Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Desember 2016

Akhir 4 Kasus Penistaan Agama Sebelum Ahok

Akhir 4 Kasus Penistaan Agama Sebelum Ahok


Oleh: Syamsuar Hamka

Meski sedikit menurun, tensi pemberitaan media terkait kasus penistaan agama oleh Gubernur non aktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok belum juga reda. Hal itu disebabkan tuntutan dari berbagai elemen umat islam di bawah koordinasi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI atau GNPF-MUI belum sepenuhnya ditunaikan. Sebab selain menjadikan tersangka, Ahok juga dituntut sesuai Hukum Yurisprudensi yang berlaku juga sama dengan kasus sebelumnya dalam penistaan agama, yaitu ditahan.

Beberapa kasus diantaranya adalah Lia Aminuddin yang mengaku sebagai Malaikat Jibril, Ahmad Musadeq yang mengaku sebagai Nabi, Permadi dan begitu pula kasus Arswendo Atmowiloto.
Bagaimana akhir dari keempat kasus penistaan agama ini? Mari simak penjelasannya.

Pertama, Lia Aminuddin, atau yang akrab dipanggil Lia Eden pernah membuat gempar. Pada Agustus 1999 silam, Lia bersama 75 orang jemaahnya, atau yang dikenal dengan Jamaah Salamullah melakukan ritual memerangi Ratu Pantai Selatan Nyi Roro Kidul. Ritual di bibir pantai Pelabuhan Ratu, Sukabumi, itu disebut Lia untuk membinasakan Nyi Roro Kidul, yang mereka anggap lambang kemusyrikan. Selain itu, pada Perayaan Natal 1999 ia mengirim sapaan selamat Natal lewat pos, yang dikirim ke 300 gereja di Indonesia. "Ini untuk mengurangi ketegangan SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan)," kata Lia seperti dilansir tempo (http://m.tempo.co/read/news/2015/06/06/078672566/Begini-Perjalanan-Metamorfosa-Lia-Eden).
Memasuki periode tahun 2000 Lia pun dijebloskan ke penjara atas ajaran yang dianutnya. Ia yang mengaku pernah bertemu Bunda Maria, mendapat vonis Pertama, pada 29 Juni 2006 Pengadilan Negeri Jakarta Pusat selama dua tahun penjara. Lia terbukti bersalah karena telah menodai agama, melakukan perbuatan tak menyenangkan, dan menyebarkan kebencian. Kali kedua, giliran pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 2 Juni 2009 menjatuhkan hukuman penjara 2 tahun 6 bulan kepadanya. Dia dinilai terbukti melakukan penistaan dan penodaan agama.

Penodaan seperti apa? Dalam penjelasan Lembaga Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam diperoleh beberapa fakta bahwa, Lia mengaku mendapat wahyu dalam bahasa Indonesia dan setiap wahyu itu turun ditulis oleh seorang penulis wahyu yang senantiasa siap di depan komputer rumahnya di Bungur. Begitu selesai ditulis, wahyu-wahyu itu di-print out dan dikirimkan kepada seluruh organisasi Islam dan Pondok Pesantren di seluruh Indonesia. Selain itu, Lia Eden mengaku bersuami dengan Malaikat Jibril yang tinggal di Surga Eden dan senantiasa berhubungan suami istri (seperti manusia) dengan Malaikat Jibril di rumahnya di Bungur Jakarta. Kesemua itu tentu adalah ajaran yang keliru. Dan kesemuanya bermuatan penistaan agama karena mengambil simbol-simbol agama yang diakui di Indonesia, yaitu Islam.

Hampir sama dengan Lia Eden, kasus kedua adalah kasus Ahmad Musadeq juga dipenjarakan karena penistaan agama Islam. Ahmad Musadeq adalah mantan pimpinan aliran Al-qiyadah Al Islamiyah yang populer pada 2006 lalu karena mengaku diri sebagai rasul. Dia mengaku mendapatkan wahyu saat sedang bersemedi dan melaporkan hal ini kepada teman-temannya. Dia juga mengaku bertemu dengan malaikat Jibril dan diangkat menjadi rasul untuk membawa risalah yang baru. Ia menyatakan bahwa ajaran yang dibawanya adalah Millah Abraham yang merupakan sebuah komunitas ajaran yang dianggap sesat lewat Fatwa MUI karena mencampuradukkan ajaran Islam, Nasrani dan Yahudi. (http://atjehpost.co/ berita2/read/Cerita-Ahmad-Musadeq-dan-Alirannya-yang-Sering-Berubah-Nama-18640).

Terakhir, gerakan Ahmad Musadeq bermetamorfosa menjadi Gafatar, atau Gerakan Fajar Nusantara. Namun tidak berlangsung lama, Senin, 30 Mei 2016, setelah menghimpun barang bukti, Kepolisian Republik Indonesia berhasil menangkap dan memenjarakan tiga tersangka kasus makar dan penistaan agama yang dilakukan Gafatar ini. Ahmad Musadeq bersama Mahful Muis Tumanurung dan Andri Cahya yang merupakan anak Musadeq sendiri telah melakukan makar karena diduga berencana mendirikan Negeri Karunia Tuhan Semesta Alam dan menistakan agama. Berbagai barang bukti yang disita ini terdapat beberapa keping VCD dokumentasi deklarasi negara di daerah, akta akidah, akta pengorbanan, hingga tabloid Gafatar. Ada juga 15 unit laptop, telepon seluler, dan beberapa buku yang wajib dibaca oleh para pengikut Gafatar. Ia dan dua terlapor lainnya dijebloskan ke dalam penjara setelah berubah status menjadi tersangka.

Lain halnya dengan kasus ketiga, Kasus Permadi. Dalam sebuah unggahan video yang berdurasi beberapa menit itu, seorang Lelaki berumur mengungkapkan pernyataan tentang Kasus Ahok. Video yang sempat menjadi viral di media sosial tersebut berisi pernyataan Permadi yang mengaku juga pernah dijebloskan ke penjara karena menistakan agama.

Bagaimana sampai ia ditahan? Seperti dilansir panjimas.com, Permadi mengungkapkan kesepakatannya dengan rekannya, Rafly Harun yang menyatakan bahwa “Hanya ada satu diktator di dunia ini yang baik, yakni Nabi Muhammad. Karena bukan untuk kepentingan pribadi dan golongannya tapi untuk umatnya.” Permadi yang mendengarkan penyataan itu pun pun langsung bilang, “Saya sependapat dengan anda, Nabi Muhammad adalah diktator yang baik seperti yang anda katakan,”. Akan tetapi, yang terjadi kemudian adalah peristiwa itu disebar dalam rekaman yang dipotong-potong. Ucapan Rafly Harun dihilangkan, dan yang ada hanya jawaban Permadi, “Nabi Muhammad Diktator.” Penggalan itu pun Disebarluaskan ke umat Islam dan akhirnya menuai protes keras. Ribuan umat Islam datang ke Kejaksaan Agung, dan ke rumah Permadi sambil membawa poster yang bertuliskan “Tangkap Permadi”, “Gantung Permadi”, “Darah Permadi Halal”, dan akhirnya ia pun langsung ditangkap dan dipenjara.” (lihat: http://www.panjimas.com/news/2016/11/21/inilah-cerita-permadi-saat-dirinya-ditangkap-atas-kasus-penistaan-agama/)

Kasus tersebut mirip dengan kasus keempat, Kasus Arswendo. Menurut penuturan ahli hukum pidana, Teuku Nasrullah seperti dilansir Hidayatullah.com, Arswendo juga sebenarnya tidak sengaja menista dan membuat kegaduhan umum. Kasus Arswendo Atmowiloto pada tahun 1990 terjadi saat ia (Arswendo) membuat polling di Tabloid Monitor, siapa tokoh idola menurut para pembacanya. Menurut hasil polling yang dirilis tabloid itu, nama Presiden Soeharto berada di urutan pertama. Disusul kemudian dengan nama BJ Habibie, Soekarno, lalu musisi Iwan Fals. Nama Arswendo masuk ke dalam urutan ke-10, sementara Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam berada pada urutan ke-11. Hal ini kembali menuai reaksi dari umat Islam. Muncul kemarahan dan ia pun dilaporkan atas tuduhan penghinaan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Meski Arswendo berkilah, bahwa ia tidak punya maksud atau sengaja menghina Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, namun ia tetap dijatuhi hukuman 4 tahun penjara. Hal tersebut menurut Nasrullah, adalah karena faktor kesengajaan dalam pasal penistaan agama bukan kesengajaan dalam maksud. Tapi kesengajaan yang dapat diduga mengetahui bahwa perbuatannya menista agama dan mengganggu ketertiban umum. Arswendo dihukum karena patut mengetahui perbuatannya mengganggu ketertiban umum. “Sebab, pasal 156 ada di bawah Bab Ketertiban Umum. Penistaan agama tidak di bawah pasal agama tapi di bawah Bab Ketertiban Umum. Ini tentang ketertiban umum. Setiap orang harus menjaga ketertiban umum,” ujar Nasrullah. (lihat: http://www.hidayatullah.com/ berita/nasional/read/2016/11/11/104895/arswendo-mengaku-tak-sengaja-menista-agama-tapi-dihukum-4-tahun-penjara.html).

Jika melihat ke-empat kasus Penistaan di atas, maka seharusnya apa yang menimpa Gubernur Non Aktif DKI Jakarta, BTP alias Ahok haruslah juga diterapkan sama. Sebab keempat-empatnya ditahan oleh Kepolisian saat statusnya menjadi Tersangka. Hal itu, dalam logika sehat kita bahwa hukum adalah instrument tertinggi dalam menegakkan keadilan. Keadilan tidaklah melihat siapa pun. Sebab semua sama di mata hukum. Supremasi hukum harus ditegakkan. Dan Ahok juga harus merasakan apa yang telah dilakukan oleh 'pendahulunya', yang telah menista agama. (Wallahu a'lam bi as-Shawab).[]

(Penulis adalah Alumnus Program Kaderisasi 1000 Ulama DDII-Baznas 2016, Penulis Buku 'Api Tarbiyah')
Selengkapnya ...

Jumat, 18 November 2016

Membela Al-Qur'an


membela al-Quran


Oleh Syamsuar Hamka (Ketua Dept. Kajian Strategis PP LIDMI Indonesia)

4 November yang lalu, bangsa Indonesia telah memperlihatkan sebuah aksi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Aksi damai yang kemudian disusupi provokator yang ingin merusak dan memperkeruh keadaan.

Bukan cuma di Ibukota, Jakarta. Namun hampir seluruh Kota Besar di Indonesia melakukan aksi yang sama pada tanggal tersebut. Tuntutannya satu, meminta kepada apparat penegak hokum untuk mengakkan hokum seadil-adilnya kepadanya Gubernur Non-Aktif Basuki Tjahaja Purnama, alias Ahok.

Dalam pidato kontroversialnya, Ahok dengan jelas membuat ketersinggungan kepada umat Islam. Ia membahas tafsir atau setidaknya mengartikan al-Qur'an dari Surah al-Maidah ayat 51. Dala situs beritagar.id, 6/10/2-16, Basuki mengungkapkan "Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu enggak pilih saya. Dibohongin pakai surat Al Maidah ayat 51, macam-macam itu. Itu hak bapak ibu."

Atas pernyataan Ahok tersebut, sontak mengundang reaksi dari kaum Muslim di berbagai daerah, hingga isunya menjadi nasional bahkan mendunia. Ucapan itu menurut MUI menunjukkan ada unsur penistaan. Ketua MUI Ma’ruf Amin menjelaskan, penghinaan itu, karena Ahok menyebut kandungan dari surah Al-Maidah itu sebuah kebohongan, maka hukumnya haram dan termasuk penistaan terhadap Al-Quran serta yang menyebarkan surah Al-Maidah tersebut pembohong. Padahal, MUI melihat orang yang kerap menyebarkan surah tersebut tak lain merupakan para ulama. (lihat: merdeka.com, 12/10/2016). Selain itu beberapa Ormas Islam yang lain seperti PBNU juga menyatakan hal tersebut.

Demikian pula, Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) juga menyatakan sikapnya terhadap kasus dugaan penistaan Al-Qur’an yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, alias Ahok. ICMI menilai, perbuatan Ahok jelas-jelas tercela yang dibuktikan dengan permintaan maaf yang bersangkutan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). (Lihat: Republika.co.id, 20/10/2016).

Pada waku yang berbeda, KH Hasyim Muzadi juga menyatakan hal yang sama. “siapa pun yang berani menista Allah, Rasul-Nya, dan Al-Qur’an tidak ada yang bisa selamat. Mengapa? Karena umat Islam di manapun berada, tidak pernah bisa menerima penistaan terhadap Allah, Rasul-Nya, dan Kitab Suci-Nya.”, tandasnya. (Republika.co.id, 28/10/2016)

Hasil dari gerakan massa yang massif di seluruh kota, hingga dunia internasional adalah proses penistaan al-Qur'an yang dilakukan oleh Ahok tersebut diproses secara hukum oleh pihak yang berwenang. Dalam pidatonya di hadapan pers dan massa, Wakil Presiden RI, Muhammad Jusuf Kalla menyampaikan bahwa kasus tersebut, setidaknya akan diselesaikan dalam jangka waktu dua pekan, dihitung sejak hari tersebut.
Hingga kini, warga masih menunggu berita-berita yang terus dilayangkan oleh media. Di dunia maya, perdebatan maya tentang kasus tersebut belumlah berakhir. Ada yang membela dengan alasan penggunaan kata 'pakai' berbeda jika kata tersebut jika tanpa menggunakan kata pakai.

Yang membelanya kebanyakan adalah orang-orang Sekuler, Non Muslim hingga Ateis. Kita tentu patut heran, karena mereka yang tidak tahu Islam, 'sok-sok' mengajari Muslim tentang tafsir al-Qur'an.
Padahal, semua Mufassir Mu'tabar sudah jelas menyatakan larangan dalam QS. Al-Maidah jelas dan tegas. Sedangkan makna yang lain, misalnya "Teman Setia", memang bisa menjadi alternatif maknanya. Namun, bukan satu-satunya makna yang pas. Cara menentukan makna yang tepat adalah dikembalikan kepada ilmu Ushul at-Tafsir. Bukan orang yang tidak tahu bahasa Arab, apalagi ilmu tafsir!.

Disitulah 'pelanggaran berat' Ahok. Seperti kata AA Gym, lewat batas alias Off Side. Ia tidak punya otoritas sama sekali berbicara tentang hal itu. Namun di depan warga kepulauan Seribu ia seolah-olah begitu yakin dengan yang dibicarakannya. Celakanya, dengan pakaian dan kunjungan dinas Gubernur.

Namun, yang menjadi persoalan adalah Gubernur non-Aktif, Basuki Tjahaja Purnama-lah yang masuk dalam domain MUI. Ia bahkan dengan begitu yakin bahwa banyak warga telah dibohongi dengan al-Qur'an agar tidak memilih dirinya. Ahok menuturkan, bahwa persaingan tersebut bukanlah persaingan yang sehat, sebab membawa masalah SARA dalam perpolitikan. Apalagi menggunakan ayat-ayat yang suci untuk berebut suara dalam ranah politik praktis.

Jika didengarkan, mungkin seakan-akan benar adanya. Namun, perlu digarisbawahi bahwa hal tersebut secara tidak langsung telah mengacaukan pikiran kita. Sebab, dengan pernyataan tersebut, kita telah menempatkan al-Qur'an lebih rendah dari hukum buatan manusia.

Jika memang itu adalah SARA, maka al-Qur'an justru mengajarkan umat islam selalu membincang SARA. Sebab dalam al-Qur'an ada derajat kesalihan yang tidak bisa dipahami dalam kacamata sekuler. Seorang Pemabuk sangat beda nilai pembelaan kita kepadanya dibanding seorang ulama. Orang yang pemabuk, pencuri, pezina secara akal sehat akan kita tolak menjadi pemimpin, lalu bagaimana dengan orang yang tidak menyembah Allah!?. Sekali lagi, ini yang sulit dipahami oleh orang-orang sekuler. Ketaqwaan tidak bisa dipisahkan dari apa pun dalam pandangan seorang muslim.

Secara 'sarih', tegas dan lugas, Qur'an telah melarang seorang muslim menjadikan orang yang tidak seaqidah sebagai seorang Pemimpin. Inilah yang diperjuangkan dan dipertahankan MUI. Para ulama punya otoritas untuk itu. Hanya saja, mereka tidak mengeluarkan dan menyebarluaskan fatwa tentang larangan mengangkat pemimpin kafir. Tentu itu demi kepentingan bangsa dan negara. Bahwa jika fatwa tersebut disebarluaskan, justru akan menjadi persoalan dalam menjaga keutuhan bangsa dan NKRI.

Kinerja Majelis Ulama adalah sangat berat. Sebab ia harus mengerahkan seluruh potensi yang mereka miliki untuk menjaga umat dari kerusakan, begitu pula menjaga bangsa dari perpecahan. Kita bisa melihat pada kasus yang sama. Yaitu terkait dengan fatwa ucapan selamat natal yang pernah dipermasalahkan karena menurut orang sekuler, tidak sesuai dengan asas-asas negara dan pluralitas bangsa. Fatwa tersebut dinilai bisa menjadi sumber 'biang kerok' perselisihan dan perpecahan bangsa, sehingga diminta untuk dicabut.
Namun apa ya g dilakukan oleh ketua MUI saat itu, Prof. Dr. Hamka adalah sangat tegas. Beliau rela mundur dari jabatannya, daripada menarik fatwa tersebut. Hal itulah yang seharusnya diperlihatkan oleh para pemimpin bangsa ini. Tampil dalam membela kebenaran, bukan ikut latah dan gamang dalam persoalan umat.
Seharusnya juga, kita memahami bahwa kebenaran tidak-lah boleh diubah. Sebab meninggalkan kebenaran, serta mendiamkan kemaksiatan adalah bentuk kedzaliman. Tidak menasihati kekeliruan tentu adalah kedzaliman. Sebab membiarkan seseorang jatuh dalam jurang, itu berarti kita telah mendzalimi orang tersebut. Amir Al-mukminin Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, berkata:

يَا حَمَلَةَ الْعِلْمِ اعْمَلُوا بِهِ ، فَإِنَّمَا الْعَالِمُ مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ وَوَافَقَ عِلْمُهُ عَمَلَهُ .

"Wahai yang mengemban ilmu (ulama) beramallah kalian dengan ilmu tersebut; karena sesungguhnya orang alim itu adalah siapapun yang beramal dengan apa yang ia ketahui dan amalnya sejalan dengan amalnya." (al-Imam al Hafidz Abu Zakaria an Nawawi al Asy'ari asy- Syafi'I, at Tibyan fii Adabi Hamalatil Quran, hal 13);

Itulah yang dilakukan oleh para ulama kita. Mereka membela al-Qur'an dari tuduhan dan penyelewengan. Agar umat ini bisa menetapi jalan yang benar, tidak dimakar dengan makar-makar yang membuat hilangnya kekuatan dan kejayaan agama.

Terakhir, mari mempelajari Islam yang lebih intensif. Jangan biarkan 'ilmu' kita digelayuti syubhat. Hingga membuat kita gamang dan latah dalam bersikap.
Wallahu a'lam bi ash-Shawab.[]
Selengkapnya ...

Jumat, 04 November 2016

Seuntai Hikmah dari Aksi Damai Bela Al-Qur'an


Oleh: Ustadz Ahmad Hanafi, Lc. M.A (Anggota Dewan Syariah Wahdah Islamiyah)

Seuntai hikmah dari aksi damai bela al-Qur'an, aksi bermartabat dari tinjauan Fiqh al-Maqaashid:

1. Tingkatan pertama dan utama dalam urutan maqashid syariah adalah hifdzu addien (menjaga agama), yang memang memerlukan pengorbanan harta bahkan jiwa sekalipun. Maka segala bentuk "mafsadah" (kerugian dan kerusakan) yang terjadi pada #aksibelaQur'an411, adalah bagian dari tuntutan hifdzu addien ini. Apalagi jika terbukti bahwa pelaku kerusakan ini adalah rekayasa yang bukan berasal dari pihak peserta aksi.

2. Aksi bermartabat ini memberikan efek jera dan pelajaran yang tak akan dilupakan dalam sejarah umat Islam di Indonesia bagi siapa saja yang berniat melecehkan Islam beserta syiar-syiarnya.

3. Kesatuan dan persatuan yang berhasil digalang lewat aksi ini dari seluruh elemen umat, mulai dari yang awam hingga para pejabat terutama ulama dan dai, merupakan sebuah indikasi dan isyarat kuat bahwa umat Islam di Indonesia mempunyai wibawa dan harga diri yang tidak boleh sedikitpun diremehkan. (Turhibuuna bihi 'aduwwallaahi wa 'aduwaakum)

4. Yaum al-Furqaan, menampakkan secara jelas siapa kawan dan siapa yang berada di pihak lawan. Dan siapa lebih memilih zona aman dan masuk wilayah abu-abu.

5. Konsolidasi umat dalam jumlah yang besar dari berbagai elemen adalah sebuah pekerjaan yang tidak ringan, dan insya Allah aksi 411 merupakan tadrib dan latihan untuk umat Islam agar lebih siap dan terkonsolidasi jika terdapat lagi agenda keumatan yang jauh lebih besar di kemudian hari.

Semoga Allah selalu menyatukan hati dan langkah kita di atas kebenaran.[]
Selengkapnya ...

Rabu, 06 April 2016

Corat-Coret Baju Budaya Siapa?

Coret-coret baju siswa sma (sumber depok.go.id)

Oleh: Zainal Lamu

Pengumuman kelulusan Ujian Nasional belum lagi keluar, bahkan Ujian Nasional SMA baru beberapa jam lalu usai. Namun beberapa siswa-siswi nampak melakukan aksi corat-coret baju. Mereka nampak gembira telah melewati masa ujian terakhir bagi mereka di SMA, mereka seperti tidak menyadari bahwa ketidaklulusan juga mengintai mereka. Tawa ria pada hari akhir ujian mereka bisa jadi berubah menjadi tangis pada saat pengumuman hasil ujian.

Apapun alasan mereka, aksi corat-coret baju bukanlah budaya yang baik. Itu adalah budaya pemborosan. Akal sehat pun tak bisa menerima perilaku ini. Coba Anda hitung kerugian materi dari aksi ini. Anggap siswa SMA/SMK yang ikut UN tahun ini 1.500.000 siswa, kalau 80% dari mereka melakukan aksi ini (1.200.000 siswa) dikalikan dengan harga baju rata-rata dari mereka Rp. 15.000 (anggap demikian kan pakaian bekas) maka total harga baju yang dicorat-coret adalah Rp. 18.000.000.000 (18 Miliar!).
Oh ya, ini belum termasuk harga spidol dan cat semprot. Dan kita pun baru menghitung siswa SMA/SMK, belum siswa SMP dan SD yang juga tidak ketinggalan aksi boros ini.

Alangkah baiknya jika barang seharga itu disumbangkan untuk orang-orang yang membutuhkan. Bukan berita baru lagi jika ada anak yang putus sekolah atau tidak bisa masuk sekolah hanya karena orangtuanya tidak bisa membeli baju seragam buat anaknya. Padahal baju yang telah dicorat-coret itu pasti suatu saat hanya akan menjadi kain lap, kalau pun ada yang beralasan untuk menjadi kenang-kenangan maka seberapa lama sih ia bisa menyimpannya?

Peristiwa membahagiakan memang patut untuk disyukuri bahkan itu wajib, namun jika keluar dari koridor syariat maka bisa jadi kekufuran bukan kesyukuran.

 “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan. dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya (QS. Al Isro’: 26-27).
Makanya tidak salah kalau kita mengatakan budaya corat-coret baju tersebut adalah budaya setan.

Kegiatan Positif Lebih Baik

Budaya corat-coret baju telah ada pada tahun 80-an. Ia seperti penyakit turun temurun yang menggerogoti alam bawah sadar siswa-siswi hingga saat ini. Jika dibiarkan maka penyakit ini akan tetap ada hingga akhir zaman. Makanya untuk menyembuhkannya perlu ada kerja sama yang serius antara pihak sekolah dan orang tua siswa.  Selain itu penyadaran dini harus dilakukan oleh sekolah terhadap siswa-siswanya. Jangan hanya pengarahan dilakukan ketika mereka menjelang UN, ini sangat terlambat. Pendekatan agama juga sangat efektif, terbukti sebuah SMA Islam Terpadu yang saya kenal di Makassar tak satupun siswa/siswinya melakukan budaya setan ini.

Saya juga sangat salut apa yang dilakukan oleh siswa siswi SMA 3 Yogyakarta tahun lalu (2011). Di saat siswa-siswi sekolah lain merayakan kelulusan dengan corat-coret baju, mereka justru merayakannya dengan membagikan 600 buah nasi kotak kepada para tukang becak, pedagang asongan, serta pedagang kaki lima di sejumlah tempat di Kota Yogyakarta.

Diantara kegiatan yang sangat baik juga adalah dengan melakukan pengumpulan baju seragam siswa yang lulus untuk disumbangkan kepada adik kelas atau siswa di sekolah lain yang membutuhkan. Dan saya kira ini akan menjadi kenangan indah yang lebih patut untuk dikenang.[]

Repost dari:  http://alfathonah.blogspot.co.id/2012/04/corat-coret-baju-budaya-siapa.html

------------
Ingin tulisan Anda dimuat di website ini? Kirim tulisan ke albalaghonline[at]gmail.com
Selengkapnya ...

Senin, 28 Maret 2016

Mengapa Tarbiyah?



Oleh: Syamsuar Hamka*

Sebut saja Edo, seorang lelaki paruh baya yang bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta. Ia dulunya adalah seorang aktivis dakwah di kampus, namun setelah masuk dalam dunia kerja ia kemudian banyak berubah. Hari-harinya kini sibuk mengurus pekerjaan kantornya. Di akhir pekan, seperti kebanyakan penduduk jakarta. Ia menggunakan akhir pekannya untuk menikmati waktu libur dengan berkunjung ke puncak, atau tempat wisata lainnya.

Sama seperti pekerja lainnya di ibukota. Mereka dikejar-kejar waktu. Apalagi bagi yang tinggal di daerah penyangga seperti Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi. Para pekerja harus berangkat jauh lebih awal untuk bisa sampai di kantor. Mereka harus berangkat setidaknya, tepat setelah shalat subuh. Sebab jika tidak, mereka akan dihadang kemacetan di jalan berjam-jam lamanya.

Demikian halnya bagi mereka yang menggunakan moda transportasi kereta api, setengah enam pagi, jadwal awal kereta diberangkatkan sudah dipadati oleh para pekerja yang berlomba-lomba menduduki kursi penumpang. Hingga pukul 8 pagi, jika tidak mau berdiri dan berdesak-desakan dalam gerbong, silakan menunggu hingga matahari telah meninggi, dan siap-siap untuk merasakan peringatan dari atasan, karena telat masuk jam berkantor.

Setelah kembali dari aktivitas seharian penuh di kantor, para pekerja pulang ke rumahnya pukul 04.00. Kereta, serta kendaraan-kendaraan akan kembali disesaki oleh arus pekerja yang pulang dari kantornya. Dan biasanya, kepadatan itu mulai mereda pukul 9 malam.

Rata-rata karyawan seperti Edo yang tidak tinggal di Jakarta setiap harinya akan berangkat sebelum matahari terbit, dan akan sampai di rumah antara pukul 10.00 hingga 11.00 malam. Aktivitas itu setiap hari berulang dari senin hingga sabtu. Waktu mereka dipenuhi dengan kuantitas aktivitas yang banyak memakan waktu.

Akhirnya untuk menikmati waktu sisa, pilihannya, di akhir pekan mereka harus menggunakan quality time dengan bersantai, wisata, dan jalan-jalan. Kabarnya, di Jepang, yang kualitas pekerjaan jauh lebih padat dan disiplin, di akhir pekan di kota-kota besar Jepang, biasanya tempat-tempat hiburan malam justru bertambah padat. Sebab para karyawan yang telah habis waktunya di kantor, menggunakan waktu liburnya di bar, karaoke, club malam, bioskop dan tempat hiburan lainnya.

Sebagian besar, bahkan tidak ada yang mengingkari, betapa sibuknya para pekerja seperti Edo. Meski dengan pendapatan yang melebih UMR, waktu mereka kebanyakan habis dalam pekerjaan. Sehingga membutuhkan waktu istirahat untuk memperoleh kembali kesegaran bekerja selama satu pekan kemudian.

Kepadatan aktivitas demikian, membuat sebagian pekerja seperti Edo terpengaruh oleh kegiatan-kegiatan yang buruk. Aktivitas clubbing, karaokean, diskotik dan lain-lain terkadang menjadi pilihan. Sebab jiwa mereka butuh isirahat dari letih mengejar target-target harian.

Dalam siklus tubuh manusia, memang demikian adanya. Bahwa ada masa dimana raga kita membutuhkan waktu untuk berdiam. Mengumpulkan energi dan sejenak beristirahat, agar bisa kembali fresh dan bersemangat memulai pekerjaan. Waktu malam Allah ciptakan sebagai libaasa, pakaian yang menutupi raga kita. Dan Allah jadikan waktu siang sebagai ma’aasya, waktu untuk mencari penghidupan.

Demikian pula siklus pekanan, bulanan hingga tahunan. Ada pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam jangka sehari. Ada siklus pekanan, bulanan, dan ada yang bisa diselesaikan dalam jangka waktu satu tahun. Dari sinilah kita melihat bagaimana Allah menciptakan siklus kehidupan. …Dan masa itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)… (QS. Ali Imran: 140).

Demikian halnya jiwa, kita merasakan siklus dimana semangat dan keimanan itu menurun, hingga butuh untuk di-recharge. Agar ia kembali on, dan bisa merasakan vitalitas bekerja dan berpenghidupan. Jiwa kita terkadang letih dan lelah, saat demikian masalah silih berganti dalam hidup kita. Hingga ada masanya, kita butuh untuk diingatkan kembali. Kita butuh untuk mendengarkan curahan nasihat dari orang-orang berilmu, agar tidak bergeser orientasi hidup kita dari jalan yang benar.

Kita membutuhkan bimbingan rohani, dimana ia merupakan nutrisi bagi jiwa. Nutrisi yang memperkaya sikap dan mematangkan jatidiri menjadi lebih baik. Bahwa hidup di dunia bukanlah satu-satunya tujuan yang harus diperoleh. Agar jiwa kita sadar, bahwa mencari ilmu juga merupakan kewajiban hingga meninggal. Sama halnya mencari rezki dan penghasilan untuk melanjutkan kehidupan, dan melahirkan generasi.

Lalu apa yang terjadi dengan Edo? Terakhir kali dihubungi oleh seorang temannya saat berdakwah di kampus, ia telah terjerat dengan berbagai macam aktivitas-aktvitas bersama teman sekantornya. “Kalau di Jakarta, hubungan dengan teman sekantor, laki-laki dan perempuan, pacaran hingga hubungan yang lebih dari itu, itu sudah biasa”, kurang lebih itu ungkapannya. Edo telah masuk dalam dunia kerja, yang menjanjikan dunianya, namun bisa menjadi ancaman yang cukup berat bagi imannya. Sebab, tidak sedikit fitnah teman sekantor, pengaruh sahabat untuk mengonsumsi alkohol, bermain perempuan, hingga Narkotika, membayangi para pekerja seperti Edo. Iman menjadi taruhan!.

Bahkan kini, Edo dikabarkan sudah sangat sulit untuk menghindari hubungannya dengan perempuan. Hubungan intim. Ya, hubungan intim tanpa ikatan pernikahan, alias berzina. Naudzu billah… “Saya selama bergaul disini, rokok dan bir semuanya bisa saya tinggalkan. Tapi saya susah sekali meninggalkan hubungan dengan perempuan. Terus terang saya tidak bisa sama sekali,” aku Edo kepada sahabatnya.

Maksiat seperti itu mungkin telah berulang kali ia lakukan. Hingga ia pun tidak bisa meninggalkannya. Maksiat sudah mendarah-daging, apalagi ditambah dengan lingkungan kerja, bersama dengan orang-orang yang membiarkan, menganggap biasa, mendukung bahkan bersama mengerjakan hal-hal seperti itu. Tentu, itu akan semakin mempersulit orang seperti Edo untuk keluar dari jerat maksiat, sebagaimana yang diungkapkannya.

Karena itu, dalam bekerja, di mana pun itu, jiwa kita membutuhkan bimbingan ilmu yang menumbuhkan iman. Agar konsistensi kita dalam beragama bisa terus terjaga. Tidak mengorbankan agama demi pekerjaan. Mengorbankan agama demi penghasilan. Tetapi kita berani mengorbankan pekerjan dan penghasilan demi komitmen kita dalam beragama.

Untuk itulah diperlukan sarana yang mendukung keterjagaan iman dan keberlangsungan menuntut ilmu. Dan salah satu sarana yang paling mendukung adalah tarbiyah. Tarbiyah adalah pertemuan pekanan dalam durasi satu hingga dua jam yang dibimbing oleh seorang mentor, murabbi dan pembina. Seorang ustadz, alim ataupun kakak senior, yang terjaga agamanya untuk mengingatkan kita dalam bekerja. Agar kita bisa menjaga batas-batas Allah dalam segala kondisi. Sekalipun keadaan itu demikian sulit, minimal kita mengakui kesalahan itu, dan beristighfar kepada Allah setelahnya. Bukan larut, pasrah atau malah membenarkan kesalahan-kesalahan demikian dengan dalih, “Banyak orang yang lakukan, kalau itu bikin masuk neraka, di nereka saya tidak akan sendirian..” wal iyyadzu billah.

Tarbiyah akan menjadi sebuah sarana memperbaiki jiwa. Merefleksi kembali tujuan-tujuan kita. Menyalakan cahaya iman dan menguatkan tekad dan azzam dalam ilmu dan agama. Sebab kita adalah manusia yang sering lupa. Karena itu, kita membutuhkan pengingat. Sebagaimana tubuh yang butuh nutrisi. Jiwa pun membutuhkan nutrisi. Dan halaqah tarbiyah-lah yang akan menjadi sarana nutrisi bagi jiwa itu. Wallohu a’lam bi ash-showab.[]

*Ketua Dept. Kajian Strategis PP LIDMI 2015-2017

http://laskarpenaalqolam.blogspot.co.id/2016/02/sinopsis-buku-api-tarbiyah.html


Selengkapnya ...

Kamis, 04 Februari 2016

Dakwah, Semangat Yang Tak Pernah Padam


SEMANGAT dan gairah adalah perasaan yang sangat kuat yang dialami oleh setiap orang. Semangat, dalam pengertian umum, digunakan untuk mengungkapkan minat yang menggebu dan pengorbanan untuk meraih tujuan, dan kegigihan dalam mewujudkannya. Semangat harus ada dalam diri setiap orang, ia energi yang menggerakkan hati, pikiran dan perasaan untuk melakukan sesuatu.

Namun, semangat sebagian besar orang tidak bertahan seumur hidup karena tidak punya landasan yang kuat. Seringkali tidak ada tujuan khusus yang akan mempertahankan semangat dalam semua keadaan dan memberikan kekuatan kepada mereka. Satu-satunya orang yang tidak pernah kehilangan semangat di hati mereka sepanjang hidup adalah orang-orang beriman, karena sumber semangat mereka ialah keimanan kepada Allah dan tujuan utama mereka ialah memperoleh keridhaan  Allah, rahmat-Nya dan surga-Nya.

Sebagai seorang muslim, terlebih lagi bagi seorang aktivis dakwah selayaknya kita harus memelihara gairah dan semangat yang ada dalam dada untuk menjalani setiap episode kehidupan. Sunnatullah kehidupan yang kita jalani tidak selamanya bertabur kesenangan, adakalanya rasa sedih, kecewa, derita dan air mata akan menghiasi hari hari kita. Karenanya, semangat untuk tetap hidup, berjuang dan memberikan yang terbaik bagi hidup itu sendiri harus senantiasa terjaga dalam diri-diri kita. Semangatlah yang akan membuat kita tersenyum menghadapi duka, gairahlah yang akan membuat kita bangkit ditengah keterpurukan, dan semangat itu pulalah yang akan membuat bulir-bulir air mata kepedihan kita menjadi kilau mutiara yang menyejukkan.
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.  (Terjemahan QS. Al-Baqarah: 155)

Ayat diatas sangat tepat untuk dijadikan bahan tarbiyah bagi mereka yang diserahkan amanah dakwah Ilallah untuk memelihara solidaritas dan keteguhan mereka, bahwa kemenangan itu dekat dan identik dengan perjuangan, cobaan dan ujian. Hanya mereka yang solid yang berhak meraih “kemenangan yang hakiki”. Seperti yang tersirat dari jawaban Allah atas pertanyaan dan keluhan Rasul dan para sahabatnya;
“Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Terjemahan QS. Al-Baqarah: 214)

Ansharullah, para penolong agama Allah. Para mujahid dan mujahidah yang padanya dititipkan risalah perjuangan para nabi dan rasul hendaknya memiliki semangat yang tidak pernah padam. Seseorang yang kemudian telah memilih jalan dakwah sebagai pilihan hendaknya memiliki pribadi unggul. Pribadi kuat dan tegar yang dengannya dia akan mengarungi jalan panjang perjuangan yang penuh dengan lika liku dan kerikil kerikil tajam yang menghadang. pertolongan Allah akan diberikan kepada mereka yang konsisten hingga akhir hayat, yang tetap mantap meskipun dalam penderitaan dan kesengsaraan, tetap teguh dan tegar ketika menghadapi goncangan, dan pada puncaknya mereka yakin bahwa tidak ada pertolongan melainkan pertolongan Allah.

Jalan dakwah memang tidak mudah. Al-Quran mengisahkan dengan begitu gamblang romantisme perjuangan yang dilakukan nabi dan rasul dalam menegakkan kalimat tauhid. Pun dengan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, menceritakan pada kita kisah heroik yang telah dilakukan para sahabat dalam menegakkan agama ini.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memilih jalan sukar ini, beliau lebih memilih untuk berjihad, berkorban dan bersabar di jalan ini. Jika Rasulullah menginginkan, bisa saja beliau berdoa meminta kepada Allah untuk membinasakan kaum Qurais dahulunya. Tapi tidak, beliau lebih memilih jalan ini. Beliau ingin mengajarkan kepada umatnya untuk tidak cepat menyerah. Beliau memilih jalan yang sukar dan penuh dengan ujian dan cobaan, agar menjadi teladan bagi umatnya bahwa kemenangan itu harus dengan perjuangan, pengorbanan dan menempuh jalan yang sukar. Beliau ingin kemenangan yang didapatkan dari perjuangan ini menjadi kemenangan abadi.

Sementara kemenangan yang didapatkan dengan mudah, akan mudah pula untuk runtuh dan tercabik-cabik. Dakwah yang ‘mudah” hanya untuk mereka yang berjiwa kerdil, yang berkepribadian lemah yang dengan mudah ditumbangkan oleh hujan gerimis dan tiupan angin. Hanya mereka yang berjiwa kuatlah yang akan tahan dengan beratnya ujian, hanya orang-orang yang bersemangatlah yang akan terus berjalan, hanya jiwa-jiwa yang bermental bajalah yang akan tetap berdiri dan menjadi penyokong-penyokong perjuangan untuk menegakkan kejayaan islam.

Dalam sebuah hadis dikatakan “Seorang mukmin yang kuat lebih dicintai Allah ketimbang mukmin yang lemah dan pada keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah terhadap hal-hal yang dapat memberi manfaat kepadamu, dan mintalah pertolongan kepada Allah, janganlah kamu lemah…..(HR.Muslim). Hadits ini mengisyaratkan kepada kita untuk menjadi mukmin yang kuat. Mukmin yang cerdas, yang mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian. Yang yakin bahwa pertolongan Allah sangat dekat dan pasti seperti dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al Quran.
"Dan sungguh Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Terjemahan QS. al-Hajj: 40).
Di dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa semua nabi telah menunjukkan komitmen yang sama dalam menyampaikan risalah dari Tuhan mereka. Kesukaran-kesukaran yang mereka hadapi tidak pernah mematahkan semangat mereka. Bahkan sebaliknya, mereka senantiasa melakukan berbagai upaya untuk menunjukkan jalan yang benar kepada umat mereka.

Upaya-upaya penuh semangat yang telah dilakukan oleh Nabi Nuh 'alaihi salam telah digambarkan sebagai berikut:
“Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah berdakwah kepada kaumku malam dan siang, namun dakwah itu hanya menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku berdakwah kepada mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. Kemudian sesungguhnya aku telah berdakwah kepada mereka (untuk beriman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (berdakwah kepada) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun’.” (Terjemahan QS Nuh: 5-10).
Demikianlah sunnatullah dalam dakwah yang dipaparkan oleh ayat-ayatNya yang secara aplikatif berlaku dan terjadi dalam sejarah perjuangan dakwah para Nabi, Rasul serta Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya. Namun seringkali penyakit isti’jal mengikis sendi solidaritas dan ketegaran dakwah kita, seperti yang pernah diingatkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada sahabat Khabbab bin Al-Arat, “Namun kalian seringkali isti’jal (tergesa-gesa, tidak sabar). Padahal sebelum kalian ada yang harus menerima ujian yang sangat berat. Diantara mereka ada yang tegar meskipun digergaji dari ujung kepala hingga telapak kakinya. Diantara mereka juga ada yang tetap teguh saat harus disisir dengan sisir besi antara tulang dan dagingnya. Mereka tetap tidak bergeming dari agama Allah. Dan memang berdasarkan sunnatullah bahwa ujian terberat dan terbesar akan dihadapi oleh para Nabi, kemudian para orang-orang sholeh dan mereka yang bersikap seperti mereka. Seseorang akan diuji sesuai dengan komitmen agamanya. Jika besar keteguhannya dalam berpegang dengan ajaran agama ini, maka ia akan menerima ujian yang lebih”. (HR. Al-Hakim)

Saatnya kita menguji soliditas dan keteguhan kita dalam dakwah ini dengan barometer ujian dan cobaan yang menghadang kita. Kita seharusnya berbahagia bahwa peluang untuk meraih keutamaan Allah yang terbesar terbentang luas di depan mata kita, dengan tetap bersikap teguh, girah, komit dan tsiqoh dengan kebenaran dakwah ini dan pertolongan Allah. Mudah-mudahan “kemenangan hakiki” memang layak dianugerahkan Allah untuk kita karena kita adalah orang-orang yang “kuat”. Amin. [trie].

Repost dari: http://wahdahmakassar.org/
Selengkapnya ...

Rabu, 20 Januari 2016

Ukhuwah, Simbol Kekuatan Ummat



Oleh: Zulkifli Tri Darmawan

Islam merupakan agama yang dengannya berbagai perbedaan dapat disatukan dalam sebuah bingkai ukhuwah. Dalam perjalanannya, Islam memegang peranan penting dalam mengawal kesatuan ummat dalam masa-masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Para santri yang tergabung dalam laskar perjuangan pembebasan negara ini telah membuktikan bahwasanya perjuangan yang dilatarbelakangi oleh rasa persaudaraan dan persatuan akan mampu mengusir penjajahan yang telah mengangkangi bumi pertiwi selama beberapa abad.

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan kita akan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan ummat ini di dalam Al-Qur’an (yang artinya),

”Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia...” (Terjemahan QS. Ali Imran: 112).

Ayat tersebut menjelaskan kepada kita bahwa kehinaan dan kelemahan yang dialami ummat-ummat terdahulu diantara faktor penyebabnya adalah terpecah belahnya mereka dengan beragam budaya jahiliyah dimasanya. Hingga pada akhirnya Islam dengan balutan cinta dan kasih yang berpadu dengan nilai-nilai moralis, membuat setiap manusia semakin terpesona akan keindahan ajarannya dan merekatkan mereka dalam persaudaraan yang hakiki, ukhuwah islamiyah.

Islam telah membuktikan bahwa dengan sentuhan cinta dan kasih perbedaan strata bisa menyatu dalam persaudaraan yang kuat. Inilah kisah dimana seorang yang berasal dari keluarga dan kabilah yang terhormat dimasanya bisa menjadi saudara karib atas seorang yang dalam kesehariannya hanya sebatas budak. Beliau bernama Abu Hudzaifah bin Utbah radhiyallahu 'anhu yang dipersaudarakan oleh Islam dengan Salim radhiyallahu 'anhu. Hingga pada akhirnya keduanya pun hidup dan meninggal secara bersamaan saat terjadi pertempuran di Yamamah, dimana dalam pertempuran ini kaum muslimin yang dipimpin oleh Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu memerangi Musailamah Al Kadzzab yang mengangkat dirinya sebagai sebagai Nabi beserta kaum Bani Hanifah yang mendukungnya.

Hingga pada suatu momen tatkala Salim yang memegang panji perang terkena anak panah begitu pun dengan saudaranya Abu Hudzaifah yang sama-sama terkena anak panah gugur sebagai syuhadah demi meninggikan kalimat Allah Ta'ala di atas kesombongan dari seorang manusia zhalim.

Di zaman jahiliyah, suku Khazraj dan suku Auz merupakan suku besar yang menempati kota Medinah bermusuhan sejak lama. Mereka berperang kurang lebih 120 tahun lamanya lantaran persoalan dendam lama yang tak kunjung ada habisnya hingga Islam datang mempersaudarakan keduanya. Dengan masuknya mereka kedalam Islam, maka darah, harta, serta kehormatan mereka menjadi tanggungan keduanya. Tidaklah Islam datang kesuatu negeri kecuali dengan datangnya maslahat serta kebaikan demi kebaikan akan terpancar di negeri tersebut sekalipun dahulunya negeri itu tandus akan keimanan kepada Allah Subahanahu Wa Ta'ala.

Dalam piagam Madinah yang dibuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantara bunyi piagam tersebut adalah,” Bismillahirrahmanirrahim. Inilah piagam dari Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam antara orang-orang mukmin, orang-orang muslim, dari kalangan Quraisy (Muhajirin) dan Yastrib (Anshar) dan orang-orang yang mengikuti dan menyertai mereka dan yang berjihad bersama mereka, sesungguhnya mereka itu ummat yang satu, yang berbeda dari yang lainnya”.

Islam datang untuk menyatukan umat manusia di atas iman dan menghapus segala bentuk perpecahan ala jahiliyah.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Sesungguhnya Allah meridhai kamu dalam tiga perkara, meridhai kamu menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun; kamu berpegang teguh pada tali (agama) Allah dan tidak bercerai-berai; dan kamu mengikhlaskan kecintaanmu terhadap orang yang diberi kekuasaan oleh Allah atau urusanmu. Dia membencimu dalam tiga perkara, yaitu cerita dari mulut ke mulut; terlalu banyak meminta; dan menyia-nyiakan harta”. (HR. Muslim).
Dengan dekap ukhuwah yang kita rajut secara bersama-sama maka tentunya ridha Allah akan selalu menaungi kita semua. Apabila masalah ini sudah tidak lagi diperhatikan oleh kaum muslimin maka kelemahan, keterpurukan dan kehancuran akan senantiasa mengintai kita, na’udzubillah.

Hilangnya kekuatan ummat
Salah satu penyebab kelemahan ummat Islam pada masa kini disebabkan karena mereka saling berpecah belah, membuat beragam macam sekte dan golongan-golongannya dalam agama, sampai kepada permusuhan yang berujung kehancuran. Allah Azza Wa Jalla berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia (yang artinya),
”Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Terjemahan QS. Al-Anfal: 46).

Saat ini ummat Islam yang jumlahnya begitu besar, bahkan dalam sebuah data ilmiah dikatakan bahwa jumlah kaum muslimin mencapai 1,6 milyar, karena lemahnya persatuan diantara mereka menyebabkan tidak berdaya layaknya tubuh yang persendiannya putus dan bercerai berai. 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Seorang mukmin bagi mukmin yang lain itu laksana bangunan yang masing-masing bagiannya akan saling menguatkan satu sama lain” (HR Ahmad, at-Tirmidzi, dan an-Nasa'i).

Mendapat adzab yang besar
“Janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” (Terjemahan QS Ali Imran: 105).
Pada saat perang Uhud, kaum muslimin dengan pasukan pemanahnya yang begitu rapi pertahannya justru rapuh disaat sebagian besar dari pasukan pemanah  meninggalkan pos-pos mereka demi mengejar kenikmatan dunia berupa ghanimah atau harta rampasan perang. Kaum muslimin pun menderita kekalahan dan kerugian yang tidak sedikit pada saat itu.

Itulah contoh akibat buruk jika perpecahan menggerogoti kaum muslimin. Tiada lagi yang bisa kita harapkan, jika seyogyanya tubuh ini kuat sekalipun tak akan mampu berbuat apa-apa tanpa adanya bantuan, dorongan, serta motivasi dari para saudara-saudara seiman kita.

Ba’da karunia dan rahmat dari Allah Ta’ala, tidaklah negeri tercinta ini merdeka dari belenggu penjajahan baik Belanda maupun Jepang, jika sekiranya tidak terdapat kesatuan diantara para pengusung-pengusung kemerdekaan.

Apabila kita menginginkan perubahan itu terjadi, maka mulailah dari sekarang bangun kekerabatan, saling cinta mencintai, menghindari prasangka yang tidak-tidak kepada saudara sendiri. Perubahan akan terjadi apabila diantara kita terjalin hubungan yang harmonis dalam balutan ukhuwah yang erat di atas akidah tauhid  yang kuat.

Mungkinkah hal tersebut dapat terjadi, toh menjaga kerukunan keluarga sendiri masih sangat sulit untuk kita lakukan apalagi menjaga kesatuan ummat. Kaum muslimin yang kami cintai, ingatlah bahwa tiada pisau yang tajam tanpa diasah, tiada orang yang pandai tanpa belajar. Semuanya bisa dilakukan dengan adanya keinginan yang kuat dari masing-masing pribadi kita.

Mari mendalami agama ini dengan baik, berpegang teguh pada al-Qur’an dan sunnah, mari senantiasa bertolong menolong dalam kebaikan sebagaimana perintah Allah Ta’ala  (yang artinya),
"Saling tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan janganlah tolong menolong dalam keburukan dan dosa” (Terjemahan QS. Al Maaidah: 2).
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan taufiknya kepada kita dalam berislam dan mengaruniakan nikmat indahnay ukhuwah di atas keimanan dan tauhid. Wallahu Ta'ala a'lam bish shawaab. []
Selengkapnya ...

Rabu, 13 Januari 2016

Catatan Kader Wahdah Islamiyah: Terrorist? Are We?



Assalamu’alaikum, everyone!

Nama saya Nur Rissa Maharany, seorang perempuan kelahiran Baubau, suatu kota di Sulawesi Tenggara, tepatnya di Pulau Buton. Saya seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo Kendari, sebenarnya sudah lulus S1 dan dapat gelar sarjana bulan lalu tetapi tetap saja bagi mahasiswa kedokteran, gelar S.Ked di belakang nama itu tidak merubah status, kami masih seorang mahasiswa yang harus bayar SPP lagi, masih harus belajar terus, masih ujian hampir tiap bulan, and our goal is to get tittle “dr” in front of our name. Ups, sorry, tulisan ini bukan dibuat untuk memperkenalkan diri saya –memang saya siapa?? Hehe. Saya ingin menulis suatu opini, tanggapan, pendapat, tentang “hot issue” yang ramai on my timeline facebook ataupun twitter, tentang tayangan di satu channel TV Nasional kita, sebut merek saja ya, Metro TV, yang menampilkan beberapa daftar jaringan teroris katanya dan secara mengejutkan “Wahdah Islamiyah” di bawah pimpinan Ustadz Zaitun Rasmin termasuk di dalamnya. Tulisan ini mungkin bukan suatu tulisan ilmiah –karena saya memang bukan seorang cendikiawan muslim. Jangan harap tulisan ini akan memuat sejarah berdirinya Wahdah Islamiyah, metode dakwahnya, bantahan ilmiah dan sebagainya, tidak akan. Tulisan ini murni pendapat dan pengalaman-pengalaman saya sendiri saja.

Well, dengan bangga, saya katakan bahwa saya adalah salah satu dari, emm, mungkin puluhan ribu atau ratusan ribu Kader Wahdah Islamiyah. Sama bangganya ketika saya mengatakan bahwa saya adalah anak Ayah saya, sama bangganya dengan saat saya bilang bahwa saya adalah seorang kelahiran Baubau, my lovely hometown, yang punya benteng terluas di dunia, yang punya banyak wisata pantai (err, mungkin perlu tulisan khusus untuk menjelaskan Baubau, hehe). Dan sama bangganya dengan ketika saya memperkenalkan diri sebagai seorang akhawat/muslimah berjilbab besar alias lebar, serta sama bangganya dengan saat saya berikrar bahwa “I am a Moeslim, and I’m proud”. Mungkin sebagian dari kalian bakalan bilang, “huu, tuh kan, fanatik kelompok, ekstrim!”. Yah, terserah, tapi satu hal yang ingin saya sampaikan, semenjak di awal saya tarbiyah/ngaji di Wahdah Islamiyah, murabbiyah/ustadzah saya sudah terlebih dahulu menanamkan di kepala kami, bahwa lembaga ini hanya dijadikan sebagai “kapal” untuk berjuang bersama-sama di dalamnya untuk menuju tujuan yang sama yaitu meraih surga. Namun, bukan berarti yang masuk surga cuma anggota Wahdah Islamiyah saja, bukan berarti orang yang tidak masuk di Wahdah adalah penghuni neraka, juga tidak benar bahwa kalau masuk Wahdah Islamiyah pasti masuk surga, haha, sama sekali tidak ada jaminan. Dengan bangga (lagi), saya mengatakan bahwa kesetiaan kami bukan pada orang atau kelompok, kesetiaan saya bukan pada Murabbiyah saya, bukan pada Ketua Lembaga saya, bukan pada Ustadz Zaitun Rasmin, bukan kepada Ormas Wahdah Islamiyah, melainkan kepada Allah dan Rasul-Nya. Selama kelompok/lembaga ini menjalankan prinsipnya alias syariat Islam, tidak mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, maka It’s Okay. Tapi andaikata lembaga ini menyimpang dari Allah dan Rasul-Nya, jika saja misalnya Lembaga ini meng-halal-kan TERORISME, dan andaikan di kelompok-kelompok tarbiyah yang diajarkan adalah ‘Cara Membuat BOM’, atau mungkin ormas ini mau berubah jadi partai politik misalnya, hehe, maka dengan TEGAS dan TANPA RAGU kita akan “berpindah kapal”, kita akan berhenti menuntut ilmu di Wahdah Islamiyah. Ini baru dibahas tentang ISU FANATISME KELOMPOK, ini belum mengerucut soal ISU TERORISME yang akhir-akhir ini sangat seksi untuk di bahas di media-media (semenjak peristiwa WTC dan Bom Bali, serta kembali hot setelah munculnya ISIS dan paling terakhir ini Teror di Paris). Kembali saya tegaskan bahwa kami tidak pernah di ajarkan untuk fanatik pada kelompok/organisasi tertentu, tetapi kami setia pada agama kami Islam, setia pada Allah dan Rasul-Nya.

Mungkin seperti kader Wahdah Islamiyah lainnya, saya berada di lembaga ini bukan karena diajak dengan kalimat “Ayok, masuk Wahdah Islamiyah, yuk!”. Tentu bukan. Kebanyakan dari kami diajak dengan kalimat “Belajar ngaji, yuk!”, “Mengenal Islam, yuk!”, “Perbaiki bacaan Al-Qur’an, yuk!”. Satu-dua mau dengan sekali ajakan, banyak juga yang baru mau setelah ratusan kali ajakan, dan sangat banyak yang tak pernah mau bahkan setelah ribuan kali ajakan (Miris, ya? Negara mayoritas Muslim tapi susah diajak belajar ngaji). Tapi tidak sedikit juga yang datang karena memang keinginan diri sendiri untuk belajar Islam, mengenal agama sendiri. Iya, keinginan sendiri, mencari sendiri, bukan diajak orang lain. Dan memang, ketika kami memulai aktivitas tarbiyah/ngaji, yang kami dapatkan adalah ilmu agama, perbaikan tajwid dan bacaan Al-Qur’an, mengenal agama kita sendiri, bukannya bagaimana cara memperkaya ormas dan sejenisnya, apalagi melawan pemerintah, ataupun cara membuat BOM. Haha.

Saya bahkan saat memulai tarbiyah/ngaji tidak tahu bahwa saya sedang berada di suatu lembaga ataupun ormas Islam (maklum, waktu itu masih ‘polos’, tidak mengerti soal organisasi dan sebagainya, hehe), karena memang fokus kegiatan di tarbiyah adalah belajar ilmu agama tiap pekan dan perbaikan bacaan Al-Qur’an bersama teman-teman saya dan diajar oleh seorang murabbiyah/ustadzah. Saya mulai tarbiyah waktu itu sekitar tahun 2012, malah aktif dan rutin nanti di sekitar awal tahun 2013. Saya baru tahu nama “Wahdah Islamiyah” justru setelah berbulan-bulan tarbiyah, itupun karena setelah diberi undangan untuk menghadiri acara-acara seperti ta’lim, tarbiyah gabungan, tabligh akbar, sampai acara besar seperti Dialog dan Seminar Islami yang diselenggarakan oleh ormas Wahdah Islamiyah. Nah, ini juga membuktikan bahwa Wahdah Islamiyah itu bukan ormas Islam yang rahasia, yang menutup diri, sama sekali tidak. Wahdah Islamiyah sangat sering membuat event-event besar seperti Dialog dan Seminar Islami ataupun Tabligh Akbar yang berskala besar yang terbuka untuk umum dan dihadiri oleh ribuan orang, bahkan mengundang pemerintah ataupun Kepala Daerah. Nanti akan kita bahas event besar yang saya maksud ini, sabarr.
grin emotikon

Nah, setelah mengetahui nama “Wahdah Islamiyah” jadilah saya kepo dan ingin tahu, sejarah berdirinya, ketuanya, visi dan misinya, dan sebagainya. Tetapi, mungkin banyak yang sudah tahu dan mengalaminya sendiri, jika kita masukkan keyword “Wahdah Islamiyah” pada mbah kiyai Google, yang muncul adalah eng ing eng.. terpampang judul besar KESESATAN WAHDAH ISLAMIYAH, bahkan berjilid-jilid mulai dari jilid 1 sampai entah jilid berapa. Sempat kaget juga ketika baca judulnya, tapi (tumben) otak kritis saya jalan waktu itu, tidak lantas menerima. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala waktu itu adalah “masa sih?” “alasannya apa?”. Jadilah saya membaca tulisan itu tanpa melewatkannya, tapi yang ada setelah membaca adalah rasa heran, karena selama tarbiyah dan berada cukup lama menuntut ilmu di Wahdah Islamiyah saya tidak pernah menemukan apa yang dituduhkan pada tulisan tersebut. Sejauh ini saya juga tidak pernah menemukan ada kader atau muslimah-muslimah yang berhenti tarbiyah setelah membaca artikel itu (ini sepengetahuan saya ya). Iya, karena kita sadar, kita tidak pernah menemukan seperti apa yang dituduhkan, bukan berarti si penulis itu bohong ya, yah mungkin bisa saja yang dia temui adalah “oknum” atau miss-interpretation alias keliru menginterpretasikan saja. Karena penulis tulisan itu adalah saudara kita sesama muslim juga. Yang disayangkan adalah orang-orang luar, yang tidak tahu apa-apa tentang Wahdah dan kemudian menggunakannya untuk men-judge seenaknya, bilang ,”Tuh, ormas kamu sesat! Banyak artikelnya di internet!” Jadi, karena masih tidak percaya dengan tulisan itu, saya berusaha mencari tentang tanggapan pihak Wahdah Islamiyah tentang tulisan itu, yah memang seharusnya kita menilai dari dua sisi. Dan kemudian saya dapatkan tulisan yang merupakan balasan dari tuduhan itu, judulnya adalah PEMBELAAN TERHADAP KESESATAN WAHDAH ISLAMIYAH yang juga terdiri dari beberapa jilid dan ditulis oleh para asatidzah Wahdah Islamiyah. Silahkan di-search sendiri ya, dan kalian akan menemukan betapa bersahaja-nya tulisan ustadz yang menulis pembelaan tersebut. Eh, maaf, salah fokus.
grin emotikon

Kalau soal ISU TERORISME, RADIKAL, dan sebagainya, ini jelas fitnah ya. Bahkan untuk membangkang dengan pemerintah tidak diperbolehkan, apalagi buat BOM? Bunuh diri dengan alasan apapun itu tidak boleh. Apalagi membunuh orang dalam jumlah yang massif? Ataukah ciri teroris dan radikal itu adalah celana cingkrang dan jenggot bagi laki-laki ataupun jilbab besar dan bercadar bagi perempuan? Jadi kalau kita pakai jilbab besar dengan warna gelap lantas kita adalah golongan ekstrim? Dituduh ekstrim oleh orang lain saja tidak enak, apalagi kalau yang mengatakan itu adalah orang terdekat. (Hiks, curhat nih gue, haha)
smile emotikon
Saya ingat, setahun yang lalu kata salah seorang kakak yang juga kader Wahdah, “Hari ini mungkin kita masih diuji dengan masalah internal kita, tapi bisa jadi esok lusa kita akan diserang dari eksternal, dari orang-orang Syiah, orang-orang Liberal dan musuh-musuh Islam lainnya”. Saya sangat setuju, apalagi dengan program yang dicanangkan Wahdah Islamiyah sejak 2015 lalu yaitu GETARNUS (Gema Tarbiyah Al Qur’an Nusantara) yang mempunyai misi untuk menggetarkan Nusantara dengan Tarbiyah dan Al Qur’an. Berusaha mengembalikan Kejayaan Umat Islam dengan memberikan solusi Abadi yaitu kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Kalian bisa search sendiri beritanya di google, Launching GETARNUS di bulan Januari 2015 dihadiri oleh ribuan orang, kemudian Majelis Akbar Relawan Qur’an (MARQ) yang diselenggarakan oleh Tim Getarnus Wahdah Islamiyah pada bulan Mei di Makassar dihadiri lebih dari 5000 orang MUSLIM menghadirkan walikota Makassar, kemudian MARQ di kota kami Kendari bulan Juni lalu dihadiri sekitar 3000 orang MUSLIM dan MUSLIMAH, belum lagi di kota/kabupaten lainnya di Indonesia, silahkan search di google. Musuh Islam mana yang tidak gentar dengan program GETARNUS ini? Kelompok anti-islam mana yang tidak geram dan marah dengan berbondong-bondonya muslim untuk ngaji dan tarbiyah? Maka tak heran lagi, jika kita dibombardir dengan berbagai fitnah dan tuduhan dari para musuh-musuh Islam!

Sebenarnya tulisan ini ingin saya selesaikan sampai di sini saja. Tetapi kalimat-kalimat setelah ini sangat sayang untuk tidak saya bagikan.

Jujur, berada di ormas ini, mengajarkan saya tentang optimisme dan mujahadah (semangat juang) yang tinggi, meski sampai saat ini saya MASIH TERUS TERSEOK-SEOK dan MERANGKAK untuk menjadi Muslimah yang optimis dan punya semangat juang. Mengajarkan optimisme soal apa? Soal kejayaan Islam, bahwa kembalinya Peradaban pada Ummat Islam itu sudah semakin dekat. Dengan cara apa? Dengan cara mengajak semua orang untuk tarbiyah, sederhananya, mengenal dan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Semudah itu? Iya, kalau banyak dokter muslim atau mahasiswa muslim kedokteran ikut tarbiyah, maka dengan mudah kita mendirikan Rumah Sakit yang Syar’i. Kalau banyak orang yang bergelut di bidang ekonomi ataupun mahasiswa ekonomi ikut tarbiyah maka dengan mudah kita akan menegakkan ekonomi bersistem syariah. Begitu pula soal hukum dan lain sebagainya. Karena setiap muslim yang trabiyah paham, bahwa tidak ada sistem yang paling sempurna selain berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah. Dengan begitu, Khilafah Islamiyah bukan suatu mimpi di siang bolong. Wahdah Islamiyah memang bukan ormas yang selalu menggembar-gemborkan Khilafah, tapi ormas ini tahu harus memperjuangkan tegaknya Khilafah dengan cara apa.

Wokeh, maaf kalau tulisan ini tidak bisa membuktikan secara ilmiah bahwa Wahdah Islamiyah bukan jaringan teroris. Ini hanya berdasarkan pengalaman dan pendapat pribadi. Sorry juga kalau ada yang salah fokus, ada jokes alias becanda-becandanya di sana-sini. Maaf juga karena ada curhat colongan. Hehe. Anyway, thank you for reading this.

-Nur Rissa Maharany-
Selengkapnya ...

Rabu, 18 November 2015

Mengukur Tingkat Persaudaraan Setiap Muslim



Hati ini merasakan kesedihan yang sangat dalam
Diri ini memberontak
Tangan ini terjulurkan
Dan kaki ingin berlari
Menolong saudara seiman kita
Yang dibantai, dihinakan, diusir, disiksa dari negeri mereka sendiri
Hanya karena mereka berkata: Aku Beriman hanya kepada Allah.
Merekalah saudara seiman kita kaum muslimin di Suriah dan Palestina.
Hal ini seharusnya ada dalam jiwa setiap muslim yang mengikrarkan kalimat tauhid, karena Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda dalam HR. Muslim:
عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan seorang muslim dengan muslim yang lainnya dalam cinta mencintai, saling mengasihi dan menyayangi ibarat satu tubuh, jika satu bagian tubuh merasakan sakit, maka tubuh yang lain pun merasakan sakit karena begadang dan demam”
Dalam riwayat Muslim juga disebutkan :
عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»
Mukmin yang satu dengan mukmin yang lain ibarat satu bangunan, saling menguatkan satu sama lain
Maka dengan hadits ini pula kita dapat mengetahui sejauh mana  tingkat keimanan kita kepada Allah, karena diantara bentuk keimanan itu adalah berbanding lurusnya  dengan tingkat kepedulian kita terhadap saudara muslim kita yang lain.
Apa yang kita ketahui saat ini dengan saudara kita di Suriah dan Palestina?
Dari mana kita mendapatkan informasi keadaaan-keadaaan mereka, dari media sekulerkah?
Ikhwani fiddin a’azzaniyallahu waiyyakum.
Sungguh saudara kita di Suriah, negeri para sahabat dan Palestina negeri para Nabi, tidaklah mereka dibunuh, tidaklah mereka di invasi kecuali karena mereka mengatakan:
“لآإله إلا الله”, dan ini sebagaimana apa yang Allah sebutkan dari kaum Nabi Musa yang dibunuh oleh Fir’aun karena kalimat tauhid:
وَقَالَ رَجُلٌ مُؤْمِنٌ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ إِيمَانَهُ أَتَقْتُلُونَ رَجُلًا أَنْ يَقُولَ رَبِّيَ اللَّهُ وَقَدْ جَاءَكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ مِنْ رَبِّكُمْ وَإِنْ يَكُ كَاذِبًا فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ وَإِنْ يَكُ صَادِقًا يُصِبْكُمْ بَعْضُ الَّذِي يَعِدُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ (28)
Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir´aun yang menyembunyikan imannya berkata: "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: "Tuhanku ialah Allah padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu". Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta”. QS. Ghafir: 28
Begitu agungnya kalimat ini  yang kata syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitab Al Ushul ats tsalatsah menjadi tujuan utama manusia dan jin diciptakan  dengan mengutip ayat dalam QS. Adz Dzariyat : 56.
Olehnya kematian mereka bukanlah kematian yang sia-sia, bahkan kematian mereka adalah kematian sebagai syuhada yang mempertahankan kemurnian tauhidnya dalam jiwa sanubari, dan mereka mengikuti langkah dari syahid dan syahidah pertama dalam Islam yakni Yasir dan Sumayyah Radhiyallahu anhuma.
Pada bagian ini pula kita menegaskan bahwa apa yang terjadi di Suriah  bukanlah karena kaum muslimin tidak taat kepada Pemerintah dalam urusan keduniaan, tetapi karena mereka dipaksa untuk mengganti aqidah mereka sebagai seorang muslim menjadi aqidah Syiah Nushairiyah. Negeri Syam atau Suriah secara khususnya adalah negeri Ahlussunnah dan tidaklah kedatangan mereka (Syiah Nushairiyah) ke negeri tersebut kecuali pada tahun 717 H dengan pembunuhan dan penindasan, kaum muslimin di Suriah dipaksa untuk sujud kepada selain Allah, mencela para sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم, mengingkari keotentikan al Qur’an dan aqidah-aqidah Syiah yang lainnya.
Tetapi Allah berkehendak lain, tirani kekuasaan yang dipertahan Rezim Bashar al Asad begitupun bapaknya sudah begitu rapuh, dan Allah menegaskan hal ini dalam al Qur’annya QS. Al Isra: 81
وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا (81)
Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap
Akibat kekalahan mereka dan posisi yang semakin tersudutkan, maka merekapun memanggil sekutunya untuk membunuh kaum muslimin, maka datanglah Iran negeri Syiah, Rusia dengan ideologi komunisnya, begitupun pasukan Syiah lainnya seperti Hizbullat dari Libanon, pasukan Muqtada as Sadr dan pasukan Imam Mahdi dari Syiah Iraq. Maka hal ini pula merupakan bukti Nubuwwah Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam haditsnya yang dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam sunan Abu Daud:
عَنْ ثَوْبَانَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا»، فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: «بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ»، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: «حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ»

Rasulullah صلى الله عليه وسلم  menegaskan dalam hadist tersebut bagaimana bersatunya ummat selain islam yang juga diantara mereka berbeda ideologi/ keyakinan, tetapi dalam memusuhi kaum muslimin mereka berada pada shaf yang sama,
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
120. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.QS. AL Baqarah: 120.
Allah Juga menyebutkan tentang hakikat ummat diluar Islam:
وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (217)
Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. Qs. Al-Baqarah: 217


Namun yang sangat disayangkan jika kondisi diatas, penindasan dan pengusiran kaum muslim dari negerinya sementara disisi yang lain kaum muslimin ditempat lain masih diselimuti dengan penyakit al Wahn (Cinta Dunia dan takut mati), maka seharunya kondisi ini membangunkan kita dari tidur panjang akan pertarungan yang abadi antara al Haq dan yang bathil, dan hal ini tak akan mungkin dipadamkan oleh siapapun.
Kejadian ini seharusnya membuat kita pula lebih selektif menerima berita ataupun informasi, sebagaimana apa yang Allah tegaskan dalam al qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (6)
6. Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. QS. Al Hujurat: 6
Karena tidaklah media-media sekuler di negeri ini kecuali mengabarkan bahwa invasi Rusia, Iran dan lainnya ke Suriah adalah sesuatu yang benar yakni untuk memerangi ISIS, tapi pertanyaannya muslim manakah yang ridha dengan perbuatan ISIS ini ?
Kenyataannyapun sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh al ‘Arifi dalam khutbahnya, bahwa sungguh keberadaaan ISIS justru merupakan fitnah bagi kaum muslimin di Iraq maupun Suriah, mereka membunuh begitu banyak kaum muslimin disana, begitu mudah mengkafirkan kaum muslimin yang tidak sejalan dengannya dan mengeksekusinya karena tuduhanya murtad tersebut.
Tidaklah Serangan Rusia dan lainnya ditanah para Sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم tersebut kecuali serangan yang membabi buta kepada seluruh kaum muslimin dengan Bom Birmil, Jet-jet Tempur terbaiknya untuk membunuh begitu banyak anak-anak, wanita, dan orang tua. Dimanakah hak manusia mereka yang terbunuh untuk hidup, apakah karena mereka muslim maka HAM itu tercabut dari diri mereka, manakah para pejuang HAM dunia, manakah lisan orang-orang Liberal yang selalu menggugat syariat Allah sekadar kalimat pembelaan pun tak keluar dari lisan-lisan mereka.
Manapula dengungan orang-orang Syiah yang senantiasa mendendangkan persatuan antara Sunni dan Syiah ketika minoritas, tetapi ketika mereka berada di negeri yang mereka banyak dan memerintah kecuali senantiasa membunuh Sunni (Muslim) sebagai bentuk ibadah kepada Allah, wallahul musta’an. Maka adakah diantara kita masih tersihir dengan Syiah ini, adakah diantara pemimpin negeri ini, mahasiswanya, wanita-wanitanya masih terhipnotis dengan sekian banyak bentuk taqiyah (kedustaan) yang merupakan bagian dari agama mereka?
Tetapi sungguh Syam adalah tanah yang berkah, kejadian ini membuat mereka begitu mudah mendapatkan gelar Syuhada yang keutaamanya adalah Syurga. Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (111)
111. Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”. QS. At Taubah: 111.

Tidaklah pula perlawanan mereka, termasuk lemparan batu-batu dari gerakan intifadhah muslim Palestina yang diserang oleh Israel melainkan kata Allah:
فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَاءً حَسَنًا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (17)
17. Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.QS. Al Anfal: 17
Maka diakhir tulisan ini, kami mengajak kepada Seluruh kaum muslimin untuk memperbanyak do’a kepada mereka muslimin di Suriah maupun Di Palestina, Semoga Allah senantiasa menolong mereka, menyatukan shaf-shaf mereka diatas al Haq.
Jadikan setiap waktu-waktu yang mustajab untuk mendo’akan mereka, kepada setiap jiwa yang lalai dari qiyamullail, dari puasa-puasa sunnah,  lakukanlah ibadah tersebut dengan dorongan memaksimalkan do’a-do’a kita diwaktu mustajab tersebut semoga Allah memenangkan mereka, menerima kesyahidan diantara mereka yang terbunuh, menyembuhkan luka-luka diantara mereka.
Dihari Jum’at pula yang kata Rasulullah صلى الله عليه وسلم ada suatu waktu yang siapa berdoa diwaktu tersebut, Allah kan pasti mengabullkannya, dan kata sebagai ulama waktu tersebut adalah dipenghujung hari Jum’at (Sore hari).
Wallahu ta’ala a’lam.
Askar Fatahuddin, S.Si,
Selengkapnya ...

Berita

Kajian

Koreksi

Kisah

Muslimah

Khazanah

Catatan Kecil

Opini

Dari Ummat

Dibolehkan menyebarkan konten website ini tanpa perlu izin dengan tetap menyertakan sumbernya. Tim al-Balagh Media