Tampilkan postingan dengan label Prancis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prancis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Februari 2015

Muslim Prancis Maafkan Penyerang Masjid

Muslim Prancis Maafkan Penyerang Masjid


alBalaghMedia.com-- Seorang pria Prancis yang telah melemparkan granat ke sebuah masjid di barat Paris telah dijatuhi hukuman tiga tahun penjara. Namun para pemimpin masjid menegaskan mereka telah memaafkan orang tersebut.

"Komunitas Muslim mengutuk tindakan anti-Islam, tetapi memaafkan orang itu," ujar imam masjid, Mohamed Lamaachi seperti dilansir IslamOnline, Kamis (26/2).

Imam masjid menjelaskan, memafkan merupakan ajaran agama Islam. Untuk itu, para pemimpin masjid sepakat untuk memaafkan penyerang karena untuk menjalankan perintah agama.

Sebelumnya diberitakan, seorang pria yang berusia 69 tahun melakukan serangan terhadap masjid Le Mans di Perancis barat pada 8 Januari lalu. Ia melemparkan empat granat dan mengeluarkan beberapa tembakan. Tidak ada yang terluka dalam serangan itu.

Dia mengatakan kepada pengadilan bahwa serangan tersebut dilakukan pada saat ia berada di bawah pengaruh alkohol. Ia menambahkan, penyerangan tersebut juga untuk memunculkan Islamphobia di Paris pascapenyerangan Charlie Hebdo beberapa waktu lalu. [republika.co.id]

Selengkapnya ...

Selasa, 24 Februari 2015

Di Tengah Kampanye 'Islamphobia', Warga Prancis Justru Makin Banyak Masuk Islam


Di Tengah Kampanye 'Islamphobia', Warga Prancis Justru Makin Banyak Masuk Islam


alBalaghMedia.com-- Jumlah muallaf (orang yang baru masuk Islam) di kalangan masyarakat Prancis telah meningkat secara signifikan setelah serangan maut ke media penista Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Charlie Hebdo.

Seorang Imam Masjid di Prancis melaporkan, semakin banyak orang yang datang untuk mengucap dua kalimat Syahadat. “Saya masuk Islam dan ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa Islam bukanlah seperti yang diketahui orang Prancis selama ini,” ungkap seorang muallaf muda, seperti dikutip Islam Online, Rabu (18/2) dari RTL Radio.

Menurut stasiun radio itu, Masjid Agung Paris telah mengeluarkan 40 sertifikat muallaf Prancis. Padahal tahun lalu, sertifikat hanya dikeluarkan untuk 22 muallaf saja. Dengan demikian, di bulan Februari ini saja terjadi peningkatan hampir 50 persen dibanding tahun lalu.

Persentase muallaf Islam di Strasbourg dan Aubervilliers juga mengalami peningkatan, naik sekitar 30%. Tren yang sama juga terjadi di wilayah Lyon, dengan peningkatan sekitar 20%.

Para imam mengatakan mereka terkejut dengan peningkatan jumlah muallaf baru ini. Dikatakan, para muallaf berasal dari beragam profesi, seperti dokter, kepala sekolah atau polisi.


Ini sebuah perkembangan yang sangat menarik. Di mana di tengah kebencian dan kampanye yang sangat luas gerakan ‘Islamphobia’, justru makin banyak orang-orang di Perancis masuk Islam. Allahu Akbar.

"...Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. " (Terjemahan QS. al-Anfal: 30)

[islamonline/salam-online.com]
Selengkapnya ...

Senin, 19 Januari 2015

Biadab, Seorang Muslim Ditikam Di Depan Istrinya Hingga Tewas

 
Biadab, Seorang Muslim Ditikam Di Depan Istrinya Hingga Tewas
Islamophobia

alBalaghMedia.com-- Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, seorang Muslim Maroko di Perancis ditikam sebanyak 17 kali secara brutal hingga tak bernyawa di hadapan istrinya di rumahnya sendiri oleh tetangganya dalam sebuah serangan Islamophobia, lansir Independent pada Sabtu (17/1/2015),.

Mohamed El Makouli (47) menghadapi penyerang berusia 28 tahun yang menyerang dirinya melalui pintu depan sekitar pukul 01:30 waktu setempat pada Rabu (14/1). Penyerang itu meneriakkan “Aku adalah Tuhanmu, aku adalah Islam-mu”, ungkap National Observatory Against Islamophobia pada Jum’at (16/1).

Ayah satu anak itu terbunuh di desa Beaucet, dekat Avignon di Perancis selatan. Saat itu istrinya, Nadia (31), mencoba untuk menyelamatkannya. Nadia menderita luka di tangannya sebelum ia menyelamatkan diri dari TKP dengan anak mereka untuk memanggil polisi.

Presiden Observatory Abdallah Zekri mengutuk serangan itu “sebagai serangan Islamophobia mengerikan” dan menyatakan bahwa istri korban menyaksikan dengan sangat jelas mengenai apa yang si penyerang brutal itu teriakkan tentang Islam.

Dia mengatakan kepada AFP: “Ia yakin mengenai apa yang dia (penyerang) katakan.”

Pria rasis itu didakwa pada Kamis (15/1) dengan dakwaan pembunuhan, percobaan pembunuhan dan kepemilikan obat sebelum dia dirawat di sebuah rumah sakit jiwa di Montfavet. Polisi mengklaim bahwa kasus Islamophobia akan diselidiki ketika mereka mulai menginterogasi penyerang.

Dia dilaporkan telah didiagnosis menderita skizofrenia karena dia mengklaim bahwa dia telah mendengar suara-suara. Para pejabat mengatakan bahwa dia ditemukan di tempat kejadian dalam keadaan kacau.

Serangan itu adalah salah satu dari sedikitnya 50 insiden Islamophobia yang dilaporkan sejauh ini di negara itu setelah terjadinya serangan di kantor majalah satir Charlie Hebdo di Paris awal bulan ini, menurut Dewan Pusat Muslim di Perancis.

Seorang Muslim berusia 20 tahun yang berasal dari Eritrea, Khaled Idris Bahray, sebelumnya juga ditikam hingga meninggal dunia di Dresden, Jerman, pada Selasa (13/1). Dia dilaporkan telah meninggalkan rumahnya pada Senin (12/1) dan tidak kembali sebelum jasadnya ditemukan di jalan pada dini hari.[]


Sumber: arrahmah.com
Selengkapnya ...

Rabu, 14 Januari 2015

Dunia Diam Saat 12 Juta Umat Islam Dibantai

 
Dunia Diam Saat 12 Juta Umat Islam Dibantai
Mehmet Gormez, Kepala Direktorat Urusan Agama Turki

alBalaghMedia.com-- Mehmet Gormez, Kepala Direktorat Urusan Agama Turki, mengatakan, dunia hanya diam saat terjadi pembunuhan terhadap jutaan orang Islam.

"Di satu sisi, (sekitar) 12 juta orang telah dibantai di dunia Islam dalam 10 tahun terakhir. Dan di sisi lain, 12 orang dibunuh secara brutal di Paris pekan lalu," kata Gormez dikutip Dream.co.id dari laman World Bulletin, Rabu 14 Januari 2015.

Namun, Gormez mengatakan orang-orang tidak ribut tentang pembunuhan jutaan Muslim, mereka hanya peduli terhadap pembunuhan segelintir orang.

"Kematian seorang manusia adalah kematian bagi kemanusiaan," kata Gormez. "Tidak ada perbedaan dalam pembunuhan brutal, baik di Damaskus, Baghdad, atau Paris."

Menurut dia, jika dunia tidak bereaksi terhadap semua pembunuhan dan pembantaian dengan cara yang sama tanpa memandang agama atau lokasi, maka seluruh umat manusia akan hancur.

Gormez juga mengatakan bahwa serangan teror di Paris pada Rabu dan Jumat lalu tidak dapat diterima oleh setiap Muslim atau orang yang punya akal.

Semua muslim harus mengutuk teror dan kekerasan. Dunia yang layak huni dapat dicapai dan dipertahankan jika semua rasa sakit dan kesedihan diperlakukan dengan kasih sayang dan keadilan.

"Kekerasan tidak bisa dihilangkan dengan kekerasan dan darah tidak dapat dibersihkan dengan darah," kata Gormez. "Keamanan di dunia tidak dapat dipertahankan dengan menindas keyakinan."

Sementara itu, Perdana Menteri Turki yang baru, Ahmet Davutoglu, mengatakan pada Selasa kemarin bahwa beberapa golongan tertentu di dunia secara bersama-sama berusaha menjatuhkan kesalahan kepada warga Turki dan Muslim di Eropa.

Dia merujuk tweet Rupert Murdoch setelah serangan di Paris, yang berbunyi: "Mungkin sebagian besar muslim damai, tetapi sampai mereka mengenali dan menghancurkan kanker jihad mereka, mereka yang harus bertanggung jawab."

Davutoglu berbicara kepada wartawan tentang serangan Perancis dan kunjungan resminya ke Berlin saat pesawatnya kembali dari Jerman.

"Seperti yang kita lihat dalam sambutannya Murdoch, ketika seseorang membuat kesalahan, mereka bertindak seolah-olah semua Muslim dan warga Turki memainkan bagian dalam kesalahan itu," katanya.

Davutoglu mengatakan ia sengaja datang ke Paris dan menghadiri pawai kesatuan. Tujuannya agar orang-orang Turki di Perancis dapat menanggapi tuduhan orang-orang Perancis. "Perdana Menteri saya juga hadir pada pawai kesatuan."

"Anda harus berjalan dengan kepala terangkat tinggi. Anda tidak bersalah," katanya.

"Islam adalah bagian masyarakat Eropa. Jadi tidak mungkin lagi mengusir muslim dari Eropa seolah-olah mereka adalah pendatang sementara," tambahnya.

Organisasi-organisasi Muslim di Jerman telah mengadakan aksi unjuk rasa di 2.000 masjid nasional sebagai protes terhadap ekstremisme agama dan serangan rasis yang menargetkan masjid dan sinagog.

Dua belas orang tewas, Rabu lalu, ketika orang bersenjata bertopeng menyerang kantor Charlie Hebdo. Majalah satir ini dikenal sebagai majalah yang mencetak materi kontroversial, termasuk kartun bernada menghina Nabi Muhammad pada tahun 2006 dan 2012.

Said dan Cherif Kouachi, dua tersangka bersenjata pelaku penyerangan yang bersaudara, tewas oleh polisi pada hari Jumat di sebuah gudang di Dammartin-en-goele, sebuah kota kecil di utara Paris.

Pria bersenjata lainnya, Amedy Coulibaly, menewaskan empat sandera di sebuah supermarket dalam serangan terpisah di Paris pada hari Jumat.[dream/albalaghmedia]
Selengkapnya ...

Senin, 12 Januari 2015

12 yang Dibunuh, Heboh, Ratusan Ribu Muslim Dibantai, Bungkam!

Para pemimpin negara dalam aksi pawai di Paris Perancis

Judul di atas bukan mengada-ada, tapi kenyataan yang kita lihat dan saksikan hari ini. Untuk belasan orang yang terbunuh, para ‘pemimpin dunia’ berkumpul menggalang solidaritas di Paris, Prancis, Ahad (11/1) kemarin. Bahkan pemimpin negara Muslim pun ikut larut dalam aksi pawai dukungan terhadap para peleceh Islam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dieksekusi mati oleh penyerangnya di kantor majalah itu, Charlie Hedbo, Rabu (7/1) lalu.

Paradox! Satu kata ini cukup untuk mengungkap kelakuan mereka yang disebut sebagai para ‘pemimpin dunia’ itu. Lebih dari 40 ‘pemimpin dunia’ diberitakan mengikuti aksi solidaritas bersama ratusan ribu–beberapa media menyebutnya satu jutaan–massa itu. Selain tuan rumah, presiden dan perdana menteri Prancis, juga ada Perdana Menteri Italia, PM Inggris, Kanselir Jerman, Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas, PM penjajah Zionis Benjamin Netanyahu, dan lainnya. Mereka bergandengan tangan, seakan saling menguatkan.

Paradox! Mahmoud Abbas ‘satu aksi bersama’ dengan pemimpin Zionis yang menjajah Palestina. Bisa-bisanya dia bersama pemimpin penjajah negerinya yang baru beberapa bulan lalu membantai ribuan rakyat Palestina, khususnya di Gaza. Bagaimana perasaan Abbas, atau dia memang sudah hilang rasa ketika bersama-sama pembunuh rakyatnya.

Paradox! Kehebohan yang luar biasa. Hanya lantaran belasan yang dibunuh, sementara ratusan ribu umat Islam yang dibantai, di Suriah, Palestina, Myanmar, Afrika Tengah, Mesir, Irak, dan lainnya, mereka semua gagap, kegigit lidah, kalau tak bisa dibilang bungkam sejuta bahasa! Pernahkah mereka, para begundal, yang disebut sebagai ‘pemimpin dunia’ itu berkumpul untuk menggalang solidaritas pembantaian ratusan ribu Muslim?

Paradox! Tak ada hak asasi manusia (HAM), lantaran yang dibunuhi adalah Muslim. Apa peran mereka ketika Muslim Afrika Tengah dibantai? Mana suara mereka saat preman Mesir Al-Sisi dengan enaknya mengeluarkan perintah biadab untuk menyemburkan darah Muslim? Ke mana mata mereka dipalingkan saat ribuan bahkan ratusan ribu Muslim Suriah terlantar dan dibantai rezim jahat Syiah Nushariyah pimpinan Basyar Asad?

Paradox! Di mana otak mereka ketika penjajah Zionis menggempur dan memorakporandakan Gaza, serta melahirkan banyak yatim-piatu, lantaran para orang tua dari anak-anak itu harus menutup mata untuk selamanya? Mana wajah mereka di kala Muslim Rohingya tertatih-tatih dan terlantar menanggung penderitaan yang teramat parah, terusir dari tanah air mereka sendiri, akibat pembersihan etnis yang dilancarkan penguasa dan ekstremis Budhis Myanmar? Ke mana nurani mereka ketika Muslim Uighur dikekang dan tak boleh melaksanakan syariat Islam?

Paradox! 12 yang dibunuh, heboh! Ratusan ribu Muslim dibantai, bungkam! [salam-online.com]
Selengkapnya ...

Minggu, 11 Januari 2015

Inilah Muslim yang Disebut Pahlawan di Prancis


Lassana Bathily jadi Pahlawan muslim di Prancis
Lassana Bathily dan Hypermart tempatnya bekerja, sumber telegraph.co.uk

alBalaghMedia.com-- Lassana Bathily (24 tahun), seorang karyawan Muslim di toko Paris Kosher Hyper di selatan Perancis, yang diserang oleh teroris lalu dipuji menjadi pahlawan. Di media sosial ia disebut sebagai pahlawan.

Tindakan berani yang ia lakukan justru mengubah kesan buruk yang menyudutkan muslim di setiap serangan teroris. Lalu apa yang ia lakukan?

Pada Jumat (9/1) malam, ketika Amedy Coulibaly melepaskan tembakan di toko tersebut, ia menyelamatkan beberapa pelanggan dengan menyembunyikan mereka dalam freezer. "Aku pergi ke freezer, aku membuka pintu, ada beberapa orang yang pergi denganku. Aku mematikan lampu dan freezer, "kata Bathily kepada BFMTV jaringan Perancis, seperti yang dikutip dari Huffington Post, Ahad (11/1).

Bathily menuturkan, saat membawa beberapa pelanggan ke dalam freezer ia juga berusaha untuk menenangkan mereka. “Aku membawa mereka di dalam dan saya mengatakan kepada mereka untuk tetap tenang di sini, aku akan pergi keluar. Ketika mereka tiba, mereka berterima kasih kepada saya,” ucap dia.

Tidak jelas secara banyak pelanggan yang berhasil disembunyikan Bathily di dalam freezer yang berada di ruang bawah tanah toko tersebut. Dewan kota Malik Yettou mengatakan bahwa enam orang dan bayi lolos dari pria bersenjata itu dengan bersembunyi di sana, sementara BFMTV menempatkan angka pada sekitar 15.

Sementara itu, karyawan lain di pasar melarikan diri melalui pintu darurat. Adapun polisi menggerebek supermarket dan toko percetakan secara bersamaan serta membunuh saudara Kouachi dan Coulibaly.

Bathily mengatakan kepada BFMTV bahwa ia berhasil keluar dari toko melalui lift barang. Ketika ia bertemu polisi, ia sempat diduga merupakan salah satu dari komplotan teroris.

"Mereka mengatakan kepada saya, turun di tanah, tangan di atas kepala Anda," katanya.

Bathily menambahkan, para polisi juga sempat memborgol dan menahan dirinya dengan cara memeluk selama satu jam setengah. Ia pun mengatakan kepada para polisi bahwa sebenarnya dia justru membantu polisi dengan rencananya yang menyelamatkan dan menyembunyikan beberapa pelanggan di freezer yang berada di ruang bawah tanah toko tersebut. [rol/islamedia]
Selengkapnya ...

Kamis, 08 Januari 2015

Muslim Prancis Dihantui Teror Pasca Penyerangan Charlie Hebdo

Muslim Prancis Dihantui Teror Pasca Penyerangan Charlie Hebdo

alBalaghMedia.com-- Serangan terhadap surat kabar satir Prancis, Charlie Hedbo kemarin, ternyata berbuntut panjang. Akibat serangan tersebut, komunitas Muslim yang ada di beberapa wilayah di Prancis mulai diserang serangkaian aksi teror.

Melansir Channel News Asia, Kamis (8/1/2015), setidaknya terjadi lima serangan yang menargetkan masjid dan tempat berkumpul komunitas Muslim di Prancis. Serangan terjadi sepanjang malam, hingga siang hari ini.

“Dua tempat ibadah umat Islam di dua kota di Prancis ditembaki semalam, hanya beberapa jam setelah aksi penembakan di Charlie Hedbo,” ungkap seorang pejabat keamanan Prancis, dalam kondisi anonim.

Sementara itu di Le Mans, yang berlokasi di sebelah barat kota Paris, tiga granat kosong dilemparkan ke arah sebuah masjid di kota tersebut. Aksi penembakan juga terjadi di sebuah gedung, yang biasa dijadikan lokasi berkumpul komunitas Muslim di Distrik Port-la-Nouvelle, Prancis selatan.

Sedangkan yang terbaru adalah sebuah serangan terhadap masjid di kota Villefranche-sur-Saone, Prancis timur. Menurut otoritas terkait di beberapa wilayah itu, tidak ada korban yang jatuh dalam serangkaian serangan tersebut. [islamedia/zl]

Selengkapnya ...

Berita

Kajian

Koreksi

Kisah

Muslimah

Khazanah

Catatan Kecil

Opini

Dari Ummat

Dibolehkan menyebarkan konten website ini tanpa perlu izin dengan tetap menyertakan sumbernya. Tim al-Balagh Media