Tampilkan postingan dengan label Khazanah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khazanah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 September 2016

4 Dzulhijjah di Bukhara


Oleh: Syamsuar Hamka (Penulis Buku Api Tarbiyah)

Kekhalifahan Abbasiyah
Kekhalifahan Abbasiyah (Arab: الخلافة العباسية, al-khilāfah al-‘abbāsīyyah) atau Bani Abbasiyah (Arab: العباسيون, al-‘abbāsīyyūn) adalah kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Baghdad (sekarang ibu kota Irak). Kekhalifahan ini berkembang pesat dan menjadikan dunia Islam sebagai pusat pengetahuan dengan menerjemahkan dan melanjutkan tradisi keilmuan Yunani dan Persia. Kekhalifahan ini berkuasa setelah merebutnya dari Bani Umayyah dan menundukkan semua wilayahnya kecuali Andalusia. Bani Abbasiyah dirujuk kepada keturunan dari paman Nabi Muhammad yang termuda, yaitu Abbas bin Abdul-Muththalib (566-652), oleh karena itu mereka juga termasuk ke dalam Bani Hasyim. Berkuasa mulai tahun 750 dan memindahkan ibukota dari Damaskus ke Baghdad. Berkembang selama dua abad, tetapi pelan-pelan meredup setelah naiknya bangsa Turki yang sebelumnya merupakan bahagian dari tentara kekhalifahan yang mereka bentuk, dan dikenal dengan nama Mamluk (lihat: wikipedia.com).

Abbasiyah adalah kekhalifahan besar yang menorehkan kemajuan yang sangat besar dalam sejarah peradaban Islam. Dr. Mustafa as-Siba’i menuliskan bagaimana pembangunan ibukota kekhalifahan saat itu,
“Seluruh biaya yang dibelanjakan untuk membangun Baghdad mencapai 4.800.000 dirham, sedang jumlah pekerja yang bekerja di situ mencapai 100.000 orang. Baghdad mempunyai tiga lapis tembok besar dn kecil mencapai 6.000 buah di bagian timur dan 4.000 buah di bagian barat, Selain sungai Dijlah dan Furat, di situ juga terdapat 11 sungai cabang yang airnya mengalir ke seluruh rumah-rumah dan istana-istana Baghdad. Di sungai Dijlah sendiri terdapat 30.000 jembatan. Tempat mandinya mencapai 60.000 buah, dan di akhir masa pemerintahan Bani Abbas jumlah ini berkurang menjadi hanya beberapa puluh ribu buah. Masjid-masjid mencapai 300.000 buah, sementara penduduk Baghdad dan kebanyakan ulama, sastrawan dan filsuf sudah tak terhitung lagi jumlahnya.” (Lihat: Peradaban Islam, Mustafa as-Siba’i).

Namun seluruh keindahan itu sirna hingga hanya meninggalkan bekas-bekas sejarah. Sebab pada akhirnya, peradaban besar itu runtuh lewat serangan bangsa Mongol pada tahun 1258 yang dipimpin Hulagu Khan yang menghancurkan Baghdad dan tak menyisakan sedikitpun dari pengetahuan yang dihimpun di perpustakaan Baghdad. Mereka membantai jutaan kaum muslim Baghdad, dan hanya beberapa saja yang selamat dari kekejamannya. Selain menghancurkan kota Baghdad, tentara Mongol juga membakar dan membuang buku-buku ilmu pengetahuan yang berada di perpustakaan Baghdad, saat itu banyak koleksi berharga ilmu pengetahuan hilang begitu saja. Serangan Bangsa Mongol digambarkan oleh Ibnu Taimiyah sebagai kengerian yang luar biasa, dan sulit diterima akal sehat. Ibnu Taimiyah adalah salah seorang yang selamat dari serangan tentara Mongol, beliau dan keluarganya berhasil melarikan diri ke Mesir.

Serangan Bangsa Mongol
Pada tahun 565 H/1258 M, tentara Mongol yang berkekuatan sekitar 200.000 orang tiba di salah satu pintu Baghdad. Khalifah Al-Musta'shim, penguasa terakhir Bani Abbas di Baghdad (1243 - 1258), betul-betul tidak berdaya dan tidak mampu membendung "topan" tentara Hulagu Khan.

Pada saat yang kritis tersebut, wazir khilafah Abbasiyah, Ibn Alqami ingin mengambil kesempatan dengan menipu khalifah. la mengatakan kepada khalifah, "Saya telah menemui mereka untuk perjanjian damai. Hulagu Khan ingin mengawinkan anak perempuannya dengan Abu Bakr Ibn Mu'tashim, putera khalifah. Dengan demikian, Hulagu Khan akan menjamin posisimu. la tidak menginginkan sesuatu kecuali kepatuhan, sebagaimana kakek-kakekmu terhadap sulthan-sulthan Seljuk".

Khalifah menerima usul itu, la keluar bersama beberapa orang pengikut dengan membawa mutiara, permata dan hadiah-hadiah berharga lainnya untuk diserahkan kepada Hulagu Khan. Hadiah-hadiah itu dibagi-bagikan Hulagu kepada para panglimanya. Keberangkatan khalifah disusul oleh para pembesar istana yang terdiri dari ahli fikih dan orang-orang terpandang. Tetapi, sambutan Hulagu Khan sungguh di luar dugaan khalifah. Apa yang dikatakan wazirnya ternyata tidak benar. Mereka semua, termasuk wazir sendiri, dibunuh dengan leher dipancung secara bergiliran.

Dengan pembunuhan yang kejam ini berakhirlah kekuasaan Abbasiyah di Baghdad. Kota Baghdad sendiri dihancurkan rata dengan tanah, sebagaimana kota-kota lain yang dilalui tentara Mongol tersebut. Walaupun sudah dihancurkan, Hulagu Khan memantapkan kekuasaannya di Baghdad selama dua tahun, sebelum melanjutkan gerakan ke Syria dan Mesir.

Jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri kekuasaan khilafah Bani Abbasiyah di sana, tetapi juga merupakan awal dari masa kemunduran politik dan peradaban Islam, karena Bagdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut pula lenyap dibumihanguskan oleh pasukan Mongol yang dipimpin Hulaghu Khan tersebut.

Latar belakang yang menyebabkan invasi Mongol ke wilayah Islam adalah adanya peristiwa Utrar pada tahun 1218, yaitu ketika Gubernur Khawarizm membunuh utusan Jengis Khan yang disertai pula oleh para saudagar muslim. Jengis Khan mengirim 50 orang saudagar Mongol untuk membeli barang dagangan di Bukhara. Atas perintah amir Bukhara Gayur Khan, mereka ditangkap dan dihukum mati. Penangkapan tersebut disebabkan para pedagang Mongol tersebut melakukan tindakan kasar yang merugikan pedagang setempat. Peristiwa itu menimbulkan reaksi yang cukup hebat dari Jengis Khan. Hal tersebut menyebabkan Mongol menyerbu wilayah Islam dan dapat menaklukkan Transoxania yang merupakan wilayah Khawarizm tahun 1219-1220.

Jengis Khan memulai invasi ke Negara Islam di Negara Khawarizm Turkistan yang merupakan pemerintahan independen dari Khilafah Abbasiyah. Pasukan Mongol saat itu berjumlah 60.000 orang, ditambah sejumlah tentara yang direkrut dari rakyat yang ditaklukkan sepanjang perjalanan. Pasukan Khawarizm tidak bisa bertahan lama di hadapan pasukan Mongol. Karena tidak mempunyai pilihan lain, sultan Khawarirzm ‘Ala al-din melarikan diri ke sebuah pulau di Laut Kaspia, dan di tempat tersebut dia mati putus asa pada tahun 1220.

Jengis Khan juga mengutus anak-anaknya yaitu Tulii untuk menaklukkan Khurasan dan Juchi, dan Changhatai untuk menaklukkan wilayah Sri Darya bawah dan Khawarizmi. Jengis Khan menghadapi Sultan Muhammad, yang memimpin orang-orang Turki. Ia adalah seorang sultan yang ambisius dan pada awalnya menganggap remeh kekuatan Jengis Khan. Orang-orang Mongol menghantam basis kekuatan Sultan Muhammad, menghancurkan pemukiman dan meruntuhkan kota di Transoxania, Khawarizm dan Khurasan.

4 Dzulhijjah di Bukhara
Strategi perang bangsa Mongol adalah menanamkan trauma dan rasa takut serta menjatuhkan mental hingga musuhnya tidak berani melawan. Bangsa Mongol membunuh 700.000 penduduk Kota Marw, membobol bendungan dekat Gurganj hingga penduduk kota tersebut mati tenggelam, menuangkan emas yang mencair panas ke tenggorokan gubernurnya. Selama hampir setahun berlalu (617 H/ 1220 M) akhirnya Turkistan jatuh ke tangan Jengis Khan yang kemudian diikuti oleh Azerbaijan, Khurasan dan beberapa kota di Persia (618-619 H). Termasuk diantaranya adalah Bukhara.

Jengis Khan dan pasukannya bergegas melanjutkan serangan ke kota Bukhara kemudian membunuh penduduknya dan membakar madrasah-madrasah, masjid-masjid dan rumah-rumah. Tentara Mongol yang menunggangi kuda dan bersenjata busur-busur aneh menebar malapetaka dan kerusakan kemanapun mereka bergerak. Selanjutnya Jengis Khan melakukan invasi ke Samarkand dan kota-kota lain dengan melakukan pembantaian brutal dan menghancurkan populasi di kota-kota tersebut.

Kota Bukhara, yang menjadi kota kelahiran Imam Ilmu hadits, Imam Bukhari ditaklukkan oleh Jengis Khan setelah mengepungnya selama 3 hari. Meski penduduknya yang dikenal taat dan berpengetahuan, orang-orang Mongol menaklukkan kota ini dengan kejam. Mereka menempatkan kuda-kuda mereka di sekeliling masjid dan menyobek-nyobek al-Qur’an untuk dibuang di tempat sampah. Kejadian tersebut terjadi pada tanggal 4 Bulan Dzulhijjah. (wallohu a’lam bi as-Showab).[]


Selengkapnya ...

Senin, 01 Februari 2016

Setan Pun Lari Terbirit-birit Menghindari Umar bin Khattab


Setan Pun Lari Terbirit-birit Menghindari Umar bin Khattab

DI MASA awal Islam, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu ikut berhijrah bersama pemeluk Islam lain ke Yatsrib (sekarang Madinah). Tidak seperti yang lain yang hijrah secara sembunyi-sembunyi, Umar melakukan thawaf tujuh kali, lalu berseru. ”Wahai Quraisy, hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”

Umar adalah lelaki yang sangat pemberani, memiliki julukan yang diberikan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu Al-Faruq yang berarti orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Wahai ibnu al-Khattab (‘Umar), demi Allah yang jiwaku berada ditangan-Nya, tidaklah setan menemuimu berjalan di satu jalan melainkan ia mengambil jalan lain yang bukan jalanmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari hadits yang diriwayatkan Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sungguh aku melihat setan-setan jin dan manusia, lari terbirit-birit ketika melihat Umar." (HR. al-Tirmidzi)

Umar bin Khattab pun ditakuti oleh musuh Allah hingga hari ini.

Hasan Nasrullah, tokoh syi’ah berkata: “Kami tidak mau masuk Masjid Nabawi melewati pintu Umar bin Khaththab, karena kami membencinya!”

Mengomentari pernyataan tersebut Syaikh DR. Muhammad al-‘Arifi hafizhahullah berkata:
“Semoga Allah merahmatimu wahai Umar, Setan telah lari darimu baik ketika engkau hidup atau setelah engkau meninggal.”[]

Selengkapnya ...

Kamis, 28 Januari 2016

Satu Tahun Gugur, Jenazah Mujahidin Ini Tetap Segar dan Mengeluarkan Darah


JASAD tak bernyawa yang terbujur ini bernama Abdul Hadi rahimahullah. Tahukah kalian, berapa lama nyawanya meninggalkan badan? Ketahuilah! Bukan satu hari, atau pun dua hari tapi sudah tahun mayat ini terbaring. Iya satu tahun!

Setahun lalu beliau adalah salah satu komandan lapangan mujahidin yang bertugas menggempur kota rafidhah alfu'ah di pinggiran provinsi Idlib. Dalam pertempuran sengit beliau rubuh dan gugur terkena terjangan peluru musuh. Karena kondisi yang tidak memungkinkan para ikhwah tidak bisa mengevakuasi jasadnya.

Hari ini mujahidin Jaisyul Fath melakukan pertukaran mayat dengan milisi rafidhah. Beliau adalah salah satu yang termasuk ditukar. Ketika jasadnya dikembalikan, para ikhwah merasa sangat takjub dan terharu dengan keadaan jasadnya. Karena meski telah berlalu satu tahun, jasad itu masih segar bahkan darahpun masih mengalir. Semoga Allah menerimanya dalam barisan syuhada.

Ini bisa jadi merupakan karamah yang Allah tunjukkan kepada hamba-hambaNya yang beriman agar tetap teguh di atas bala cobaan jihad fi sabilillah. Dan hendaklah kita cemburu dengan apa yang telah komandan Abdul Hadi lakukan dan dapatkan.[]

Sumber: https://www.facebook.com/ihsan.abu.zubair
Selengkapnya ...

Minggu, 24 Januari 2016

Hindari Aliran Sesat, Kenali Ciri-cirinya


alBalaghMedia.com-- Maraknya aliran sesat membuat kita harus waspada demi menjaga akidah kita dan anak cucu kita. Untuk itu penting bagi kita mengetahui ciri-cirinya agar bisa menghindarinya.

Ciri-ciri aliran sesat jika mau dipaparakan secara detail memang sangat banyak. Namun secara garis besar ada 10 ciri aliran sesat sebagaimana dima'lumatkan oleh  oleh Majelis Ulama Indonesia, yaitu:
  1. Mengingkari rukun iman (Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab Suci, Rasul, Hari Akhir, Qadha dan Qadar) dan mengingkari rukun Islam (Mengucapkan 2 kalimat syahadah, sholat wajib 5 waktu, puasa, zakat, dan Haji)
  2. Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar`I (Al-Quran dan As-Sunah);
  3. Meyakini turunnya wahyu setelah Al-Qur’an.
  4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Al-Qur’an.
  5. Melakukan penafsiran Al-Quran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.
  6. Mengingkari kedudukan hadits Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sebagai sumber ajaran Islam.
  7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul.
  8. Mengingkari Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam sebagai Nabi dan Rasul terakhir.
  9. Merubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syari’ah, seperti haji tidak ke Baitullah, shalat fardhu tidak 5 waktu.
  10. Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i, seperti mengkafirkan seorang muslim hanya karena bukan kelompoknya.
Semoga Allah Ta'ala senantiasa memberi petunjuk kepada kita menjaga kita dari akidah dan ibadah yang menyimpang lagi sesat. Amin.[]
Selengkapnya ...

Jumat, 30 Oktober 2015

Suriah: Kisah Sebuah Revolusi (Bagian 2)


Para orang tua dari anak-anak itu datang memelas. Meraka memohon kepada pejabat keamanan politik agar anak-anak mereka dilepaskan. Namun, pejabat itu melontarkan jawaban menghina yang kelak tersebar ke seluruh Suriah, “Lupakan mereka, dan lahirkanlah anak-anak yang lain! Atau bawa kemari istri-istri kalian agar kami hamili bila kalian tidak mampu!”
Kesabaran tetap ada batasnya. Rakyat Suriah telah cukup bersabar hingga laut kesabaran itu telah kering. Dan bubuk mesiu yang terjilat api pasti akan meledak. Bubuk mesiu itu adalah emosi penduduk Dir’a, sedangkan apinya adalah jawaban pejabat pemerintah tadi. Meledaklah revolusi!
VII
Tuntutan untuk melakukan demonstrasi pada hari Selasa (15/3/2011) tersebar lewat situs-situs jejaring sosial di internet. Pada hari H, demonstrasi kecil terjadi di Damaskus, Halab, Dir’a, dan Dirzur. Para demonstran berteriak, “Kemana engkau bangsa Suriah.”
Esok harinya, sekitar 100 pemuda dan pemudi berdemonstrasi di jantung kota Damaskus. Mereka berkumpul di depan kantor kementrian dalam negeri menuntut kebebasan, reformasi politik, dan agar tawanan politik dibebeskan dari penjara. Ratusan aparat keamanan bersenjata pentungan membubarkan demonstrasi dan menangkap sebagian aktivis. Beberapa perempuan dijambak rambutnya serta seret menuju mobil tahanan.
Jumat (18/3/2011) sejumlah demonstrasi terjadi di beberapa kota di Suriah. Dir’a menjadi kota yang paling panas. Khususnya setelah insiden penangkapan anak kecil yang disusul oleh pernyataan pejabat keamanan tadi. Sekam yang membara tinggal menunggu untuk disiram dengan bahan bakar. Dan pemerintah Suriahlah yang melakukannya.
Penguasa merespon demonstrasi dengan sejata berpeluru tajam. Empat syahid jatuh korban. Itulah bahan bakar yang membakar bara emosi rakyat.
Sabtu keesokan harinya, warga Dir’a melayat dan mengiringi jenazah para syuhada. Syekh Ahmad al Shayashinah menyerukan kepada rakyat Suriah, “Sejak hari ini, wajib hukumnya bagi setiap rakyat Suriah yang mampu untuk keluar berdemonstrasi. Sikap berpangku tangan adalah khianat terhadap darah para syahid.”
Petugas keamanan meneror Syekh Ahmad dan meminta dia menenangkan gerakan protes. Syekh Ahmad menolak. Akibatnya dia dipukuli petugas.
Ahad (20/3/2011), rombongan manusia mengalir dari segala penjuru Hawran menuju Dir’a. Mereka berteriak, “Bangkitlah Hawran, bangkitlah Hawran!” Beberapa aparat mencoba menenangkan kumpulan manusia itu, namun nihil. Rakyat menuntut agar pejabat keamanan yang membalas dengan penghinaan itu dihukum mati. Untuk pertama kalinya selama beberapa dekade publik mengajukan tuntutan untuk menghukum mati seorang pejabat yang sewenang-wenang.    
Untuk pertama kalinya pula, massa berkumpul bukan untuk meneriakkan “Bashar sebagai pemimpin untuk selamanya,” atau “kami akan berkorban dengan darah dan nyawa.” Bukan. Teriakan yang menggoncang bumi Hawran saat itu adalah “Bashar barrah, barrah (keluar); Suriah hurrah, hurrah (merdeka).” Ketakutan terhadap rezim akhirnya menguap sudah. Dugaan banyak orang selama ini terhadap rakyat Suriah menjadi tidak terbukti.
Pada hari yang sama, salah satu berhala raksasa di dunia Arab dan Islam juga jatuh. Sekertaris Jenderal Hizbullata (bukan: Hizbullah), Hasan Nashrullah berpidato, “Pemerintahan yang mirip Husni Mubarak yang diprotes rakyatnya, maka kami akan bersama rakyatnya. Akan tetapi jika pemerintahan itu menolak dan timbul masalah, maka persoalannya jadi lain. Kami akan berdiri bersama mereka, dan berkata, ‘Tuntaskan urusan kalian sendiri.”
Setelah pidato Hasan Nashrullah, demonstran Suriah di Dir’a membakar posternya dan protes, karena mereka juga menghadapi intimidasi dan penindasan. Nashrullah dan Hizbullata jatuh dari mata rakyat Suriah, dan hampir saja Iran yang bermain di belakangnya turut kolaps. Proyek raksasa yang dibiayai Iran selama sepertiga abad jatuh sudah.   
VIII
Sesungguhnya krisis Suriah bisa saja berhenti sampai di situ. Apa yang dituntut oleh para demonstran? Menurunkan pejabat keamanan dan mengajukannya ke pengadilan, mengganti gubernur yang korup dan melepaskan anak-anak yang ditawan bersama sejumlah tawanan politik. Di samping itu, membatalkan undang-undang darurat yang telah menghimpit kehidupan rakyat selama setengah abad.
Adapun menurunkan pemerintahan yang ada, masih merupakan mimpi di siang bolong. Kenapa rezim tidak berusaha memenuhi tuntutan yang ringan itu? Kalaupun rezim yang ada belum mau melaksanakan tuntutan rakyat, kenapa para demonstran harus dihadapi dengan senjata?
Segera saja gerakan revolusi mengarah ke mogok massal yang dimulai di Dir’a dengan berkumpul di masjid Jami’ al ‘Amri. Sebagaimana rakyat segera menangkap bahwa mogok massal dan berkumpul di tempat terbuka merupakan “dosa besar” di mata rezim Bashar.
Pagi itu (23/3/2011), ledakan memecah udara Dir’a. Tentara loyalis rezim memulai serangannya ke Jami’ al ‘Amri. Para pemuda tidak beranjak dari tempat berkumpul mereka. Tentara mulai menembak dengan rentetan senapan mesin dan melempar bom. Korban dari rakyat sipil mulai berjatuhan. Puluhan tewas sebagai syuhada serta ratusan lainnya luka berat. Dan ketika aliran manusia mengalir menuju Jami’ al ‘Amri, mereka dihadang dengan tembakan dan korban yang jatuh bertambah. Militer melarang ambulans menolong korban yang jatuh. Bahkan korban yang berhasil dibawa pergi dicegat oleh tentara di jalan dan dibawa ke mobil tahanan.
Informasi tentang demo besar-besaran dan sikap rezim segera tersebar ke distrik-distrik lain di Hawran. Rakyat keluar ke jalan-jalan dan protes. Dengan marah, mereka berjalan menuju Dir’a. Sebagaimana sebelumnya, militer mencegat mereka dengan timah panas.
Hari itu berakhir dengan 52 korban nyawa. Hawran tidak mungkin lagi mundur ke belakang. Dia telah memasuki titik yang tak mungkin dihentikan kecuali dengan runtuhnya rezim Bashar.
IX
Hari-hari berikutnya semakin memanas. Kendati pejabat-pejabat pemerintahan silih berganti muncul di layar televisi dengan pernyataan yang penuh kamuflase. Janji untuk menghukum pejabat yang melanggar, militer yang melampaui batas, dan upaya melakukan investigasi yang indipenden. Tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Bashar tampil di televisi dengan pidatonya yang membosankan. Beberapa orang ditampilkan mendukung Bashar. Rakyat telah terbiasa dengan drama dan teriakan rekayasa yang ditampilkan di media resmi pemerintah. Rakyat membalasnya dengan demonstrasi yang pecah di mana-mana.
Seorang pejabat, lewat konferensi pers yang disiarkan media menegaskan bahwa presiden telah melarang keras tentara menghadapi demonstrasi rakyat dengan senjata. Hari Jumat, dunia menjadi saksi betapa instruksi presiden itu dilaksanakan. Ketika ribuan demonstran yang berasal dari Kufr Syams dan Shinmin mendekati kantor keamanan militer, pintu dibuka dengan hujan peluru senjata mesin yang berhambur menyambar tubuh para domonstran. Puluhan nyawa melayang di tempat.
Senin (28/3/2011) rakyat Suriah telah membuka mata mereka. Rakyat telah sadar bahwa rezim yang ada memilih jalan kekerasan dan darah. Rezim siap membantai rakyatnya sendiri demi menghentikan arus demonstrasi.
Recep Tayyip Erdogan, perdana menteri Turki muncul di layar televisi, “Kita tidak mungkin berpangku tangan terhadap apa yang terjadi di Suriah.” Sejak itu, dia memang tidak pernah lagi berlepas tangan terhadap nasib saudara-saudaranya di Suriah.
X
Sejak awal rezim Suriah berupaya membunuh “janin” revolusi sebelum dia lahir dan tumbuh besar dan kuat. Lantaran itu, demo-demo pertama dihadapi dengan senjata, dan korban mulai berjatuhan di mana-mana. Strategi yang ditempuh tentara rezim umumnya adalah menggunakan penembak jitu yang bersembunyi di gedung-gedung tinggi kota. Kadang juga dengan tembakan senjata mesin oleh tentara yang berlindung.
Rezim Suriah rupanya belajar dari revolusi Tunisia dan Mesir. Rezim menyimpulkan bahwa sikap ragu-ragu pihak keamanan dan militerlah yang menjadikan gerakan revolusi tumbuh dan terus berkembang. Rezim tidak mau melakukan “kesalahan” yang sama. Maka sejak awal demonstrasi, rezim Suriah telah mengerahkan segala kekuatan yang dia miliki. Oleh karena itu, kita tidak pernah mendengar adanya penggunaan peluru karet atau gas air mata kecuali sangat sedikit.
Setiap hari terjadi demo, mogok missal; dan jawaban yang diberikan oleh rezim Bashar tidak berubah. Peluru panas dan senjata berat menghadapi demonstrasi damai rakyat. Pekan demi pekan, jumlah korban nyawa terus bertambah. Setiap pekan korban berjatuhan, 83 syahid, 63 syahid, 78 syahid, 55 syahid, bahkan Jumat (22/4/2011) 225 syahid, dan Jumat (29/4/2011) 336 syahid.
XI
Memasuki pekan keenam, rezim Bashar mengeluarkan kartunya yang terakhir. Tentara mulai menyerang distrik-distrik tertentu. Dimulai dengan pemutusan listrik dan air serta pasokan makanan. Namun demikian, rakyat tidak pernah menyerah. Setelah lewat beberapa waktu, tentara baru memasuki kota dengan menembak dan memburu warga satu persatu. Tidak puas dengan itu, bom mortir menyusul setelahnya. Namun itu semua tidak menyurutkan rakyat. Hingga saat ini dunia menyaksikan keteguhan dan ketabahan rakyat Suriah dengan revolusi mereka.
Rezim penguasa menghadapi perlawanan rakyat dengan militer. Pemukiman penduduk dihujani bom-bom dan rudal. Banyak korban yang jatuh akibat reruntuhan gedung. Mereka termasuk belasan ribu nyawa yang melayang sejak awal revolusi. Makanya, sebagian pengungsi tidak punya apapun selain baju yang melekat di badan.
Tentara memperlakukan pemukiman penduduk seperti tentara pendudukan, bahkan lebih kejam dari itu. Mereka menjarah rumah-rumah penduduk dan menyembelih manusia seperti menyembelih binatang. Ribuan wanita, bahkan anak-anak di bawah umur mereka permalukan. Adapun penangkapan dan penyiksaan, terlalu panjang dan mengerikan untuk diceritakan. 
XII
Ketika rezim memutuskan untuk membendung revolusi dengan peluru, sesungguhnya rezim telah melakukan dua kesalahan besar. Pertama, yang eksesnya segera yaitu jatuhkan korban dari rakyat sipil yang menjadi bahan akar bagi tumbuhnya perlawanan baru. Setiap korban akan melahirkan kemarahan yang lebih banyak. Sehingga semakin banyak korban yang jatuh, semakin banyak rakyat yang bergabung ke barisan revolusi.
Kedua, ekses yang sejak hari pertama hingga kini terus menimpa kubu rezim pemerintahan Suriah. Yaitu dilema dan frustrasi yang menjebak aparat tentara dan keamanan. Ketika mereka mendapat instruksi dari atasan untuk menembak dan membunuh warga yang tidak bersenjata sama sekali. Setiap personil tentara hanya punya dua pilihan. Dia memilih untuk taat pada perintah itu, dan itu berarti dia membunuh hati nurani dan kemanusiaan dalam dirinya sendiri. Atau dia menolak untuk melaksanakan perintah itu, dan dia terancam untuk dibunuh atas perintah atasannya.
Dilema dan frustrasi ini semakin hari semakin menjalar dalam tubuh tentara rezim. Kondisi psikologis yang sangat mempengaruhi kekuatan mereka. Tidak heran bila hampir setiap waktu kita mendengar informasi adanya tentara yang desersi. Mereka adalah tentara yang memilih suara hatinya dan menyadari dirinya sebagai bagian dari rakyat.
Salah satu yel yang sering diteriakkan oleh demonstran selama ialah “Rakyat dan tentara adalah tangan yang satu”. Puluhan ribu tentara desersi dan bergabung dengan revolusi saat ini menyebar di seluruh Suriah dan merupakan salah satu kekuatan yang terus berkembang dalam tubuh revolusi.
XIII
Pembaca pernah mendengar tentang kemanan pemerintah yang menertibkan gelombang protes rakyat dengan semprotan air, gas air mata, dan peluru karet. Tapi pembaca mungkin belum pernah mendengar pemerintah yang menghadang demonstrasi rakyat dengan senapan mesin, sniper yang menjadikan anak-anak dan wanita sebagai target.
Pembaca budiman mungkin tidak pernah mendengar ada penguasa yang mencegah kendaraan ambulance untuk masuk ke daerah jatuhnya korban untuk membantu, atau militer yang menyerbu rumah sakit-rumah sakit dan menawan para perawat dan dokter serta menjadikan mobil ambulance itu sebagai mobil tawanan, atau membunuh pasien serta membiarkan mereka terdampar di jalan sampai menemui ajalnya.
Saudara mungkin tidak pernah membaca ada pasukan pemerintah yang sengaja menyimpan pasien luka di kulkas jenazah hingga dia wafat. Atau penyiksaan terhadap anak-anak dengan mematahkan lehernya dan organ tubuhnya yang lain, atau tawanan yang dikupas kulitnya serta dicabut matanya.
Anda bisa jadi belum pernah membaca pemerintah yang menjawab tuntutan rakyat dengan menginstruksikan kepada aparatnya untuk menyerbu pemukiman penduduk  kemudian menyiksa dan membunuh mereka satu persatu. Atau menghadapi domonstrasi rakyat dengan tank dan persenjataan berat.
Semua yang kami kemukakan itu adalah realitas rezim Suriah saat ini. Itulah tindakan yang telah dilakukannya terhadap rakyat dan perlawanan bangsa Suriah. Dan itu masih terus berlangsung hingga saat tulisan ini dibuat.
XIV
Ketika revolusi mulai pecah, hampir semua yang rakyat Suriah duga bahwa rezim akan lakukan telah menjadi kenyataan. Pasukan keamanan dan perangkat intelijen paling kejam, ratusan ribu loyalis partai Ba’ats, pemuda partai dan Shabiha (gang bayaran piaraan rezim), tentara dengan segala perlengkapan perangnya; semua itu telah dikerahkan rezim untuk menghentikan perlawanan rakyat. Rakyat Suriah telah mempersiapkan diri. Mereka siap menghadapi sebuah rezim yang mereka kenal dengan baik. Rezim yang selama hampir setengah abad menindas rakyat.
Akan tetapi rakyat Suriah tidak pernah menyangka bahwa Hizbullata (bukan: Hizbullah) Libanon akan turut campur tangan dengan membela rezim dan mengirim milisinya untuk memerangi rakyat Suriah. Rakyat Suriah tidak mengira bahwa milisi Syiah Irak akan mengirim pasukannya demi mempertahankan rezim sektarian Bashar, dengan membantai rakyat Suriah. Revolusi rakyat tidak pernah menduga bahwa Iran akan secara terbuka membela mati-matian rezim diktator Bashar dengan mengirim suplai bantuan logistik, persenjataan, dan garda nasional untuk memerangi rakyat Suriah. Namun itu semua adalah nyata.
Revolusi tidak pernah mengira bahwa Rusia akan berdiri si samping rezim Suriah dengan bantuan senjata dan teknologi, dan dukungan politik di percaturan politik dunia. Tapi itulah kenyataanya.
Rakyat Suriah hanya bisa mengandalkan diri mereka sendiri setelah Allah. Mereka mengira bahwa dunia akan berpihak kepada mereka dan mencegah rezim melakukan genosida terhadap rakyatnya sendiri, karena revolusi damai yang mereka lakukan, tapi ternyata rakyat Suriah keliru. Rakyat Suriah mengira bahwa Turki dan negara-negara tetangga yang lain tidak akan menonton begitu saja dan akan mencegah rezim Bashar untuk semakin tenggelam dalam pembantaian rakyat. Tetapi perkiraan itu salah. Revolusi menyangka bahwa Amerika dan negara-negara Barat pada akhirnya akan memberi bantuan, dalam bentuk apa pun itu. Namun persangkaan itu meleset.
Rakyat Suriah menduga bahwa bangsa Arab dan kaum Muslim akan mengguncang dunia dengan revolusi dan banjir demonstrasi menentang tindakan rezim, bila dia mengulangi tindakannya yang tidak manusiawi. Namun, itu semua tinggal dugaan kosong.
XV
Belasan ribu korban nyawa telah berjatuhan, puluhan ribu yang hilang, di atas itu adalah orang-orang yang ditawan rezim, lebih seratus ribu orang yang mengungsi ke negara-negara tetangga, dan jumlah yang lebih besar lagi terlantar di dalam Suriah sendiri. (Laporan Syrian Network for Human Rights [27/6/2012] menyebut korban tewas 14.863 rakyat sipil termasuk wanita dan anak-anak dan 1.277 militer). 
Namun, pejuang Suriah bertekad bahwa mereka akan terus melanjutkan revolusi dengan izin dan pertolongan Allah, dan tidak akan berhenti hingga rezim Bashar jatuh.
Demikianlah kisah revolusi rakyat Suriah. Setiap kisah harus ada akhirnya, dan rakyat kami telah bertekad bahwa akhir revolusi harus mereka tuliskan sendiri sebagaimana mereka telah menuliskan awalnya.
Suatu hari nanti, anak cucu Saudara akan membaca sejarah bahwa bangsa Suriah pernah melakukan revolusi melawan “tukang pukul” yang aniaya dan arogan, serta mengira dirinya akan bertahan selama-lamanya. Mereka akan membaca bahwa thagut tersebut telah melepas anjing-anjing dan piaraannya untuk meneror dan menyiksa rakyat. Namun para pahlawan telah menyiapkan diri mereka untuk kemungkinan yang paling terburuk. Maka mereka tidak goyah dan tidak surut.
Pahlawan-pahlawan itu justru berkata kepada thagut, “Bapakmu telah mencuri negeri kami dan memperbudak bapak-bapak kami. Mereka hidup terhina dan mereka diam. Kemudian kami lahir sebagai budak dan juga hidup terhina. Beberapa waktu kami telah diam. Hingga ketika anak-anak kami mulai bergerak dalam rahim istri-istri kami dan mereka hampir saja lahir ke dunia, kami memutuskan bahwa perbudakan ini tidak boleh diwariskan dari kakek ke anak hingga ke cucu. Maka kami bersumpah, bahwa anak-anak kami tidak akan lahir ke dunia kecuali kami, rakyat Suriah, telah merebut kemerdekaan.”
Kemudian anak cucu Saudara akan membaca akhir dari kisah revolusi. Para pahlawan itu telah memenuhi janji mereka, anak mereka tidak lahir kecuali mereka telah merdeka.
(Diadaptasi dari Mujahid Ma’mun Diraniyah, Suriyah: Qisshah al Tsawrah, laporan disampaikan pada konferensi al Hamlah al Islamiyah li Nushrah Suriyah, Turki) 
 Sumber: http://albayan.co.uk/id/article.aspx?id=103
Selengkapnya ...

Suriah : Kisah Sebuah Revolusi (Bagian 1)


Tulisan ini bukan ditujukan kepada orang Suriah yang mampu menceritakan bahkan lebih baik daripada tulisan ini. Tulisan ini ditujukan kepada saudara-saudaraku bangsa Arab (sumber asli tulisan) yang setelah lewat setahun revolusi masih ada yang bertanya: kenapa kalian berontak kepada pemerintah al Assad? Bagaimana revolusi tersebut terjadi?
I
Orang Suriah hendaknya tidak buang waktu membaca tulisan ini, kecuali untuk membacakannya kepada siapa pun yang bertanya. Adapun orang selain Suriah yang hendak membaca tulisan ini, maka hendaknya dibantu untuk memahami realitas revolusi Suriah sesungguhnya. Walaupun saya tidak bisa menjanjikan bahwa mereka akan paham sepenuhnya. Sebab, bagaimanapun tidak sama antara yang menyaksikan langsung dengan yang sekadar membaca.
Dunia menyebut Suriah sebuah republik. Padahal pemerintahan republik memilih presidennya lewat pemilihan umum yang mengganti presidennya secara berkala dalam beberapa tahun. Namun, kenapa presiden Suriah justru dilahirkan dari rahim istri presidennya? Lantas kenapa presiden Suriah tidak pernah berganti?
Partai Ba’ats yang sosialis merebut kekuasaan di Suriah lewat kudeta berdarah pada bulan Maret 1963. Tapi sejatinya kudeta tersebut bukanlah kudeta partai politik atas sebuah pemerintahan, selain upaya seseorang bernama Hafiz al Assad, yang dengan dukungan sekelompok bersenjata menggulingkan kekuasaan.
Di depan publik, Hafiz al Assad tampil sebagai bagian dari kelompok revolusi bersenjata. Tetapi sesungguhnya dialah aktor intelektual di balik kudeta tersebut.
Dalam beberapa tahun kemudian, al Assad berhasil menyingkirkan satu persatu rekan-rekan seperjuangannya. Terakhir, dia berhasil melibas kawan dekatnya, Shalah Jadid di akhir tahun 1970. Setelah itu, dia mengumumkan dirinya sebagai pemimpin dan presiden bagi Suriah (1971).
Tiga puluh tahun di bawah kekuasaan al Assad adalah masa sulit dalam sejarah Suriah. Setelah dia wafat pada medio 2000 silam, Bashar al Assad mewarisi kekuasaan bapaknya, tak ubahnya kekuasaan monarki. Namun karena usia Bashar waktu itu (35 tahun) belum cukup untuk menjadi presiden oleh konstitusi, maka hanya ada dua opsi: mencari calon presiden yang lain atau mengamandemen konstitusi.
Namun karena di di Suriah seluruhnya tidak ada pemuda yang layak untuk jabatan presiden selain Bashar, maka amandemen konstitusi menjadi pilihan yang paling ringan. Apalagi karena parlemen Suriah terdiri dari para pakar hukum terkemuka di dunia. Tidak heran jika amandemen tersebut cuma butuh waktu lima menit. Dan jadilah Bashar yang sebelumnya putra mahkota sebagai “raja baru Suriah”. (Menang lewat referendum yang sarat rekayasa dengan dukungan 97,3% suara [!])
II
Sejak penggulingan kekuasaan oleh partai Ba’ats di tahun 1963, Suriah memberlakukan undang-undang darurat. Selama empat puluh delapan tahun, bangsa Suriah hidup di bawah tekanan dan penderitaan oleh undang-undang tersebut. Kehormatan dan kebebasan mereka terampas.
Seluruh negara jatuh ke dalam genggaman sekelompok orang yang mengendalikan kekuasaan: keluarga al Assad dan para kroninya. Lembaga-lembaga negara, pranata ekonomi, keamanan, militer . . . semua dipegang oleh lingkaran kelompok itu. Hanya ratusan manusia yang secara de facto memiliki negeri yang bernama Suriah beserta seluruh sumber daya yang ada di dalamnya.  Merekalah yang menguasai dan mengendalikan dua puluh juta manusia lainnya.
Seorang penulis pernah berniat menulis tentang kondisi saat itu. Dia tidak mendapatkan tajuk yang lebih tepat selain: Mazra’ah/Kebun al Assad. Ya, benar. Sebab Suriah di era tersebut telah berubah menjadi sekadar sebuah kebun. Manusia Suriah lebih rendah statusnya daripada seekor binatang. Semenjak setengah abad silam, setiap bayi yang lahir di Suriah menambah jumlah budak dan tawanan rezim. Bayi tersebut lahir dalam sebuah negeri yang diliputi horor, diskriminasi dan perampasan harkat serta martabat.
Sidang pembaca paham benar arti istilah “ketenteraman” dan “martabat” di negeri Saudara hidup. Tapi bangsa Suriah hanya bisa mendengarnya sebagai sebuah dongeng. Setiap anak di dunia diberi susu sejak kecilnya, kecuali di Suriah. Anak-anak di Suriah diberi “susu” horor dan penistaan.    
Sejak ketika seorang anak di Suriah belajar untuk berbicara, dia akan diberitahu untuk tidak menanyakan atau menggugat apa pun. “Jangan sampai engkau sekalipun menunjuk kepada aparat keamanan atau menyebut intel. Jangan sekalipun engkau menyebut nama presiden, kecuali diawali dan diikuti dengan pujian.”
III
Di Suriah, terdapat patung-patung dan poster presiden yang jika hendak dibagikan kepada seluruh penduduk dunia akan cukup. Jika Anda berjalan-jalan di Suriah, Anda akan selalu menemukan patung di antara dua patung lainnya, poster di antara dua poster lainnya. Bangsa Suriah telah meringkas sejarah mereka pada profil presiden mereka.
Sebelum al Assad, bangsa Suriah bukanlah siapa-siapa. Suriah mengangkat al Assad ke semi-tuhan, dia dinobatkan sebagai pemimpin seumur hidup. Media dan perangkat pendidikan semuanya ditujukan untuk mengindoktrinasikan dusta besar: al Asadan/dua singa, bapak dan anaknya. Pemimpin terbesar, paling bijaksana sepanjang zaman. Mereka adalah karunia Tuhan kepada bangsa Suriah, khusus dan hanya buat bangsa Suriah.
Bangsa Suriah diperbolehkan menista Tuhan, tetapi tidak boleh menista “tuhan” palsu mereka. Itu terjadi sebelum segalanya terbuka dan tersingkap. Tapi setelah rahasia itu terbongkar, ternyata pengikut setia al Assad memang sujud kepada poster-posternya dan memaksa para tawanan untuk sujud kepadanya. Bahkan para tawanan itu disiksa dan dipaksa untuk mengucapkan persaksian: tiada tuhan selain Bashar(!). Maha Tinggi Allah dari segala sekutu. Dan semoga Allah menimpakan siksanya kepada Bashar, hamba-hambanya dan pengikutnya.
Teriakan awal pemuda yang menuntut revolusi terbatas pada tuntutan kebebasan “Hurriyyah, Hurriyyah”, dan “Bangsa Suriah tidak Boleh Direndahkan”. Bangsa Arab lainnya tidak memahami arti teriakan tersebut, sebab mereka belum pernah kehilangan kebebasan dan harga diri, seperti bangsa Suriah. Bahkan bangsa Palestina pun tidak.
Demi Allah, aku bersumpah, bahwa bangsa Palestina yang hidup di bawah penjajahan Zionisme Yahudi lebih bebas dan lebih memiliki harga diri daripada bangsa Suriah. Bangsa Suriah yang hidup di bawah penjajahan partai Ba’ats al Assad selama empat puluh tahun lamanya.
IV
Di Suriah, semua unsur intelijen adalah raja dan pemilik, sedangkan seluruh rakyat Suriah adalah budak dan gembalaan. Al Assad memberikan itu semua kepada intelijen setelah dia berhasil dengan kudetanya. Intelijen bisa melakukan apa saja terhadap rakyat Suriah, yang penting bahwa tidak ada yang berani meyentuh dan menggugat kekuasaan al Assad.
Sejak saat itu, perangkat intelijen dan keamanan punya nota perbudakan terhadap semua rakyat Suriah. Mereka bisa merampas kemerdekaan, kehormatan, bahkan nyawa siapa saja tanpa koreksi dan protes dari siapa pun. Tidak perduli orang tua, anak-anak, pria dan wanita, Arab dan Kurdi, Muslim dan Nasrani. Setiap penduduk Suriah berarti berstatus budak.
Andai aparat keamanan itu bersikap sebagaimana gembala kepada binatang gembalaannya, realitasnya tidak. Rakyat Suriah lebih rendah daripada binatang.
Di Suriah, aparat keamanan bisa menyerobot masuk ke rumah penduduk kapan saja, siang atau malam, dan membawa pergi siapa yang mereka inginkan. Anda tidak bisa menyanggah atau bertanya. Orang yang ditahan tidak tahu alasan dia ditahan, atau mungkin alasan dia dibunuh.
Adapun keluarganya, tahun-tahun berlalu dan mereka tidak tahu nasib keluarga mereka. Awalnya mereka berharap bahwa dia akan pulang, kemudian berharap bahwa mereka bisa mengunjunginya di penjara, kemudian berharap bisa melihatnya walau hanya sekejap, lantas berharap mendengar informasi tentangnya, informasi apa saja . . . . Harapan yang semakin lama semakin redup dimakan waktu, hingga akhirnya harapan itu cuma satu: hidupkah dia gerangan atau telah gugur. 
Rakyat Suriah telah terbiasa kehilangan anak-anak mereka dan mereka diam. Mereka terlanjur lazim dengan keputusasaan terhadap keluarga mereka yang ditahan. Mereka sudah biasa mengubur keluarga mereka yang tewas atau meninggal sambil tutup mulut.
Apakah pembaca pernah mendengar penjara Tadmur, “Bastille” Suriah yang menyeramkan? Tanyakan kepada gurun pasir yang luas membentang di belakangnya, berapa ratus ribu nyawa yang lenyap di dalamnya? Manusia-manusia yang tak berdosa, bahkan manusia-manusia saleh dan jujur. Semoga Allah merahmati mereka semua.
V
Tiba-tiba dunia Arab meledak oleh revolusi. Musim semi telah tiba. Rakyat Tunis keluar ke jalan-jalan raya (17/12/2010), disusul rakyat Mesir (25/1/2011), kemudian rakyat Yaman (11/2/2011) dan Libya (17/2/2011).
Orang-orang bertanya, bukankah rakyat Suriah lebih pantas untuk protes? Sebab, kondisi mereka jauh lebih buruk dan pemerintahan mereka jauh lebih korup. Tetapi apakah mereka akan melakukan revolusi? Orang-orang bersilang pendapat. Tapi mayoritas berkata, tidak mungkin! Benar, rakyat Suriah lebih butuh kepada kebebasan, tapi mereka terlalu lemah untuk menuntut itu.  Sebab pemerintahan Suriah paling sadis dan represif di dunia saat ini.
Awal Februari, sejumlah tuntutan “malu-malu” di Damaskus dan Halab mendesak agar rakyat berdemo. Beberapa kesepakatan waktu telah dibuat, namun tidak mendapatkan respons yang memadai. Para aktivis frustrasi dan putus asa.
Manusia menginginkan dan Allah berkehendak, dan Allah memutuskan apa  yang Dia kehendaki. Allah mengatur kehendaknya di luar kemampuan dan perkiraan manusia. Tanggal 17 Februari, seorang polisi di pusat ibukota bertindak sewenang-wenang kepada seorang pedagang di pasar tua Hurayqah. Polisi itu memukul si pedagang.
Sontak, orang-orang dipasar berkumpul dan protes. Tanpa rencana dan koordinasi sebelumnya. Demonstrasi pertama selama setengah abad kurang dua tahun! Dalam waktu singkat, ribuan manusia bergerombol dan meneriakkan yel-yel: “Bangsa Suriah tidak Boleh Direndahkan”. Keadaan sangat riuh sampai-sampai menteri dalam negeri turun tangan langsung mengendalikan situasi. “Shabiha”, geng bersenjata piaraan rezim Bashar, dan aparat keamanan menerobos ke tengah demonstrasi dan berusaha merebut kendali. Mereka berteriak, “Allah, Suriah, Bashar.”
Padahal demonstrasi tersebut tidak berarti apa-apa dibanding dengan demonstrasi-demonstrasi pada bulan-bulan berikutnya. Hanya saja, demonstrasi tersebut merupakan peristiwa luar biasa dalam perspektif rakyat Suriah. Untuk pertama kalinya rakyat Suriah berkumpul dalam jumlah besar untuk melakukan protes terhadap salah satu simbol rezim. Baru kali itu mereka berbicara tentang harga diri dan identitas rakyat Suriah. Istilah yang telah lama hilang dalam perasaan kolektif mereka.
Film dokumentasi tentang demonstrasi tersebut di-upload ke Youtube dan informasinya segera menyebar bagaikan api yang membakar ilalang. Tidak sampai sepekan hingga film tersebut ditonton ratusan ribu manusia.  
VI
Api telah terlanjur membakar. Pengamat tidak bisa menyaksikan apa yang sesungguhnya terjadi dari atas. Padahal, nyala api terus menjalar di bawah permukaan. Lima hari setelah peristiwa itu, sebuah demonstrasi kecil berkumpul di depan kedutaan besar Libya, memprotes kekerasan berdarah terhadap saudara-saudara kita, pendukung revolusi yang melawan diktator kejam Moammar Khadafi.
Demonstrasi itu tidak berlangsung lama, sebab pihak keamanan membubarkannya dengan keras. Dan ketika demonstrasi tersebut berulang keesokan harinya, para pendemo mulai dipukuli bahkan ditahan.
Beberapa hari jelang Februari berlalu, terjadilah peristiwa yang ditakdirkan menjadi salah satu terminal revolusi. Seorang anak di Dir’a mencoret di dinding slogan yang mereka contek dari Arab Spring di negeri Arab lainnya: “rakyat ingin menurunkan pemerintah”.
Pernahkan Pembaca budiman mendengar tentang Dir’a sebelum ini?  Dir’a adalah ibukota Hawran, negeri yang melahirkan ulama-ulama besar semacam Imam Nawawi dan Ibnu Katsir. Negeri ini pula yang memecahkan revolusi besar melawan pendudukan Prancis.
Peristiwa kecil itulah yang sesungguhnya melahirkan revolusi. Belasan anak yang usianya tidak lebih dari 15 tahun diseret dari rumah mereka masing-masing pada malam hari itu. Mereka digiring ke tahanan dan disiksa. Organ tubuh mereka dibakar dan kuku mereka dicabut. Tubuh mereka digebuk hingga remuk.
Para orang tua dari anak-anak itu datang memelas. Meraka memohon kepada pejabat keamanan politik agar anak-anak mereka dilepaskan. Namun, pejabat itu melontarkan jawaban menghina yang kelak tersebar ke seluruh Suriah, “Lupakan mereka, dan lahirkanlah anak-anak yang lain! Atau bawa kemari istri-istri kalian agar kami hamili bila kalian tidak mampu!”
Kesabaran tetap ada batasnya. Rakyat Suriah telah cukup bersabar hingga laut kesabaran itu telah kering. Dan bubuk mesiu yang terjilat api pasti akan meledak. Bubuk mesiu itu adalah emosi penduduk Dir’a, sedangkan apinya adalah jawaban pejabat pemerintah tadi. Meledaklah revolusi!
Bersambung . . . . 
 Sumber: http://www.albayan.co.uk/id/article.aspx?id=102

Selengkapnya ...

Senin, 27 Juli 2015

Sejarah Singkat Pembukuan al-Qur'an



Kita semua mengetahui bahwa al-Qur'an itu diturunkan secara berangsur-angsur. Rasulullah menerima wahyu ini dari malaikat Jibril dan kemudian menyampaikannya kepada para sahabat dan pengikutnya.

Kemudian para sahabat menghafalkannya dan ada pula yang mencatatnya. Namun, setelah Rasulullah wafat terjadi kekhawatiran di kalangan para sahabat. Mereka takut bahwa Alquran akan punah karena pada saat itu banyak para hafidz Al-Quran yang gugur di dalam pertempuran.

Dari situlah Umar bin Khattab memiliki gagasan bahwa sebaiknya Alquran dibukukan. Pada awalnya, khalifah Abu Bakar menolak gagasan ini karena apa yang diusulkan oleh Umar tersebut tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Namun setelah menjelaskan bahwa semua ini demi kebaikan umat Islam maka khalifah Abu Bakar menyetujui gagasan Umar, kemudian Abu Bakar memerintahkan agar naskah dari ayat-ayat yang sudah ditulis itu dikumpulkan untuk disalin dan disusun kembali.

Abu Bakar dalam hal ini menunjuk Zaid bin Tsabit untuk melakukannya, karena dia adalah penulis suhuf-suhuf di zaman Rasulullah. Zaid diperintahkan untuk mengumpulkan suhuf-suhuf Al-Qur'an baik yang terdapat pada pelepah kurma, tulang hewan maupun dari para penghafal Alquran yang masih hidup. Setelah selesai disusun, Abu Bakar kemudian menyimpan mushaf ini hingga ia wafat.

Setelah Abu Bakar wafat, maka kekhalifahan berpindah ke tangan Umar. Pada nasa kekhalifahannya, tidak ada kegiatan pembukuan Alquran lagi. Sehingga pada masa kekuasaan Umar bin Khattab hanya fokus pada penyebaran agama Islam. Dan hingga Umar wafat, tidak ada perdebatan tentang Alquran.

Kemudian kekhalifahan berpindah kepada khalifah Usman bin Affan. Pada masa Usman bin Affan, kekuasaan Islam sudah sangat luas. Sehingga pemeluk Islam pada masa itu tidak lagi hanya bangsa Arab saja.

Dan disinilah persoalan baru muncul. Salah seorang sahabat bernama Hudzaifah ibnu Yaman yang baru pulang dari pertempuran mengabarkan kepada khalifah bahwa timbul perdebatan tentang qiraat (bacaan) Alquran dikalangan kaum muslimin. Diantara mereka ada yang menganggap bahwa bacaannya lah yang paling baik.

Dari persoalan itu Hudzaifah mengusulkan kepada khalifah agar segera diambil kebijaksanaan untuk mengatasi perbedaan-perbedaan tersebut agar masalah tersebut tidak menimbulkan perpecahan umat Islam.

Usul tersebut kemudian langsung diterima oleh khalifah Usman bin Affan dengan langsung mengirim utusan untuk meminta mushaf kepada Hafsah yang disimpan di rumahnya untuk disalin.

Zaid kembali ditunjuk oleh Usman sebagai ketua pembukuan Al-Qur'an ini dengan anggota-anggotanya yaitu Abdullah bin Zubair, Said ibnu Ash dan Abdurahman bin Harits.

Setelah selesai, Usman kemudian mengembalikan mushaf yang asli kepada Hafsah untuk disimpan. Kemudian mushaf salinan tadi dikirimkan ke berbagai penjuru negeri seperti Mekah, Kuffah, Basrah dan Suriah.

Mushaf tersebutlah yang sekarang dikenal dengan mushaf Usmani. Dan ini adalah cara Allah dalam menjaga dan memelihara Alquran melalui perantara para sahabat Nabi, dengan membukukan Alquran maka hingga saat ini Alquran masih terjaga kemurniannya sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:







 إِنَّا    نَحْنُ    نَزَّلْنَا    الذِّكْرَ    وَإِنَّا    لَهُۥ    لَحٰفِظُونَ

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." [QS. Al-Hijr ayat 9]

Semoga para sahabat tersebut mendapat tempat terbaik disisi Allah karena telah berjasa kepada seluruh umat Islam. Aamiin.[]

Sumber: makintau.com
Selengkapnya ...

Senin, 11 Mei 2015

Mengenal Berbagai Macam Aliran Syiah

Syiah adalah sekte yang terus berkembang mengikuti alur zaman. Karenanya, Syiah tidak melulu berjalan di satu lintasan dan dengan satu arah yang lurus. Jadi, adalah hal yang wajar jika kemudian Syiah juga mengalami problem perbedaan pemikiran, yang pada gilirannya memunculkan aneka ragam versi: Syiah Kaisaniyah, Zaidiyah, Imamiyah, Ghulat, dan masih banyak lagi.

Merujuk pada data-data yang ada, akan cukup jelas, jika yang menjadi pemicu utama bagi lahirnya ragam aliran dalam Syiah ini adalah imamah, semua sekte Syiah sepakat bahwa Imam yang pertama adalah Sayyidina Ali ra. selanjutnya adalah Hasan bin Ali, lalu Husain bin Ali ra. Namun, setelah itu muncul perselisihan mengenai siapa pengganti Imam Husain. Dalam hal ini, muncul dua kelompok dalam Syiah. Kelompok pertama meyakini imamah beralih kepada Ali bin Husain Zainal Abidin, putra Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. dari istri beliau selain Fathimah radhiyallahu anha.

Nah, akibat perbedaan antara kedua kelompok ini, muncullah berbagai sekte dalam Syiah. Sebagian di antara sekte-sekte ini sebetulnya tidak dapat disebut sekte atau aliran, karena hanya merupakan pandangan seseorang atau sekelompok kecil yang kurang memiliki kekuatan suara untuk diperhitungkan. Tapi, andai kita memperhitungkan arus kecil itu, maka pernyataan bahwa sekte Syiah terpecah pada ratusan versi (ada yang mengatakan sampai 300) adalah benar adanya.[1] Namun demikian, para ahli pada umumnya membagi sekte Syiah dalam empat golongan besar, yaitu Kaisaniyah, Zaidiyah, Imamiyah, dan kaum Ghulat, sebab firqah-firqah Syiah yang mencapai jumlah ratusan itu sejatinya bermuara dari empat kelompok besar tersebut.[2]

    Syiah Kaisaniyah

Kaisaniyah adalah sekte Syiah yang mempercayai kepemimpina Muhammad bin Hanafiyah setelah wafatnya Sayyidina Husain bin Ali ra. Nama Kaisaniyah diambil dari nama seorang bekas budak Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra., Kaisan, atau dari nama Mukhtar bin Abi Ubaid yang juga dipanggil dengan nama Kaisan.

Sekte Kaisaniyah terpecah menjadi dua kelompok. Pertama, yang mempercayai bahwa Muhammad bin Hanafiyah sebenarnya tidak mati, tetapi hanya ghaib dan akan kembali lagi ke dunia nyata pada akhir zaman. Mereka menganggap, Muhammad bin Hanafiyah adalah Imam Mahdi yang dijanjikan itu. Yang termasuk golongan Kaisaniyah antara lain adalah sekte al-Karabiyah, pengikut Abi Karb ad-Dharir.

Kedua, kelompok yang mempercayai bahwa Muhammad bin Hanafiyah telah meninggal, akan tetapi jabatan imamah beralih kepada Abi Hasyim bin Muhammad bin Hanafiyah. Yang termasuk kelompok ini adalah sekte Hasyimiyah, pengikut Abi Hasyim. Ibnu Khaldun menengarai, bahwa dia ntara sekte-sekte Hasyimiyah yang pecah menjadi beberapa kelompok tersebut adalah penguasa pertama Dinasti Abbasiyah, yaitu Abu Abbas as-Saffah dan Abu Ja’far al-Manshur. Ibnu Khladun selanjutnya menyatakan bahwa setelah meninggalnya Abi Hasyim, jabatan imamah berpindah kepada Muhammad bin Ali Abdullah bin Abbas kemudian secara berturut-turut kepada Ibrahim al-Imam, as-Saffah, dan al-Mansur.

Sekte Kaisaniyah ini telah lama musnah. Namun, kebesaran dan kehebatan nama Muhammad bin Hanafiyah ini masih dapat dijumpai dalam cerita-cerita rakyat, sperti yang terdapat dalam cerita-cerita rakyat Aceh dan hikayat Melayu yang terkenal, Hikayah Muhammad Hanafiyah. Hikayat ini telah dikenal di Mekah sejak abad ke-15 M.



    Syiah Zaidiyah

Zaidiyah adalah sekte dalam Syiah yang mempercayai kepemimpinan Zaid bin Ali bin Husain Zainal Abidin setelah kepemimpinan Husain bin Ali ra.. mereka tidak mengakui kepemimpinan Ali bin Husain Zainal abidin seperti yang diakui sekte Imamiyah, karena menurut mereka, Ali bin Husain Zainal Abidin dianggap tidak memenuhi syarat sebagai pemimpin.

Dalam Syiah zaidiyah seseorang dapat diangkat sebagai imam apabila memenuhi lima kriteria, yakni, keturunan Fathimah binti Muhammad SAW., berpengetahuan luas tentang agama, hidup zuhud, berjihad di jalan Allah SWT. dengan mengangkat senjata, dan berani. Disebutkan bahwa sekte zaidiyah mengakui keabsahan khilafah atau imamah Abu Bakar ash-Shiddiq ra. (khalifah pertama) dan Umar bin Khattab ra. (khalifah kedua).

Dalam teologi mereka disebutkan, bahwa mereka tidak menolak prinsip imamat al-Mafdhul ma’a wujud al-Afdhal, yaitu bahwa seseorang yang lebih rendah tingkat kemampuannya dibanding orang lain yang sezaman dengannya dapat menjadi pemimpin, sekalipun orang yang lebih tinggi dari dia itu masih ada. Dalam hal ini, Ali bin Abi Thalib dinilai lebih tinggi daripada Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Oleh karena itu, sekte zaidiyah ini dianggap yang paling dekat dengan sunnah.

Dalam persoalan imamah, sekte Zaidiyah ini berbeda pendapat dengan sekte Itsna Asyariyah atau Syiah Dua Dua Belas yang menganggap bahwa jabatan imamah harus dengan nash. Menurut Zaidiyah, imamah tidak harus dengan nash, tapi boleh ikhtiar atau pemilihan. Dari segi teologi, penganut faham Syiah Zaidiyah ini beraliran teologi Mu’tazilah. Oleh karena itu tidak heran kalau sebagian tokoh-tokoh Mu’tazilah, terutama Mu’tazilah Baghdad, berasal dari kelompok Zaidiyah. Di antaranya adalah Qadhi Abdul Jabbar, tokoh Mu’tazilah terkenal yang menulis kitab Syarh al-Ushul al-Khamsah. Hal ini bisa terjadi karena adanya hubungan yang dekat antara pendiri Mu’tazilah, Washil bin Atha’, dan Imam Zaid bin Ali. Akibatnya muncul kesan bahwa ajaran-ajaran Mu’tazilah berasal dari Ahlul Bait atau bahkan sebaliknya, justru Zaid bin Ali yang terpengaruh oleh Washil bin Atha’, sehingga ia mempunyai pandangan yang dekat dengan Sunnah. Sekte-sekte yang berasal dari golongan Zaidiyah yang muncul kemudian adalah Jarudiyyah, Sulaimaniyah, dan Badriyah atau ash-Shalihiyah.

Sekte Jarudiyah adalah pengikut Abi Jarud Ziyad bin Abi Ziyad. Sekte ini menganggap bahwa Nabi Muhammad SAW. telah menentukan Ali sebagai pengganti atau Imam setelahnya. Akan tetapi penentuannya tidak dalam bentuk yang tegas, melainkan dengan isyarat (menyinggung secara tidak langsung) atau dengan al-washf (menyebut-nyebut keunggulan Ali dibandingkan dengan yang lainnya).

Sekte Sulaimaniyah adalah pengikut Sulaiman bin Jarir. Sekte ini beranggapan bahwa masalah imamah adalah urusan kaum Muslimin, yaitu dengan sistem musyawarah sekalipun hanya dengan dua tokoh Muslim. Bagi mereka, seorang imam tidak harus merupakan yang terbaik di antara kaum Muslimin, oleh karena itu sekalipun yang layak jadi khalifah setelah Nabi Muhammad SAW. adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. akan tetapi kepemimpinan Abu Bakar dan Umar bin Khaththab adalah sah. Hanya dalam hal ini, umat telah melakukan kesalahan karena tidak memilih Sayyidina Ali ra. namun, mereka tidak mengakui kepemimpinan Utman bin Afan karena menurut mereka Utsman telah mnyimpang dari ajaran isalam. Sekte sulaimaniysah ini juga disebut al-Jaririyah.

Sekte badriyah atau ash-Shalihiyah adalah pengikut kaisar an-Nu’man al-Akhtar atau pengikut Hasan bin Shalih al-Hayy. Pandangan mereka mengenai imamah sama dengan pandangan sekte sulaimaniyah. Hanya saja dalam masalah Utsman bin Affan, sekte badriyah tidak memberikan sikapnya. Mereka berdiam diri atau tawaqquf. Menurut al-Baghdadi sekte ini adalah sekte Syiah yang paling dekat Ahlussunnah. Oleh karena itu Imam Muslim meriwayatkan beberapa Hadits dalam kitabnya Shahih Muslim dari Hasan bin Shalih al-Hayy.



    Syiah Ghulat

Syiah Ghulat (kelompok Syiah yang ekstrem) adalah golongan yang berlebih-lebihan dalam memuji Sayyidina Ali ra. atau Imam-imam lain dengan menganggap bahwa para imam tersebut bukan imam biasa, melainkan jelmaan Tuhan atau bahkan Tuhan itu sendiri. Menurut al-Baghdadi, kaum Ghukat telah ada sejak masa Ali bin Abi Thalib ra. mereka memanggil Ali dengan sebutan “Anta, Anta”, yang berarti “Engkau, Engkau” yang dimaksud disini adalah: Engkau adalah tuhan.

Menurut al-Baghdadi, sebagian dari mereka sampai dibakar hidup-hidup oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. tetapi pemimpin mereka, Abdullah bin Saba’, hanya dibuang ke Mada’in. Di antara mereka ada yang menyalahkan, bahkan mengutuk Sayyidina Ali bin Abi Thalib karena tidak menuntut haknya dari penguasa yang telah merampas haknya sebagai khalifah sesudah Nabi SAW.[3] Dalam sebuah riwayat Syiah disebutkan bahwa ketika suatu hari Bisyar asy-Syairi, seorang Ghulat, datang ke rumah Ja’far ash-Shadiq, Imam Ja’far mengusirnya seraya berkata, “sesungguhnya Allah SWT. telah melaknatmu. Demi Allah aku tidak suka seatap denganmu.” Ketika asy-syairi keluar, Ja’far ash-Shadiq berkata kepada pengikutnya, “celakalah dia. Ia adalah setan, anak dari setan. Dia lakukan ini untuk menyesatkan sahabat dan Syiahku; maka hendaklah berhati-hati terhadapnya orang-orang yang telah tahu akan hal ini hendaknya menyampaikan kepada orang lain bahwa aku adalah hamba Allah dan anak seorang perempuan, hamba-Nya. Aku dilahirkan dari perut seorang wanita. Sesungguhnya aku akan mati dan dibangkitkan kembali pada hari kiamat, dan aku akan ditanya tentang perbuatan-perbuatanku.”

Kaum Ghulat dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan, yaitu golongan as-Saba’iyah dan golongan al-Ghurabiyah. Golongan as-Saba’iyah berasal dari nama Abdullah bin Saba’, adalah golongan yang menganggap Ali bin Abi Thalib ra. adalah jelmaan dari Tuhan atau bahkan Tuhan itu sendiri. Menurut mereka, sesungguhnya Sayyidina Ali ra. masih hidup. Sedangkan yang terbunuh di tangan Abdurrahman bin Muljam di Kuffah itu sesungguhnya bukanlah Sayyidina Ali ra., melainkan seseorang yang diserupakan tuhan dengan beliau menurut mereka, Sayyidina Ali ra. telah naik ke langit dan di sanalah tempatnya. Petir adalah suara beliau dan kilat adalah senyum beliau.

Adapun golongan al-Ghurabiyah adalah golongan yang tidak se-ekstrem as-Saba’iyyah dalam memuja Sayyidina Ali ra. menurut mereka Sayyidina Ali ra. adalah manusia biasa, tetapi dialah seharusnya yang menjadi utusan Allah, bukan Nabi Muhammad SAW.. Namun, karena Malaikat Jibril salah alamat sehingga wahyu yang seharusnya ia sampaikan kepada Sayyidina Ali ra. malah ia sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW., maka akhirnya Allah SWT. Mengakui Muhammad SAW. sebagai utusan-Nya.[4]

    Syiah Imamiyah

Imamiyah adalah golongan yang meyakini bahwa Nabi SAW. telah menunjuk Sayyidina Ali ra. sebagai Imam penggantinya dengan penunjukan yang jelas dan tegas. Oleh karena itu, mereka tidak mengetahui keabsahan kepemimpinan Sayyidina Abu Bakar, Umar, maupun Utsman ra.. Bagi mereka, persoalan imamah adalah salah satu persoalan pokok dalam agama atau Ushul ad-Din.

Syiah imamiyah pecah menjadi beberapa golongan. Yang terbesar adalah golongan Itsna Asyariyah atau Syiah Dua Belas. Sementara golongan kedua yang terbesar adalah golongan Isamiliyah. Dalam sejarah Islam, kedua golonga sekte Imamiyah ini pernah memegang puncak kepemimpinan politik Islam. Golongan Ismailiyah berkuasa di Mesir dan Baghdad. Di Mesir golongan Ismailiyah berkuasa melalui Dinasti Fathimiyah. Pada waktu yang sama golongan Itsna Asyariyah dengan Dinasti Buwaihi menguasai kekuasaan kekhalifahan Abbasiyah selama kurang lebih satu abad.

Semua golongan yang bernaung dengan nama Imamiyah ini sepakat bahwa Imam pertama adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib, kemudian secara berturut-turut Sayyidina Hasan, Husain, Ali bin Husain, Muhammad al-Baqir, dan Ja’far ash-Shadiq ra.. Kemudian sesudah itu, mereka berbeda pendapat mengenai siapa Imam pengganti Ja’far ash-Shadiq. Di antara mereka ada yang meyakini bahwa jabatan imamah tersebut pindah kepada anaknya, Musa al-Kazhim. Keyakinan ini kemudian melahirkan sekte Itsna Asyariyah atau Syiah Dua Belas. Sementara yang lain meyakini bahwa imamah pindah kepada putra Ja’far ash-Shadiq, Ismail bin Ja’far ash-Shadiq, sekalipun ia telah meninggal dunia sebelum ash-Shadiq sendiri. Pecahan ini disebut Ismailiyah sebagian yang lain menanggap bahwa jabatan imamah berakhir dengan meninggalnya Ja’far ash-Shadiq mereka disebut golongan al-Waqifiyah atau golongan yang berhenti pada Imam Ja’far ash-Shadiq.

Sekte Itsna Asyariyah atau Syiah Dua Belas merupakan sekte terbesar Syiah dewasa ini. Sekte ini meyakini bahwa Nabi SAW. telah menetapkan dua belas orang Imam sebagai penerus Risalahnya, yaitu: [5]


No.     Nama dan julukan     Lahir – wafat
1.     Ali bin Abi Thalib al-Murtadha     23 SH – 40 SH
2.     Hasan bin Ali az-Zaki     2 H – 50 H
3.     Husain bin Ali asy-Syahid     3 H – 61 H
4.     Ali bin Husain Zainal Abidin     38 H – 59 H
5.     Muhammad bin Ali al-Baqir     57 H – 114 H
6.     Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq     83 H – 148 H
7.     Musa bin Ja’far al-Kazhim     128 H – 203 H
8.     Ali bin Musa ar-Ridha     148 H – 203 H
9.     Muhammad bin al-Jawwad     195 H – 220 H
10.     Ali bin Muhammad al-Hadi     212 H – 254 H
11.     Hasan bin Ali al-Askari     223 H – 260
12.     Muhammad bin al-Hasan al-Mahdi     1.255 / 256 H



Syiah Itsna Asyariyah percaya bahwa keduabelas Imam tersebut adalah ma’shum (manusia-manusia suci yang terjaga dari dosa, salah, dan lupa). Apa yang dikatakan dan dilakukan mereka tidak akan bertentangan dengan kebenaran, karena mereka selalu dijaga Allah SWT. dari perbuatan-perbuatan salah dan bahkan dari kelupaan.

Menurut Syiah Dua Belas, jabatan imamah berakhir pada Imam Mahdi al-Muntazhar Muhammad bin Hasan al-Askari. Sesudah itu, tidak ada Imam-imam lagi sampai hari kiamat. Imam Mahdi al-Muntazhar Muhammad bin Hasan al-Askari ini, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Imam Mahdi, diyakini belum mati sampat saat ini. Menurut mereka, Imam Mahdi masih hidup, tetapi tidak dapat dijangkau oleh umum dan nanti pada akhir zaman Imam Mahdi akan muncul kembali. Dengan kata lain, Imam Mahdi al-Muntazhar kini diyakini sedang gaib.

Menurut Syiah Dua Belas, selama masa kegaiban Imam Mahdi, jabatan kepemimpinan umat, baik dalam urusan keagamaan maupun urusan kemasyarakatan, dilimpahkan kepada fuqaha (ahli hukum Islam ) atau mujtahid (ahli agama Islam yang telah mencapai tingkat mujtahid mutlak). Fuqaha atau mujathid ini harus memenuhi tiga kriteria. Pertama, faqahah, yaitu ahli dalam bidang agama Islam. Kedua, ‘adalah, (adil), takwa, dan istiqamah (konsisten) dalam menjalankan aturan-aturan agama. Ketiga, Kafa’ah, yaitu, yaitu memiliki kemampuan memimpin dengan baik. Mujtahid atau faqih yang menggantikan jabatan Imam Mahdi itu disebut na’ib al-Imam atau wakil Imam. Ayatullah Ruhullah Khomaini, misalnya, adalah seorang na’ib al-Imam tersebut.

Sebagai sekte Syiah terbesar, kelompok Syiah Dua Belas sebenarnya bukan golongan Imamiyah atau golongan yang hanya memusatkan perhatian pada persoalan imamah semata, tetapi juga merupakan golongan yang terlibat aktif dalam pemikiran-pemikran keislaman lainnya, seperti teologi, fikih, dan filsafat. Dalam teologi, sekte Itsna Asyariyah ini dekat dengan golongan Mu’tazilah, akan tetapi dalam persoalan pokok-pokok agama mereka berbeda.

Pokok-pokok agama menurut Syiah Dua Belas ini adalah at-Tauhid (tauhid), al-‘Ad (keadilan), an-nubuwwah (kenabian), al-imamah (kepemimpinan), dan al-ma’ad (tempat kembali setelah mereka meninggal). Sementara dalam bidang fikih, mereka tidak terikat pada satu madzhab fikih mana pun. Menurut sekte ini, selama masa kegaiban Imam Mahdi, urusan penetapan hukum Islam harus melalui ijtihad dengan berlandaskan pada al-Qur’an, hadits atau sunnah Nabi Muhammad SAW., hadits atau sunnah Imam Dua Belas, ijma’ ulama Syiah dan akal.[6] Akan tetapi perlu dicatat, bahwa Syiah memiliki al-Qur’an dan Hadits sendiri, interpretasi sendiri serta cara sendiri dalam mengoperasikan dalil-dalil tersebut, yang tidak sama dengan Ahlussunnah sebagaimana yang akan kami jelaskan nanti.



Nama-nama Syiah Itsna Asyariyah

Sebagai kelompok Syiah terbesar, Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah memiliki nama-nama atau julukan-julukan populer yang beragam. Bahkan, karena statusnya sebagai satu-satunya sekte Syiah yang masih bertahan hingga kini dan bahkan menguasai institusi Negara, ketika kata Syiah disebut, maka aksiomanya akan langsung menunjuk pada Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah ini. Nama-nama Itsna Asyariyah yang populer antara lain adalah:

a. Syiah

Mula-mula kata Syiah diucapkan untuk semua Firqah Syiah yang ada, namun saat ini, bila diucapkan kata Syiah maka yang dimaksud adalah Itsna Asyariyah. [7] Golongan ini disebut Syiah (pendukung) karena secara umum mereka mendukung Sayyidina Ali ra. untuk menjadi khalifah setelah Rasulullah SAW..

b. Imamiyah

Penamaan ini antara lain dapat diidentifikasi dari pernyataan salah seorang tokoh Syiah terkemuka di zamannya Syekh al-Mufid. Ia menyatakan sebagai berikut, “Aliran Imamiyah adalah aliran yang meyakini bahwa imamah, ‘ishmah dan nash imamah itu hukumnya wajib. Mereka memilih “imamiyah” sebagai nama karena ketiga unsur pokok akidah Syiah ini ada dalam kalimat tersebut. Siapapun yang mengamalkan tiga unsur pokok di atas, maka dia disebut Imamiy (orang yang bermadzhab Imamiyah), walaupun dia mencampur-baurkan hal-hal yang haq dengan yang bathil dalam pandangan madzhab.” Demikian kata al-Mufid.

Kemudian faktanya, orang-orang yang memenuhi kriteria yang disebutkan oleh al-Mufid di atas telah terpecah belah. Para tokoh berikut pengikut yang bermuara pada tiga unsur pokok dia atas juga telah terpecah. Sedangkan kelompok pertama yang mengeluarkan diri dari Madzhab Imamiyah adalah kelompok Kaisaniyah.[8]

c. Itsna ‘Asyariyah

Istilah ini tidak dijumpai dalam literatu-literatur klasik yang mengupas tentang sekte-sekte. Al-Qummi misalnya, tidak mencantumkan istilah ini sedikitpun dalm kitabnya al-Maqalat wa al-Firaq. Demikian juga dengan an-Nubakhti dalam karyanya Firaq asy-Syiah, juga al-Asy’ari dalam maqalat al-Islamiyyin. Barang kali orang pertama dari golongan Syiah yang menggunakan istilah ini dalam kitabnya adalah al-Mas’udi,[9] sedangkan dari kalangan Ahlussunnah adalah Syekh Abdul Qahir al-Baghdadi, sebab beliau mengungkapkan bahwa Syiah versi ini disebut Itsna ‘Asyariyah karena mereka berkeyakinan jika Imam Mahdi al-Muntadzhar merupakan Imam yang ke duabelas sejak Imam Ali ra.[10]sementara Muhammad bin Jawwad Mughniyah (tokoh Syiah kontemporer) juga mengukuhkan penamaan ini. Ia mengatakan bahwa Itsna ‘Asyariyah adalah nama yang diungkapkan untuk Syiah Imamiyah yang meyakini kepemimpinan dua belas imam.[11]

d. Al-Qath’iyah

Kata ini juga termasuk salah satu julukan Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah. Menurut para pemerhati sekte-sekte, seperti direkam oleh al-Asy’ari dalam Maqalat al-Islamiyyin,[12] asy-Syahrastani dalam al-Milal wa an-Nihal,[13] al-Isfiraini dalam at-Tabshir fi ad-Din,[14] dan peneliti-peneliti lainnya. Syiah Itsna ‘Asyariyah disebut al-Qath’iyah karena mereka memastikan akan kematian Musa bin Ja’far ash-Shadiq.[15]

e. Ashhab al-Intizhar

Imam Fakhruddin ar-Razi menjuluki Syiah Itsna ‘Asyariyah dengan Ashhab al-Intizhar, yang berarti “mereka yang menuggu”. Hal ini disebabkan mereka meyakini jika yang berhak memegang jabatan Imam setelah Imam Hasan al-Askari adalah putranya, yakni Muhammad bin Hasan al-askari yang kini masih menghilang (gaib) yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya di akhir zaman sebagai Imam Mahdi. Keyakinan inilah yang dianut oleh Syiah Imamiyah hingga saat ini.[16]

f. ar-Rafidhah

 Selain sebutan-sebutan di atas, sekelompok ulama, seperti Imam al-Asy’ari dalam Maqalat al-Islamiyyin[17] dan Ibnu Hazm dalam al-Fashl fi al-Milal wa an-Nihal [18] juga menyebut Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah dengan sebutan Rafidhah. Salah satu guru besar (syaikh) Syiah, yakni al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar juga menyebut Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah dengan kata Rafidhah ini.

 Ada beberapa pendapat yang menjelaskan awal mula penyematan nama ini. Konon, suatu saat orang-orang Syiah mendatangi Imam Zaid bin Ali bin al-Husain. Kemudian mereka berkata, “Andai tuan melepaskan diri dari (mencintai) Abu Bakar dan Umar, maka kami tetap setia bersam anda.” Lalu Zaid berkata, “Beliau berdua merupakan sahabat kakekku, saya tetap selalu mencintai beliau berdua.” Lalu orang-orang Syiah itu berkata, “Jika demikian, maka kami tidak akan pernah mengiraukan anda.” Sejak itulah kemudian mereka populer dengan sebutan Rafidhah, sedangkan orang yang tetap setia dengan Imam Zaid disebut Zaidiyah (penganut setia Imam Zaid bin Ali bin al-Husain).

Riwayat lain menyebutkan bahwa penyebab pemberian nama ini disebabkan mereka telah mencampakkan (tidak menganggap) kepemimpinan Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar radiyallahu anhuma, sebagaiman ditegaskan oleh Imam al-Asy’ari dalam Maqalat al-Islamiyyin.[19]

Dalam kitab-kitab Syiah ditegaskan bahwa kata Rafidhah merupakan salah satu julukan Syiah Imamiyah yang paling dibanggakan dan mempunyai keutamaan tersendiri. Al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar menjelaskan beberapa fadhilah (keutamaan) atas pemberian nama ini untuk Syiah Imamiyah. Malah, ia menulis sub judul “bab Fadhli ar-Rafidhah wa at-Tasmiyati bihi ” (bab menjelaskan tentang keutamaan Rafidhah dan penamaan [Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah] dengannya). Kemudian al-Majlisi menampilkan empat dalil Hadits buatannya yang berisi memuji-muji penamaan Rafidhah ini.

Rupanya Syiah sangat senang dan bangga dengan penggunaan nama ini, sebab berarti mereka, menampakkan jati dirinya dan dengan mencampakkan ke-khalifahan-an Sayyidina Abu Bakar, Umar, dan Utsman ra.. Maka tidak heran jika kemudian mereka memproduk hadits-hadits palsu yang menjelsakan akan keutamaan nama ini.[20]

 g. Al-Ja’fariyah

Penamaan al-Ja’fariyah untuk Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah merupakan afiliasi kepada kepada Imam ke-6 Syiah, yaitu Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq ra. Dalam istilah ilmu retorika Arab, penyebutan seperti ini disebut menyematkan nama khusus untuk sesuatu yang umum. Dalam riwayat al-Kasyi dijelaskan bahwa pendukung Imam Ja’far yang bemukim di Kufah adalah kelompok yang mula-mula disebut Ja’fariyah. Saat beliau mendengar hal ini, beliau marah hebat dan berkata, “Di antara kalian yang mendukung Ja’far sangat sedikit, pendukung Ja’far hanyalah orang yang benar-benar wara’ dan beibadah untuk penciptanya.”[21]



h. Al-Khashshah



Nama ini digunakan oleh tokoh Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah untuk menyebut pengikutnya, sementara Ahlussunnah dipanggil dengan sebutan al-‘Ammah (kalangan awam). Dijelaskan dalam Da’irat al-Ma’arif: “Al-Khashshah, bila diucapkan oleh sebagian Ahli Dirayah Syiah, maka maksudnya adalah Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah, sedangkan bila disebut kata Al-‘Ammah, maka yang dimaksud adalah Ahlussunnah wal Jama’ah.”[22] Nama ini sering mereka gunakan ketika meriwayatkan hadits. Mereka kerap kali mengatakan “riwayat ini adalah menurut orang-orang awam (al-‘Ammah), sedang yang ini menurut orang-orang khash (al-Khashshah).[23] Diantara riwayat Syiah yang memakai kosa kata ini adalah sebagai berikut :

مَا خَالَفَ العَامَّةَ فَفِيهِ الرَّشَادُ

“Apapun yang berseberangan dengan orang awam (al-‘Ammah) adalah merupakan petunjuk.”[24]



Sementara sekte Isma’iliyah, sekte terbesar kedua dalam golongan Imamiyah, adalah golongan yang mengakui bahwa Imam Ja’far ash-Shadiq ra. telah menunjuk Isma’il, putra beliau, sebagai Imam penggantinya sesudah beliau wafat. Akan tetapi, karena Isma’il bin Ja’far ash-Shadiq telah meninggal terlebih dahulu, maka orang-orang Syiah berpandangan bahwa sebenarnya penunjukan itu dimaksudkan kepada putra Isma’il, yaitu Muhammad bin Isma’il. Muhammad bin Isma’il lebih dikenal dengan sebutan Muhammad al-Maktum (yang berarti menyembunyikan diri).

Golongan Isma’iliyah berpendapat, selama seorang Imam belum mempunyai kekuatan yang cukup untuk mendirikan kekuasaan, maka Imam tersebut perlu menyembunyikan diri; baru setelah merasa cukup kuat, ia akan keluar dari persembunyiannya. Selama masa persembunyiannya itu, sang Imam memerintah utusan-utusannya untuk menggalang kekuatan. Oleh karena itu, beberapa Imam sesudah Muhammad al-Maktum selalu menyembunyikan diri sampai masa Abdullah al-Mahdi yang kemudian berhasil mendirikan dan menjadi khalifah pertama Dinasti Fatimiah di Mesir.



Sebagian dari sekte ini percaya bahwa sebenarnya Isma’il bin Ja’far tidak meninggal dunia, melainkan hanya gaib dan akan kembali lagi ke dunia nyata pada akhir zaman. Mereka disebut as-Sab’iyah atau golongan yang mempercayai tujuh Imam. Untuk sekte ini, Imam terakhir adalah Isma’il bin Ja’far.



Golongan Isma’iliyah sampai saat ini ada, namun jumlah mereka sedikit sekali. Pengikut sekte ini yang banyak terdapat di India. Salah seorang Imam Isma’iliyah di wilayah tersebut dikenal dengan nama Aga Khan.



Dari uraian tentang aneka ragam sekte Syiah di muka, maka kita dapati satu titik temu, bahwa fakta berbicara jika untuk saat ini, satu-satunya aliran Syiah yang masih eksis dan memiliki peran yang signifikan di beberapa lini kehidupan umat Islam (keagamaan, sosial-kemasyarakatan dan politik kenegaraan) adalah hanya Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah. Sementara Syiah versi yang lain, seperti Saba’iyah, Mukhtariah, Kaisaniyah, Ghulat, dan lain-lain, telah punah termakan oleh seleksi waktu dan terkikis oleh gesekan-gesekan masa.



Namun, hal yang perlu disadari adalah, bahwa beragam versi Syiah tersebut, hingga versi yang paling ekstrem sekalipun, sejatinya tidaklah punah. Memang, secara riil mereka bisa dikatakan punah sebab sama sekali tidak ditemukan pengikut dan penerusnya, namun, secara substansial, ideologi dan ajaran-ajaran mereka tetap ada, terus hidup dan berkembang. Dan fakta yang sungguh mencengangkan, bahwa ajaran-ajaran dan ideologi-ideologi dari beragam aliran Syiah yang telah punah tersebut ternyata terangkum dalam aliran Syiah yang kini tengah memiliki pengikut dan pengaruh yang signifikan, yakni Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah.



Inilah fakta yang tidak dapat kita elakkan dan penting untuk segera disadari bersama. Sebab opini yang berkembang, dan tampaknya memang sengaja dikembangkan, bahwa Syiah Ghulat yang mempunyai pemikiran-pemikran ekstrem dalam berakidah sebenarnya telah punah, baik kelompoknya maupun ajaran-ajaranya. Jadi merupakan kesalahan besar apabila Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah yang masih eksis sampai sekarang dituduh Syiah yang ekstrem.



Nah, disanalah fakta dan data yang ada justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Riset yang dilakukan oleh para pakar menunjukkan bahwa sebetulnya aliran-aliran Syiah yang ekstrem itu secara ideologis masih berkembang dan terus dikembangkan, sebab ideologi-ideologi mereka sudah terangkum dalam akidah Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah yang memiliki peranan besar dan terus berkembang hingga kini.



Berikut sebagian bukti dari akidah-akidah aliran-aliran Syiah yang telah punah, yang terangkum dalam sekte Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah:

a. Bada’. Mulanya, bada’ merupakan salah satu akidah Syiah Mukhtariah, salah satu versi Syiah Ghulat, sedangkan kini menjadi kepercayaan resmi Syiah Itsna ‘Asyariyah. Riwayat-riwayat tentang bada’ bisa ditemukan dengan mudah dalam beberapa literatur utama Syiah Itsna ‘Asyariyah, seperti al-Kafi. Dalam kitab tersebut sedikitnya terdapat 16 (enam belas) riwayat tentang bada’ yang diafiliasikan kepada Ahlul Bait. Demikian pula dalam Bihar al-Anwar karya al-Majlisi. Dalam kitab tersebut setidaknya terdapat 70 (tujuh puluh) hadits yang menjelaskan tentang bada’ dengan sangat gamblang. Dari sini kita bisa melihat bahwa kelompok Syiah ekstrem—dengan berbagai ragam namanya—pada hakikatnya masih ada dan menyatu dalam doktrin Syiah Itsna ‘Asyariyah.



b. Raj’ah. Termasuk akidah Syiah Ghulat yang sekarang menjadi aliran wajib Syiah Itsna ‘Asyariyah adalah raj’ah. Syiah Itsna ‘Asyariyah, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti dalam babnya yang spesifik, sepakat menyatakan bahwa raj’ah merupakan salah satu pokok ajaran Abdullah bin Saba’, kelompok Syiah yang sangat ekstrem iu.



c. Pengkultusan terhadap para Imam. Akidah ini juga merupakan doktrin sekte Syiah Saba’iyah dan sekte Syiah Ghulat, dan kini sudah resmi menjadi ajaran Syiah Itsna ‘Asyariyah. Dalam karya ulama-ulama Syiah bisa dijumpai banyak riwayat yang mengupas tuntas doktrin ini, antara lain dalam al-Kafi, Bihar al-Anwar, kitab-kitab tafsir bi al-Ma’tsur Syiah seperti Tafsir al-Qummi dan Tafsir al-‘Ayasyi, serta dalam kitab-kitab Rijal al-Hadits Syiah seperti Rijal al-Kasyi dan lain-lain.



d. Mengutamakan Imam daripada Nabi. Ini juga merupakan salah satu ajaran Syiah ekstrem, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Abdul Qahir al-Baghdadi, al-Qadhi ‘Iyadh, Imam Ibnu Taimiyah, dan yang lain. Doktrin ini sekarang juga menjadi kepercayaan resmi sekte Syiah Itsna ‘Asyariyah.[25]



Pembahasan tentang tema ini tampaknya memerlukan pengkajian yang spesifik, serius, dan terfokus. Mempelajari pemikiran sekte-sekte Syiah klasik dan membandingkan dengan literatur-literatur Syiah Itsna ‘Asyariyah, dan bahwa pemikiran Syiah Ghulat telah terekam dengan begitu sempurna dalam literatur-literatur Syiah Itsna ‘Asyariyah dengan bentuk periwayatan yang diafiliasikan kepada Imam-imam Ahlul Bait.



Untuk itu, doktrin-doktrin Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah yang merupakan himpunan dari doktrin-doktrin sekian banyak versi-versi Syiah yang telah punah, sedapat mungkin juga akan ditampilkan di sini, pada bagiannya tersendiri. Insya Allah.



By Apad Ruslan, diadaptasi dari buku Mungkinkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)

[1] http://swaramuslim.net.

[2] Lihat, Ensiklopedi Islam (entri Syiah); http://swaramuslim.net.

[3]Kendati pengutukan terhadap Sayyidina Ali ra. merupakan salah satu karakter Syiah Ghulat, akan tetapi Ayatullah Ruhullah Khomaini juga sempat memunculkan klaim negatif terhadap Sayyidina Ali ra., lantaran beliau menerima tawaran arbitrase dari pihak Sayyidina Muawiyah bin Abi Sufyan ra. (lihat penjelasan bagian akhir dari sub bagian Syiah, Sahabat, dan Ahlussunnah.)

[4] Ensiklopedi Islam, entri Syiah.

[5] Dikutip dari catatan Dr. Al-Qifari dalam Ushul Madzhab Syiah al-Imamiyah Itsna Asyariyah: ‘Ardh wa Naqd, juz 1 hlm. 129, cet. 2, Dar ar-Ridha (1418 H/1998 M).

[6] Ensiklopedi Islam, entri Syiah.

[7] Lihat antara lain dalam Da’irat al-Ma’arif, juz 14, hlm. 68, ath-Thabrasi, Mustadrak al-Wasa’il, juz 3 hlm. 311; Amir Ali, Ruh al-Islam, juz 2 hlm. 92.

[8] Lihat, al-‘Uyun wa al-Mahasin, juz 2, hlm. 19. Lihat pula, Ashlu asy-Syiah wa Ushuliha, hlm. 92.

[9] Periksa, at-Tanbih wa al-Isyraf, hlm. 198

[10] Al-Farqu baina al-Firaq, hlm. 64

[11] Al-Itsna Asyariyah wa Ahlu al-Bait, hlm. 15.

[12] Al-Asya’ari, Maqalat al-Islamiyyin, juz 1 hlm. 90-91.

[13] Asy-Syahrastani, al-Milal wa an-Nihal, juz 1 hlm. 169.

[14] Al-Isfiraini, at-Tabshir fi ad-Din, hlm. 33.

[15] Lihat, al-Qummi, al-Maqalat wa al-Firaq, hlm. 89.

[16] Lihat, al-I’tiqadati Firaq al-Muslimin wa al-Musyrikin, hlm.84-85.

[17] al-Asy’ari, Maqalat al-Islamiyyin juz 1 hlm. 88.

[18] Ibnu Hazm azh-Zhahiri, al-Fashl fi al-Milal wa an-Nihal juz 4 hlm. 157-158.

[19] al-Asy’ari, Maqalat al-Islamiyyin juz 1 hlm. 89.

[20] Lihat, Tafsir al-Furat, hlm. 139, al-Mahasin al-Barqi, hlm. 157.

[21] Lihat, Rijal al-Kasyi, hlm. 255.

[22] Lihat, Da’irat al-Ma’arif, juz 17, hlm. 122.

[23] Lihat anatara lain karakter penulisan dalam Bulugh al-Maram karya Hasyim al-Bahrani.

[24] Lihat, Ushul al-Kafi, juz 1, hlm. 68, Wasail asy-Syi’ah, juz 18, hlm. 76.

[25] Lihat, Ushul Madzhab Asy-Syi’ah, juz 3, hlm. 1186-1187.

(sigabah.com/syiahindonesia.com)

Sumber: http://www.syiahindonesia.com/2015/05/macam-macam-aliran-syiah-lengkap.html
Selengkapnya ...

Berita

Kajian

Koreksi

Kisah

Muslimah

Khazanah

Catatan Kecil

Opini

Dari Ummat

Dibolehkan menyebarkan konten website ini tanpa perlu izin dengan tetap menyertakan sumbernya. Tim al-Balagh Media