![]() |
| - Presiden AS, Obama saat berkunjung ke Saudi - |
Rasa-rasanya tak ada negara yang lebih menarik untuk dikupas melebihi Saudi Arabia. Sederet frase mungkin langsung terbayang dalam benak kita begitu mendengar nama Saudi. Negeri kelahiran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dua kota suci, Wahabi, minyak, dan sebagainya. Perspektif orang terhadap negara tersebut pun secara umum terbagi dalam dua kutub ekstrem. Mengagumi sedemikian rupa atau membenci sejadi-jadinya.
Bagi
yang mengagumi Saudi, negeri tersebut selalu dilihat dalam kaca mata putih sebagai pelindung utama
dakwah tauhid, negeri yang sukses mendistribusikan kemakmuran terhadap
segenap rakyatnya, negeri yang sukses menegakkan keamanan di segenap
penjuru wilayahnya, serta negeri yang konsisten dengan hukum Islam di
tengah moderenitas. Sementara bagi para pembenci Saudi, negara tersebut
selalu dilihat dengan kaca mata hitam sebagai negeri yang lahir dari
satu ‘paham’ yang sering dibilang ‘keras dan intoleran’, antek Amerika,
pengusung diktatorisme, pembela feodalisme, pengekang hak-hak wanita, serta kehidupan glamour sebagian elitnya.
Namun
justru adanya dua perspektif yang saling bertolak belakang itulah yang
menyebabkan ‘pesona’ Saudi kian berbinar. Sejumlah karya kontroversi
yang bertemakan Saudi selalu menggelitik untuk ditelisik. Sebut saja Dinasti Bush Dinasti Saud, The Girls of Riyadh hingga Kudeta Makkah.
Meski sederet buku tersebut cenderung mendiskreditkan Saudi, namun di
sisi lain adanya karya-karya semacam itu justru menunjukkan pengakuan
banyak pihak akan eksistensi Saudi. Bahkan sejak lahirnya cikal bakal
kerajaan Saudi Arabia lewat dakwah tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab dan Imam Muhammad Ibnu Su’ud, gemanya pun langsung berasa di
berbagai negeri Muslim. Di tanah air, pengaruh langsung dari dakwah
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menjelma dalam gerakan Paderi di tanah
Minang.
Biografi
memukau Raja Abdul Aziz Ibnu Saud yang dibesarkan di pengasingan dalam
kondisi penuh keterbatasan sebelum sukses mendirikan kerajaan Arab Saudi
moderen, tak pelak menghadirkan kekaguman pula bagi Bung Karno. Dalam
salah satu suratnya yang ditulis di Endeh dan ditujukan kepada Ustadz A.
Hassan, Bung Karno menyatakan kekagumannya akan biografi Ibnu Saud
dengan ungkapan, “Ia adalah menggambarkan kebesaran Ibnu Saud dan
Wahabism begitu rupa, mengkobar-kobarkan element amal, perbuatan begitu
rupa, hingga banyak kaum “tafakur” dan kaum pengeramat Husain c.s akan
kehilangan akal nanti sama sekali.”
Eksistensi
Saudi di mata internasional semakin diakui kala Raja Faisal memimpin
embargo minyak terhadap negara-negara Barat pendukung zionis yang
mengakibatkan dunia industri di Eropa dan Amerika kalang kabut. Meski
kini Saudi menerapkan politik kooperatif terhadap Amerika Serikat dan
sekutunya, bukan berarti peran Saudi dipandang sebelah mata. Satu hal
menarik ditulis Craig Unger dalam Dinasti Bush Dinasti Saud.
Konon dua hari pasca tragedy 11 September 2001, di saat seluruh lalu
lintas udara Amerika Serikat ditutup, Gedung Putih tetap mengizinkan
kepergian 140 penumpang pesawat yang kebanyakan warga Saudi dan saudara
dekat Osamah bin Laden. Dalam analisis Craig, semua itu tak lepas dari
kuatnya lobi duta Saudi terhadap pemerintah Amerika Serikat.
Mencermati
hubungan Amerika Serikat-Saudi Arabia memang sangat menarik bila
dikaitkan dengan latar belakang kedua negara yang saling bertolak
belakang. Amerika Serikat adalah satu negara sekuler yang begitu
mendewakan kebebasan dalam segala bidang, sementara Saudi merupakan
negara yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai ‘puritanisme’ dalam
Islam. Amerika merupakan negara pendukung utama rezim zionis Yahudi,
sedangkan Saudi tidak pernah mengakui eksistensi pemerintahan Yahudi di
Palestina.
Politik
luar negeri Saudi yang bagi banyak orang terlihat kontradiktif dengan
ideologi negara yang dianutnya, tak pelak memantik minat banyak pengamat
untuk melontarkan sejumlah teori. Secara umum, teori tersebut
menyebutkan bahwa kedekatan
hubungan Saudi-AS semata-mata didasari atas simbiosis mutualisme antara
kedua negara. AS yang merupakan negara konsumen minyak terbesar dunia
membutuhkan limpahan suplai minyak dari Saudi, sementara Saudi
membutuhkan peralatan militer dari AS guna menjaga kedaulatan
wilayahnya.
Apapun
itu, identitas Saudi sebagai negara ‘Wahabi’ di satu sisi dan sebagai
negara yang kerap diberikan stigma sekutu Amerika di sisi lain,
menyebabkannya dimusuhi oleh beberapa kelompok yang sejatinya satu sama
lain pun saling mengusung ideologi bertolak belakang. Beberapa kelompok
dimaksud antara lain adalah kalangan liberal, Syi’ah, Al-Qaeda, dan
tradisionalis.
Di
mata kaum liberal, Saudi yang konsisten menegakkan hukum Islam di
segenap lini merupakan ancaman nyata bagi proyek mereka yang mengusung
kampanye “hukum Islam tak lagi relevan saat ini.” Tegaknya Islam di
Saudi yang berefek pada pemerataan kemakmuran terhadap segenap rakyatnya
merupakan satu bukti bahwa seluruh hukum yang termaktub dalam Al-Qur’an
dan Al-Sunnah tetap relevan sampai kapanpun.
Bagi
kalangan Syi’ah, Saudi dianggap sebagai batu sandungan utama dalam
menyebarkan aliran menyimpang tersebut ke segenap penjuru dunia. Bahkan
Saudi turut menggagalkan secara langsung revolusi Syi’ah di Bahrain
dengan mengirimkan pasukan militer untuk melindungi pemerintah Sunni di
negeri tersebut. Maka untuk menggaet simpati kaum Muslimin secara umum,
orang-orang Syi’ah menyebarkan propaganda dengan membuat kebohongan
bahwa Republik “Syi’ah” Iran merupakan negara yang berada di garda
terdepan dalam menentang Amerika dan Israel. Namun faktanya, Iran yang
dituding mengembangkan senjata nuklir tidak pernah sekalipun terlibat
peperangan terbuka dengan Amerika maupun Israel.
Sedangkan
di mata kelompok Al-Qaeda dan para pengusung ‘Islam radikal’, Saudi
dianggap sebagai negara kafir lantaran sikap kooperatifnya dengan
Amerika. Hal itu sebagaimana dinyatakan oleh Osama bin Laden yang
menegaskan bahwa Saudi tidak layak disebut negara Islam karena dinilai
sebagai antek Amerika. Konsekuensi dari stigma kafir terhadap pemerintah
Saudi oleh Al-Qaeda, berimplikasi pada meletusnya teror bom Riyadh
2004.
Dan
dalam pandangan kaum tradisionalis yang mencampuradukkan ajaran Islam
dengan budaya lokal, eksistensi Saudi dianggap sebagai musuh karena
merupakan pendukung utama dakwah pemurnian Islam. Setiap tahunnya
pemerintah Saudi memberikan beasiswa kepada ribuan pelajar dari segala
penjuru dunia untuk menimba ilmu di negeri tersebut. Sepulang dari
Saudi, mereka yang lulus dari universitas Islam di negara itu menjadi
penyeru dakwah tauhid yang mementang segala praktek bid’ah dan
kemusyrikan. Saudi juga memiliki sejumlah Perguruan Tinggi Islam di
berbagai negeri Muslim, seperti LIPIA di Indonesia dengan misi utama
menebarkan dakwah tauhid. Maka tak heran, kaum tradisionalis yang
praktek beragamanya masih lekat dengan kemusyrikan selalu menempatkan
Saudi sebagai negara yang dimusuhi.
Menariknya,
keempat kelompok di atas kerapkali menggunakan isu kedekatan Saudi dan
Amerika sebagai senjata untuk mendiskreditkan negeri kerajaan tersebut. Satu
pemandangan aneh, kalangan liberal dan tradisionalis merupakan kelompok
yang paling alergi terhadap segala teori konspirasi Yahudi yang
dilontarkan oleh kalangan ‘Islam pergerakan’ (baik Hizbut Tahrir, PKS,
maupun Ikhwanul Muslimin). Namun bila konspirasi Yahudi itu menyangkut
‘hubungan rahasia Israel-Saudi’, mereka berada di garda terdepan dalam
menyebarkan isu tersebut ke tengah umat.
Mencermati
kebijakan luar negeri Saudi, sejatinya tidak melulu soal poros
Riyadh-Washington. Ada banyak kebijakan luar negeri Saudi yang berdampak
positif bagi solidaritas sesama Muslim. Di samping besarnya peran Saudi
dalam bidang pendidikan, lewat kebijakan pemberian beasiswa
besar-besaran kepada para pelajar Muslim untuk melanjutkan studi ke
negeri tersebut serta pendirian universitas-universitas Islam di
mancanegara maupun sumbangan dana kepada yayasan yang menaungi dakwah di
berbagai penjuru dunia, Saudi merupakan satu-satunya negara di dunia
yang sudah sejak lama membuka pintu lebar-lebar kepada para pengungsi
Rohingya. Bila kehidupan warga Muslim Rohingya di negara asalnya sangat
memprihatinkan akibat kebijakan represif penguasa Buddhist, serta yang
mengungsi ke negara lain pun nasibnya terkatung-katung, tidak demikian
dengan warga Muslim Rohingya di Saudi. Semenjak kerajaan petrodollar
tersebut menawari perlindungan keamanan kepada pengungsi Rohingya di
tahun 1968, hingga saat ini terdapat ratusan ribu umat Muslim Rohingya
yang tinggal di negeri kelahiran Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam itu. Bahkan pada Maret lalu,
pemerintah Saudi memberikan status kewarganegaraan kepada 250 ribu
Muslim Rohingya. Itu artinya kini mereka berhak atas fasilitas
kesehatan, pendidikan, dan hak mendapatkan pekerjaan yang setara dengan
penduduk lokal. “Dunia baru menyadari penderitaan Rohingya di Burma
kurang dari setahun lalu. Tapi Arab Saudi adalah negara satu-satunya
yang peduli penderitaan mereka sejak lama,” kata Abdullah Marouf,
sekretaris jenderal komunitas Burma dan kepala Global Rohingya Center di
Jeddah, dilansir Arab News (selengkapnya lihat di sini).
Tak
hanya terhadap Muslim Rohingya pemerintah Saudi memberikan uluran
tangan. Tatkala terjadi tsunami Aceh penghujung tahun 2004, pemerintah
dan rakyat Saudi juga menyumbang US$
530 juta (Rp 4,8 triliun), di mana semua sumbangan itu berbentuk hibah.
Di kesempatan lain, pasca terjadinya serangan udara secara ofensif
pasukan zionis terhadap jalur Gaza selama beberapa pekan di awal tahun
2009, pemerintah dan rakyat Arab Saudi juga memberikan bantuan senilai 1
miliar dollar untuk rehabilitasi kota Gaza. Sayangnya, besarnya
sumbangan Saudi kepada dunia Islam memang jarang terekspose media
lantaran berita yang semacam itu dianggap ‘kurang menjual’.
Dengan
demikian, semenjak lahirnya cikal bakal kerajaan Arab Saudi hingga hari
ini, tak ada yang mengingkari bahwa Saudi merupakan negara yang paling
berpengaruh terhadap dunia Islam. Berkembangnya seruan revivalisasi
(pemurnian) Islam yang bergema di berbagai negeri Muslim, termasuk
Indonesia belakangan ini, tak lepas dari peran Saudi Arabia. Meskipun
bagi sebagian kalangan ‘Islam pergerakan’, eksistensi Saudi kerap
diabaikan lantaran hubungan diplomatiknya dengan Amerika, namun
sumbangan Saudi dalam bidang sosial dan pendidikan terhadap dunia Islam
tetap tak terbantahkan. Terkait hal ini, satu
catatan yang seharusnya diingat oleh kelompok-kelompok ‘pejuang
khilafah’ adalah, tatkala kondisi umat Islam tengah tercerai-berai bak
buih di lautan, maka mendahulukan konsolidasi antara sesama negeri
Muslim jauh lebih utama ketimbang sikap-sikap konfrotatif terhadap
Amerika dan sekutunya![]
Repost dari Kompasiana (dengan beberapa perubahan dari redaksi)

terima kasih artikelnya, menambah wawasan sy. ditunggu berkunjung ke www.sukses-bahagia.com
BalasHapus