![]() |
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
“Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat. (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).” (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706)
Di dalam doa tersebut Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam mengisyaratkan kepada kita tentang bahaya sifat malas.
Kemalasan adalah penyakit yang sangat berbahaya, saking berbahayanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sampai-sampai perlu mengajarkan kepada kita sebuah doa untuk mohon perlindungan kepada Allah supaya kita tidak menjadi manusia yang pemalas.
Kalau kita mengidap penyakit malas maka banyak bencana yang akan datang dalam kehidupan kita di dunia dan juga di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam al-Quran, menyebutkan sifat pemalas ini sebagai salah satu sifat orang-orang munafik. Allah Subhanahu wa Ta'ala menggambarkan bagaimana kondisi dan keadaan orang-orang munafik itu ketika mereka diajak untuk mengerjakan shalat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya),
“...Dan apabila mereka (orang-orang munafik) berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas...” (QS. an-Nisa 142)
Hal senada juga disebutkan Allah dalam ayat lain (yang artinya),
“...dan mereka (orang-orang munafik) tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas...” (QS. at-Taubah: 54)
Apakah orang-orang munafik itu tidak mengerjakan shalat? Tidak, mereka tetap mengerjakan shalat. Tetapi Allah menggambarkan kepada kita tentang kondisi orang yang mengerjakan shalat namun mereka melakukannya dalam keadaan malas-malasan.
Ini menunjukkan bahwa sifat pemalas itu adalah sifat yang sangat berbahaya. Salah satu sifat dan ciri khas orang-orang munafik. Karena itu seorang muslim sejati seharusnya bukan seorang pemalas. Seharusnya tidak ada orang muslim yang pemalas, karena Islam bukan agama orang-orang pemalas. Islam mengajarkan kepada kita untuk selalu semangat, untuk selalu bekerja, untuk selalu melakukan kebaikan.
Kehidupan orang-orang pemalas itu bukan kehidupan yang asyik. Siapa bilang hidup malas-malasan itu enak? Para pemalas sesungguhnya adalah tidak lebih dari sekumpulan orang-orang yang tidak punya tujuan hidup hidup yang jelas, tidak punya cita-cita yang jelas, tidak tahu mau berbuat apa, tidak tahu harus melakukan apa sehingga mereka hanya tinggal tidur, tinggal menonton televisi, tinggal berpangku tangan dan tidak tahu harus melakukan apa. Dan itu bukanlah ciri seorang muslim, bukan ciri seorang yang beriman, karena seorang muslim, seorang beriman, punya cita-cita yang tinggi yaitu mengejar surga Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Diriwayatkan tentang seorang sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang bernama Abdullah Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Ketika beliau menghadapi sakratul maut, beliau mengucapkan sebuah munajat kepada Allah yang sangat luar biasa, yang menggambarkan bagaimana seharusnya seorang muslim itu menjalani kehidupan dunia ini. Ibnu Mas'ud mengatakan:
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku mencintai kehidupan dunia ini, bukan karena saya senang mencari ikan di sungai atau senang bercocok tanam, tetapi aku mencintai kehidupan dunia ini tidak lain karena selama di dunia ini aku bisa melewati malam-malam yang panjang dengan melakukan shalat malam, melewati siang terik dalam keadaan berpuasa, serta berdesak-desakan di majelis para ulama (majelis ilmu).”
Itulah gambaran orang-orang beriman, mereka tidak terlena terhadap kehidupan dunia ini. Mereka menikmati kehidupan dunia ini tetapi dengan cara yang lain. Mereka menikmati kehidupan ini bukan karena alasan dunia, bukan karena mengejar karir, bukan karena mengurus bisnis, atau yang lainnya. Tetapi karena mereka melihat dunia ini sebagai ladang akhirat.
Apakah mungkin ini dilakukan oleh seorang manusia yang pemalas? Tidak mungkin. Seorang yang melewati kehidupan dunia seperti itu maka dia tidak mungkin menjadi seorang manusia yang pemalas.
Pembaca al-Balagh yang kami muliakan, kalau kita menelusuri kisah-kisah kehidupan orang-orang shaleh terdahulu, maka kita akan dibuat berdecak kagum akan semangat mereka dalam mengejar kebaikan.
Seorang ulama besar bernama Sufyan at-Tsauri rahimahullah. Beliau adalah seorang ulama hadits. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa jumlah guru tempat ia belajar Islam sebanyak 600 orang syaikh.
Yang tak kalah hebatnya adalah seorang ulama bernama Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah, disebutkan bahwa jumlah gurunya adalah 4000 orang syaikh!
Sekali lagi ini menunjukkan bahwa orang-orang shaleh terdahulu itu bukan orang-orang pemalas. Bagaimana mungkin seorang pemalas bisa belajar pada ratusan bahkan ribuan guru?
Supaya kita lebih bersemangat lagi mari simak kisah tentang ulama hadits dari Irak yang bernama Ali Ibnu Asim rahimahullah. Ketika beliau masih pemuda belia, saat umurnya sekitar 12-15 tahun. Apa yang dilakukan oleh anak-anak kita pada saat usianya 12-15 tahun? Dan apa yang dilakukan oleh Ali Ibnu Asim pada saat usianya 12-15 tahun? Ayahnya memberikan kepada dia uang sejumlah 100.000 dirham. Ayahnya mengatakan kepada Ali Ibnu Asim, “ambil uang ini dan saya tidak mau melihat wajahmu wahai anakku sampai engkau pulang dengan membawa 100.000 hadits.”
Dan akhirnya tidak berapa lama kemudian Ali Ibnu Asim pun pulang menemui Ayahnya setelah dia menguasai dan mempelajari 100.000 hadits. Beliau pun kemudian menjadi seorang ulama hadits di Irak dengan jumlah murid ratusan ribu orang.
Sekali lagi hal ini tidak mungkin dilakukan oleh para pemalas. Tidak mungkin dilakukan oleh manusia-manusia yang suka bermalas-malasan, ini hanya bisa dilakukan oleh manusia-manusia yang mempunyai obsesi yang tinggi, cita-cita yang tinggi dan tidak memelihara kemalasan di dalam dirinya.
Pembaca al-Balagh yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala, di antara semua model dan bentuk kemalasan maka yang paling berbahaya untuk seorang muslim adalah kemalasan yang berkaitan dengan kehidupan akhirat.
Banyak orang tidak malas kalau untuk urusan uang, banyak orang tidak malas kalau urusan dunia. Tetapi sangat banyak orang yang begitu malas ketika diajak untuk mengurus dan memperhatikan urusan akhiratnya. Inilah musibah yang terbesar dalam kehidupan kita. Kalau kita malas bertaubat kepada Allah, kalau kita malas memohon ampun kepada Allah, kalau kita malas memenuhi panggilan Allah Subhanahu wa Ta'ala, kalau kita malas sujud kepada Allah, kalau kita malas menjaga pandangan kita, kalau kita malas membaca ayat-ayat Allah, kalau kita malas menghadiri majelis-majelis ilmu, tempat-tempat dimana kita mempelajari agama Allah, inilah kemalasan yang sangat berbahaya dalam kehidupan kita.
Agar dijauhkan dari penyakit yang sangat berbahaya ini maka mari kita senantiasa berlindung kepada Allah dari sifat buruk tersebut. Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengajarkan kita dalam doa di awal tulisanini. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah melawan kemalasan dengan memaksa diri kita untuk meninggalkan kemalasan itu. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta'ala melindungi dan menjauhkan kita dari sifat-sifat pemalas. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu semangat dalam mengejar cita-cita akhirat, semangat dalam mengejar surga Allah Ta'ala. Amiin[]
(Buletin al-Balagh edisi 15 Tahun X 1436 H)
