Tampilkan postingan dengan label kajian islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajian islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Desember 2016

Sebuah Ayat Al-Qur'an Yang Melarang Mengikuti Hari Raya Non Muslim

oleh : Abu Afnan غفر الله له ولوالديه

Kemuliaan seorang muslim terdapat pada agamanya karena dengan agamanyalah dia telah melepaskan dirinya dari jeratan kehinaan dan belenggu kegelapan yang menimpa semua umat manusia yang belum sempat mendapatkan cahaya islam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“ Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.”(Surat Al An’am :122)

Ya hanya dengan islam inilah manusia menjadi makhluk termulia, tanpa islam maka manusia layaknya hanyalah seorang mayat yang berjalan di atas muka bumi.

Sehingga bisa dikatakan bahwa sesuatu yang paling mahal di dalam diri seorang muslim adalah Aqidah islamnya. Aqidah islam inilah perhiasan yang paling berharga baginya.

Olehnya dia harus senantiasa memelihara perhiasan tersebut agar tidak sampai terkotori oleh perbuatan-perbuatan yang bisa menurunkan  "nilai jualnya" disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala apalagi sampai hilang sama sekali wal ‘iyazu billah .

Fenomena lata dan ikut-ikutan merayakan atau turut memeriahkan hari raya agama lain merupakan salah satu diantara sekian banyak ancaman yang mengintai dan melanda kaum muslimin.

Bagaimana tidak , fenomena tersebut bisa merenggut seketika perhiasan yang sangat berharga bagi kaum muslimin yaitu aqidah mereka. 

Jauh sebelumnya sekitar 14 abad lalu nabi kita yang mulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam  telah menperingatkan ummatnya agar tidak lata dengan ajaran agama lain .

Dari Abu Said Al Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :”Sungguh-sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal & sehasta demi sehasta, sampai seandainya mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian akan masuk pula ke dalamnya.

Kami tanyakan: “Wahai Rasulullah, apakah mereka yg dimaksud itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau berkata: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Bukhori, Kitab Al I’tishom bilkitabi wassunnah, No.7320)

Berkata Ibnu Batthol : "Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa ummatnya sebelum hari kiamat akan mengikuti perkara-perkara yang baru dan perbuatan bid’ah dan mengikuti hawa nafsu sebagaimana ummat-ummat seperti Persia dan Romawi yang membuat agama kebanyakan orang berubah.” (Kitab Syarah Shohih Al Bukhori karya Ibnu Batthol, jilid 10Hal.366).

Pemandangan yang biasa kita lihat dijalan-jalan ataupun di supermarket atau ditempat lainnya yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin seperti terompet, pohon natal, pakaian santa, topi kerucut, tukar coklat dan yang lainnya...tidak bisa diragukan lagi, merupakan bentuk lata terhadap ajaran agama lain dan yang lebih parah lagi adalah ikutnya sebagian kaum muslimin dalam acara perayaan-perayaan agama lain.

dan persoalan yang terakhir ini yang akan kami bahas dalam tulisan ini berdasarkan sebuah dalil dari al qur’an –biidznillah- melihat bahayanya persoalan tersebut dan masih banyaknya kaum muslimin yang terjatuh di dalamnya .

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :”Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia telah menjadi bagian dari mereka”.(HR.Abu Daud,Kitabullibas,Hal.721,No.4031,Syekh Al Albani mengatakan Hadits Hasan Shohin).

Berkata Ibnu Taimiyah dalam Karya beliau Iqtidho as Shirotil mustaqim  : “ dan Hadits ini paling minimal kondisinya : ia menunjukkan keharaman menyerupai mereka(yaitu orang kafir,) walaupun  dhohirnya menunjukkan akan kekafiran orang yang menyerupai mereka, dan ini seperti firman Allah : “dan barang siapa yang menjadikan mereka pemimpin maka sesungguhnya mereka telah bagian dari mereka”.

Lebih lanjut beliau mengatakan : “ dan bisa juga kita artikan hadits ini dengan menyerupai mereka secara muthlak(menyeluruh) maka yang ini mengharuskan kekafiran orang tersebut, dan semua unsur-unsur penyerupaan tersebut hukumnya haram, dan bisa juga dimaknai bahwa mereka akan menjadi bagian dari mereka dalam hal-hal yang diserupai  kalau hal itu perbuatan kafir maka orang ini pun kafir, kalo itu maksiat atau simbol mereka maka dia mengikuti hukum hal-hal tersebut.”

Sebuah ayat yang mulia patut kita renungkan bersama :

Firman Allah subhanahu wa ta’ala : “ Dan orang-orang yang tidak menghadiri persaksian palsu”.(al Furqon:72)

Ayat ini merupakan bentuk pujian kepada orang beriman yang digelari oleh Allah subhanahu wata’ala sebagai ‘Ibadurrahman dengan menyebutkan beberapa karakteristik mereka dan diantaranya adalah ayat ini.

Kalau kita merujuk keterjemahan mushaf-mushaf Indonesia maka kita akan dapatkan ; “ dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu”. dan tidak bisa dipungkiri bahwa itu memang salah satu tafsiran sebagian ulama seperti Ali bin Abi Tholhah dan Muhammad bin ‘Ali (lihat Tafsir al Jami’ li Ahkamil Qur’an, karya Al Qurtubi,jilid 15, Hal.485).

Namun pendapat yang dirojihkan oleh Imam Ahli Tafsir Ibnu Katsir adalah pendapat yang pertama yaitu pendapat yang mengatakan : “Dan orang-orang yang tidak menghadiri persaksian palsu”, (lihat tafsir Ibnu Katsir,Jilid 10,Hal 331)

dan ini pulalah pendapat yang dipilih oleh guru beliau Ibnu Taimiyah.

Beliau berkata : “Dan sebagian ulama mengatakan bahwa maksud dari syahadatuzzur adalah persaksian dusta,

dan ini kurang tepat karena Allah ta’ala berfirman :
(((لا يشهدون الزور)
"tidak menghadiri kedustaan" dan tidak mengatakan  ((لا يشهدون بالزور)) tidak menyampaikan persaksian dusta – dengan memakai huruf jar- .

dan ketika berkata : شهدت كذا
artinya : saya telah meghadiri, seperti perkataan Ibnu Abbas :

((شهدت العيد مع رسول الله صلى الله عليه وسلم وعلى آله وسلم ))
 
“ saya telah menghadiri hari raya (i’ed) bersama rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”

dan perkataan Umar :
((الغنيمة لمن شهد الوقعة ))
“ ghonimah (harta rampasan) bagi orang yang menghadiri perang) dan konteks seperti ini banyak digunakan dalam bahasa Arab.

Adapun kata شهدت بكذا maka artinya saya telah mengabarkan sesuatu  (lihat kitab Iqtidho as Shirotil Mustaqim karya Ibnu Taimiyah, Jilid1, hal.428).

Nah pertanyaannya apa maksud dari ‘persaksian palsu’ yang dilarang untuk dihadiri?

Beberapa ulama tabi’in seperti Ibnu sirin, Mujahid, Ar Rabi’ bin Anas, Ad Dhohhak menafsirkan “persaksian palsu” di ayat tersebut dengan “hari raya orang-orang musyrik” sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir (lihat tafsir Ibnu Katsir,Jilid 10,Hal 331)

Adapun Ibnu 'Asyur beliau lebih memilih memaknai ‘persaksian palsu’ lebih umum,

beliau berkata  : “ ayat ini bisa bermakna : bahwasanya mereka tidak menghadiri acara-acara kebathilan yang dihadiri oleh kaum musyrikin seperti majelis-majelis kelalaian, nyanyian dan ghibah dan sebagainya, demikian pula hari raya kaum musyrikin dan permainan-permainan mereka.(lihat tafsir At Tahrir wat Tanwir karya Ibnu ‘Asyur,jilid 19,Hal.78).

Dan tentu tafsiran Ibnu ‘Asyur tidak bertentangn dengan tafsiran sebelumya karena telah tercakup didalamnya hari raya orang musyrik dan khilaf ini bisa dikategorikan kedalam ikhtilaf tanawwu’ ( perselisihan fariatif).

Pendapat yang serupa juga diutarakan oleh Ibnul ‘Arabi, beliau berkata : “ artinya mereka tidak menghadiri (acara) kedustaan dan kebathilan dan tidak pula menyaksikannya, dan arti kata ‘zuur’ : semua jenis kebathilan adalah zuur dan kata-kata yang dipoles(hingga menyelisihi kebenaran), dan yang paling besar adalah Syirik dan pengagungan sesembahan-sesembahan selain Allah, dan pendapat ini adalah pendapat Ad Dhohhak, Ibnu Zaid dan Ibnu Abbas.” (lihat Tafsir AL Jami’ Li Ahkamil Qur’an karya Imam Al Qurthubiy,jilid 15,Hal.484).

Berkata Ibnu Taimiyah : “ oleh karenanya terkadang ulama salaf menafsirkannya dengan sesuatu yang kelihatan baik dari dhohirnya disebabkan adanya syubhat atau syahwat padahal pada hakikatnya dia adalah sesuatu yang buruk. Maka syirik dan semisalnya akan kelihatan baik dari dhohirnya karena adanya syubhat, nyanyian juga akan kelihatan baik dari dhohirnya karena adanya syahwat.

Dan adapun hari raya orang-orang musyrik maka telah tergabung di dalamnya syubhat dan syahwat, syubhat karena dia adalah kebathilan karena tidak adanya manfaat untuk agama (seseorang) dan syahwat karena didalamnya terdapat kelezatan-kelezatan sesaat yang ujungnya adalah kesengsaraan, maka pantaslah hari raya tersebut disebut Zuur dan menghadirinya adalah bentuk persaksian terhadapnya. (lihat kitab Iqtidho as Shirotil Mustaqim karya Ibnu Taimiyah, Jilid1, hal.430)

Berdasarkan pemaparan di atas maka makna ayat didalam surat Al Furqan adalah dan orang-orang yang tidak mendatangi hari raya kaum musyrikin ataupun agama lain karena didalamnya terdapat kebathilan-kebathilan khususnya yang menyentuh masalah aqidah dan yang paling besar adalah adanya persaksian yang paling dusta yaitu persaksian akan adanya sesembahan selain Allah.

Wallahu a'lam

Selengkapnya ...

Senin, 01 Februari 2016

Sabar dan Rahmat Allah



Oleh: Ustadz Rappung Samuddin, Lc. MA.

DIANTARA nama Allah yang hampir setiap saat kita ucapkan adalah Ar Rahman yang artinya Maha Luas Rahmat-Nya dan Ar Rahim, yakni yang rahmat dan kasih-Nya menjangkau seluruh makhluk-Nya tanpa terkecuali. Dan bahwasanya, rahmat Allah Ta’ala yang begitu luas mendahului dan mengalahkan siksa-Nya. Karenannya, Allah melarang kita berputus asa dari rahmat-Nya. Merasa diri telah begitu jauh dari-Nya dan seakan tidak ada lagi sandaran dan tempat kembali. Sikap dan perangai semacam ini merupakan gambaran kebodohandan ketertipuan... Ketahuilah, sebesar  apapun kesalahan seorang hamba; masih belum ada apa-apanya ketimbang luasnya rahmat Allah Ta’ala. Dengan syarat, bersungguh-sungguh untuk kembali dan bersabar dalam menempuh jalan-jalan rahmat-Nya.
 
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” (HR. at-Tirmidzi, beliauberkata: Hadits ini hasan shahih).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang terletak di sisi-Nya di atas‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku”.(HR. Bukhari dan Muslim).
Maha suci Allah ...! Begitu luasnya rahmat dan kasih sayang Allah Ta'ala.

Nah, ada sebuah kisah menarik yang membuat Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah menangis kala menyaksikan dan merenungi hikmah di baliknya. Beliau berkata: “Aku belajar kesabaran dari seorang anak kecil. Suatu ketika, saat berjalan menuju masjid aku mendapati seorang wanita di dalam rumahnya sedang memukul anaknya. Anak itu menjerit, lalu membuka pintu dan berlari keluar. Maka wanita itu pun mengunci pintu. Tatkala aku pulang (dari masjid), aku mendapati anak itu telah tertidur di depan pintu setelah menangis beberapa saat dan meminta belas kasihan ibunya. Melihat hal itu luluhlah hati sang ibu, lalu membukakan pintu untuk anaknya”.

Maka menangislah Fudhail bin ‘Iyadh hingga air mata membasahi janggutnya. Beliau kemudian berkata: “Subhanallah, kalau saja seorang hamba mau bersabar di depan pintu (rahmat) Allah, pasti Allah Ta’ala akan membukakan pintu rahmat itu untuknya!!" (Ibnu Abi Syaibah, Mushannaf Ibni Abi Syaibah, 6/22).[]

Repost dari http://www.rappungsamuddin.com
Selengkapnya ...

Jumat, 22 Januari 2016

Tahajjud, Semangat Hidup Orang-orang Shaleh



Shalat tahajud atau shalat malam (qiyamul lail)  merupakan ibadah tambahan yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barang siapa yang rutin mengerjakan shalat tahajud insya Allah akan dimudahkan semua urusannya, dilapangkan hidupnya, dijauhkan dari kesengsaraan, kesukaran dan kesulitan hidup serta dimuliakan hidupnya .

Waktu untuk mengerjakan shalat malam   terbentang dari sejak seseorang selesai menunaikan shalat isya hingga sebelum terbit fajar sebagai tanda permulaan waktu shalat subuh. Adapun waktu yang paling utama untuk menunaikan tahajud  adalah pada akhir malam atau sering juga disebut sepertiga malam terakhir.
Qiyamul-Lail merupakan ibadah sunnah yang memiliki banyak keutamaan dan keistimewaan sebagaimana diterangkan di dalm Al-Quran dan As-Sunnah. Berikut ini beberapa keutamaannya, diantaranya:

1. Qiyamul-Lail merupakan shalat sunnah yang paling utama setelah shalat wajib yang 5 waktu.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah ditanya:
“Shalat apakah yang paling utama setelah shalat fardhu (yang lima waktu, pent) ?” beliau menjawab: “Shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat di tengah malam (shalat tahajjud).” (Diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari dan Muslim).
2. Barangsiapa menunaikan Qiyamul-Lail, berarti ia telah mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya.
Hal ini sebagaimana dalam firman Allah Ta'ala:
“Dan pada sebagian malam hari, shalat tahajjudlah kamu sebagai ibadah nafilah bagimu, mudah-mudahan Rabb-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (Terjemahan Al-Isro': 79).
Dr. Muhammad Sulaiman Abdullah Al-Asyqor menerangkan: “At-Tahajjud adalah shalat di waktu malam sesudah bangun tidur. Adapun makna ayat “sebagai ibadah nafilah” yakni sebagai tambahan bagi ibadah-ibadah yang fardhu. Disebutkan bahwa shalat lail itu merupakan ibadah yang wajib bagi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan sebagai ibadah tathawwu' (sunnah) bagi umat beliau.” (Lihat Zubdatut Tafsir, hal. 375 dan Tafsir Ibnu Katsir: III/54-55).

3. Melaksanakan Qiyamul Lail itu adalah kebiasaan orang-orang shaleh dan calon penghuni Surga.

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman surga dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat kebaikan, (yakni) mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (Terjemahan QS. Adz-Dzariyat: 15-18).
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Sebaik-baik orang adalah Abdullah (yakni Abdullah bin Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhuma, pent) seandainya ia mau shalat di waktu malam.”. (HR. Muslim No. 2478 dan 2479).

Dan diriwayatkan dari Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menasihatiku dengan sabdanya:
“Wahai Abdullah, janganlah engkau menjadi seperti si fulan, ia dahulu mengerjakan sholat malam, lalu ia meninggalkannya.” (HR. Imam al-Bukhari III/31, dan Muslim II/185).

4. Mengerjakan Qiyamul-Lail (shalat Tahajjud) adalah salah satu sebab dihapuskannya kesalahan-kesalahan dan terhindar dari dosa-dosa.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam:
“Hendaklah kalian melakukan shalat malam karena ia adalah kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kalian, ia sebagai amal taqorrub bagi kalian kepada Allah, menjauhkan dosa, dan penghapus kesalahan.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 3549), al-Hakim (I/308), dan al-Baihaqi (II/502), dari jalan Shahabat Abu Umamah al-Bahili radhiyallaahu anhu).

5. Mengerjakan Qiyamul-Lail (shalat Tahajjud) merupakan kemuliaan dan kewibawaan bagi seorang Mukmin.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam:
“Malaikat Jibril mendatangiku, lalu berkata: “Hai Muhammad, hiduplah sekehendakmu karena kamu (pasti) akan mati. Cintailah seseorang sekehendakmu karena kamu (pasti) akan berpisah dengannya. Dan beramallah sekehendakmu karena kamu (pasti) akan diberi balasan (oleh Allah pada hari Kiamat, pent). Dan ketahuilah, bahwa kemuliaan dan kewibawaan seorang Mukmin itu ada pada shalat malamnya, dan ia tidak merasa butuh kepada manusia.” (Diriwayatkan oleh al-Hakim IV/325, dan ia menshahihkannya, serta disepakati oleh imam adz-Dzahabi. Derajat Hadits ini dinyatakan Hasan oleh al-Mundziri dalam at-Targhiib wa at-Tarhiib I/640, dan Syaikh al-Albani dalam Silsilah Al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 831).

6. Barangsiapa yang mengerjakan Qiyamul Lail (shalat Tahajjud) dengan niat ikhlas karena Allah semata dan sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka ia akan terpelihara dari gangguan setan, dan ia akan bangun di pagi hari dalam keadan segar dan bersih jiwanya. Namun sebaliknya, barangsiapa yang meninggalkan Qiyamul Lail (shalat Tahajjud), Maka dia akan bangun di pagi hari dalam keaadan jiwanya dililit kekalutan (kejelekan) dan malas untuk beramal shaleh.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Setan mengikat tengkuk kepala seseorang dari kalian saat dia tidur dengan tiga tali ikatan, dimana pada tiap ikatan tersebut dia meletakkan godaan, “Kamu mempunyai malam yang sangat panjang, maka tidurlah dengan nyenyak.” Jika dia bangun dan mengingat Allah, maka lepaslah satu tali ikatan. Lalu jika dia berwudhu, maka lepaslah tali ikatan yang lainnya. Dan jika dia mendirikan sholat (malam), maka lepaslah seluruh tali ikatannya sehingga pada pagi harinya dia akan merasakan semangat & baik jiwanya. Namun bila dia tak melakukan hal itu, maka pagi harinya jiwanya menjadi jelek & menjadi malas beraktifitas”. (HR. Imam Al-Bukhari no. 1142, & Muslim no. 776).

Dan pada suatu hari pernah diceritakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang seseorang yang tidur semalam suntuk hingga pagi (yakni tiba waktu Subuh tanpa melakukan Qiyamul-Lail, pent), maka beliau bersabda:
“Orang tersebut telah dikencingi setan di kedua telinganya.” (HR. Imam al-Bukhari dan Muslim).

7. Barangsiapa yang mengerjakan Qiyamul Lail (shalat Tahajjud), maka ia berkesempatan mendapatkan 1/3 (sepertiga) malam terakhir yang merupakan waktu dimana doa akan dikabulkan, dan dosa-dosa akan diampuni Allah Ta'ala bila ia memohon ampunan kepada-Nya.

Hal ini berdasarkan hadits shahih, Dari Jabir bin Abdillah dia berkata: Saya mendengar Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya di waktu malam terdapat suatu saat, tidaklah seorang muslim mendapati saat itu, lalu dia memohon kebaikan kepada Allah Ta'ala dari urusan dunia maupun akhirat, melainkan Allah akan memberikannya kepadanya. Demikian itu terjadi pada setiap malam.” (HR. Muslim no. 757).
Di dalam hadits shahih yang lain disebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Rabb kita (Allah Tabaraka wa Ta'ala) turun setiap malam ke langit dunia ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: “Barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampuninya. Barangsiapa yang memohon (sesuatu) kepada-Ku, niscaya Aku pun akan memberinya. Dan barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya.” (HR. Imam al-Bukhari).
8. Orang yang mengerjakan Qiyamul Lail secara kontinue (istiqomah) akan digolongkan ke dalam golongan orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang bangun malam dan membangunkan istrinya, kemudian mereka berdua melaksanakan shalat dua rakaat, maka mereka berdua akan digolongkan ke dalam golongan para lelaki dan para wanita yang banyak berdzikir (mengingat) kepada Allah.”. (HR. Abu Daud no. 1309, Ibnu Majah no. 1335, dan dinyatakan Shahih oleh syaikh Al-Albani di dalam Misykaatu al-Mashoobiih: I/390).
Demikian beberapa keutamaan Qiyamul-Lail (shalat Tahajjud) yang dapat kami sebutkan. Semoga Allah Ta'ala memberikan taufiq dan kemudahan kepada kita semua agar bersemangat dalam mengerjakannya dengan istiqamah hingga akhir hayat.[]
Selengkapnya ...

Berita

Kajian

Koreksi

Kisah

Muslimah

Khazanah

Catatan Kecil

Opini

Dari Ummat

Dibolehkan menyebarkan konten website ini tanpa perlu izin dengan tetap menyertakan sumbernya. Tim al-Balagh Media