Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Desember 2016

Sebuah Ayat Al-Qur'an Yang Melarang Mengikuti Hari Raya Non Muslim

oleh : Abu Afnan غفر الله له ولوالديه

Kemuliaan seorang muslim terdapat pada agamanya karena dengan agamanyalah dia telah melepaskan dirinya dari jeratan kehinaan dan belenggu kegelapan yang menimpa semua umat manusia yang belum sempat mendapatkan cahaya islam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“ Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.”(Surat Al An’am :122)

Ya hanya dengan islam inilah manusia menjadi makhluk termulia, tanpa islam maka manusia layaknya hanyalah seorang mayat yang berjalan di atas muka bumi.

Sehingga bisa dikatakan bahwa sesuatu yang paling mahal di dalam diri seorang muslim adalah Aqidah islamnya. Aqidah islam inilah perhiasan yang paling berharga baginya.

Olehnya dia harus senantiasa memelihara perhiasan tersebut agar tidak sampai terkotori oleh perbuatan-perbuatan yang bisa menurunkan  "nilai jualnya" disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala apalagi sampai hilang sama sekali wal ‘iyazu billah .

Fenomena lata dan ikut-ikutan merayakan atau turut memeriahkan hari raya agama lain merupakan salah satu diantara sekian banyak ancaman yang mengintai dan melanda kaum muslimin.

Bagaimana tidak , fenomena tersebut bisa merenggut seketika perhiasan yang sangat berharga bagi kaum muslimin yaitu aqidah mereka. 

Jauh sebelumnya sekitar 14 abad lalu nabi kita yang mulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam  telah menperingatkan ummatnya agar tidak lata dengan ajaran agama lain .

Dari Abu Said Al Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :”Sungguh-sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal & sehasta demi sehasta, sampai seandainya mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian akan masuk pula ke dalamnya.

Kami tanyakan: “Wahai Rasulullah, apakah mereka yg dimaksud itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau berkata: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Bukhori, Kitab Al I’tishom bilkitabi wassunnah, No.7320)

Berkata Ibnu Batthol : "Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa ummatnya sebelum hari kiamat akan mengikuti perkara-perkara yang baru dan perbuatan bid’ah dan mengikuti hawa nafsu sebagaimana ummat-ummat seperti Persia dan Romawi yang membuat agama kebanyakan orang berubah.” (Kitab Syarah Shohih Al Bukhori karya Ibnu Batthol, jilid 10Hal.366).

Pemandangan yang biasa kita lihat dijalan-jalan ataupun di supermarket atau ditempat lainnya yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin seperti terompet, pohon natal, pakaian santa, topi kerucut, tukar coklat dan yang lainnya...tidak bisa diragukan lagi, merupakan bentuk lata terhadap ajaran agama lain dan yang lebih parah lagi adalah ikutnya sebagian kaum muslimin dalam acara perayaan-perayaan agama lain.

dan persoalan yang terakhir ini yang akan kami bahas dalam tulisan ini berdasarkan sebuah dalil dari al qur’an –biidznillah- melihat bahayanya persoalan tersebut dan masih banyaknya kaum muslimin yang terjatuh di dalamnya .

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :”Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia telah menjadi bagian dari mereka”.(HR.Abu Daud,Kitabullibas,Hal.721,No.4031,Syekh Al Albani mengatakan Hadits Hasan Shohin).

Berkata Ibnu Taimiyah dalam Karya beliau Iqtidho as Shirotil mustaqim  : “ dan Hadits ini paling minimal kondisinya : ia menunjukkan keharaman menyerupai mereka(yaitu orang kafir,) walaupun  dhohirnya menunjukkan akan kekafiran orang yang menyerupai mereka, dan ini seperti firman Allah : “dan barang siapa yang menjadikan mereka pemimpin maka sesungguhnya mereka telah bagian dari mereka”.

Lebih lanjut beliau mengatakan : “ dan bisa juga kita artikan hadits ini dengan menyerupai mereka secara muthlak(menyeluruh) maka yang ini mengharuskan kekafiran orang tersebut, dan semua unsur-unsur penyerupaan tersebut hukumnya haram, dan bisa juga dimaknai bahwa mereka akan menjadi bagian dari mereka dalam hal-hal yang diserupai  kalau hal itu perbuatan kafir maka orang ini pun kafir, kalo itu maksiat atau simbol mereka maka dia mengikuti hukum hal-hal tersebut.”

Sebuah ayat yang mulia patut kita renungkan bersama :

Firman Allah subhanahu wa ta’ala : “ Dan orang-orang yang tidak menghadiri persaksian palsu”.(al Furqon:72)

Ayat ini merupakan bentuk pujian kepada orang beriman yang digelari oleh Allah subhanahu wata’ala sebagai ‘Ibadurrahman dengan menyebutkan beberapa karakteristik mereka dan diantaranya adalah ayat ini.

Kalau kita merujuk keterjemahan mushaf-mushaf Indonesia maka kita akan dapatkan ; “ dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu”. dan tidak bisa dipungkiri bahwa itu memang salah satu tafsiran sebagian ulama seperti Ali bin Abi Tholhah dan Muhammad bin ‘Ali (lihat Tafsir al Jami’ li Ahkamil Qur’an, karya Al Qurtubi,jilid 15, Hal.485).

Namun pendapat yang dirojihkan oleh Imam Ahli Tafsir Ibnu Katsir adalah pendapat yang pertama yaitu pendapat yang mengatakan : “Dan orang-orang yang tidak menghadiri persaksian palsu”, (lihat tafsir Ibnu Katsir,Jilid 10,Hal 331)

dan ini pulalah pendapat yang dipilih oleh guru beliau Ibnu Taimiyah.

Beliau berkata : “Dan sebagian ulama mengatakan bahwa maksud dari syahadatuzzur adalah persaksian dusta,

dan ini kurang tepat karena Allah ta’ala berfirman :
(((لا يشهدون الزور)
"tidak menghadiri kedustaan" dan tidak mengatakan  ((لا يشهدون بالزور)) tidak menyampaikan persaksian dusta – dengan memakai huruf jar- .

dan ketika berkata : شهدت كذا
artinya : saya telah meghadiri, seperti perkataan Ibnu Abbas :

((شهدت العيد مع رسول الله صلى الله عليه وسلم وعلى آله وسلم ))
 
“ saya telah menghadiri hari raya (i’ed) bersama rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”

dan perkataan Umar :
((الغنيمة لمن شهد الوقعة ))
“ ghonimah (harta rampasan) bagi orang yang menghadiri perang) dan konteks seperti ini banyak digunakan dalam bahasa Arab.

Adapun kata شهدت بكذا maka artinya saya telah mengabarkan sesuatu  (lihat kitab Iqtidho as Shirotil Mustaqim karya Ibnu Taimiyah, Jilid1, hal.428).

Nah pertanyaannya apa maksud dari ‘persaksian palsu’ yang dilarang untuk dihadiri?

Beberapa ulama tabi’in seperti Ibnu sirin, Mujahid, Ar Rabi’ bin Anas, Ad Dhohhak menafsirkan “persaksian palsu” di ayat tersebut dengan “hari raya orang-orang musyrik” sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir (lihat tafsir Ibnu Katsir,Jilid 10,Hal 331)

Adapun Ibnu 'Asyur beliau lebih memilih memaknai ‘persaksian palsu’ lebih umum,

beliau berkata  : “ ayat ini bisa bermakna : bahwasanya mereka tidak menghadiri acara-acara kebathilan yang dihadiri oleh kaum musyrikin seperti majelis-majelis kelalaian, nyanyian dan ghibah dan sebagainya, demikian pula hari raya kaum musyrikin dan permainan-permainan mereka.(lihat tafsir At Tahrir wat Tanwir karya Ibnu ‘Asyur,jilid 19,Hal.78).

Dan tentu tafsiran Ibnu ‘Asyur tidak bertentangn dengan tafsiran sebelumya karena telah tercakup didalamnya hari raya orang musyrik dan khilaf ini bisa dikategorikan kedalam ikhtilaf tanawwu’ ( perselisihan fariatif).

Pendapat yang serupa juga diutarakan oleh Ibnul ‘Arabi, beliau berkata : “ artinya mereka tidak menghadiri (acara) kedustaan dan kebathilan dan tidak pula menyaksikannya, dan arti kata ‘zuur’ : semua jenis kebathilan adalah zuur dan kata-kata yang dipoles(hingga menyelisihi kebenaran), dan yang paling besar adalah Syirik dan pengagungan sesembahan-sesembahan selain Allah, dan pendapat ini adalah pendapat Ad Dhohhak, Ibnu Zaid dan Ibnu Abbas.” (lihat Tafsir AL Jami’ Li Ahkamil Qur’an karya Imam Al Qurthubiy,jilid 15,Hal.484).

Berkata Ibnu Taimiyah : “ oleh karenanya terkadang ulama salaf menafsirkannya dengan sesuatu yang kelihatan baik dari dhohirnya disebabkan adanya syubhat atau syahwat padahal pada hakikatnya dia adalah sesuatu yang buruk. Maka syirik dan semisalnya akan kelihatan baik dari dhohirnya karena adanya syubhat, nyanyian juga akan kelihatan baik dari dhohirnya karena adanya syahwat.

Dan adapun hari raya orang-orang musyrik maka telah tergabung di dalamnya syubhat dan syahwat, syubhat karena dia adalah kebathilan karena tidak adanya manfaat untuk agama (seseorang) dan syahwat karena didalamnya terdapat kelezatan-kelezatan sesaat yang ujungnya adalah kesengsaraan, maka pantaslah hari raya tersebut disebut Zuur dan menghadirinya adalah bentuk persaksian terhadapnya. (lihat kitab Iqtidho as Shirotil Mustaqim karya Ibnu Taimiyah, Jilid1, hal.430)

Berdasarkan pemaparan di atas maka makna ayat didalam surat Al Furqan adalah dan orang-orang yang tidak mendatangi hari raya kaum musyrikin ataupun agama lain karena didalamnya terdapat kebathilan-kebathilan khususnya yang menyentuh masalah aqidah dan yang paling besar adalah adanya persaksian yang paling dusta yaitu persaksian akan adanya sesembahan selain Allah.

Wallahu a'lam

Selengkapnya ...

Jumat, 18 November 2016

Ulama; Pewaris Nabi

 

Ulama Pewaris Nabi


Para ulama memiliki kedudukan yang mulia dan agung di sisi Allah. Allah telah meninggikan derajat mereka dan mengistimewakan mereka dari yang lainnya. Allah Azza wa Jalla berfirman,
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Terjemahan QS. al-Mujadilah/58 : 11).

Banyak nash-nash yang menyebutkan keutamaan dan keistimewaan Ahli Ilmu. Konsekuensi dari nash-nash tersebut, adalah wajibnya menghormati dan menjunjung tinggi kehormatan para ulama. Karena mereka merupakan pewaris Nabi, penerus misi dakwah yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat Beliau radhiyallahu 'anhum.

Dalam sebuah atsar (riwayat) yang populer disebutkan, jadilah seorang alim, atau seorang penuntut ilmu, atau seorang penyimak ilmu yang baik, atau seorang yang mencintai Ahli Ilmu dan janganlah jadi yang kelima, niscaya kalian binasa.

Salah seorang ulama Salaf mengatakan: “Maha suci Allah, Dia telah memberi jalan keluar bagi kaum muslimin. Yakni tidak akan keluar dari keempat golongan manusia yang dipuji tadi, melainkan golongan yang kelima, golongan yang binasa. Yaitu seorang yang bukan alim, bukan penuntut ilmu, bukan penyimak yang baik dan bukan pula orang yang mencintai Ahli Ilmu. Dialah orang yang binasa. Sebab, barangsiapa membenci Ahli Ilmu, berarti ia pasti mengharapkan kebinasaan mereka. Dan barangsiapa yang mengharapkan kebinasaan Ahli Ilmu, berarti ia menyukai padamnya cahaya Allah di atas muka bumi. Sehingga kemaksiatan dan kerusakan merajalela. Kalau sudah begitu keadaannya, dikhawatirkan tidak akan ada amal yang terangkat. Demikianlah yang dikatakan oleh Sufyan Ats Tsauri.”

Menghormati ulama termasuk pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Musa Al Asy'ari radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya termasuk pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, yaitu memuliakan orang tua yang muslim, orang yang hafal Alquran tanpa berlebih-lebihan atau berlonggar-longgar di dalamnya dan memuliakan penguasa yang adil.” (HR. Abu Dawud).

Ubadah bin Shamit radhiyallahu 'anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Bukan termasuk ummatku, siapa yang tidak memuliakan orang yang lebih tua, menyayangi orang yang lebih muda dan mengetahui hak-hak orang alim.” (HR. al-Hakim).

Berdasarkan nash-nash di atas, jelaslah bahwa kewajiban setiap muslim terhadap para ulama dan orang-orang shalih adalah mencintai dan menyukai mereka, menghormati dan memuliakan mereka, tanpa berlebih-lebihan atau merendahkan sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Mengolok-olok ulama dan orang-orang shalih, mengejek atau melecehkan mereka, tentu saja bertentangan dengan perintah untuk mencintai dan memuliakan mereka. Melecehkan ulama dan orang shalih, sama artinya dengan menghina dan merendahkan mereka.

Mengolok-Olok Ulama Sifat Orang Munafik

Mengolok-olok dan memandang rendah Ahli Ilmu dan orang shalih, termasuk sifat orang kafir dan salah satu cabang kemunafikan. Sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat, diantaranya:
“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia dari pada mereka di hari Kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendakiNya tanpa batas.” (Terjemahan QS. al-Baqarah: 212)

Dalam ayat lain, Allah Azza wa Jalla menjelaskan tentang kebiasaan orang-orang munafik:
“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”. Allah akan (membalas) olokan-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.” (Terjemahan al-Baqarah: 14-15).

Dalam ayat lain, Allah Azza wa Jalla menjelaskan pula:
“(orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mu'min yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka adzab yang pedih.” (Terjemahan QS. At-Taubah: 79).

Musuh-musuh Islam, diantaranya orang-orang Yahudi dan Nasrani serta orang-orang munafik yang mengikuti mereka, senantiasa berusaha menjelek-jelekkan citra ulama Islam, berusaha meruntuhkan kepercayaan umat kepada para ulama dengan sindiran-sindiran dan komentar-komentar negatif tentang ulama. Hal ini perlu diwaspadai oleh kaum muslimin. Mereka jangan sampai ikut-ikutan menjelek-jelekkan alim ulama.

Dalam Protokalat Yahudi, pada protokolar nomor 27 disebutkan sebagai berikut: Kami telah berusaha sekuat tenaga untuk menjatuhkan martabat tokoh-tokoh agama dari kalangan orang-orang non Yahudi dalam pandangan manusia. Oleh karena itu, kami berhasil merusak agama mereka yang bisa menjadi ganjalan bagi perjalanan kami. Sesungguhnya pengaruh tokoh-tokoh agama terhadap manusia mulai melemah hari demi hari.

Jadi jelaslah, setiap tindakan yang bertujuan mendiskreditkan para ulama dan tokoh agama termasuk tindakan makar terhadap agama ini. Pelakunya harus dihukum dan ditindak tegas. Pelecehan terhadap para ulama dan orang shalih ada dua:

Pertama : Pelecehan terhadap pribadi ulama.
Misalnya orang mengejek sifat-sifat tertentu yang dimiliki oleh ulama tersebut. Demikian ini hukumnya haram.
Ibnu Katsir dalam menafsirkan al-Hujurat ayat 11 menyatakan: “Allah Subhanahu wa Ta'ala melarang mengolok-olok orang lain. Yaitu merendahkan dan menghinakan mereka. Sebagaimana disebutkan sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa Beliau bersabda: Sombong itu adalah menolak kebenaran dan menghinakan orang lain.”

Kedua: Mengolok-olok ulama karena kedudukan mereka sebagai ulama, karena ilmu syar'i yang mereka miliki.

Demikian ini termasuk perbuatan zindiq, karena termasuk melecehkan agama Allah. Demikian pula mengolok-olok orang shalih, orang yang menjalankan Sunnah Nabi. Allah telah menggolongkan pelecehan terhadap orang-orang yang beriman sebagai pelecehan terhadapNya. Dalam surat At Taubah, Allah berfirman (yang artinya):

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?” (Terjemahan at-Taubah : 65).
Ayat ini turun berkenaan dengan perkataan orang-orang munafik terhadap para qari' “Belum pernah kami melihat orang seperti para qari' kita ini, mereka hanyalah orang-orang yang paling rakus makannya, paling dusta perkataannya dan paling penakut di medan perang.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut.
Dalam Fatwa Lajnah Daimah disebutkan: “Mencela Islam, mengolok-olok Alquran dan As Sunnah, serta mengolok-olok orang-orang yang berpegang teguh dengannya karena ajaran agama yang mereka amalkan, seperti memelihara jenggot dan berhijab bagi wanita muslimah, maka perbuatan seperti itu termasuk kufur, bila dilakukan oleh seorang mukallaf ((orang baligh yang berakal sehat) dan harus dijelaskan kepadanya, bahwa perbuatan itu kufur. Jika ia tetap melakukannya setelah mengetahuinya, maka ia bisa jatuh kafir, karena Allah Azza wa Jalla mengatakan:

Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. (Terjemahan QS. at-Taubah: 65).

Dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan, bahwa melecehkan ulama termasuk dosa besar. Para ulama menggolongkannya sebagai perbuatan kufur dan nifak. Semoga Allah menjauhkan kita darinya.[]
Selengkapnya ...

Senin, 01 Februari 2016

Sabar dan Rahmat Allah



Oleh: Ustadz Rappung Samuddin, Lc. MA.

DIANTARA nama Allah yang hampir setiap saat kita ucapkan adalah Ar Rahman yang artinya Maha Luas Rahmat-Nya dan Ar Rahim, yakni yang rahmat dan kasih-Nya menjangkau seluruh makhluk-Nya tanpa terkecuali. Dan bahwasanya, rahmat Allah Ta’ala yang begitu luas mendahului dan mengalahkan siksa-Nya. Karenannya, Allah melarang kita berputus asa dari rahmat-Nya. Merasa diri telah begitu jauh dari-Nya dan seakan tidak ada lagi sandaran dan tempat kembali. Sikap dan perangai semacam ini merupakan gambaran kebodohandan ketertipuan... Ketahuilah, sebesar  apapun kesalahan seorang hamba; masih belum ada apa-apanya ketimbang luasnya rahmat Allah Ta’ala. Dengan syarat, bersungguh-sungguh untuk kembali dan bersabar dalam menempuh jalan-jalan rahmat-Nya.
 
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” (HR. at-Tirmidzi, beliauberkata: Hadits ini hasan shahih).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang terletak di sisi-Nya di atas‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku”.(HR. Bukhari dan Muslim).
Maha suci Allah ...! Begitu luasnya rahmat dan kasih sayang Allah Ta'ala.

Nah, ada sebuah kisah menarik yang membuat Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah menangis kala menyaksikan dan merenungi hikmah di baliknya. Beliau berkata: “Aku belajar kesabaran dari seorang anak kecil. Suatu ketika, saat berjalan menuju masjid aku mendapati seorang wanita di dalam rumahnya sedang memukul anaknya. Anak itu menjerit, lalu membuka pintu dan berlari keluar. Maka wanita itu pun mengunci pintu. Tatkala aku pulang (dari masjid), aku mendapati anak itu telah tertidur di depan pintu setelah menangis beberapa saat dan meminta belas kasihan ibunya. Melihat hal itu luluhlah hati sang ibu, lalu membukakan pintu untuk anaknya”.

Maka menangislah Fudhail bin ‘Iyadh hingga air mata membasahi janggutnya. Beliau kemudian berkata: “Subhanallah, kalau saja seorang hamba mau bersabar di depan pintu (rahmat) Allah, pasti Allah Ta’ala akan membukakan pintu rahmat itu untuknya!!" (Ibnu Abi Syaibah, Mushannaf Ibni Abi Syaibah, 6/22).[]

Repost dari http://www.rappungsamuddin.com
Selengkapnya ...

Rabu, 27 Januari 2016

Konsep Penanganan Tindak Korupsi dalam Sejarah Khulafa’ Al-Rasyidin


Oleh: Rappung Samuddin, Lc. MA.

Upaya-upaya yang ditempuh pemerintah guna mencegah penyalahgunaan kekayaan negara merupakan perkara yang muktabar dalam syari’at. Sejak zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Masa kekhalifaan Abu Bakar al-Shiddiq, Umar bin al-Khatthab, Utsman dan Ali radhiallahu anhum, serta Dinasti Umawiyah, telah nyata aplikasinya kendati dalam bentuk yang masih sederhana. Hal ini memberi petunjuk akan urgensinya yang tidak kecil. Sebab, harta kekayaan negara pada hakikatnya adalah milik rakyat umum. Sementara penyelenggara negara, dalam hal ini pemegang kekuasaan tertinggi, hanya merupakan wakil rakyat dan pemegang mandat dalam menciptakan kebaikan dan mashlahat mereka.

Banyak riwayat Shahih yang menunjukkan perhatian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap harta negara tersebut; diantaranya kisah teguran Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap seorang yang dipekerjakan memungut zakat lalu mengambil hadiah dari pekerjaannya tersebut.

Dari Abu Humaid al-Sa’idi, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat seorang dari kabilah al-Azd, yang bernama Ibnu Utbiah, sebagai amil zakat bagi Bani Sulaim. Ketika tiba di hadapan Rasulullah, Nabi menyuruh seseorang menghitung harta yang terkumpul. Ketika itu, Ibnu Utbiah berkata: “Ini harta untukmu, sedangkan yang ini adalah hadiah (untukku)”. Nabi lantas bersabda: “Mengapa engkau tidak duduk saja di rumah bapak dan ibumu, sehingga engkau diberi hadiah jika engkau memang diberi hadiah!”. Lalu Nabi naik mimbar dan berkhutbah. Setelah memuji dan menyanjung Allah, beliau bersabda:
"Aku mengangkat seseorang untuk mengerjakan tugas yang Allah bebankan kepada diriku. Lalu dia datang dan berkata: “Ini hartamu, sedangkan yang ini adalah hadiah untukku”. Mengapa dia tidak duduk saja di rumah bapak dan ibunya, sehingga diberi hadiah jika memang dia diberi hadiah? Demi Allah, tidaklah ada seseorang yang mengambil harta tanpa alasan yang benar, kecuali pasti dia berjumpa dengan Allah dalam keadaan memikul harta tersebut. Sungguh, aku tahu ada seseorang yang berjumpa dengan Allah dengan memikul unta yang bersuara, sapi yang melenguh, atau kambing yang mengembik”.

Kemudian, Nabi mengangkat kedua tangannya sehingga putih ketiaknya terlihat jelas, lantas berkata: “Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikan?”. (1).

Demikian pula di zaman Abu Bakar al-Shiddiq. Diriwayatkan, bahwa khalifah Abu Bakar al-Shiddiq sangat ketat menghitung dan mengawasi pegawai-pegawainya dalam urusan pengeluaran atau pembelanjaan uang Negara. Tatkala Mu’adz bin Jabal radhiallahu anhu datang dari negeri Yaman pasca wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Abu Bakar berkata padanya: “Perlihatkan daftar hitunganmu”. Mu’adz pun menimpali: “Apakah (saat ini) ada dua perhitungan; perhitungan bersama Allah dan perhitungan bersama anda? Lalu beliau pun menghitung dan menjabarkan seluruh sumber-sumber pemasukan (al-iraadaat) dan pengeluaran-pengeluarannya (al-nafaqaat)”. (2)

Di masa kepemimpinan Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu, banyak terobosan yang beliau lakukan terkait penyelamatan harta negara; diantaranya:

1. Mengangkat pegawai terbaik, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Abu Bakar al-Shiddiq.
2. Menghitung kekayaan pejabat-pejabatnya sebelum memegang jabatan dalam pemerintahan.
3. Menerapkan aturan pemotongan harta (pendapatan) pejabat negara (diluar gaji pokok), untuk dimasukkan ke dalam kas negara, tatkala beliau ragu bahwa harta yang mereka peroleh itu dikarenakan jabatan atau melalui kekuatan pengaruhnya.
4. Mengutus pengawas dan mata-mata untuk mengawasi kinerja para pejabat.
5. Membentuk badan pemeriksa untuk menghitung secara detail penghasilan dan pengeluaran (para pejabat) serta mengevaluasi kinerja mereka.
6. Mengeluarkan perintah agar para pejabat dan pegawai-pegawainya, ketika hendak kembali ke negeri-negeri tempat tugas mereka di waktu siang. Hal tersebut agar mereka tidak bisa menyembunyikan apa yang mereka bawa berupa hadiah dan selainnya.
7. Bahkan terkadang beliau sendiri yang turun tangan untuk mengadakan inspeksi terhadap kinerja para pejabatnya. (3)

Diriwayatkan, beliau berkata: “Ketahuilah, aku tidak menemukan kebaikan harta itu kecuali pada tiga hal: 1. Diambil dengan cara yang benar, 2. Dibagikan dengan cara yang, 3. Serta dijaga dari perkara-perkara yang batil. Hanya saja, posisiku terhadap harta kalian itu seperti wali anak yatim. Jika aku kaya, maka aku tidak akan mengambilnya (bagian dari jasa penjagaan), tapi jika aku miskin maka aku akan memakannya dengan cara yang makruf (legal)”. (4)

Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, beliau pun melakukan banyak hal yang sama, dengan masa Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu. Diantara starategi Utsman dalam mengawasi kinerja pejabat-pejabatnya, termasuk diantaranya masalah penggunaan kas negara adalah sebagai berikut:

1. Melakukan ibadah haji setiap musim haji. Dalam hal ini, Utsman ingin mendengarkan langsung setiap pengaduan yang disampaikan oleh jama’ah haji terkait pemimpin mereka. Disamping mengundang para pemimpin-pemimpin untuk menunaikan haji bersama dan duduk membahas hal-hal kedaulatan.
2. Mengutus tim penyidik untuk mengamati kondisi pejabat-pejabatnya. Beliau bahkan memiliki pembantu-pembantu khusus yang beliau percaya untuk mengawasi penggunaan kas negara. Contohnya, beliau mengirim Ammar bin Yasir ke Mesir, Muhmammad bin Maslamah ke Kufah, Usamah bin Zaid ke Bashrah, Abdullah bin Umar ke Syam dan lain sebagainya.
3. Melakukan kunjungan kerja ke berbagai wilayah untuk mengetahui situasi dan kondisinya secara langsung.
4. Meminta pengiriman delegasi dari berbagai wilayah untuk ditanyai tentang kinerja pimpinan dan gubernur. (5)

Di zaman kekhilafaan Ali bin Abi Thalib, lahir beberapa konsep kebijakan yang bertujuan menjaga harta negara dari tindak korupsi; diantaranya:
1. Menaikkan gaji pegawai dan pejabat. Hal ini ditunjukkan melalui nasehat beliau kepada para gubernurnya: “…Berikanlah kepada mereka rezki (yakni gaji) yang melimpah untuk memelihara diri mereka supaya tidak mengambil dana yang berada dalam tanggungjawabnya. Hal ini akan menjadi hujjah atas mereka jika menyelewengkan perintah anda dan amanah yang anda berikan…”. (6)
2.  Membentuk tim auditor yang bertugas mengedit dan mengawasi kinerja pejabat. Berikut nasehat beliau: “…Anda harus mengawasi kegiatan mereka (para pegawai) dan taruhlah orang-orang jujur dan setia yang melaporkan tentang kinerja mereka…”. (7)
Adapun kriteria yang ditetapkan oleh Amiriul Mukminin Ali bin Abi Thalib bagi tim auditor tersebut adalah sebagai berikut:
a. Mereka harus orang yang jujur hingga laporan yang dibuat benar adanya dan sesuai dengan realita.
b. Mereka harus orang yang menepati janji. Tujuan mereka bekerja adalah tulus mengabdi kepada negara. Setelah mereka membuat laporan kepada gubernur atau kepala daerah, maka gubernur atau kepala daerah harus mencermati dengan ketat hasil laporan tersebut dan tidak tergesa dalam menjatuhkan vonis berdasarkan laporan yang masuk. (8)

Nah, baru di zaman pemerintahan Bani Umayyah lahir sebuah institusi khusus yang fungsinya menyita uang nagara yang dikorupsi oleh pejabat pemerintah. Semisal dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat ini. Lembaga ini memiliki wewenang memaksa para koruptor untuk mengaku dan membeberkan tempat penyimpanan harta hasil korupsi.

Ibnu Qutaibah meriwayatkan, lembaga ini lahir di zaman pemerintahan Ziyad bin Abihi yang sangat waspada terhadap orang-orang yang membantunya dalam pemerintahan. Beliau tidak segan memecat siapa pun yang melakukan pengkhianatan. Dan pemecatan itu didahului oleh pemberian hukuman yang setimpal. (9)

Banyak Ahli sejarah menyebutkan riwayat-riwayat terkait gebernur-gubernur yang menggunakan jasa institusi ini. Tujuannya adalah menyelamatkan aset negara dari tangan para koruptor atau dari orang-orang yang terindikasi melakukan penyimpangan atau tindakan buruk lainnya. Diantaranya, Gubernur Irak, Ubaidillah bin Ziyad memecat salah seorang pegawainya yang bernama Abdur Rahman dan menyita darinya uang sebesar dua ratus ribu dirham. Demikian pula, sang Gubernur berhasil menyelamatkan uang Negara dari salah seorang pegawainya sebesar seratus ribu dirham. (10). Wallahu A’lam.[]



Footnote:

1. HR. Bukhari no. 2597, dan Muslim no. 4844 dan 4845.
2. Terkutip dalam Dr. Husain Syahatah, Hurmah al-Maal al-Aamah fi Dhau’ al-Syari’ah al-Islamiyah, Daar al-Nasyr, Cet. I, thn. 1420 H/1999 M, hlm. 59.
3. Ibid, hlm. 59-60.
4. Terkutip dalam Dr. Ahmad Asyur, Khuthab Amiril Mu’minin Umar Ibn Khatthab wa Washayaahu, Daar al-I’thishom, thn. 1405 H/1985 M, hlm. 85.
5. Prof. Dr. Ali Muhammad al-Shalabi, Utsman bin Affan Radhiayallahu Anhu, Syakhshiyyatuhu wa Ashruhu, Cet. I, Mesir, Daar al-Tauzi’ wa al-Nasyr al-Islamiyah, thn. 2002 M, hal. 252-253.
6. Prof. Dr. Ali Muhammad al-Shallabi, Asma’ al-Mathalib fi Sirah Amir al-Mu’minin Ali Ibn Abi Thalib radhiallahu anhu Syakhshiyyatuhu wa Ashruhu, al-Imarat, Maktabah al-Shahabah, thn. 1425 H/2004M, hal. 495.
7. Ibid.
8. Ibid, hal. 456.
9. Abdullah bin Muhammad bin Muslim bin Quthaibah, Uyun al-Akhbar, Cet. I, Daar al-Kutub al-Ilmiyah, thn. 1406 H/1986 M, 1/55.
10. Prof. Dr. Ali Muhammad al-Shallabi, Mu’awiyah Ibn Abi Sufyan Syakhshiyyatuhu wa Ashruhu, Cet. I, Daar al-Andalus al-Jadidah, thn. 1429 H/2008 M, hlm. 338.

Sumber: RappungSamuddin.com
Selengkapnya ...

Jumat, 22 Januari 2016

Tahajjud, Semangat Hidup Orang-orang Shaleh



Shalat tahajud atau shalat malam (qiyamul lail)  merupakan ibadah tambahan yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barang siapa yang rutin mengerjakan shalat tahajud insya Allah akan dimudahkan semua urusannya, dilapangkan hidupnya, dijauhkan dari kesengsaraan, kesukaran dan kesulitan hidup serta dimuliakan hidupnya .

Waktu untuk mengerjakan shalat malam   terbentang dari sejak seseorang selesai menunaikan shalat isya hingga sebelum terbit fajar sebagai tanda permulaan waktu shalat subuh. Adapun waktu yang paling utama untuk menunaikan tahajud  adalah pada akhir malam atau sering juga disebut sepertiga malam terakhir.
Qiyamul-Lail merupakan ibadah sunnah yang memiliki banyak keutamaan dan keistimewaan sebagaimana diterangkan di dalm Al-Quran dan As-Sunnah. Berikut ini beberapa keutamaannya, diantaranya:

1. Qiyamul-Lail merupakan shalat sunnah yang paling utama setelah shalat wajib yang 5 waktu.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah ditanya:
“Shalat apakah yang paling utama setelah shalat fardhu (yang lima waktu, pent) ?” beliau menjawab: “Shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat di tengah malam (shalat tahajjud).” (Diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari dan Muslim).
2. Barangsiapa menunaikan Qiyamul-Lail, berarti ia telah mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya.
Hal ini sebagaimana dalam firman Allah Ta'ala:
“Dan pada sebagian malam hari, shalat tahajjudlah kamu sebagai ibadah nafilah bagimu, mudah-mudahan Rabb-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (Terjemahan Al-Isro': 79).
Dr. Muhammad Sulaiman Abdullah Al-Asyqor menerangkan: “At-Tahajjud adalah shalat di waktu malam sesudah bangun tidur. Adapun makna ayat “sebagai ibadah nafilah” yakni sebagai tambahan bagi ibadah-ibadah yang fardhu. Disebutkan bahwa shalat lail itu merupakan ibadah yang wajib bagi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan sebagai ibadah tathawwu' (sunnah) bagi umat beliau.” (Lihat Zubdatut Tafsir, hal. 375 dan Tafsir Ibnu Katsir: III/54-55).

3. Melaksanakan Qiyamul Lail itu adalah kebiasaan orang-orang shaleh dan calon penghuni Surga.

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman surga dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat kebaikan, (yakni) mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (Terjemahan QS. Adz-Dzariyat: 15-18).
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Sebaik-baik orang adalah Abdullah (yakni Abdullah bin Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhuma, pent) seandainya ia mau shalat di waktu malam.”. (HR. Muslim No. 2478 dan 2479).

Dan diriwayatkan dari Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menasihatiku dengan sabdanya:
“Wahai Abdullah, janganlah engkau menjadi seperti si fulan, ia dahulu mengerjakan sholat malam, lalu ia meninggalkannya.” (HR. Imam al-Bukhari III/31, dan Muslim II/185).

4. Mengerjakan Qiyamul-Lail (shalat Tahajjud) adalah salah satu sebab dihapuskannya kesalahan-kesalahan dan terhindar dari dosa-dosa.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam:
“Hendaklah kalian melakukan shalat malam karena ia adalah kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kalian, ia sebagai amal taqorrub bagi kalian kepada Allah, menjauhkan dosa, dan penghapus kesalahan.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 3549), al-Hakim (I/308), dan al-Baihaqi (II/502), dari jalan Shahabat Abu Umamah al-Bahili radhiyallaahu anhu).

5. Mengerjakan Qiyamul-Lail (shalat Tahajjud) merupakan kemuliaan dan kewibawaan bagi seorang Mukmin.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam:
“Malaikat Jibril mendatangiku, lalu berkata: “Hai Muhammad, hiduplah sekehendakmu karena kamu (pasti) akan mati. Cintailah seseorang sekehendakmu karena kamu (pasti) akan berpisah dengannya. Dan beramallah sekehendakmu karena kamu (pasti) akan diberi balasan (oleh Allah pada hari Kiamat, pent). Dan ketahuilah, bahwa kemuliaan dan kewibawaan seorang Mukmin itu ada pada shalat malamnya, dan ia tidak merasa butuh kepada manusia.” (Diriwayatkan oleh al-Hakim IV/325, dan ia menshahihkannya, serta disepakati oleh imam adz-Dzahabi. Derajat Hadits ini dinyatakan Hasan oleh al-Mundziri dalam at-Targhiib wa at-Tarhiib I/640, dan Syaikh al-Albani dalam Silsilah Al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 831).

6. Barangsiapa yang mengerjakan Qiyamul Lail (shalat Tahajjud) dengan niat ikhlas karena Allah semata dan sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka ia akan terpelihara dari gangguan setan, dan ia akan bangun di pagi hari dalam keadan segar dan bersih jiwanya. Namun sebaliknya, barangsiapa yang meninggalkan Qiyamul Lail (shalat Tahajjud), Maka dia akan bangun di pagi hari dalam keaadan jiwanya dililit kekalutan (kejelekan) dan malas untuk beramal shaleh.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Setan mengikat tengkuk kepala seseorang dari kalian saat dia tidur dengan tiga tali ikatan, dimana pada tiap ikatan tersebut dia meletakkan godaan, “Kamu mempunyai malam yang sangat panjang, maka tidurlah dengan nyenyak.” Jika dia bangun dan mengingat Allah, maka lepaslah satu tali ikatan. Lalu jika dia berwudhu, maka lepaslah tali ikatan yang lainnya. Dan jika dia mendirikan sholat (malam), maka lepaslah seluruh tali ikatannya sehingga pada pagi harinya dia akan merasakan semangat & baik jiwanya. Namun bila dia tak melakukan hal itu, maka pagi harinya jiwanya menjadi jelek & menjadi malas beraktifitas”. (HR. Imam Al-Bukhari no. 1142, & Muslim no. 776).

Dan pada suatu hari pernah diceritakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang seseorang yang tidur semalam suntuk hingga pagi (yakni tiba waktu Subuh tanpa melakukan Qiyamul-Lail, pent), maka beliau bersabda:
“Orang tersebut telah dikencingi setan di kedua telinganya.” (HR. Imam al-Bukhari dan Muslim).

7. Barangsiapa yang mengerjakan Qiyamul Lail (shalat Tahajjud), maka ia berkesempatan mendapatkan 1/3 (sepertiga) malam terakhir yang merupakan waktu dimana doa akan dikabulkan, dan dosa-dosa akan diampuni Allah Ta'ala bila ia memohon ampunan kepada-Nya.

Hal ini berdasarkan hadits shahih, Dari Jabir bin Abdillah dia berkata: Saya mendengar Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya di waktu malam terdapat suatu saat, tidaklah seorang muslim mendapati saat itu, lalu dia memohon kebaikan kepada Allah Ta'ala dari urusan dunia maupun akhirat, melainkan Allah akan memberikannya kepadanya. Demikian itu terjadi pada setiap malam.” (HR. Muslim no. 757).
Di dalam hadits shahih yang lain disebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Rabb kita (Allah Tabaraka wa Ta'ala) turun setiap malam ke langit dunia ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: “Barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampuninya. Barangsiapa yang memohon (sesuatu) kepada-Ku, niscaya Aku pun akan memberinya. Dan barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya.” (HR. Imam al-Bukhari).
8. Orang yang mengerjakan Qiyamul Lail secara kontinue (istiqomah) akan digolongkan ke dalam golongan orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang bangun malam dan membangunkan istrinya, kemudian mereka berdua melaksanakan shalat dua rakaat, maka mereka berdua akan digolongkan ke dalam golongan para lelaki dan para wanita yang banyak berdzikir (mengingat) kepada Allah.”. (HR. Abu Daud no. 1309, Ibnu Majah no. 1335, dan dinyatakan Shahih oleh syaikh Al-Albani di dalam Misykaatu al-Mashoobiih: I/390).
Demikian beberapa keutamaan Qiyamul-Lail (shalat Tahajjud) yang dapat kami sebutkan. Semoga Allah Ta'ala memberikan taufiq dan kemudahan kepada kita semua agar bersemangat dalam mengerjakannya dengan istiqamah hingga akhir hayat.[]
Selengkapnya ...

Jumat, 15 Januari 2016

Dua Pondasi Kemuliaan dan Kejayaan




Oleh: Ustadz Mukran Usman, Lc. M.H.I.

Bila suatu umat menginginkan kemuliaan dan kejayaan, maka belajarlah, membacalah, bercontohlah sebagaimana umat terdahulu telah Allah jayakan dan muliakan serta menangkan dari semua musuh-musuh-NYA. Dengarkan perkataan seorang Ulama Islam imam Malik Rahimahullahu Ta'ala, Imam darul hijrah yang berkata “tidak akan baik (jaya) umat ini kalau mereka tidak mengikuti bagaimana umat terdahulu telah Allah jayakan”.

Ya!, Allah telah menjayakan mereka, Allah telah berikan di tangan mereka pintu-pintu kemenangan, maka betapa sangat butuhnya umat ini untuk berada dan berjalan serta meniti dalam jalan yang mereka telah tempuh, yaitu jalan para Nabi-nabi Allah, orang-orang shaleh yang telah mendapat petunjuk dari-NYA.
Bukanlah hal yang datang begitu saja tanpa ada usaha dan kerja nyata yang telah dilakukan oleh umat dan generasi kejayaan tersebut sehingga mereka sampai kepada puncak kegemilangan dan puncak kekuasaan, namun mereka telah berbuat, mereka telah bekerja dan mereka telah membangun kekuatan mereka dengan sekuat-kuatnya sehingga bangunan kejayaan yang mereka buat tak mudah untuk goncang apatah lagi harus roboh.

Ya!, bangunan itu begitu tangguh dan kokoh sampai untuk merobohkannya tak semudah merobohkan bangunan pencakar langit yang ada hari ini. Simaklah dan hayatilah bagaimana pondasi kemuliaan dan kejayaan yang telah mereka persiapkan, yang telah mereka tanam sehingga menjadi pondasi yang berumur beratus-ratus tahun lamanya, yang mampu menyinari timur dan barat, utara dan selatan dan mampu memadamkan kekuatan keangkaramurkaan, kesombongan dan keangkuhan  di bumi Allah Azza wa Jalla.

Pondasi  mereka yang pertama ada pada keimanan mereka yang begitu kuat. Keimanan yang tak akan goyah dengan badai fitnah yang datang menerpa, keimanan yang tak akan dijual dengan harga yang sedikit dari dunia, keimanan yang tak akan tunduk dibawah tekanan siapapun.

Ketika keimanan mereka diuji dengan dikatakan bahwa jumlah musuh yang akan merongrong mereka sangat banyak, sangat besar, maka mereka orang-orang beriman itu akan berkata :
"Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah...” (Terjemahan QS. Al-Baqarah: 249)
Ketika keimanan mereka diuji dengan dikatakan bahwa musuh-musuh mereka akan merencanakan makar dan tipu daya yang besar, maka mereka orang-orang beriman akan menyambutnya seraya berkata :
“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”. (Terjemahan QS. Al-Imran : 54)
Ketika keimanan mereka diuji dengan dikatakan bahwa musuh-musuh mereka akan mengerahkan semua harta yang mereka miliki untuk memusnahkan dan menghancurkan kekuatan iman, maka mereka orang-orang beriman menyambut ancaman tersebut sambil tersenyum seraya berkata :
“Sesungguhnya orang-orang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalangi orang dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan kedalam neraka jahannamlah orang-orang kafir itu dikumpulkan”. (Terjemahan QS. Al-anfal : 36)
Ketika keimanan mereka diuji dengan dikatakan bahwa orang-orang kafir telah membuat benteng yang kokoh yang tidak akan mampu untuk dihancurkan dan diruntuhkan, maka mereka orang-orang beriman akan berkata :
"kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka hukuman dari arah yang tidak mereka sangka-sangka…”. (Terjemahan QS. Al-Hasyr : 2)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadi panutan dan teladan mereka orang-orang beriman dalam menjaga dan mempertahankan keimanan. Rasulullah dicela, diejek, difitnah , diancam dan disiksa, namum beliau tidak mundur sejengkal pun dari keimanannya. Rasulullah pernah ditawari kerajaan arab, kekuasaan, harta, dunia, untuk melepas baju keimanan beliau, namun beliau kokoh dan tegar dalam menjaga cahaya iman seraya berkata : “Jikalau sekiranya mereka orang-orang kafir meletakkan matahari di tangan kananku, dan meletakkan bulan di tangan kiriku, untuk Aku melepaskan Agama ini (dakwah kepada Allah) maka Aku tak akan melakukannya”.

Demikian pula keimanan yang ada pada orang-orang terdekat Rasulullah seperti Abu Bakar As-Siddiq, yang sampai Umar bin Al Khattab pernah berkata tentang kekuatan iman pada diri mertua Rasulullah tersebut: ”Jikalau sekiranya keimanan Abu Bakar ditimbang dengan keimanan semua umat Rasulullah, maka keimanan Abu Bakar lebih berat”.

Keimanan mereka pulalah yang mampu menghilangkan semua baju kemunafikan dan dosa, untuk segera mendapatkan ampunan dan kemulian serta kemenangan di dunia dan akhirat dari Allah Azza wa Jalla. Wanita al-Ghomidiyah yang telah berzina lalu datang kepada Rasululah untuk meminta penegakan hukum Allah pada dirinya. Wanita itu datang untuk meminta dirajam sebagai taubat beliau dan mohon ampun beliau pada Allah. Rasulullah tidak langsung merajamnya, namun Rasulullah meminta untuk dirinya pulang dan menunggu sampai wanita itu melahirkan. Wanita itu menanti dan menunggu sampai tiba waktu anak yang dikandungnya lahir ke bumi, lahir sebagai anak yang tak berdosa. Maka, wanita itu kembali datang kepada Rasulullah bersama bayi yang telah dilahirkannya, meminta untuk secepatnya Rasulullah mensucikannya dari dosa zina yang telah dilakukannya. Namun, wanita itu harus pulang dengan kesedihan yang begitu dalam, Rasulullah memintanya untuk menyapih bayi tersebut selama dua tahun sampai bayi tersebut bisa makan. Kesedihan Nampak pada diri wanita itu, sedih karena lama menanti hukum Allah di tegakkan pada dirinya. Namun, wanita itu tegar dengan iman yang ada pada jiwanya, dia menanti dan menunggu sampai dua tahun telah dijalani dalam masa penyapihan, maka wanita itu kembali datang kepada Rasulullah bersama sang bayi sambil membawa makanan untuk diperlihatkannya kepada Rasulullah bahwa anaknya telah makan. Maka di waktu yang telah dijanjikan oleh Rasulullah kepada wanita tersebut, hingga tibalah saatnya wanita itu dirajam. Rasulullah berkata kepada para sahabatnya setelah wanita itu mendapatkan apa yang telah di inginkannya : “Wanita ini telah bertaubat, dan sekiranya taubat wanita ini di bagikan kepada tujuh puluh orang dari penduduk kota madina, maka taubat wanita ini masih cukup untuk diberikan kepada yang lainnya”.
Renungkanlah bagaimana kekuatan iman yang ada pada diri wanita tersebut, wanita yang gembira ketika di tegakkan hukum Allah pada dirinya, wanita yang jujur pada taubatnya, wanita yang ingin bertemu dengan Allah dalam keadaan mendapatkan Ampunan. Semua hal yang telah diperbuat oleh wanita al Ghomidiyah adalah buah dari keimanan yang ada pada dirinya.

Pondasi yang kedua yang ada pada diri mereka adalah sifat tawakkal yang begitu kuat kepada Allah Azza wa Jalla. Mereka senantiasa berpijak pada firman Allah yang artinya :
"Barangsiapa yang tawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Terjemahan QS. Al-Anfal : 49).
Keyakinan yang kuat bahwa Allah Maha perkasa yang tidak ada yang menandingi-NYA, dan Allah Maha Bijaksana yang senantiasa bersama dan menolong hamba-hamba-NYA.

Ketika nabi Musa alaihissalam berada dalam kejaran Fir'aun la'natullah ‘alaihi, beliau pasrah dan mengembalikan semua urusannya kepada Allah Azza wa Jalla seraya berdo'a : "Allahumma Lakal hamdu, wa ilaika al musytaka wa anta al musta'an wa la hawla wa la quwwata illa billah al aliyy al azhim”. Yang artinya : “Ya Allah segala puji bagi-MU, Hanya kepada engkaulah tempat mencurahkan segala isi hati, dan engkau adalah Sang Penolong, dan tidak ada daya dan kekuatan apa pun selain daya dan kekuatan yang datang dari-MU, Tuhan yang Maha Tinggi dan Maha Agung”.
Dengan tawakkal Nabi Musa, maka Allah menyelamatkannya dan menenggelamkan fir'aun beserta bala tentaranya.

Demikian pula Nabi Ibrahim ‘alaihi salam ketika akan di bakar oleh kaumnya, maka malaikat Jibril datang dan berkata kepada Nabi : "Apakah engkau memerlukan sesuatu pertolongan dariku? Nabi Ibrahim lantas menjawab, “Aku tidak memerlukan apa-apa pertolongan darimu… Aku hanya memerlukan pertolongan dari Allah”. Kemudian nabi Ibrahim berkata “Hasbunallah wa ni'mal wakiil”. maka Allah menyelamatkan Nabi-NYA dari musuh-musuh-NYA.[]
Selengkapnya ...

Sabtu, 09 Januari 2016

Kebenaran Akan Menang


Menapaki jalan kebenaran ibarat menggengam bara api, panas, menyengat, membakar bahkan terkadang nyawa yang menjadi taruhannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda yang artinya ;
“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya ibarat orang yang menggenggam  bara api” (HR. Tirmidzi no. 2260.)

Keberanian dalam menjaga kebenaran adalah harga mati yang harus dijaga dan di pertahankan, dirawat, dipelihara. Dahulu, para pemberani dari kalangan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menorehkan dalam buku buku sejarah akan keberanian dan keteguhan mereka dalam menjaga dan mempertahankan kebenaran aqidah dan tauhid yang telah mereka genggam. Ya!!, betapa tidak, acapkali kebenaran itu taruhannya adalah orangtua sendiri. Mari kita sejenak merenungkan bagaimana sosok pemberani aqidah Saad bin Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu yang harus berani menjaga aqidah kebenarannya dihadapan desakan ibunda beliau untuk menanggalkan baju kebenaran, baju keselamatan dan kebahagiaan serta baju keabadian. Maka beliau berpijak dan berdiri kokoh ibarat gunung yang tak goyah, yang takkan gentar dengan kemarahan sang ibunda yang telah berhari-hari mengharamkan makanan dan minuman untuk dirinya sampai menyebabkan ibunya menjadi lemah, lumpuh dan kurus, namun sosok yang pemberani itu tetap tegar seraya berkata kepada sang ibunda tercinta ; “Ibu, sekalipun aku sangat mencintaimu, namun aku tetap lebih mencintai Allah dan Rasul-NYA. Demi Allah seandainya engkau mempunyai seribu nyawa lalu nyawa itu keluar dari jasad ibu satu persatu, aku tetap tidak akan pernah meninggalkan agamaku dengan alasan apapun”.

Mereka para pemberani kebenaran takkan pernah mundur dari gelanggang pertarungan antara kebenaran dan kebatilan. Dari sikap sahabat yang mulia tersebut Allah kemudian menurunkan ayat-NYA yang membenarkan akan keputusan yang begitu berani dari seorang murid terkemuka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya) ;
“Dan jika keduanya (kedua orang tua) memaksamu untuk mempersekutukan sesuatu dengan-KU yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan tetaplah pergauli keduanya di dunia dengan baik“ (Terjemahan QS. Lukman: 15).

Dalam lembaran sejarah keberanian yang lain, yang berpijak di atas kebenaran, seorang pejuang pembela al-Haq yang namanya akan terus terdengar dari mimbar mimbar masjid, namanya akan terus tersirat dalam lembaran lembaran buku keagungan, semangatnya akan terus membakar jiwa-jiwa yang haus akan kemuliaan, keperkasaannya, keberaniannya, pengorbanannya, keagungannya akan menjadi sejarah yang takkan pernah terkubur oleh tangan-tangan kemunafikan, yang takkan pernah tenggelam oleh bisikan bisikan kedurjanaan, dan yang takkan pernah pudar dari hati hati perindunya. Dialah sahabat yang agung, Abu Ubaidah bin Al Jarrah seorang laki laki yang ramah, sangat bertawadhu, sangat pemalu, tetapi jika suatu masalah penting menerpanya dan perkara genting menghadangnya maka dia akan berubah laksana singa yang mengaum yang menampakkan taring dan kuku-kukunya. Dalam perang Badar, Abu Ubaidah tampil sebagai sosok pemberani, pemusnah kekafiran, maka dengan pijakan beliau dalam kebenaran beliau harus menebus semua itu dengan menjadi pembunuh kekafiran yang ada pada Ayahnya sendiri, ayahnya tersungkur dan terkubur ke dalam tanah kekafirannya dengan tebasan pedang dari darah dagingnya sendiri yang kemudian Allah Mengabadikan dalam kitab-NYA akan apa yang dilakukan oleh Abu Ubaidah sebagaimana yang termaktub dalam surah Al-Mujadilah (yang artinya) ;
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-NYA, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang mana Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-NYA dan Dia memasukkan mereka kedalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-NYA. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itu adalah golongan yang beruntung.” (Terjemahan QS. Al- Mujadilah : 22).

Abu Ubaidah bukan membunuh Ayahnya , namun beliau membunuh kekafiran, kedurhakaan, kesombongan dan keangkuhan yang ada pada dirinya. Berat untuk menerima, berat untuk melangkah, namun kebenaran dan cinta pada Allah dan Rasul-NYA menjadi pijakan yang akan menjadikan semua rintangan mudah dan kecil untuk dilewati dan dilalui.

Kebenaran adalah cahaya keabadian, cahaya yang telah menerangi hati para Nabi, para Rasul, dan orang-orang shaleh, cahaya yang telah membuka mata yang buta, menenangkan jiwa yang goncang, melapangkan hati yang sempit, dan memasukkan jiwa-jiwa kedurjanaan kedalam islam dan iman. Cahaya kebenaran itu tak akan pernah redup, cahaya itu tak akan pernah padam, bahkan cahaya itu akan menerangi seluruh tanah dan bumi Allah. Dalam satu hadits yang di riwayatkan oleh Imam ibnu Hibban dalam shahihnya (yang artinya);
”Sesungguhnya Islam itu akan sampai ke bumi yang di lalui oleh malam dan siang, Allah tidak akan melewatkan seluruh kota dan pelosok desa, kecuali memasukkan agama ini ke daerah itu, dengan memuliakan orang-orang yang Allah muliakan, dan menghinakan orang-orang yang Allah hinakan”.
Tidak di ragukan lagi, bahwa kebenaran itu akan menang, kebenaran itu akan kokoh, sehingga bekalilah jiwa-jiwa dengan cahaya kebenaran, cahaya al-Qur’an yang merupakan sumber Abadi, sumber yang terpelihara dan terjaga yang tak akan pernah menghinakan para pecintanya. Ajarkanlah, didiklah, dekatkanlah, rangkullah diri anda, orangtua anda, saudara anda, keluarga dan kerabat anda untuk mereka menjadi pembela-pembela al-Qur’an.
Suatu umat akan senantiasa dalam kejayaan dan kemenangan selama mereka berpegang teguh pada kebenaran. Allah berfirman (yang artinya) ;
“Dan katakanlah ’yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”.
(Terjemahan QS. Al Isra’ : 81)

Suatu umat akan menjadi sebaik baiknya umat selama mereka senantiasa menyeru pada kebenaran. Allah Azza wa Jalla berfirman (yang artinya);
”Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah”. (Terjemahan QS. Ali Imran : 110)
Suatu umat akan mampu melewati masa masa sulit ketika mereka senantiasa berjalan di atas kebenaran
Suatu umat tak akan pernah gentar dan takut selama mereka membentengi mereka dengan kebenaran sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla (yang artinya):
”(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung’.” (Terjemahan QS.  Ali Imran : 173)

Untuk menjadi seorang muslim yang bisa istiqamah dalam kebenaran, maka hendaklah dia meniti jalan yang mengantarkannya pada al Haq :

Kembali kepada Allah sembari datang kepada-NYA dengan penuh ketundukan dan ketidak berdayaan. Allah berfirman (yang artinya) :
”Dan kalau kami tidak memperkuat hatimu, niscaya kamu condong sedikit kepada mereka”. (Terjemahan QS. Al Isra’ : 74)

Mentadabburi al Qur’an dan mengamalkan kandungannya. Allah Azza wa Jalla berfirman (yang artinya) :
”Katakanlah, ’Ruhul Qudus (jibril) menurunkan Al-Qur’an itu dari tuhanmu dengan benar untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (Terjemahan QS. An-Nahl : 102)

Senantiasa melaksanakan ketaatan kepada-NYA, dan menjauhi segala Larangan-NYA.
Memperbanyak dzikir kepada Allah Azza wa Jalla.  (Lihat QS. Al Ahzab : 41)

Dekat dengan para ulama Ahlussunah wal Jamaah yang senantiasa beramal di atas pijakan al Qur’an dan Sunnah Nabi. (Lihat QS. Ali Imran : 164).
Wallahu Ta’ala a’lam
.[]

Oleh Ustadz Mukran Usman, Lc. M.HI. (Dosen STIBA Makassar)
Selengkapnya ...

Senin, 16 November 2015

10 Keutamaan Menuntut Ilmu



Berikut ini beberapa keutamaan ilmu dan penuntutnya yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah;

1. Ilmu adalah amalan yang tidak terputus pahalanya
Sebagaimana dalam hadits:
"jika manusia meninggal maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyahnya, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang mendoakan kedua orangtuanya,” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Menjadi saksi terhadap kebenaran
Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya):
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali dia. Yang menegakkan keadilan, para malaikat dan orang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu)”. (Terjemahan QS. Ali Imran: 18)
3. Allah memerintahkan kepada nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta ditambahkan ilmu sebagaimana dalam firman Allah, 
“… dan katakanlah: Ya Rabb ku, tambahkanlah kepadaku ilmu” (Terjemahan QS. Thahaa 114).
Allah Ta’ala tidak memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk ditambahkan harta atau pun yang lainnya selain Ilmu. Ini cukup untuk menunjukkan betapa mulianya ilmu di sisi-Nya.

4. Allah mengangkat derajat orang yang berilmu.
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),
 “… Allah mengangkat orang beriman dan memiliki ilmu diantara kalian beberapa derajat dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Terjemahan QS. Mujadilah 11)

5. Orang berilmu adalah orang yang takut Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman ( yang artinya)
 “…. sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hambanya hanyalah orang-orang yang berilmu”. (Terjemahan QS. Fathir 25).
6. Ilmu adalah anugerah Allah yang sangat besar.
Firman Allah Ta’ala (yang artinya):
 “Allah menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Quran dan As-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”. (QS. Al-Baqarah: 269)
7. Menuntut ilmu merupakan jalan menuju Surga
 ”Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga,” (HR. Muslim)
Hadits ini menerangkan bahwa seorang yang keluar untuk menuntut ilmu, akan menjadi sebab masuknya seorang hamba ke dalam surga. Mengapa demikian? Ya, tatkala seorang muslim mempelajari agamanya dengan penuh keikhlasan, maka dia akan dimudahkan untuk memahami mana yang baik dan mana yang buruk, antara yang halal dan yang haram, yang haq dan yang batil, lalu dia berusaha mengamalkan apa yang telah ia ketahui dari ilmu tersebut, sehingga ia menggabungkan antara ilmu dan amal dengan keikhlasan dan mengikuti bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , maka dia menjadi seorang hamba yang diridhai-Nya, dan tiada balasan dari Allah Ta’ala bagi hamba yang diridhai-Nya melainkan surga.

8. Tanda kebaikan seorang hamba
Ketika seorang hamba diberi kemudahan untuk memahami dan mempelajari ilmu syar’i, itu menunjukkan bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi hamba tersebut, dan membimbingnya menuju kepada hal-hal yang diridhai-Nya.

Kehidupannya menjadi berarti, masa depannya cemerlang, dan kenikmatan yang tak pernah dirasakan di dunia pun akan diraihnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan kepada seorang hamba maka Ia akan difahamkan tentang agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wasallam juga bersabda:
“Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menciptaan makhluk-Nya dalam kegelapan, Lalu Allah memberikan kepada mereka dari cahaya-Nya, maka siapa yang mendapatkan cahaya tersebut, maka dia mendapatkan hidayah, dan siapa yang tidak mendapatkannya maka dia tersesat.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim. Disahihkan oleh syaikh Al-Albani)

9. Ahli Ilmu lebih utama dari ahli ibadah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu dibanding ahli ibadah, seperti keutamaan bulan di malam purnama dibanding seluruh bintang- bintang.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Yang dimaksud hadits ini bahwa memiliki ilmu dengan cara menuntutnya, atau mengajarkannya, merupakan amalan ibadah yang lebih utama dibanding amalan ibadah lainnya, seperti shalat sunnah, berpuasa sunnah, dan yang lainnya. Hadits ini tidak bermaksud bahwa ilmu bukan bagian dari ibadah, namun maksudnya bahwa ilmu merupakan bagian ibadah yang paling mulia, bahkan bagian dari jihad fi sabilillah. Berkata Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah:
“Aku tidak mengetahui ada satu ibadah yang lebih utama dari engkau mengajarkan ilmu kepada manusia.” (Jami’ bayanil ilmi, Ibnu Abdil Bar: 227)

10. Ilmu agama menyelamatkan dari laknat Allah Azza wa Jalla
Disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya dunia itu terlaknat, terlaknat segala isinya, kecuali zikir kepada Allah dan amalan- amalan ketaatan, demikian pula seorang yang alim atau yang belajar.” (HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan oleh syaikh Al-Albani dalam sahih al-jami’, no:1609)
Dalam menjelaskan hadits tersebut, syaikh Al-Munawi berkata: “dunia terlaknat, disebabkan karena ia memperdaya jiwa-jiwa manusia dengan keindahan dan kenikmatannya, yang memalingkannya dari beribadah kepada Allah lalu mengikuti hawa nafsunya.” (Tuhfatul ahwadzi:6/504)

Tentu saja masih banyak lagi keutamaan ilmu yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah, namun semoga yang sedikit ini menjadi pemicu semangat kita untuk terus menuntut ilmu-ilmu Islam hingga akhir hayat kita.

Terakhir, jangan sampai kita menjadi orang yang sangat pandai tentang seluk-beluk ilmu dunia dengan segala permasalahannya, namun lalai terhadap ilmu agama. Hendaknya kita merenungkan firman Allah Ta’ala (yang artinya),

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan mereka lalai tentang (kehidupan) akhirat”. (Terjemahan QS. Ar-Ruum: 7)

Mari senantiasa berharap kebaikan-kebaikan dari Allah Ta’ala dengan bertambahnya ilmu ke-Islaman kita dan dipahamkannya kita dengannya serta kita diberi kesabaran untuk mengamalkannya dan mengamalkannya.
Wallahu Ta’ala A’lam.[]
Selengkapnya ...

Tingkatan Hukum Menuntut Ilmu Bagi Muslim



Banyak kaum muslimin yang beranggapan bahwa menuntut ilmu agama itu hanya tugas para santri yang duduk di pondok-pondok pesantren. Tentu ini merupakan persepsi yang salah, sebab setiap muslim telah diwajibkan untuk mempelajarinya, sebagaimana hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim". (HR.Ibnu Majah, shahih)

Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Tanpa mengenal jenis kelamin baik itu laki-laki maupun perempuan, juga tidak mengenal jabatan, umur dan kekayaan. Dan semua muslim wajib menuntut ilmu sampai ruh itu lepas dari raganya. Karena dengan menuntut ilmu seorang muslim dapat membedakan yang baik dan yang buruk. ilmu Juga merupakan suatu wasilah untuk mendekatkan diri kita kepada Allah.
Imam al-Qurthubi rahimahullaah menjelaskan bahwa hukum menuntut ilmu terbagi dua:

Pertama, hukumnya WAJIB; seperti menuntut ilmu tentang shalat, zakat, dan puasa. Inilah yang dimaksudkan dalam riwayat yang menyatakan bahwa menuntut ilmu itu (hukumnya) wajib.

Kedua, hukumnya fardhu kifayah; seperti menuntut ilmu tentang pembagian berbagai hak, tentang pelaksanaan hukum hadd (qishas, cambuk, potong tangan dan lainnya), cara mendamaikan orang yang bersengketa, dan semisalnya. Sebab, tidak mungkin semua orang dapat mempelajarinya dan apabila diwajibkan bagi setiap orang tidak akan mungkin semua orang bisa melakukannya, atau bahkan mungkin dapat menghambat jalan hidup mereka. Karenanya, hanya beberapa orang tertentu sajalah yang diberikan kemudahan oleh Allah dengan rahmat dan hikmah-Nya.

[]
Selengkapnya ...

Kamis, 12 November 2015

Dahsyatnya Istighfar



Manusia adalah makhluk lemah, adakalanya ia sering berbuat khilaf dan dosa tanpa disadarinya. Namun sebaik-baiknya orang yang berbuat dosa adalah yang selalu memohon ampunan atas segala dosa yang ia lakukan. Istighfar merupakan salah satu jalan untuk meraih ampunan Allah Ta'ala. Istighfar mempunyai kedudukan yang tinggi dalam diri seorang hamba, bahkan Allah memadukannya dengan iman ketika berbicara tentang kaum kuffar Makkah dalam surah Al-Kahfi ayat 55:
"Dan tidak ada sesuatu pun yang menghalangi manusia dari beriman, ketika petunjuk telah datang kepada mereka, dan dari memohon ampun kepada Tuhannya, kecuali (keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang telah berlalu pada) umat-umat yang dahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata".
Istighfar dalam pengertian bahasa adalah memohon ampunan atas segala dosa yang dilakukan oleh seorang hamba dengan upaya untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut. Hal ini dapat dilakukan baik dengan perkataan maupun perbuatan, beberapa ulama mengungkapkan istighfar berasal dari kata "alghafar" yang berarti "as-satr /menutup" untuk itu dinamakan istighfar karena mengandung ma'na menutupi.

Istighfar merupakan suatu ibadah yang mulia dan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik hal tersebut untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain.
Berikut ini beberapa  manfaat yang akan diraih oleh hamba dengan beristighfar.

Sebab Pengampunan Dosa
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, (tetapi) kemudian memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Terjemahan QS. An-Nisa`: 110)
Menghindarkan Hamba dari Adzab dan Musibah
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
“Dan Allah tidak akan menyiksa mereka sedang mereka dalam keadaan beristighfar.” (Terjemahan Al-Anfal: 33)
Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan sebab terselamatkannya Nabi Yunus 'alaihis salam dalam firman-Nya,
“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk sebagai orang-orang yang banyak bertasbih, niscaya ia akan tetap tinggal di dalam perut ikan itu sampai hari kebangkitan.” (Terjemahan QS. Ash-Shaffat: 143-144)
Mendatangkan Rahmat Allah
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
“Hendaklah kalian memohon ampunan kepada Allah agar kalian dirahmati.” (Terjemahan QS. An-Naml: 46)
Ini adalah jaminan dari Allah bahwa Dia akan merahmati seseorang yang senantiasa beristighfar.

Sumber Kekuatan dan Kejayaan
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan ucapan Nabi Hud 'alaihis salam kepada kaumnya sebagaimana dalam firman-Nya,
“Wahai kaumku, beristighfarlah kepada Rabb kalian lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atas kalian dan menambahkan kekuatan kepada kekuatan kalian, serta janganlah kalian berpaling dengan berbuat dosa.” (Terjemahan QS. Hud: 52)
Melapangkan Dada Seorang Hamba
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya, kadang terdapat sesuatu yang melekat pada hatiku maka saya pun beristighfar kepada Allah sebanyak seratus kali dalam sehari.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)
Menjadikan Wajah Berseri dan Berbahagia di Hari Kiamat
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang ingin bahagia dengan catatan amalnya (pada hari kiamat), hendaklah ia beristighfar kepada Allah.” (HR. Ath-Thabarany, dishahihkan oleh syaikh Al-Albany)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,
“Sangat beruntunglah orang yang menemukan bahwa pada catatan amalnya terdapat banyak istighfar.” (HR. Ibnu Majah)

Membersihkan Noda Hitam dari Hati
Jika seorang hamba melakukan kesalahan, suatu noda hitam akan tertitik pada hati seorang hamba. Jika hamba beristighfar, dihapuslah noda itu dan hatinya kembali bersih. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
“Jika seseorang melakukan sebuah dosa, dititiklah satu titik hitam pada hatinya. Jika dia bertaubat, berhenti (melakukan dosa), lalu beristighfar, hatinya akan kembali bersih. Jika dia mengulangi dosanya, ditambahkanlah titik hitam sampai menutupi hatinya, dan jika hatinya sudah tertutup, itulah ar-rain 'penutup hati' yang Allah 'Azza wa Jalla sebutkan dalam Al-Qur`an, 'Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya sesuatu yang selalu mereka usahakan itu menjadi ar-rain terhadap hati-hati mereka.' [Al-Muthaffifin: 14].” (HR. Ahmad, At-Tirmidzy, An-Nasa`iy, Ibnu Majah, dan selainnya, dihasankan oleh syaikh Al-Albany)
Bekal dalam Berdakwah di Jalan Allah
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
“Maka bersabarlah kamu karena sesungguhnya janji Allah itu benar, serta beristighfarlah terhadap dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Rabb-mu pada petang dan pagi.” (Terjemahan QS. Ghafir: 55)

Sebab Terkabulkannya Doa
Nabi shaleh 'alaihis salam berkata kepada kaumnya sebagaimana yang Allah jelaskan dalam firman-Nya,
“Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada sembahan (yang hak) bagi kalian, kecuali Dia. Dia telah menciptakan kalian dari bumi (tanah) dan menjadikan kalian sebagai pemakmur (bumi) itu maka beristighfarlah kepada-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabb-ku amatlah dekat lagi mengabulkan (doa hamba-Nya).” (Terjemahan QS. Hud: 61)
Meluaskan Rezeki
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman menjelaskan seruan Nabi Nuh 'alaihis salam kepada kaumnya,
“Maka saya berkata (kepada mereka), 'Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian (karena) sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit atas kalian. Dan Dia akan melipatkangandakan harta dan anak-anak kalian, mengadakan kebun-kebun atas kalian, serta mengadakan sungai-sungai untuk kalian.” (Terjemahan QS. Nuh: 10-12)

Ayat di atas menunjukkan bahwa istighfar adalah sebab turunnya rezeki dari langit, dilapangkannya harta dan keturunan, serta dibukakannya berbagai kebaikan untuk hamba sehingga, terhadap masalah apapun yang dihadapi oleh seorang hamba, jalan keluar akan dihamparkan untuknya.

Suatu waktu ada 4 orang datang kepada Hasan Al Basri dan bergantian menyampaikan masalahnya.
Orang pertama datang mengadukan kekeringan yang melanda karena hujan tidak turun dari langit. Hasan Al Basri memberi nasehat kepada orang tersebut untuk beristighfar.

Orang kedua datang mengadukan kemiskinan yang dideritanya. Hasan Al Basri memberi nasehat kepada orang tersebut untuk beristighfar.

Orang ketiga datang mengadukan istrinya mandul, tidak bisa melahirkan. Hasan Al Basri memberi nasehat kepada orang tersebut untuk beristighfar.

Orang keempat datang mengeluhkan kebunnya yang gersang tidak dapat menumbuhkan tanaman. Hasan Al Basri memberi nasehat kepada orang tersebut untuk beristighfar.

Mereka yang hadir heran karena mendapat nasehat yang sama, Mereka akhirnya bertanya kenapa jawabannya hanya satu untuk berbagai problem yang berbeda?

Hasan Al Basri menjawab:  “Apakah kamu tidak membaca firman Allah berikut -lalu beliau membaca Al Quran surat Nuh ayat 10-12.

Mari menjauhi segala maksiat seraya memperbanyak istighfar kepada Allah Azza wa Jalla. Astaghfirullah wa atubu ilaih.[]
Selengkapnya ...

Sabtu, 26 September 2015

Kurban Dan Menyembelih


Berkurban atau dalam istilah syariat dikenal dengan udhiyah, Secara bahasa al-Udhhiyah berasal dari kata dhuhâ yang artinya pagi, dinamakan demikian karena Nabî yang mulia Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam biasa menyembelih hewan pada waktu dhuhâ. Menurut Syaikh ’Abdul ’Azhim Badawi dalam al-Wajîz fî Fiqhis Sunnah, maknanya adalah :  “Hewan ternak yang disembelih pada hari nahar (kurban) dan hari-hari tasyrik dengan tujuan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’âlâ.” Di dalam al-Mausu’ah al-Fiqhîyah, dikatakan : “Hewan yang disembelih dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’âlâ pada hari nahar dengan syarat-syarat yang khusus. Tidaklah termasuk udhhîyah hewan yang disembelih tidak untuk tujuan taqorrub kepada Allah Ta’âlâ, seperti hewan sembelihan yang disembelih untuk dijual, atau dimakan, ataupun untuk memuliakan tamu. Dan tidak termasuk udhh îyah pula hewan yang disembelih selain pada hari-hari ini (yaitu hari nahar dan tasyrîq) walaupun disembelih dengan tujuan taqorrub kepada Allah Ta’âlâ.”

Berkurban dalam islam sangatlah ditekankan, hingga Rasulullah bersabda: “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu dia tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat sholat kami.” (HR. Ahmad dan Ibn Majah)

Kurban adalah syariat warisan dari Nabi Ibrahim As. Dalam sebuah hadits, Zaid ibn Arqam, Ia berkata: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah qurban itu?”, Rasulullah menjawab: “Qurban adalah sunahnya Bapak kalian, nabi Ibrahim as.” (HR. Ahmad dan Ibn Majah)

Ibadah qurban mempunyai nilai ketauhidan yang sangat kental, dimana Nabi Ibrahim alaihi salam dengan mengorbankan anak satu-satunya yang amat dicintainya mengajarkan umat manusia sikap bertauhid yang sesuangguhnya, Beliau membebaskan dirinya dari penghambaan kepada materi menuju penghambaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Jika seseorang telah terbiasa melakukan ibadah qurban dan mengetahui makna sebenarnya maka hatinya akan merasa lebih tentram dan nikmat dalam menjalankannya.

Atas izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, Nabi Ibrahim dikaruniai seorang putra yang  bernama Isma’il. Kehadiran putra yang didam-idamkan oleh beliau sehingga Ia lupa akan janjinya yang telah disebutkan diatas, Nabi Ibrahim pun ditegur oleh Allah dengan mimpi-mimpinya berulang kali yaitu untuk menyembelih putra tercintanya Isma’il alaihi salam.

Sewaktu Nabi Ibrahim menyakini mimpi itu bersumber dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Ia segera menyampaikan kepada putranya Isma’il alaihi salam bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkannya untuk menyembelih Isma’il as. Jiwa kesalehan Isma’il pun diuji untuk berbakti kepada Rob-nya, Isma’il pun menurutinya. Tatkala pisau tajam yang dipersiapkan Nabi Ibrahim as akan menghunus leher Isma’il, Allah Subhanahu wa Ta’ala melaui malaikat Jibril menggantikan Isma’il dengan seekor gibas. Gibas yang disembelih dan Isma’il selamat dari proses penyembelihan itu.

Dengan contoh yang ditunjukkan oleh nabi Ibrahim alaihi salam dan isma’il itu agar setiap Muslim jangan sampai terpenjara oleh kecintaan kepada dunia (harta dan kedudukan) secara berlebihan dan membawa dirinya lupa kepada hakikat dan tujuan hidupnya yang sejati yaitu memperoleh keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ibadah qurban merupakan refleksi yang dalam atas pentingnya pengorbanan dalam ibadah. Bahwa diantara ibadah yang terbaik adalah yang paling baik dari apa yang kita miliki. Dalil QS. Ali-Imran: 92 disebutkan,
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.
Artinya bahwa sesungguhnya ibadah yang terbaik di sisi Allah adalah ibadah yang memiliki tingkat pengorbanan yang tinggi. Dan sebelumnya terlah dibuktikan oleh Nabi Ibrahim alaihi salam. Dalam berkurban, yang dipotong adalah hewan yang terbaik, tidak cacat, kurus dan berpenyakit. Darahnya dialirkan sebagai refleksi penyembelihan sifat-sifat hewaniyah yang kita miliki. Ibadah Qurban memiliki hikmah dan mengajarkan umat muslim diantaranya agar,
Menjaga Fitrah agar tetap Suci,  
Dalam al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan” (QS. Asy-Syam (91):8). Bahwa seseorang tidak akan pernah sampai kepada ketaqwaan dan tidak akan memperoleh keimanan yang sejati, bila kecintaannya kepada dunia mengalahkan kecintaannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.
Menguji Tingkat Ketaqwaan, 
 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfiman: “……..adapun orang yang beriman, maka ia akan sangat cinta kepada Allah…”QS Albaqarah (2):165. Jadi, Qurban yang makna dasarnya persembahan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala itu merupakan upaya untuk menggapai kasih sayang-Nya.
Memotivasi diri untuk memiliki harta dengan berkeja keras. 
 Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mengecam umatnya yang telah mampu berqurban, tetapi enggan untuk menunaikannya, hal ini tergambar dalam sabdanya:  “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu dia tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat sholat kami.” (HR. Ahmad dan Ibn Majah).
Berjiwa Sosial untuk berbagi dengan sesama. 
 Dengan Syariat Qurban ini, kaum muslimin dilatih untuk meningkatkan rasa kemanusiaannya, mengasah kepekaannya dan menghidupkan hati nuraninya. Setiap muslim harus memiliki rasa perhatian, kepedulian, solidaritas, dan persaudaraan antara sesama. Sebab islam bukan hanya ibadah ritual. Namun islam mengandung ibadah berdimensi sosial. Itulah sebabnya kita sering mendapati bagaimana Allah selalu menyandingkan Perintah Shalat dengan Zakat. Aqimuu as-Shalata wa aatuu az-Zakaata.

Dalam memotong hewan kurban, disyariatkan menggunakan Ketika menyembelih hewan kurban, maka hendaknya dilakukan dengan tenang dan tidak menyiksa hewan kurban. Alat untuk menyembelih hendaknya yang tajam. Tidak menggunakan alat yang tumpul seperti tulang atau besi yang berkarat. Hal itu agar, hewan qurban tidak tersiksa ketika merasakan sembelihan di lehernya. Begitu pula disyariatkan untuk menyebut nama Allah ketika menyembelih, Menghadap kiblat, Memotong tengorokan, kerongkongan dan dua urat lehernya waktu bersamaan agar segera mati dan tidak tersiksa. Selain itu disyariatkan pula Menenangkan hewan kurban dan tidak membuatnya takut atau tersiksa. Hendaknya penyembelihannya dijauhkan dari hewan yang lain, agar bisa menenangkan hewan yang lain yang akan dikurbankan.

Dari situ kita bisa melihat bahwa syariat qurban mengajarkan tentang bagaimana adab kaum muslim dalam menyembelih. Namun, lebih dari itu, kaum muslim diajarkan bukan sekedar berani memotong leher hewan qurbannya. Dalam dimensi yang lain, ibadah qurban mengajarkan agar berani memotong hal yang lain untuk dipersembahkan kepada Allah Swt. Kita diajarkan agr berani memotong waktu kerja kita untuk ibadah. Memotong waktu tidur kita untuk shalat tahajjud, serta  memotong anggaran belanja kita untuk diinfakkan di jalan Allah. (Wallohu a’lam bi as-Shawab).[]

Oleh: Syamsuar Hamka, S.Pd.
Selengkapnya ...

Jumat, 04 September 2015

Indahnya Persatuan, Buruknya Perpecahan


alBalaghMedia.com-- Suatu hari, di Masjid Nabawi, para sahabat sedang duduk berkumpul dan berbincang-bincang dengan akrab. Di salah satu bagian masjid, para sahabat yang berbincang-bincang itu adalah mereka yang tadinya berasal dari Kabilah Aus dan Khazraj.

Sungguh pemandangan yang sangat indah dan menenteramkan. Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam telah merekatkan hati yang sebelumnya tercerai-berai, memadamkan api dendam yang tadinya menyala-nyala, serta menumbuhkan benih-benih keharmonisan yang sebelumnya terkurung di kegelapan lipatan sekat-sekat perpecahan.

Aus dan Khazraj adalah dua kabilah yang pernah terlibat peperangan selama sekitar 120 tahun. Ada banyak perang yang mereka jalani. Yang paling terkenal adalah Perang Bu'ats. Pada perang ini, kemenangan silih berganti diraih oleh kedua pihak. Kemenangan di satu pihak artinya kekalahan di pihak lain.

Kekalahan berarti ada darah yang tertumpah, harta yang terampas, kehormatan yang dicederai, serta nyawa yang melayang. Semua itu menjadi alasan bagi masing-masing pihak untuk menuntut balas kepada pihak lawan, hingga peperangan terus berkobar selama puluhan tahun.

Tapi, semua dendam kesumat dan tuntutan itu sirna oleh cahaya Islam. Begitu mereka memeluk agama Islam, mereka bersumpah untuk menghilangkan semua permusuhan yang ada. Mereka pun hidup damai di bawah panji tauhid. Sungguh kenikmatan yang sangat berharga.

Cobaan pun tiba. Keindahan hidup berdampingan secara harmonis di antara kaum Mukminin dari beragam kabilah itu ternyata dimaknai berbeda oleh orang-orang Yahudi. Para pemuka Yahudi dan kaum munafik adalah orang-orang yang mendapat keuntungan besar dari peperangan yang berlangsung, mulai dari bisnis senjata hingga posisi politis.

Tercatat dalam sejarah bahwa Abdullah bin Ubay bin Salul adalah tokoh ternama yang ditunjuk sebagai mediator perdamaian, dan akhirnya diminta menjadi raja kedua kabilah. Ketika akhirnya pertikaian berhenti dengan sendirinya setelah kedua suku memeluk Islam, keberadaan Abdullah bin Ubay (kelak dikenal sebagai tokoh munafik) menjadi tidak lagi penting. Bisa dibayangkan dendam kesumat yang muncul di hati Abdullah bin Ubay terhadap Islam.

Karena itu, persatuan adalah ancaman buat mereka. Pemandangan harmonisnya kaum Mukminin sangat menyakiti hati mereka. Maka, tampillah Syas bin Qais, seorang tokoh Yahudi. Ia mendatangi orang-orang Aus dan Khazraj yang tengah asyik berbincang-bincang itu. Ia mengungkit luka lama dengan cara menanyakan kabar saudara dan kerabat dari masing-masing orang Aus dan Khazraj yang terluka atau yang meninggal dunia.

Ia juga mempertanyakan klaim atas harta yang dirampas pada peperangan dulu. Rupanya, kata-kata Syas ini mampu mempengaruhi kedua kelompok. Mereka kemudian masing-masing menyatakan bahwa memang masih ada utang nyawa yang belum terbayar dan masih ada harta yang belum dikembalikan.

Masing-masing pihak mulai tersulut api permusuhan. Awalnya hanya berupa kata-kata. Lama-lama, kedua kelompok siap menghunus senjata. Di Masjid Nabawi, persatuan di antara sesama ummat Islam siap tercabik-cabik. Saat itulah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang.

“Aku masih ada di antara kalian, dan kalian mau kembali ke perilaku jahiliah kalian? Bukankah derajat kalian menjadi terangkat dengan datangnya Islam?” kata Rasulullah dengan wajah yang terlihat sangat marah. Lalu turunlah ayat 103 surat Ali Imran (yang artinya):
“Berpegang teguhlahlah kalian semua kepada tali Allah, dan janganlah bercerai berai. Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

Kedua kelompok menundukkan kepalanya. Mereka kemudian menangis dan meminta ampunan karena hampir-hampir saja termakan hasutan busuk.

Wajibnya Menjaga Persatuan Ummat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah menyukai bagi kalian tiga perkara dan membenci tiga perkara. Dia menyukai kalian supaya beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kalian berpegang teguh dengan agama-Nya, dan jangan kalian berpecah belah. Dan Allah membenci kalian dari mengatakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.” (HR. Muslim)
Agama Islam adalah agama yang dibangun di atas persatuan dan kesatuan para pemeluknya. Dan sebagaimana Islam bisa menyatukan hati-hati para pemeluknya, maka Islam juga mampu untuk menyatukan tubuh-tubuh para pemiliknya untuk bersatu. Karenanya Allah Ta'ala berfirman memerintahkan seluruh kaum muslimin untuk bersatu dan Dia meridhai jika mereka semua bersatu. Dan Allah Ta'ala mengabarkan bahwasanya persatuan merupakan salah satu nikmat yang terbesar dari Allah Ta'ala:
“..dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya...” (Terjemahan QS. Ali Imran:103)
Maka dalam ayat ini Allah Ta'ala menjelaskan bahwa perpecahan baik dalam masalah dunia apalagi dalam masalah agama akan mengantarkan pelakunya ke dalam neraka. Dan Allah Ta'ala mengabarkan bahwa orang-orang yang mendapatkan petunjuk adalah mereka yang mengetahui bagaimana tingginya kedudukan persatuan sehingga mereka mengusahakannya dan betapa ngerinya akibat dari perpecahan sehingga mereka menjauhinya.

Di ayat yang lain Allah Ta'ala menyebutkan kejelekan yang lain dari perpecahan:
“Dan janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian”. (Terjemahan QS. Al-Anfal: 46)

Maka perpecahan akan mengantarkan pada kelemahan barisan kaum muslimin sehingga mereka dengan mudah bisa dikalahkan oleh musuh-musuh mereka.

Di ayat yang lain Allah Ta'ala berfirman (yang artinya):
“Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia. Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya”. (Terjemahan QS. Al-An'am: 153)

Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi berkata, “Ayat ini memuat perintah agar konsisten terhadap agama Islam, dalam masalah aqidah, ibadah, hukum, akhlaq, dan adab. Ayat ini juga memuat larangan mengikuti selain Islam, yaitu seluruh agama-agama dan sekte-sekte, yang Allah istilahkan dengan ‘jalan-jalan’. (Aisarut Tafsir)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata, ”Yaitu jalan-jalan yang menyelisihi jalan ini.” (Firman Allah: karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya), yaitu akan menyesatkan dan mencerai-beraikan kamu darinya. Maka jika kamu telah sesat dari jalan yang lurus, maka di sana tidak ada lagi, kecuali jalan-jalan yang akan menghantarkan menuju neraka jahim.” (Taisir Karimir Rahman).

Dari ayat di atas dapat diambil petunjuk, bahwa diantara langkah menuju dan menjaga persatuan ialah dengan menetapi agama Islam sampai mati, dan berlepas diri dari selainnya, yang berupa: agama-agama, dan jalan-jalan selain Islam.

Satu hal yang perlu diingat bahwasanya persatuan kaum muslimin adalah murni merupakan rahmat dan keutamaan dari Allah. Hal itu karena hanya Allah Ta'ala yang sanggup menyatukan hati-hati manusia sehingga tubuh-tubuh mereka juga ikut bersatu. Dan penyatuan hati ini tidak akan mungkin dilakukan oleh makhluk sebesar apapun usaha yang dia kerahkan. Allah Ta'ala berfirman:
“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah yang telah mempersatukan hati mereka”. (QS. Al-Anfal:63)

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kaum muslimin nikmat persatuan di atas iman dan akidah yang benar.[]
Selengkapnya ...

Berita

Kajian

Koreksi

Kisah

Muslimah

Khazanah

Catatan Kecil

Opini

Dari Ummat

Dibolehkan menyebarkan konten website ini tanpa perlu izin dengan tetap menyertakan sumbernya. Tim al-Balagh Media