Makna TathayyurTathayyur berasal dari ath-thiyarah, yang berarti merasa sial karena suatu hal. Pada mulanya, orang Arab merasa bernasib sial karena burung-burung tertentu, seperti: burung gagak, burung hantu, serta berbagai hewan lainnya. Kemudian istilah ini dimutlakkan penggunaannya pada semua perasaan sial, apapun bentuk dan penyebabnya.
Hukum Tathayyur dalam Tinjauan Syari'at
Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Tidak ada penyakit menular, dan tidak ada kesialan karena burung serta burung hantu dan bulan Shafar, tidak pula karena jin.” (HR. Bukhari Muslim)Dalam hadits tersebut, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menolak adanya penyakit menular dan thiyarah, serta meniadakan adanya kesialan akibat burung malam, yakni burung hantu. Karena dahulu mereka menganggap sial yang disebabkan hal-hal tersebut. Bentuk thiyarah ini merupakan bentuk kesyirikan, berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
“Barangsiapa yang membatalkan keperluannya karena thiyarah, maka sesungguhnya ia telah berbuat kesyirikan”. (HR. Imam Ahmad 2/220 dan Imam ath-Tabrani 5/105).Juga hadits marfu' dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu,
“Thiyarah adalah syirik, thiyarah ialah syirik !!! ” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Tathayyur dikategorikan syirik karena adanya keyakinan bahwa burung atau manusia, bergantinya bulan atau terjadinya sesuatu, semua itu mempunyai pengaruh buruk tanpa adanya kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan terdapat kekhususan dengan kemalangan tersebut.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin berkata: “Ketahuilah bahwa tathayyur bertentangan dengan tauhid. Dan sisi pertentangannya dari dua sisi:
Pertama: bahwa orang yang bertathayyur memutuskan tawakalnya kepada Allah dan dia bersandar kepada selain-Nya.
Kedua: bahwa dia bergantung kepada perkara yang tidak ada hakekatnya. Apakah hubungan antara perkara itu dengan apa yang terjadi padamu? Tidak ada keraguan, ini merusakkan tauhid. Karena tauhid adalah ibadah (ketundukan mutlak) dan isti'anah (memohon pertolongan). Allah Ta'ala berfirman (yang artinya)
“Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.” (Terjemahan QS. Al-Fatihah: 5)
“Maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya.” (Terjemahan QS. Huud: 123)
Berbagai Bentuk Tathayyur di Masyarakat
Bentuk tathayyur masa kini merupakan kelanjutan kepercayaan masa lampau. Bentuk tathayyur masa lampau yang masih terbawa sampai sekarang adalah merasa sial karena adanya burung gagak atau burung hantu. Muncul rasa pesimis, jika ada burung hantu di dekat rumah, menandakan bahwa penghuni rumah tersebut akan mengalami musibah (kematian). Atau merasa sial karena adanya bulan tertentu, misalnya bulan Shafar. Banyak orang yang menghindari bulan ini untuk pernikahan. Demikian juga ada sebagian orang yang merasa sial dengan bulan Syawal atau bulan Dzulqa'dah. Atau juga bulan Muharram, sehingga mereka tidak mau melangsungkan pernikahan atau perjalanana jauh di bulan ini. Termasuk kategori tathayyur yang lain, yaitu merasa sial karena orang tertentu, dan menganggap bahwa orang tersebut sebagai pembawa sial. Termasuk tathayyur pula, yaitu merasa sial karena angka tertentu, seperti angka tiga belas, atau angka empat. Oleh karenanya, sebagian orang tidak mau bepergian pada tanggal 13, tidak mau membeli rumah nomor 13, tidak mau memberi nomor lantai ke-13 pada gedung bertingkat (biasanya diberi nomor 12b atau 14a).
Masih banyak lagi tathayyur yang lain, yang pada intinya adalah merasa bahwa dirinya akan ditimpa kesialan, atau akan terjadi sesuatu yang buruk karena suatu benda ataupun perbuatan. Yang mana semua ini bersifat ghaib. Padahal manusia tidaklah mengetahui sesuatu yang ghaib, demikian pula Nabi yang mulia Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam juga tidak mengetahui sesuatu yang ghaib, kecuali dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui wahyu-Nya. Hanya Allah Subhanahu wa Ta'ala sajalah yang mengetahui hal-hal yang ghaib, baik yang berada di langit maupun di bumi.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya):
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”(Terjemahan QS. Al-An'am: 59)Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Kunci-kunci semua yang ghaib ada lima, yang tidak diketahui kecuali Allah: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)” (HR. Bukhari: 4627)
Menghilangkan Tathayyur
Pertama: Pemahaman yang benar terhadap syari'at serta keimanan yang kokoh, bahwa hanya Allah Subhanahu wa Ta'ala yang memiliki kekuasaan, segala sesuatu ada di tangan-Nya. Dan harus meyakini, bahwa tidak ada suatu benda pun yang mempunyai pengaruh, kecuali atas izin dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak menjadikan kekhususan pada nama dan angka tertentu untuk memberikan pengaruh yang jelek, yang menyebabkan nama dan angka tersebut harus dijauhi.
Kedua: Mengetahui larangan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap thiyarah dan penolakan serta sikap keras beliau terhadap perkara ini. Mengetahui banyaknya pahala yang akan diperoleh karena tidak melakukan tathayyur. Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda tentang 70 ribu orang yang bakal masuk surga tanpa hisab, mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak minta dikay (pengobatan dengan besi panas), tidak merasa sial karena burung, dan mereka yang bertawakkal kepada Allah”. (HR. Muslim dan lainnya).
Ketiga: Bertawakal dengan baik kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sesungguhnya tawakal ini akan menghapus tathayyur dan tasya'um (sikap pesimis).
“Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik dan setiap orang pasti (pernah terlintas dalam hatinya sesuatu dari hal ini). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya.” (HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no. 909))Keempat: Senantiasa berdoa, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita (umat Islam) sebuah do'a:
اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَ لاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَ لاَ إِلهَ غَيْرُكَ
“Ya Allah, tidaklah kebaikan itu datang kecuali dari-Mu, dan tidaklah kesialan itu datang kecuali dari-Mu, dan tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau.” (HR. Ahmad no.7045, Al-Maktabah Asy-Syamilah 1)
Kelima: Hendaklah melakukan sesuatu yang diinginkan dengan landasan percaya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala serta berdasarkan keyakinan bahwa tidak akan terjadi kesialan kecuali sebelumnya telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala menjauhkan kita dari perbuatan dan keyakinan syirik. Amiin.[]
