 6)
Saudaraku, malam tahun baru tak patut untuk kita istimewakan, ia sebagaimana malam-malam lainnya yang perlu untuk kita isi dengan ketaatan kepada Allah.
Kita berlepas diri dari segala kemaksiatan yang terjadi pada malam tersebut. Dan kita berlindung dari adzab Allah yang boleh jadi datang dikarenakan maksiat yang massif pada malam perayaan tersebut. waliya'udzubillah.
أَفَأَمِنُوا۟   مَكْرَ   اللّٰـهِ   ۚ   فَلَا   يَأْمَنُ   مَكْرَ   اللّٰـهِ   إِلَّا   الْقَوْمُ   الْخٰسِرُونَ
“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (Terjemahan Qs. Al-A’raf: 99).
[]

Sumber: wahdahmakassar.org
Selengkapnya ...

Selasa, 28 Januari 2014

Pacaran Berkedok Ta’aruf


“Ukhti Ana ingin sekali memiliki Istri yang cerdas, yang baik ahklak dan agamanya seperti Anti, maukah Ukhti berta`aruf dengan Ana?”

Dag dig dug hati seorang wanita bahkan meronta-ronta gembira saat membuka inboks atau dinding di akun facebook, ia menemukan kata-kata di atas atau semisalnya. Akhirnya, gayung pun bersambut. Sang akhwat pun mulai kirim pesan atau sekadar bertanya: Sudah makan wahai Akhi? Sudahkah Antum tidur Akhi? Atau ucapan: mimpi indah ya?! Dan seterusnya. Jika ditanya, mereka akan menjawab, “Kami sedang ta’aruf, kami ingin saling mengenal, dan kami masih menjaga batas-batas syariat, karena kami tidak ber-khalwat dan belum sampai bertemu, hanya sekadar kirim pesan lewat akun facebook aja!
Selengkapnya ...

Berita

Kajian

Koreksi

Kisah

Muslimah

Khazanah

Catatan Kecil

Opini

Dari Ummat

Dibolehkan menyebarkan konten website ini tanpa perlu izin dengan tetap menyertakan sumbernya. Tim al-Balagh Media